Kamis, 14 Oktober 2010

Yang Pintar Yang Membakar

Historia universal de la destrucción de libros: De las tablillas sumerias a la guerra de Irak
Fernando Báez
Destino Ediciones, 2004


Tanggal 13 Oktober 2010 akan tercatat sebagai hari bersejarah bagi demokrasi dan jagat perbukuan di Indonesia. Mahkamah Konstitusi mencabut kewenangan Kejaksaan Agung melarang buku dengan sewenang-wenang seperti yang dilakukannya selama ini. Meski substansial, keputusan ini tidak serta merta meniadakan "nafsu" untuk memberangus itu sendiri. Terbukti Kejaksaan tetap resisten dengan berkomentar bahwa keputusan MK tidak menghapus status buku-buku yang sebelumnya telah mereka larang.

Pelarangan (bahkan pembakaran) buku tentunya bukan hanya problem di Indonesia atau negara-negara diktator atau transisi dari kediktatoran lainnya. Setelah kita membaca buku intelektual Argentina Fernando Báez ini, kita akan paham bahwa pelarangan/pembakaran buku terjadi di hampir tiap zaman dan dalam segala bentuk rezim pemerintahan. Tidak salah bila Noam Chomsky terkesan betul dengan buku ini dan menyebutnya sebagai "buku terbaik tentang tema ini." Riset 12 tahun Fernando Báez benar-benar memukau dan kontekstual dengan kondisi Indonesia. Penerbit Marjin Kiri telah memperoleh rights bahasa Indonesia buku ini dan bolehlah kita berharap akan bisa menikmati edisi Indonesianya dalam waktu tidak lama lagi.

Tesis Báez sederhana sebenarnya: risetnya membuktikan bahwa libricidio/penghancuran buku (bila bukan karena sebab-sebab alamiah seperti banjir atau gempa) dilakukan oleh manusia secara sengaja. Báez menunjukkan bahwa para penghancur buku bukanlah seperti yang disangkakan selama ini: orang-orang "bodoh", "tak berpendidikan", yang "tidak sadar" dampak dari apa yang mereka lakukan. Sebaliknya, para penghancur buku justru adalah orang-orang terpelajar (bahkan sangat terpelajar), yang menyadari betul tujuan dari tindakan penghancuran yang mereka lakukan. Jadi ketika tentara merazia rumah Pramoedya Ananta Toer dan menghancurkan manuskrip-manuskripnya, itu bukan semata-mata "kecelakaan sejarah" atau ekses tak terduga dari kerusuhan sosial pasca G30S. Dengan penghancuran itulah suatu rezim baru dibangun, bahkan suatu sejarah baru, karena seluruh ingatan tentang apa yang terjadi sebelum kelahiran rezim baru itu sengaja hendak dimusnahkan.

Karena itulah orang membakar buku. Penggunaan api punya makna penting di sini (kenapa bukan sekadar disobek-sobek atau dikubur atau dibuang ke laut), bahkan Báez memberi satu subbab khusus untuk membahas soal api ini. Dalam semua agama api selalu bermakna purifikasi (neraka, api penyucian dsb), yang dengan demikian berarti kelahiran sesuatu yang baru.

Joseph Goebbels misalnya, orang kepercayaan Hitler ini dan otak di balik penghancuran buku-buku semasa Nazi, sendirinya adalah penulis yang produktif dan jenius di bidang propaganda. Catatan hariannya ditemukan di Rusia sekian dekade setelah ia bunuh diri, berisi 75.000 halaman yang menjustifikasi tindakannya melakukan penghancuran buku (juga Holocaust).

Hitler sendiri adalah pembaca buku yang tekun. Perpustakaan pribadinya berisi 16.000 buku, dan cuma 3.000 yang tersisa. Selebihnya dihancurkan oleh tentara Sekutu. Dari sini bisa kita lihat bahwa yang jadi masalah bukan ideologi, melainkan intoleransi: apapun yang tidak cocok dengan diri kita harus musnah dari kehidupan masyarakat. Baik fasisme, komunisme, sistem kerajaan maupun demokrasi bisa sama-sama menjadi penghancur buku.

Beberapa kisah sejarah penghancuran buku yang dikupas oleh Báez:
- Semasa Mesir kuno, Akhenaton, yang mempelopori monoteisme, memerintahkan seluruh kitab agama sebelumnya dibakar agar ia bisa memaksakan keyakinannya tentang keesaan Tuhan.
- Plato bukan cuma dikenal sebagai pembenci penyair, namun juga mencoba membakar seluruh karya Demokritus.
- Li Si, penasehat kaisar Shi Huang, memerintahkan pembakaran seluruh buku yang menganjurkan "kembali ke masa lalu".
- Lao Tse sendiri pernah menulis agar masayarakat tenteram, kaum intelektual, pemikir, jenius harus dienyahkan.
- Nachman dari Bratslava (1772), yang mendaulat diri sebagai "nabi"/mesias, memerintahkan pengikutnya membakar semua buku di dunia. "Membakar buku adalah menghadirkan terang baru di dunia ini."
- Filsuf
René Descartes meminta pembacanya membakar buku-buku lama.
- Filsuf David Hume, yang kini dianggap sebagai salah satu peletak dasar liberalisme, ternyata tidak liberal-liberal amat pandangannya. Ia menganjurkan agar semua buku tentang metafisika dibakar.
- Kaum seniman pendukung kebebasan ekspresi? Belum tentu. Ingat manifesto kaum Futuris tahun 1910 yang menyerukan penghancuran seluruh perpustakaan.
- Pustakawan/pustakawati pasti pecinta buku? Belum tentu juga. Para pustakawan/wati St. Louis Public Library membakar karya John Steinbeck The Grapes of Wrath di depan umum pada 1939.
- Kini giliran traktat-traktat filsafat Descartes (juga Immanuel Kant) dibakar oleh istri Lenin, Nadya Krupskaya.
- Junta militer Cile membakari buku-buku Pablo Neruda, Ariel Dorfman, atau buku-buku tentang Salvador Allende dan menutup Prensa Latinoamericana.
Pada 28 November 1986, sebanyak 14.846 eks buku Gabriel García Márquez dibakar.

Membaca buku ini saya jadi sadar akan asumsi keliru kita selama ini, yang membuat kita terhenyak ketika melihat ada seorang profesor ikut membakar buku. Perilaku tersebut ternyata cocok sekali dengan pola hasil riset Báez ini: persoalannya adalah intoleransi, dan intoleransi justru bisa secara keras dianut oleh orang-orang yang terpelajar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar