Sabtu, 31 Januari 2015

"Sepuluh Perintah kepada Penulis Muda," oleh Carlos Fuentes

“El decálogo para el joven escritor latinoamericano,” presentasi Carlos Fuentes di El Colegio Nacional, 7 Desember 2000, dalam seminar “Literatura: creación y tradición?” Diterjemahkan oleh Ronny Agustinus.



Perintah Pertama: Disiplin
Buku tidak menulis dirinya sendiri. Juga tidak digodok dalam komite. Menulis adalah aksi seorang diri yang kadang menakutkan. Seperti memasuki terowongan tanpa tahu adakah cahaya di ujungnya, atau bahkan apakah ujungnya itu memang ada.

Aku ingat sewaktu muda menghabiskan banyak akhir pekan di Cuernavaca, sebuah kota tropis di Meksiko, bersama penulis Alfonso Reyes, yang oleh Borges dijuluki sebagai prosais berbahasa Spanyol terbaik sepanjang abad ke-20. Reyes berumur hampir tujuh puluh tahun, sementara aku baru tujuh belas, dan kadang aku pulang dari pesta-pesta pukul lima pagi dan melihat lampu di kamar kerja Reyes menyala dan Don Alfonso sendiri membungkuk menghadap meja tulisnya bak kurcaci pembuat sepatu.

Ia meredakan ketakjubanku –katakanlah rasa iriku, keinginanku untuk bisa menyamainya—dengan kalimat Goethe, yang sama-sama tukang bangun pagi: “Penulis harus memakai bagian terbaik dari harinya.” Jadi sesudah menulis dari pukul lima sampai delapan, Goethe bisa melanjutkan harinya dengan mengumpulkan bebatuan, mengarang teori tentang cahaya, menjadi penasehat takhta istana Weimar, dan mengejar-ngejar babu istana. 

Alfonso Reyes mengajariku bahwa disiplin adalah nama sehari-hari dari daya cipta, dan Oscar Wilde bahwa bakat sastrawi adalah 10 persen inspirasi dan 90 persen memeras keringat. 

Tapi bila ini adalah sisi logis kreasi sastra, ada sisi lainnya, yang misterius dan tak terduga, yang tidak hendak kukaitkan dengan remang-remangnya inspi¬rasi, sebuah kata yang kerap dipakai sebagai dalih untuk menunda-nunda kerja sembari menunggu Godot, sesuatu yang di zaman lampau disebut Dewi Ilham. 

Bagian misterius dari kreativitas itu adalah bermimpi. 

Aku bisa saja merencanakan, malam sebelumnya, kerjaku esok pagi dan pergi tidur dengan tenang sekalipun tak sabar untuk bangun dan meneruskan menulis. Tapi ketika aku duduk esok paginya, rencana yang sudah dijabarkan oleh logika litererku melenceng jauh, menderita terlalu banyak kebetulan, dan dihajar oleh yang sama sekali tak terperkirakan. 

Apa yang terjadi? 

Ternyata aku bermimpi. Dan ternyata mimpi-mimpi yang kuingat itu repetitif, biasa saja, dan mubazir. Tidak bisa tidak aku berpikir bahwa tangan kreatif yang membimbing tanganku sendiri esok paginya adalah tangan mimpi-mimpi yang tidak kuingat, mimpi-mimpi yang melakukan kerja mereka yang tak kasat mata: memindah, memadatkan, mengelaborasi ulang, dan mengantisipasi –dalam kerja impian—kerja sastra. 

Nah, masing-masing kita punya caranya sendiri untuk mengusir lalat, dan caraku adalah bangun pukul enam pagi, menulis dari pukul tujuh sampai dua belas, berolahraga satu jam, pergi keluar dan membeli koran (apa yang mereka sampaikan selalu terlihat lebih kuno dibanding imajinasiku), makan siang bersama istriku Silvia, membaca selama tiga jam di sore hari  –dari pukul tiga sampai enam—lalu keluar ke bioskop, teater, opera, atau bercengkerama bersama teman-teman. 

Harus segera kutambahkan bahwa hal itu hanya mungkin di bentengku untuk menulis di London, sebuah kota yang tertata rapi. Di Mexico City situasinya berbeda. Ada yang namanya “sarapan politik” –ritual pialang kekuasaan, tukar-menukar informasi, merusak reputasi, memajukan orang—dari pukul delapan sampai sepuluh tiga puluh. Lauknya berat, seolah-olah tak ada politik tanpa pozole. Makan siang dari pukul tiga sampai enam sore di bawah sorotan mata ironik dewi Aztec Coatlicue, sebuah jaminan bahwa mencerna bakal jadi tugas berat. Dan lantas ada makan malam dari pukul sepuluh malam sampai dua dini hari. 

Kalau aku berhasil menulis kolom saja di bawah kondisi macam itu, aku sudah merasa puas. 

Tapi Meksiko adalah kawan-kawanku, keluargaku, rakyatku yang hangat, ramah, menakjubkan, kotaku yang sesak tercekik dengan udara yang tidak lagi jernih, kawasan kenanganku dan kehidupan politik di mana realitas terus-menerus melampaui fiksi. Meksiko benar-benar mengisi urat-urat nadi komunikasiku dan memperbarui letupan-letupan kreatifku dengan asupan ganas tequila dan enchiladas. 

Lalu aku bisa kembali ke London dan bersyukur atas iklim yang buruk, makanan yang payah, dan basa-basi garing penduduknya, tanpa kehilangan kangenku pada sembilan ratus varietas cabai dan tujuh jenis mole, dan menyimpan dalam kupingku dua bunyi konstan dari Meksiko yang ibarat tepuk tangan harian di negeriku: tangan para perempuan kami menumbuk tortilla jagung dan pelukan kaum pria kami yang saling menepuk punggung satu sama lain. 

Perintah Kedua: Bacalah
Bacalah banyak-banyak, bacalah semuanya, dengan lahap. Fernando Benítez, seorang kawan lama, penulis dahsyat kronik kebudayaan-kebudayaan Indian di Meksiko, punya kartu nama yang cuma bertuliskan: Fernando Benítez, Pembaca Novel. 

Generasiku di Meksiko, dan seantero dunia Latin (termasuk Italia, Perancis, Portugal, dan Spanyol) barangkali adalah generasi terakhir yang menyuapi imajinasi dengan membaca buku-buku menakjubkan yang memindahkan kami ke dunia lain, semesta impian masa kanak-kanak. Buku-buku ini bermakna hakiki buat kami, tapi tidak dikenal di wilayah Anglo-Amerika: Emilio Salgari dan dongeng-dongeng Sandokan, Harimau Malaysia; Paul Feval dan si bungkuk Lagardere; kisah-kisah jagoan Les Pardaillan yang memungkinkan kami membayangkan memakai jubah dan membawa pedang alih-alih celana monyet dan gundu; atau buku sentimentil Cuore karya orang Italia Edmondo d'Amicis yang membolehkan kami menangis tanpa sungkan-sungkan. 

Inilah buku-buku pokok masa kanak-kanak dunia Latin, dari Roma sampai Buenos Aires, dari Paris dan Madrid sampai Mexico City. Lalu kami imbuhi dengan buku-buku yang sama-sama dibaca di dunia Anglo-Amerika, terutama Dickens, Stevenson, dan Mark Twain, serta dua raksasa imajinasi universal, Dumas dan Jules Verne. Kami tak tahu apa-apa soal Nancy Drew dan Hardy Boys seperti bocah-bocah bule itu tak tahu menahu soal Salgari dan Bajak Hitam. 

Apakah para penulis ini masih dibaca pada zaman ini, atau anak-anak menghabiskan seluruh waktu mereka bermain Nintendo? Entahlah, tapi kurasa tidak demikian. Penerbit edisi Inggrisku membawaku ke pojok perpustakaannya di London dan dari jendelanya memperlihatkan padaku antrian empat blok panjangnya dari anak-anak usia tujuh sampai sebelas tahun dengan uang sepuluh pound dalam genggaman, yang hendak membeli judul terbaru Harry Potter. Cetakan pertama: satu setengah juta eksemplar. Ekspektasi cetaknya: enam juta eksemplar. 

Dan sebuah versi modern dari puisi epik bangsa Nordik abad ke-7, Beowulf, dalam terjemahan cemerlang Seamus Heaney menjadi bestseller di sekujur jagat dunia berbahasa Inggris. 

Di Amerika Latin, seumur hidupku, merupakan penanda indentitas dan bukti pencapaian sosial dalam kelas menengah, kelas buruh, dan mahasiswa untuk membaca Neruda dan Lorca, García Márquez dan Cortazar, Rulfo dan Paz. 

Penulis adalah perintis bacaan, pelindung buku-buku, perongrong yang ngotot: harga buku mestinya tidak menjadi penghalang bacaan di negara-negara yang lebih miskin atau kelas-kelas tak berpunya. Dirikan perpustakaan-perpustakaan umum yang terbuka untuk semua. Biarkan anak muda tahu bahwa bila mereka tak ada uang untuk membeli buku, ada perpustakaan-perpustakaan umum tempat mereka bisa membaca buku. 

Ini, setahuku, sudah menjadi pelajaran yang dihayati di Amerika Serikat. Tapi masih harus diimplementasikan di Amerika Latin. 

Yang membawaku beralih ke pertimbangan ketiga. 

Perintah Ketiga: Tradisi dan Kreasi 
Keduanya kusatukan sebab aku yakin betul bahwa tak ada ciptaan sastra baru tanpa topangan tradisi sastra sebelumnya, sebagaimana halnya takkan ada tradisi yang bertahan tanpa kesegaran kreasi baru. Tak ada T. S. Eliot tanpa John Donne—tapi mulai sekarang, tak ada pula John Donne tanpa T. S. Eliot. Dengan begitu penulis di hari kemarin menjadi penulis di hari ini, dan penulis hari ini menjadi penulis hari esok. Hal ini karena pembaca tahu sesuatu yang diabaikan oleh penulis: pembaca tahu masa depan, dan pembaca Don Quixote berikutnya adalah pembaca pertama Don Quixote. 

Jembatan antara kreasi dan tradisi terbentang dalam ajuanku yang keempat. 

Perintah Keempat: Imajinasi
Imajinasi adalah perempuan gila dalam rumahtangga, kata novelis Spanyol Perez Galdós. Perempuan gila yang bukan dikurung di loteng seperti dalam fiksi zaman Victoria tapi membuka lebar-lebar semua jendela, menghormat takzim pada vampir-vampir yang tidur di ruang bawah tanah, tapi terbang keluar dan membikin onar di Madrid, Meksiko, atau Manhattan untuk melihat apa yang sesungguhnya berlangsung di kamar-kamar tidur dan ruang-ruang kenegaraan. 

Imajinasi beterbangan dan sayap-sayapnya adalah mata penulis. Imajinasi melihat, dan matanya adalah ingatan dan ramalan dari penulis. Karena imajinasi adalah penyatuan perasaan-perasaan kita yang terbebaskan, gepok yang membundel apa-apa yang terpencar, watak lambang-lambang yang memungkinkan kita melintasi rimba –selva selvaggia-nya Dante—yang lebih buas dewasa ini mungkin, di kota ketimbang di rimba raya itu sendiri.

Berimajinasi adalah melampaui –atau paling tidak memberi pengertian pada— pengalaman. 

Berimajinasi berarti mengubah pengalaman menjadi nasib dan menyelamatkan nasib dari fatalisme belaka. 

Tak ada alam –natura—tanpa imajinasi pedesaan Daphnis and Chloe karya Longus, Diana-nya Montemayor, atau Shepherd-nya Spenser, kesemuanya adalah bentuk-bentuk permai yang berkebalikan dengan alam mengerikan tak terjinakkan dari Moby Dick-nya Melville atau pemandangan gersang urban The Waste Land-nya Eliot. 

Tapi watak dari alam sastrawi bukan hanya mengingatkan kita bahwa dunia sekitar kita bisa menyenangkan atau kejam, ramah atau tak ramah, tapi juga menciptakan, melalui imajinasi, realitas literer kedua yang darinya realitas fisik pertama tadi tak lagi bisa memisahkan dirinya.

Perintah Kelima: Realitas Sastra
Yang artinya realitas sastra tidak terbatas hanya sebagai cerminan patuh dari realitas objektif. Ia menambahkan pada realitas objektif sesuatu yang sebelumnya tak ada di sana. Ia memperkaya dan melambungkan realitas primer. Bayangkan – coba bayangkan dunia tanpa Hamlet atau Don Quixote. Kita takkan berlambat-lambat memahami bahwa Pangeran Denmark dan Ksatria Berparas Duka itu kadar “realitasnya” sebanyak atau lebih  tinggi daripada kebanyakan tetangga kita. 

Maka sastra membentuk realitas yang tidak bisa menceraikan dirinya dari lingkungan historis –secara fisik, kronologis, geografis, imajinatif—tempatnya berlangsung. Itu sebabnya penting untuk membedakan sastra dari sejarah dengan pertimbangan premis berikut ini: Sejarah –meski terdengar janggal—masuk dalam jagat logika, artinya zona univokal: serbuan Napoleon ke Rusia berlangsung pada 1812. Kreasi sastra, sebaliknya, masuk dalam semesta puitis plurivokal: Apa hasrat-hasrat kontradiktif yang merisaukan batin Natasha Rostova dan Andrei Volkinski dalam novel Tolstoy? 

Karya sastra –puisi atau novel—melejit ke banyak arah. Mereka tidak menuntut sebuah penjelasan singular, unik, apalagi kronologi yang presisi. 

Mari kita baca para sejarawan Rusia abad ke-19 yang mengagumkan, tapi coba kita bayangkan abad yang sama itu tanpa Tolstoy atau Dostoyevsky, tanpa Gogol atau Turgenev. Artinya, Perang dan Damai bukan cuma terjadi pada 1812. Ia terlahir kembali di semua medan pertempuran dalam perang segala zaman; ia berlangsung di benak pembaca dan di sana mengguratkan diri sebagai sebuah fakta imajinasi sastrawi, yang pada gilirannya, menentukan hubungan karya itu dengan zamannya, melalui peristiwa yang kita sebut bahasa. 

Perintah Keenam: Sastra dan Zaman
Sastra mengubah sejarah –apa yang berlangsung di medan tempur Waterloo atau apa yang berlangsung di kamar pengantin Natasha Rostova dan Pierre Bezhukov—ke dalam puisi dan fiksi. 

Sastra melihat sejarah, dan sejarah mensubordinasikan diri kepada sastra sebab sejarah tak mampu melihat dirinya sendiri tanpa bahasa. 

Iliad, menurut filsuf Italia Benedetto Croce, adalah bukti identitas orisinil antara sastra dan sejarah. Buku itu, tulisnya, adalah karya un popolo intero poetante, keseluruhan rakyat yang berpuisi. 

Kesatuan macam itu telah hilang. Modernitas terfragmentasi; ia individualistik. Ia tidak menolerir puisi (atau lukisan atau arsitektur) kolektif anonim, sebab Montaigne berkata, “Dikenal saja tidak cukup; kita kini juga harus terkenal.” Anonimitas puitis dan kolektif Homer tidak membutuhkan itu. Victor Hugo tidak memerlukannya karena menurut Jean Cocteau, Victor Hugo cuma orang gila yang mengira dirinya Victor Hugo. 

Semesta epik zaman antik itu sama seperti Petersburg-nya Gogol, sesosok hewan raksasa yang pecah jadi ribuan keping. Kesatuan bahasa Homerik telah lenyap. Hector dan Achilles, dalam Iliad, mengujarkan bahasa yang sama. Pasca Don Quixote, kita hanya bisa membicarakan bahasa secara majemuk. Cervantes mengatasi kesatuan yang hilang itu dengan menemukan pluralitas. Don Quixote mengucapkan bahasa epik; Sancho Panza, bahasa pikaresk—artinya, anti-epik. Ulysses dan Penelope bisa saling memahami satu sama lain. Madam Bovary dan Anna Karenina tidak bisa memahami atau dipahami oleh suami-suami mereka. Mereka menuturkan bahasa yang berbeda. 

Retaknya kesatuan ini dengan demikian menjadi penyatuan retakan-retakan. Tak ada komunikasi tanpa keberagaman, dan tak ada keberagaman tanpa mengakui keberadaan sang-Liyan—dia atau mereka yang tidak seperti kau atau aku. 

Bahasa pun lalu terterjemahkan ke dalam tingkatan-tingkatan bahasa, dan sastra ke dalam sebuah re¬elaborasi bahasa hibrida, migrasi, mestizo di mana penulis menggunakan bahasanya untuk menyorotkan terang pada bahasa-bahasa lainnya. Maka demikianlah Juan Goytisolo di Spanyol, mencemari kemurnian bahasa Spanyol dengan membangkitkan kembali akar-akar Yahudi dan Arabnya, atau Günter Grass di Jerman, mengembalikan rasa dan kebenaran pada sebuah bahasa yang telah direndahkan martabatnya oleh Reich Ketiga, atau cengkok-cengkok multikultural dari bahasa Inggris di AS, sebagaimana digunakan oleh Toni Morrison yang Afro-Amerika, Amy Tan yang Cina-Amerika, Sandra Cisneros yang Meksiko-Amerika, Cristina García yang Kuba-Amerika, Rosario Ferré yang Puerto Rico-Amerika, atau Louise Erdrich yang penduduk asli Amerika.

Tuhan sudah mengambil cuti panjang sebelum Nietzsche mencanangkannya mati, dan di tempatnya –tempat Tuhan, bukan Nietzsche—tampillah Don Quixote. Artinya, novel lahir, bukan lagi sebagai sebuah ilustrasi dari kebenaran-kebenaran yang sudah diketahui, melainkan sebagai pencarian akan kebenaran-kebenaran yang tidak diketahui. Bukan lagi sebagai pengusung kekunoan masa lalu tapi kebaruan masa lalu. 

Saya kembali ke gagasan bahwa pembaca Don Quixote berikutnya akan selalu menjadi pembaca pertama Don Quixote. Masa lalu sastra menjadi masa depan sastra. Tapi demikian juga bahasa abadi kesusastraan. 

Bahasa mitos orisinal yang mendaratkan kita di tanah kelahiran. Bahasa epik yang mendorong kita keluar dari dunia yang kita tahu menuju dunia yang kita abaikan. 
Bahasa tragis kepulangan ke tanah asal dan keluarga dengan terluka dan terbelah oleh renjana dan oleh sejarah. 

Sastra, pada akhirnya, memulihkan komunitas yang hilang; polis yang menuntut ujaran dan tindakan politik kita; civitas yang membutuhkan suara kita sebagai tindak peradaban agar kita mempelajari seni hidup bersama, lebih dekat, saling mencintai, saling mendukung satu sama lain kendati ada kekejian, intoleransi, dan pertumpahan darah yang tak pernah meninggalkan bayang-bayang pikiran manusia yang –terlepas dari semua itu—diterangi oleh cahaya keadilan. 

Sastra memberi pada kota bagian tak tertuliskan dari dunia dan menjadi tempat persuaan –artinya, pijakan bersama—bukan hanya dari karakter dan plot cerita, tapi juga peradaban (Thomas Mann), bahasa (James Joyce), kelas-kelas sosial (Balzac), era-era historis (Hermann Broch), atau era-era imajiner, seperti dibilang penulis Kuba Lezama Lima. 

Bahasa sastra, dalam pengertian ini, adalah bahasa dari bahasa-bahasa. Ialah bahasa yang memperhitungkan dirinya sendiri sebab ia sanggup memperhitungkan bahasa-bahasa pihak lain. 

Perintah Ketujuh: Kritik Sesungguhnya
Begitu terbit, karya sastra tak lagi menjadi milik penulisnya untuk menjadi milik pembaca. Ia juga menjadi sasaran kritik. Dan ketika kubilang “kritik,” yang aku maksud adalah sebuah keterampilan yang tidak lebih unggul tidak lebih rendah dibanding karya yang dibahas, tapi lebih bersifat setara. Kritik yang sama tinggi dengan karya yang dikritik. Dialog antara karya dan kritik atasnya. 

Atas sebab inilah, kritikus sastra terbaik juga pencipta sastra terbaik. Ketimbalbalikan kritis antara, katakanlah, Baudelaire dan Poe, Sartre dan Faulkner, Georges Bataille dan Emily Brontë, mengubah kritik menjadi setara ciptaan sastra. Tapi kritikus profesional adiluhung –berbeda dengan penulis yang menulis soal penulis lainnya—mencapai hubungan ketimbalbalikan yang sama: Michel Foucault dan Borges, Donald Fanger dan Gogol, Bakhtin dan Rabelais, Leavis dan Lawrence, Barthes dan Proust, Van Wyck Brooks dan Hawthorne, adalah segelintir contoh dari korespondensi yang penuh hikmah antara kritikus dan buku. 

Jadi aku membedakan antara kritik yang sesungguhnya dengan resensi semata-mata –sebagian besar opini yang kita baca di media massa—atau bahkan dari kritik yang menyamar, yakni kritikus yang hanya membaca sampul buku lalu dengan penuh otoritas menghancurkannya. 

Kusarankan agar penulis muda tidak menyibukkan atau menghiraukan diri berlebihan dengan resensi di media. Coba jangan munafik dalam hal ini. Kita suka dipuja-puji. Kita tak suka pendapat negatif, dan kita mengagumi Susan Sontag sebab ia tidak membaca resensi yang menilai bagus atau buruk. Tapi tunduk pada salah satunya adalah sebuah kekeliruan. Mereka sirna dalam sekejap mata. Atau seperti orang bilang di Meksiko, “Le hacen lo que el aire a Juárez.” [kurang lebih: anjing menggonggong kafilah berlalu — terjmh.]. Kalau gaya Amriknya, kira-kira berarti Washington tidak bisa dibujuk untuk tidak menyeberangi Delaware. 

Bolehlah penulis bersuka hati mengingat bahwa di mana pun di dunia ini, tak ada patung yang didirikan untuk mengenang kritikus sastra. 

Terlebih lagi, sebuah aktivitas yang bisa mulia dan perlu kadang dikerdilkan oleh mereka yang menggarapnya karena tergerak oleh rasa iri atau frustrasi. Tapi paradoksnya –atau kalau kau suka, dilemanya—tetap ada. Hanya dalam sastralah karya seni yang dimaksud identik dengan instrumen yang dipakai untuk mengkritiknya: bahasa. 

Baik seni rupa, atau musik, atau film tak satu pun yang mengalami hubungan inses antara kata-penciptaan dan kata-penilaian macam ini. Bahkan pula teater, yang merupakan seni representasi langsung, namun berjarak. 

Perintah Kedelapan: Setia pada diri sendiri 
Ini anjuranku untuk penulis muda. Jangan biarkan dirimu dirayu oleh keberhasilan instan atau ilusi keabadian. Kebanyakan buku yang laris musiman bisa dengan lekas tertelan ke dalam bulir-bulir pasir lupa, dan yang penjualannya buruk di saat ini bisa jadi terus terjual di masa depan. Stendhal contoh bagus untuk kedua kasus ini. Anthony Adverse, yang luar biasa laris pada 1933, adalah contoh kasus pertama. Pada tahun itu juga Faulkner menerbitkan buku tak laris yang terus dibaca orang sampai jauh ke depan: Light in August

Yah, keabadian, kata William Blake, jatuh cinta dengan karya-karya yang tak lekang zaman. 

Karya-karya yang tak lekang zaman adalah Don Quixote dan Seratus Tahun Kesunyian, dan keabadian jatuh cinta pada mereka sejak mula. Tapi karya Stendhal Charterhouse of Parma hanya memperoleh segelintir pembaca saat pertama kali terbit, dan itu pun berkat pujian murah hati Balzac pada karya yang dianggap aneh dan sulit pada zamannya. Yang awalnya ditujukan bagi “segelintir mereka yang bahagia”, ini hari menikmati kemuliaan baru nan abadi bagi sekian generasi pembaca. 

Hikmahnya: setia pada diri sendiri, dengarkan suara terdalam panggilan hatimu, ambillah risiko untuk berlaku klasik sekaligus eksperimental, dan ingatlah bahwa tak ada lagi dogma bagi untuk tradisi maupun renovasi.

Tak ada lagi garda-depan karena seni yang dipandang sebagai rekan kebaruan telah berhenti menjadi baru, sebab kebaruan –pada gilirannya—adalah rekan kemajuan, dan kemajuan telah berhenti menjadi maju. Abad ke-20 telah meninggalkan kita dengan rasa kemajuan yang terluka dan cedera begitu dalam. Dewasa ini kita sadar bahwa pencapaian ilmiah dan teknis tidak memastikan berhentinya barbarisme moral dan politik. 

Respons artistik pada krisis politik dan ekonomi era modern praktis adalah kebebasan gaya tak berbatas yang memungkinkan si seniman menulis dalam gaya yang ia kehendaki. Tapi dengan satu syarat: bahwa kebebasan tak pernah melupakan utangnya pada tradisi, dan bahwa tradisi tak pernah melupakan utangnya pada kreasi. 

Perintah Kesembilan: Kesadaran akan Tradisi dan Kreasi 
Aku kembali ke awal Sepuluh Perintah ini dengan pasal ini: kesadaran bahwa penulis muda harus memiliki tradisi sekaligus kreasi. T.S. Eliot, tentunya, telah menuliskan esai yang definitif tentang tema ini. 

Namun demikian izinkan aku membedakan dua landaian. Yang satu adalah posisi sosial penulis di antara masa lalu dan masa depan pada sebuah masa kini yang tidak mengizinkan kita lepas dari iklim politik. Yang kumaksud dengan ini bukanlah keterlibatan wajib (engagement) ala Sartre. Yang kumaksud adalah atas nama pilihan bebas warga negara. 

Penulis patuh pada kewajiban sosialnya ini dengan menjaga agar imajinasi dan bahasa terus hidup dalam tulisannya. Bahkan sekalipun bila si penulis tidak punya opini politik, ia menyumbang pada kehidupan kota –polis—berkat pengembaraan imajinasi dan akar bahasa. Tak ada masyarakat bebas tanpa penulis, dan bukan tanpa sebab rezim-rezim totalitarian dengan sigap mencoba membungkam para penulis. 

Namun, berdiri di alun-alun umum, sendiri dengan buku notes dan pulpennya (dalam kasusku), atau dengan komputer mereka (seperti kebanyakan penulis zaman ini), penulis memberi nyawa, situasi, daging, dan suara pada pertanyaan besar abadi para laki-laki dan perempuan dalam kelebatan selintas kita di muka bumi. 

Apa hubungan antara kebebasan dan suratan takdir? Dengan langkah apa kita dapat membentuk nasib kita sendiri? 

Bagian mana dari hidup kita yang bisa beradaptasi pada perubahan dan mana yang pada ketetapan? Dan terakhir, mengapa kita mengidentifikasi diri berdasarkan ketidaktahuan atas apakah kita ini—persatuan jiwa raga? Kita tidak bisa menjawabnya. Tapi kita justru terus menjadi apa yang tidak kita pahami itu. 

Jadi sastra adalah pendidikan rasa, sekolah kecerdasan dan kepekaan yang harus ada melalui medium yang paling membedakan kita dari dunia alam benda: kata-kata. 

Perintah Kesepuluh 
Perintah kesepuluh, oleh karenanya, kuserahkan pada tangan tiap-tiap dan semua kalian imajinasimu, kata-katamu, dan kebebasanmu.

Kamis, 21 Agustus 2014

Di Luar Sinema Ketiga


Catatan: Tulisan ini adalah esai pengantar saya untuk Program Kuratorial Amerika Selatan dalam ARKIPEL Jakarta International Documentary and Experimental Film Festival 2014 yang diselenggarakan di Jakarta, September 2014.


Tak jarang, ada gaya-gaya estetika atau mazhab-mazhab gagasan yang begitu dominan di suatu rentang waktu atau rentang geografis tertentu sampai-sampai ia seperti menjadi penanda identik bagi rentang waktu atau rentang geografis itu. Katakanlah: pop art dengan 1960an, atau strukturalisme dengan Perancis. Identifikasi demikian tentu tak salah, sebab ia lahir dari pendasaran historis-filosofis yang beralasan, tapi juga kadang tak sepenuhnya tepat.

Di Amerika Latin misalnya. Genre realisme magis begitu lekat dengan boom sastra Amerika Latin era 1960an, tapi mengidentikkan sastra Amerika Latin dengan “realisme magis” jelas tak tepat, karena itu berarti menafikan sumbangsih para penulis penting dengan gaya lain seperti Julio Cortázar atau Guillermo Cabrera Infante yang pada era yang sama telah ikut memajukan dan memperkaya sastra Amerika Latin.[1] Realitas kesusastraan Amerika Latin lebih luas daripada sekadar realisme magis.

Demikian pula, pendekatan dan konsepsi film dokumenter di Amerika Latin pernah sangat didominasi oleh apa yang disebut sebagai gerakan Sinema Ketiga (Tercer Cine) yang dimotori oleh Grupo Cine Liberación (Argentina), Cinema Nôvo (Brasil), Grupo Cine de la Base (Argentina), para sineas Kuba, sutradara Glauber Rocha (Brasil), dan sutradara Jorge Sanjinés (Bolivia). Dari istilah-istilah yang dipakainya (“ketiga,” “pembebasan”) kita tentu bisa menengarai arah gerakan ini yang memang melekatkan diri dengan gerakan pembebasan Amerika Latin (atau Dunia Ketiga umumnya) pasca Revolusi Kuba 1959.

Pada Oktober 1969, majalah Kuba Tricontinental menerbitkan –dalam bahasa Inggris—artikel Fernando Solanas dan Octavio Getino dari Grupo Cine Liberación berjudul “Toward a Third Cinema” yang menjadi semacam manifesto gerakan ini.[2] Mengutip Che Guevara, Ketua Mao, dan Juan José Hernández Arregui di sana-sini, Solanas dan Getino menggariskan apa yang mereka maksud sebagai Sinema Ketiga. Bagi keduanya, estetika Hollywood adalah Sinema (Dunia) Pertama, yang mengabdi semata-mata pada komersialisme dan ideologi borjuis. Ideologi ini merasuk ke dalam segala pranata perfilman AS bahkan sampai hal-hal teknis seperti penggunaan kamera 35 mm dengan kecepatan 24 fps (bukan sebagai wahana transmisi ideologi secara langsung, melainkan sebagai wahana untuk memuaskan suatu pandangan-dunia tertentu, yakni pandangan-dunia kapital finansial AS). Sebagai penangkalnya, ada Sinema (Dunia) Kedua, yakni “author’s cinema,” “expression cinema,” “nouvelle vague” dari Eropa yang memungkinkan para sineas di sana mengekspresikan individualitas mereka melalui bahasa yang non-standar. Tapi menurut Solanas dan Getino, Sinema Kedua ini telah mencapai batas terluarnya, yakni kemampuan berbicaranya kepada publik sangatlah sempit dan hal ini membuat para sutradara Eropa “terperangkap.” Maka dalam konteks negara-negara Dunia Ketiga dan perjuangan pembebasan dari neokolonialisme, mereka pun mengajukan Sinema Ketiga, yakni “membuat film-film yang tidak bisa diasimilasi oleh Sistem, atau membuat film-film yang secara langsung atau eksplisit melawan Sistem.”[3]


Manifesto Sinema Ketiga ini terbaca sangat heroik, dan memang setahun sebelum itu, pada 1968, Solanas dan Getino merilis kolaborasi mereka, La Hora de los hornos, dokumenter sepanjang 4 jam yang menangkap dengan sangat cemerlang realitas imperialisme Barat di Amerika Latin. Kini, sekitar setengah abad sesudahnya kita tentu bisa bertanya dan meneliti dengan kritis benarkah ada film-film yang “tidak bisa diasimilasi oleh Sistem”? Tapi terlepas dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin ada, tidak bisa disangkal bahwa ide tentang Sinema Ketiga begitu mengharu-biru Amerika Latin saat itu dan bahkan menyebar hingga ke Afrika. Barang beberapa lama, film-film politik Amerika Latin, baik dokumenter maupun fiksi, seperti identik dengan Sinema Ketiga. Karya-karya dokumenter legendaris seperti Ya es tiempo de violencia (1969) oleh Enrique Juárez dan tiga seri La Batalla de Chile (1975-1979) mahakarya Patricio Guzmán, bahkan juga film fiksi seperti Memorias del Subdesarrollo (1968) karya Tomás Gutiérrez Alea, banyak dikaitkan dengan gagasan ini.

Melihat konteks situasi sosial-politik di Indonesia belakangan, yang diperjelas oleh tema besar Arkipel 2014 “Electoral Risk”, memang terbersit godaan untuk memilih film-film bernafaskan Sinema Ketiga dalam program kuratorial Amerika Latin ini (katakanlah demi relevansi, demi pembelajaran politik, atau apapun). Tapi pada akhirnya, kurasi ini justru memilih yang di luar itu. Bukan apa-apa. Pilihan ini sebenarnya ingin mengatakan bahwa tidak hanya ada satu cara tunggal dalam berkesenian, berpolitik, atau berkesenian yang politis. Sama seperti “realisme magis”, apabila Sinema Ketiga telah menjadi wacana dominan, kita perlu menengok keluar darinya untuk melihat realitas yang lebih luas. Bukan sekadar “ingin tampil beda” atau keangkuhan-keangkuhan hipster lainnya yang semacam itu, tapi ini krusial: di luar Sinema Ketiga, sebelum dan sesudahnya, ada banyak karya dokumenter Amerika Latin yang sungguh perlu ditengok secara estetis dan politis.

Dua film pilihan dalam program kuratorial ini mengandung perbedaan-perbedaan mencolok: Araya (1959, sebelum Sinema Ketiga) karya Margot Benacerraf difilmkan dalam hitam-putih, dengan suara narator layaknya dokumenter umumnya, sementara Suite Habana (2003, jauh sesudah Sinema Ketiga) karya Fernando Pérez difilmkan dalam warna, tanpa narasi atau dialog apapun. Tapi keduanya juga punya kesamaan tematik penting: bercerita tentang satu hari dalam kehidupan orang-orang dalam kelompok masyarakat tertentu—dalam Araya: masyarakat pesisir ladang garam di semenanjung terpencil Venezuela; dalam Suite Habana: warga kota Havana pasca runtuhnya Uni Soviet dan komunisme. Dalam beberapa hal keduanya bisa dibilang serupa. Di Araya, kehidupan nyaris tak berubah selama hampir 5 abad. Di Havana, saat Kuba harus mandiri di tengah embargo AS yang tak masuk akal, penduduk kota itu sepertinya bertahan dengan apa yang ada. Tak maju dan tak mundur. Laut dengan segenap hempasan ombaknya, yang di mana pun adalah sarana bagi datangnya progresi maupun destruksi, di Araya dan di Havana justru tampak bagaikan tameng yang mengucilkan dan mengebalkan mereka dari perubahan.




Ada satu kesamaan lain dari keduanya yang jelas merupakan poin terpenting dari kurasi ini: kedua film ini adalah puisi. Puisi menjadi puisi karena ia tidak bisa dibahasakan dengan cara lainnya. Dalam prosa, seseorang bergerak dari gagasan, lalu mengisinya dengan gambaran-gambaran, adegan-adegan, yang dirasa pas untuk menebalkan, mengisi, dan memberi daging bagi gagasan itu. Tapi puisi bermula dari gambaran –konkret maupun kelebatan—lalu bergerak sebaliknya. Atau seperti kata sutradara Cile, Raúl Ruiz, dalam konsepsinya mengenai “puitika sinema”: “Dalam semua film naratif –dan sampai taraf tertentu dalam semua film—gambarlah yang menentukan tipe narasi dan bukan sebaliknya.”[4] Saya kira ini berlaku untuk Araya dan Suite Habana. Tak terbayang rasanya, dengan materi gambar yang diambilnya, Benacerraf atau Pérez bisa membuat karya lain selain apa yang mereka buat ini. Dan inilah simpul kuratorial untuk kategori Amerika Latin kali ini: memberikan kemungkinan lain dalam mengaitkan estetika film dengan komitmen sosial-politik, di luar apa yang sudah lazim dikenal selama ini sebagai Sinema Ketiga.





[1] Saya pernah membahas ini dalam “Sastra Amerika Latin: Tak Sekadar Macondo vs. McOndo,” Kompas, Minggu, 23 April 2006.
[2] Octavio Getino dan Fernando Solanas, “Toward a Third Cinema,” Tricontinental No. 14, Oktober 1969, hlm. 107-132 (Havana: Organización de Solidaridad de los Pueblos de África, Asia y América Latina).
[3] Ibid., hlm. 120
[4] Raúl Ruiz, Poética del cine (Buenos Aires: Editorial Sudamericana, 2000). Bukan kebetulan Raúl Ruiz yang dikutip di sini. Meski menentang keras kediktatoran Pinochet, Ruiz berbeda dengan sutradara-sutradara segenerasinya seperti Patricio Guzmán atau Miguel Littín yang sangat bernafaskan Sinema Ketiga. Karya-karya Ruiz jauh lebih eksperimental.

Jumat, 30 Mei 2014

"Antara Terang dan Bayang-bayang," oleh Subcomandante Marcos (EZLN) 25 Mei 2014


Catatan: Pada 2 Mei 2014, seorang guru bernama José Luis López Solís alias “Galeano” dari komunitas basis Zapatista, La Realidad, dibunuh dalam serangan kelompok paramiliter ke komunitas tersebut. Galeano tewas dengan luka bacok dan peluru. Aksi solidaritas digelar di seluruh dunia untuk mengutuk serbuan ini. Setelah merilis serangkaian komunike mengecam peristiwa ini, Komando Jenderal EZLN tampil di depan publik pada 25 Mei 2014 membacakan keputusan-keputusan yang dimuat dalam komunike berikut. Diterjemahkan oleh Ronny Agustinus dari "Entre la luz y la sombra".


Di La Realidad, Planet Bumi
Mei 2014

Compañera, compañeroa, compañero,

Selamat malam, siang, atau pagi, yang mana pun yang mungkin ada di geografi, waktu, dan cara keberadaan kalian.

Selamat pagi buta.

Aku akan meminta para compañeras, compañeros, dan compañeroas dari Deklarasi Keenam yang berdatangan dari tempat-tempat lain, terutama compañeros dari media independen, atas kesabaran, toleransi, dan pengertian kalian atas apa yang hendak kusampaikan, sebab inilah kata-kata penghabisan yang akan kuucapkan di depan umum sebelum aku berhenti ada.

Aku bicara pada kalian dan mereka yang mendengar dan melihat kami melalui kalian.

Barangkali pada mulanya, atau seraya kata-kata ini merekah, akan tumbuh suatu sensasi di hati kalian bahwa ada sesuatu yang salah, ada sesuatu yang tidak klop, seakan-akan kalian kehilangan satu atau banyak keping yang bisa untuk memahami teka-teki yang akan dikuak padamu. Seakan-akan yang hilang masih tetap tak ada.

Mungkin nanti, berhari-hari, berminggu-minggu, berbulan-bulan, bertahun-tahun, atau berdasawarsa kemudian, apa yang hendak kami sampaikan akan dipahami.

Compañeras dan compañeros-ku di semua tingkatan EZLN tidak merisaukanku, sebab memang begitulah cara kami di sini: berjalan dan berjuang, selalu tahu bahwa apa yang tidak ada berarti belumlah datang.

Apalagi, tanpa bermaksud menyinggung siapa-siapa, kecerdasan kawan-kawan Zapatista jauh di atas rata-rata.

Selain itu, sungguh menyenangkan dan membanggakan bahwa di depan compañeras, compañeros, dan compañeroas, baik dari EZLN maupun Deklarasi Keenam, keputusan kolektif ini akan diperkenalkan.

Dan alangkah bagusnya bahwa melalui media bebas, alternatif, dan independenlah kepulauan lara, amarah, dan perjuangan bermartabat yang kami sebut Keenam ini akan mendengar apa yang hendak kusampaikan, di mana pun mereka berada.

Bila ada orang lain yang tertarik untuk tahu apa yang terjadi hari ini, mereka harus menemukan media independen untuk mencari tahu.

Jadi demikianlah. Selamat datang di realitas Zapatista.

I. Sebuah Keputusan Sulit
Saat kami meletus dan menginterupsi pada 1994 dengan darah dan api, itu bukanlah awal perang bagi kami sebagai Zapatista.

Perang dari atas, dengan maut dan kehancurannya, perampasan dan penistaannya, eksploitasi dan kebungkaman yang ia paksakan pada yang kalah, telah kami tanggung selama berabad-abad.

Yang bermula bagi kami pada 1994 adalah salah satu dari banyak momen perang oleh mereka yang di bawah melawan yang di atas, melawan dunia mereka.

Perang perlawanan ini diperjuangkan dari hari ke hari di sudut jalanan manapun di lima benua, di pedesaan dan pegunungan.

Perang ini perang kami, seperti perang banyak lainnya dari bawah, perang demi kemanusiaan dan melawan neoliberalisme.

Melawan kematian, kami tuntut kehidupan.
Melawan kebungkaman, kami tuntut kata-kata dan penghargaan.
Melawan lupa, ingatan.
Melawan pelecehan dan penghinaan, martabat.
Melawan penindasan, pemberontakan.
Melawan perbudakan, kebebasan.
Melawan paksaan, demokrasi.
Melawan kejahatan, keadilan.

Siapa dengan secuil saja kemanusiaan di nadi mereka yang bisa dan akan mempertanyakan tuntutan-tuntutan ini?

Dan banyak yang menyimak kami waktu itu.

Perang yang kami lancarkan memberi kami privilese untuk tiba di telinga dan hati murah hati yang mau menyimak di geografi-geografi yang dekat dan jauh.

Tanpa apa yang saat itu pun memang tiada, dan tak memiliki apa yang belum tiba, kami berhasil merebut tatapan pihak lain, telinga mereka, dan hati mereka.

Pada saat itulah kami melihat perlunya merespons sebuah pertanyaan kritis.

“Lalu apa?”

Dalam kalkulasi muram di penjelang perang, tak ada peluang apapun untuk mengajukan pertanyaan sama sekali. Maka pertanyaan ini pun membawa kami ke yang lainnya:

Haruskah kami mempersiapkan mereka yang datang sesudah kami untuk jalan kematian?

Haruskah kami mengembangkan prajurit yang lebih banyak dan lebih baik?

Mencurahkan upaya kami untuk meningkatkan mesin perang yang babak belur?

Berpura-pura berdialog dan condong pada perdamaian sembari menyiapkan serangan baru?

Membunuh atau dibunuh sebagai jalan takdir satu-satunya?

Atau haruskah kami merekonstruksi jalan kehidupan, yang telah dan terus dirusak oleh mereka yang di atas?

Jalan yang menjadi milik bukan hanya masyarakat adat, tapi kaum buruh, mahasiswa, guru, pemuda, kaum tani, beserta semua perbedaan itu yang dirayakan di atas dan dihukum dan dianiaya di bawah.

Haruskah kami hias dengan darah kami jalan yang diarahkan oleh orang lain menuju Kekuasaan, atau haruskah kami arahkan hati dan pandangan menuju siapa diri kami beserta mereka yang adalah diri kami, yakni masyarakat adat, pelestari bumi dan ingatan?

Tak ada yang mendengar waktu itu, tapi dalam racauan yang adalah kata-kata kami, kami mencatat bahwa dilema kami bukanlah antara berunding dan berperang, tapi antara mati dan hidup.

Barangsiapa yang saat itu menyadari bahwa dilema awal ini bukanlah dilema individual barangkali akan lebih bisa memahami apa yang sedang berlangsung di realitas Zapatista lebih dari 20 tahun terakhir.

Tapi kukatakan padamu bahwa kami menemui pertanyaan ini dan dilema ini.

Dan kami memilih.

Dan alih-alih mencurahkan diri kami untuk melatih para gerilyawan, prajurit, dan skuadron, kami mengembangkan para promotor pendidikan dan kesehatan, yang bergiat membangun fondasi bagi otonomi yang hari ini mencengangkan dunia.

Alih-alih mendirikan markas-markas, memperbarui senjata kami, membangun tembok dan parit-parit, kami membangun sekolah-sekolah, rumah sakit dan pusat-pusat layanan kesehatan, memperbaiki kondisi hidup kami.

Alih-alih bertempur demi sebuah tempat dalam Partenon kematian masing-masing individu dari mereka yang berada di bawah, kami memilih mendirikan kehidupan.

Semua ini di tengah-tengah perang yang tak kurang mematikan hanya karena berlangsung diam-diam.

Sebab, kawan, beda sekali antara berseru-seru “kalian tidak sendirian” dengan seorang diri cuma bermodal badan menghadapi sepasukan tentara federal bersenjata, seperti yang terjadi di zona Dataran Tinggi Chiapas. Bila kau mujur akan ada orang yang tahu tentang hal itu, dan lebih mujur lagi bila orang yang tahu itu kemudian merasa marah, dan makin mujur lagi bila orang yang marah itu lalu berbuat sesuatu.

Sementara itu, tank-tank dihadang oleh kaum perempuan Zapatista, dan dengan tiadanya amunisi, caci maki dan batulah yang memaksa ular baja itu mundur.

Dan di zona utara Chiapas, kami alami lahir dan berbiaknya guardias blancas [preman sewaan para tuan tanah —cat. penerjemah] yang sesudahnya didaur ulang sebagai paramiliter; dan di Zona Tzotz Choj, agresi terus menerus dari organisasi-organisasi tani yang “independen” cuma dalam nama; dan di zona Selva Tzeltal, paduan antara paramiliter dan kaum kontra.

Beda sekali antara berkata “kami semua Marcos” atau “bukan kami semua Marcos,” bergantung kasusnya, dengan mengalami langsung penganiayaan oleh segenap peralatan perang, serbuan ke komunitas-komunitas, “penyisiran” pegunungan, penggunaan anjing-anjing serang terlatih, baling-baling helikopter bersenjata merusak jumbai-jumbai pohon kapuk, perintah “hidup atau mati” yang lahir pada hari-hari pertama Januari 1994 dan mencapai tingkat paling histerisnya pada 1995 dan seterusnya dari masa pemerintahan orang yang kini jadi pegawai korporasi transnasional, yang dialami oleh zona Selva Fronteriza ini pada 1995 dan yang harus ditambahkan pula rangkaian serangan dari organisasi-organisasi tani, penggunaan paramiliter, militerisasi, dan pelecehan.

Bila ada mitos yang muncul pada hari ini dari semua hal tadi, mitos itu bukanlah soal topeng ski, tapi dusta yang terus diulang dari masa-masa itu dan seterusnya, dan bahkan ikut ditelan oleh orang-orang berpendidikan tinggi, bahwa perang melawan Zapatista hanya berlangsung selama 12 hari.

Aku tidak akan menuturkan pengisahan ulang yang rinci. Orang yang memiliki sedikit semangat kritis dan keseriusan bisa merekonstruksi sejarah tersebut, menambah dan mengurangi untuk sampai pada intinya, dan lalu berkata apakah ada dan pernah ada lebih banyak reporter ketimbang polisi dan tentara; apakah ada lebih banyak puja-puji ketimbang ancaman dan hinaan, apakah harga yang diiklankan adalah untuk melihat si topeng ski atau untuk menangkapnya “hidup atau mati.”

Di bawah kondisi ini, kadang dengan semata-mata kekuatan kami sendiri dan kala lainnya dengan dukungan murah hati dan tanpa syarat dari orang-orang baik seluruh dunia, kami bergerak maju dalam membangun –masih belum rampung, tentunya, tapi toh menentukan—apa kami sekarang.

Jadi bukan sekadar ungkapan, yang mujur atau malang bergantung kalian melihatnya dari atas atau dari bawah, untuk mengatakan, “Inilah kami, yang mati senantiasa, yang mati sekali lagi, tapi kali ini untuk hidup.” Ini realitas.

Dan hampir 20 tahun sesudahnya…

Pada 21 Desember 2012, ketika politik dan esoterisme berpadu, seperti pada waktu-waktu lainnya, mengabarkan bencana yang senantiasa dipulangkan pada mereka yang di bawah, kami ulangi gebukan 1 Januari ’94, dan tanpa meletuskan satu pun tembakan, tanpa senjata, hanya dengan kebisuan kami, melemahkan keangkuhan kota-kota tempat lahir dan sarang rasisme serta penghinaan.

Bila pada 1 Januari 1994, ribuan orang lelaki dan perempuan tak berwajah menyerang dan mengalahkan garnisun-garnisun yang melindungi kota-kota, pada 21 Desember 2012, puluhan ribu orang tanpa kata-kata menduduki gedung-gedung untuk merayakan musnahnya kami [yang dimaksud adalah masyarakat adat Maya —cat. penerjemah].

Fakta yang semata-mata tak terbantahkan bahwa EZLN bukan cuma tidak melemah, apalagi menghilang, tapi malah bertumbuh secara kuantitatif dan kualitatif akan cukup bagi siapa saja yang berkecerdasan rata-rata untuk memahami bahwa, dalam 20 tahun ini, sesuatu tengah berubah dalam EZLN dan dalam komunitas-komunitas.

Barangkali lebih dari segelintir orang merasa kami membuat pilihan yang keliru; bahwa tentara tidak bisa dan tidak semestinya berikhtiar menuju perdamaian.

Kami ambil pilihan itu untuk banyak alasan, memang, tapi yang utama adalah bahwa dengan cara itulah kami pada akhirnya bisa tiada.

Barangkali benar. Barangkali kami keliru memilih untuk memupuk kehidupan alih-alih memuja kematian.

Tapi kami mengambil pilihan itu tanpa mendengarkan mereka yang berada di luar. Tanpa mendengarkan mereka yang selalu menuntut dan menghendaki pertempuran sampai mati, asalkan yang mati itu orang lain.

Kami ambil pilihan itu sembari melihat dan menyimak ke dalam, sebagai Votán kolektif yang adalah kami.

Kami memilih berontak, artinya, hidup.

Bukan berarti kami tidak tahu bahwa perang dari atas akan mencoba dan terus mencoba memaksakan dominasinya pada kami.

Kami tahu dan masih terus tahu bahwa kami harus berulang kali mempertahankan apa dan bagaimana kami ini.

Kami tahu dan masih terus tahu bahwa akan terus ada kematian supaya ada kehidupan.

Kami tahu dan masih terus tahu bahwa supaya hidup, kami mati.

II. Kegagalan?
Di sana mereka bilang bahwa kami belum mencapai apa-apa buat diri kami sendiri.

Tak berhenti rasa kaget kami bahwa mereka bisa meyakini sikap itu dengan begitu penuh percaya diri.

Mereka merasa putra dan putri para comandante dan comandanta seharusnya melancong ke luar negeri, belajar di sekolah swasta, dan mencapai kedudukan tinggi di kancah bisnis atau politik. Alih-alih menggarap lahan dan menghasilkan pangan dengan keringat dan tekad, mereka semestinya terkenal di jejaring sosial, menghibur diri di klab, berlagak bermewah-mewah.

Barangkali para subcomandante harus beranak pinak dan mewariskan kerja, tunjangan, dan panggung mereka ke anak-anaknya, seperti yang dilakukan oleh para politisi dari segala spektrum politik.

Barangkali kami harus, seperti para pemimpin CIOAC-H dan organisasi-organisasi tani lainnya, mendapat privilese dan gaji dalam bentuk proyek-proyek dan sumber daya keuangan, menyimpan bagian terbesarnya untuk diri sendiri dan menyisakan remah-remahnya saja untuk basis, sebagai ganti menuruti perintah kriminal yang datang dari atas.

Memang benar, kami tak mencapai semua itu.

Kendati sukar dipercaya, 20 tahun sesudah “tak ada yang buat kami sendiri”, ternyata ia bukan semboyan, kalimat indah buat poster dan lagu-lagu, melainkan sebuah kenyataan, realitas.

Bila bertanggung jawab itu tanda kegagalan, maka tidak bertanggung jawab adalah jalur menuju sukses, jalan menuju Kuasa.

Tapi bukan itu yang kami tuju.

Kami tak tertarik soal itu.

Dalam parameter yang seperti itu, kami memilih gagal ketimbang berhasil.

III. Peralihan
Dalam 20 tahun ini telah terjadi peralihan berlapis dan rumit dalam EZLN.

Beberapa orang hanya melihat yang kentara: generasional.

Hari ini, mereka yang masih kecil atau bahkan belum lahir pada awal pemberontakan adalah orang-orang yang mengemban perjuangan ke depan dan mengarahkan perlawanan.

Tapi sebagian ahli tidak memperhitungkan perubahan lainnya:

Yakni kelas: dari kelas menengah tercerahkan ke kaum petani adat.

Yakni ras: dari kepemimpinan mestizo ke kepemimpinan yang sepenuhnya adat.

Dan yang terpenting: peralihan pemikiran: dari garda depan revolusioner menjadi memerintah dengan patuh; dari mengambil alih Kekuasaan di Atas menjadi penciptaan kuasa dari bawah; dari politik profesional ke politik sehari-hari; dari pemimpin ke rakyat; dari marjinalisasi gender ke partisipasi langsung kaum perempuan; dari mengolok-olok yang-lain ke perayaan perbedaan.

Aku tidak akan berpanjang lebar soal ini sebab kursus “La Libertad según l@s zapatistas” (“Kebebasan Menurut Zapatista”) merupakan peluang untuk mengonfirmasi apakah di kawasan terorganisir ini tokoh lebih dihargai melebihi komunitas.

Secara pribadi, aku tidak paham mengapa para pemikir yang menegaskan bahwa sejarah dibuat oleh rakyat menjadi begitu ketakutan mendapati sebuah pemerintahan rakyat di mana “kaum spesialis” sama sekali tak kelihatan.

Mengapa mereka begitu takut bahwa rakyatlah yang memerintah, yang menetapkan langkah-langkahnya sendiri?

Mengapa mereka menggelengkan kepala tak setuju di depan “memerintah dengan patuh?”

Kultus individu mendapati dalam kultus garda depan ekstremnya yang paling fanatik.

Dan inilah persisnya –bahwa orang adat memerintah, dan kini orang adatlah yang menjadi juru bicara dan ketua—yang menakutkan mereka, menjauhkan mereka, dan akhirnya membuat mereka mencari-cari seseorang yang membutuhkan garda depan, juragan, dan pimpinan. Sebab di kubu kiri juga ada rasisme, terutama di kalangan kiri yang berpretensi revolusioner.

Ezetaelene tidak begitu. Itu sebabnya tidak sembarang orang bisa menjadi Zapatista.

IV. Hologram yang berubah dan dibentuk. Yang tidak akan.
Sebelum subuh 1994, aku sudah 10 tahun di pegunungan ini. Aku bertemu dan secara pribadi bergaul dengan beberapa orang yang kematiannya ikut membuat bagian besar dari diri kita mati. Sejak itu, aku mengenal dan bergaul dengan lain-lainnya yang hari ini ada bersama kita.

Pada banyak dini hari aku mencoba mencerna kisah-kisah yang mereka ceritakan padaku, dunia-dunia yang mereka goreskan dengan keheningan, tangan, dan tatapan, kengototan mereka menunjuk sesuatu yang lebih jauh.

Mimpikah itu, dunia yang begitu berbeda, begitu jauh, begitu asing?

Kadang aku merasa mereka telah jauh mendahului kami semua, bahwa kata-kata yang membimbing kami berasal dari waktu yang tidak punya penanggalan, yang tersesat di geografi-geografi yang tak pasti: selalu dengan selatan yang bermartabat hadir di semua titik penjuru.

Nantinya aku belajar bahwa mereka tidak sedang memberitahuku tentang sebuah dunia tak pasti, yang dengan demikian, tak mungkin.

Dunia tersebut sudah merekah.

Kalian, tidakkah kalian melihatnya? Tidakkah kalian saksikan?

Kami tidak mengelabui siapa-siapa dari bawah. Kami tidak menutup-nutupi fakta bahwa kami ini tentara, dengan struktur piramidanya, komando sentralnya, keputusannya dari atas ke bawah. Kami tidak berupaya mencari muka dengan bergaya libertarian atau dengan menyangkal kedirian kami.

Tapi siapa saja bisa melihat sekarang apakah kami ini tentara yang menggenapi atau memaksa.

Dan harus kubilang aku sudah meminta izin compañero Subcomandante Insurgente Moisés untuk mengatakan ini:

Tak ada apapun yang pernah kami perbuat, baik buruknya, bisa mungkin tanpa sebuah militer bersenjata, Tentara Pembebasan Nasional Zapatista, tanpanya kami takkan bangkit melawan pemerintahan jahat yang menjalankan hak melakukan kekerasan absah. Kekerasan dari bawah untuk menghadapi kekerasan dari atas.

Kami pejuang dan dengan itu kami tahu peran kami dan momentum kami.

Pada dini pagi hari pertama dari bulan pertama tahun 1994, sepasukan raksasa, artinya, kaum pemberontak adat, turun ke kota-kota untuk mengguncang dunia dengan langkahnya.

Hanya sekian hari kemudian, dengan darah para prajurit kami yang gugur masih segar di jalanan kota, kami sadari bahwa mereka yang di luar tidak melihat kami.

Terbiasa memandang rendah masyarakat adat dari atas, mereka tidak menengadahkan pandangan untuk melihat kami.

Terbiasa melihat kami dilecehkan, hati mereka tidak memahami pemberontakan kami yang bermartabat.

Pandangan mereka berhenti hanya pada satu-satunya mestizo yang mereka lihat bertopeng ski, artinya, yang tidak mereka lihat.

Para pemimpin kami lantas berkata:
“Mereka cuma bisa melihat yang sekecil diri mereka, ayo bikin seseorang yang sekecil mereka agar mereka bisa melihatnya dan melalui dia melihat kita.”

Maka dimulailah suatu manuver pengalih perhatian yang rumit, trik sulap yang ngeri dan ajaib, gerak licin dari sanubari adat yang adalah kami, dengan kearifan adat menantang modernitas pada salah satu baluartinya: media komunikasi.

Maka dimulailah pembangunan sosok bernama “Marcos.”

Aku minta kalian mengikutiku dalam penalaran ini:

Anggaplah ada cara lain untuk menetralisir seorang kriminal. Misalnya, mengakali senjata pembunuh mereka, membuatnya mengira itu efektif, menyuruhnya menyusun, di atas dasar efektivitas ini, segenap rencana mereka, agar pada saat mereka siap menembak, si “senjata” berbalik menjadi apa adanya ia senantiasa: sebuah ilusi.

Seantero sistem ini, tapi paling terutama media komunikasinya, menjalankan permainan menciptakan tokoh-tokoh ternama yang nantinya dihancurkannya sendiri apabila mereka tidak sejalan dengan desainnya.

Kekuatannya terletak (kini tak ada lagi, telah digusur oleh media sosial) dalam memutuskan apa dan siapa yang eksis dalam momen ketika mereka memutuskan apa yang hendak dinamai dan apa yang dibungkam.

Pada akhirnya, jangan terlalu mengindahkanku, seperti sudah terbukti selama 20 tahun ini, aku tidak tahu apa-apa soal media komunikasi massa.

Nyatanya adalah si SupMarcos ini berubah dari seorang juru bicara menjadi pengalih perhatian.

Bila jalan menuju perang, artinya, jalan menuju kematian, memakan waktu kami 10 tahun, jalan menuju kehidupan meminta lebih banyak waktu dan lebih banyak ikhtiar, belum lagi darah.

Sebab, meski kalian mungkin tidak mempercayainya, lebih mudah untuk mati ketimbang untuk hidup.

Kami butuh waktu untuk menjadi dan untuk menemukan mereka yang tahu cara untuk melihat kami apa adanya.

Kami butuh waktu untuk menemukan mereka yang akan melihat kami bukan dari atas atau dari bawah, tapi berhadap-hadapan, yang akan melihat kami dengan pandangan seorang compañero.

Maka seperti kubilang, dimulailah kerja membangun sosok ini.

Marcos pada suatu hari bermata biru, lain hari hijau, atau coklat, atau madu, atau hitam, semua bergantung pada siapa yang mewawancarai dan mengambil foto. Ia seorang pemain cadangan tim sepak bola profesional, pegawai pasar swalayan, sopir, filsuf, sineas, dan lain-lain yang bisa didapati dalam media bayaran dari penanggalan yang itu dan pada beraneka macam geografi. Ada seorang Marcos untuk setiap kesempatan, artinya, untuk setiap wawancara. Dan ini tidak mudah, percayalah, tak ada Wikipedia, dan bila ada yang datang dari Negeri Spanyol kami perlu menyelidiki apa itu corte inglés, misalnya, apakah kostum khas Inggris, toko sembako, atau pasar swalayan.

Bila aku harus merumuskan sosok Marcos ini, akan kubilang tanpa ragu bahwa dia itu muslihat.

Bisa kita bilang, agar kalian memahamiku, bahwa Marcos adalah Media Tidak Bebas (catat: ini tidak sama dengan media bayaran).

Dalam membangun dan mempertahankan karakter ini, kami membuat beberapa kekeliruan.

“Keliru itu manusiawi,” kata si pandai besi.

Selama tahun pertama kami menguras, seperti kata orang, repertoar dari semua “Marcos” yang mungkin. Sehingga pada awal 1995, kami mulai kesulitan sementara proses di masyarakat baru berjalan pada tahap awal.

Demikianlah pada 1995 kami tidak tahu harus berbuat apa. Tapi saat itulah Zedillo, dengan PAN [Partai Aksi Nasional —cat. penerjemah] di sisinya, “menemukan” Marcos memakai metode saintifik yang sama untuk menemukan tulang belulang, artinya dengan pengaduan gaib.

Cerita tentang cowok dari Tampico memberi kami ruang bernafas, kendati akal-akalan lanjutan oleh Paca de Lozano membuat kami khawatir bahwa pers bayaran juga akan mempertanyakan “penyibakan topeng” Marcos dan lantas mendapati bahwa itu pun cuma tipu-tipu lain lagi. Untungnya tidak demikian. Dengan itu, media terus menelan yang serupa lainnya dari baling-baling kincir desas-desus.

Suatu waktu kemudian cowok dari Tampico itu muncul di tanah ini. Bersama dengan Subcomandante Insurgente Moisés, kami bicara padanya. Kami tawarkan untuk melakukan konferensi pers bersama agar ia bisa terbebas dari perburuan, karena dengan demikian menjadi jelas bahwa ia dan Marcos bukan orang yang sama. Ia tidak mau. Ia datang untuk tinggal di sini. Ia pergi beberapa kali dan wajahnya bisa terlihat dalam foto-foto acara pemakaman orang tuanya. Kalian bisa mewawancarainya bila mau. Sekarang ia tinggal dalam komunitas, di… Ah, ternyata tidak boleh kukatakan di mana ia tinggal. Kami takkan berkata lebih banyak lagi, agar bila ia menginginkannya suatu hari nanti, ia bisa menceritakan kisah apa yang telah ia jalani sejak 9 Februari 1995. Dari pihak kami, kami hanya ingin berterima kasih padanya atas informasi darinya yang kami pakai dari waktu ke waktu untuk memupuk “kepastian” bahwa SupMarcos bukanlah apa ia sebenar-benarnya, artinya, muslihat atau hologram, melainkan profesor universitas dari Tamaulipas yang kini mengenaskan itu.

Sementara itu kami terus mencari, mencari kalian, kalian yang ada di sini sekarang dan mereka yang tidak ada di sini tetapi ada bersama kita.

Kami luncurkan beragam inisiatif untuk menjumpai yang lain, lelaki perempuan, compañero yang lain. Inisiatif yang berbeda-beda kami jajal untuk menjumpai tatapan dan telinga yang kami butuhkan dan layak kami dapatkan.

Sementara itu, maju terus pula komunitas-komunitas kami dan peralihan yang telah banyak atau sedikit dibicarakan, yang bisa dikonfirmasikan langsung, tanpa perantara.

Dalam pencarian kami akan sesuatu yang lain itu, kami gagal berulang kali.

Mereka yang kami jumpai entah ingin menuntun kami atau ingin kami menuntun mereka.

Ada juga mereka yang dekat dengan kami bertolak dari hasrat untuk memanfaatkan kami, atau menatap ke belakang, entah dengan nostalgia antropologis atau dengan nostalgia militan.

Maka kami pun bagi beberapa pihak adalah komunis, bagi yang lain Trotskyis, bagi yang lain lagi anarkis, bagi yang lain mileniaris, dan kusudahi di sini agar kalian bisa menambahkan “is-is” lainnya lagi dari pengalaman kalian sendiri.

Begitulah adanya sampai Deklarasi Keenam Rimba Raya Lacandón, yang paling berani dan paling Zapatista dari semua insiatif yang pernah kami luncurkan hingga kini.

Dengan yang Keenam, kami pada akhirnya menjumpai mereka yang bisa melihat kami bertatap muka dan menyalami dan memeluk kami, dan beginilah salam dan pelukan itu semestinya.

Melalui yang Keenam, pada akhirnya, kami menemukan kalian.

Akhirnya, orang yang paham bahwa kami tidak sedang mencari gembala untuk menuntun kami, bukan pula kawanan untuk dibimbing ke tanah terjanji. Bukan juragan bukan suruhan. Bukan pemimpin bukan massa tanpa pimpinan.

Tapi kami masih belum tahu bisakah kalian melihat dan mendengar apakah kami ini.

Di dalam, kemajuan komunitas-komunitas kami mengesankan.

Lantas keluarlah kursus “Kebebasan Menurut Zapatista.”

Selama tiga putaran, kami sadar bahwa telah ada sebuah generasi yang bisa menatap kami berhadap-hadapan, yang bisa mendengar dan bercakap pada kami tanpa mengharapkan seorang pemandu atau pemimpin, tanpa bermaksud menjadi patuh atau menjadi pengikut.

Marcos, sosok itu, tak lagi diperlukan.

Fase baru perjuangan Zapatista telah siap.

Maka yang terjadi terjadilah, dan banyak di antara kalian, compañeras dan compañeros Deklarasi Keenam, tahu akan hal ini secara langsung.

Orang boleh berkata nanti bahwa sosok ini tak ada gunanya. Tapi kilas balik secara jujur pada masa-masa itu akan menunjukkan betapa banyak orang menoleh ke arah kami, dengan suka atau pun tidak suka, gara-gara figur si muslihat itu.

Marcos, sosok itu, tak lagi diperlukan (foto: Cooperativa de Medios)

Jadi peralihan tanggung jawab bukan dikarenakan sakit atau kematian, bukan pula karena pertikaian internal, pemurnian atau pembersihan.

Secara logis ia berlangsung sejalan dengan perubahan internal yang telah dan tengah dijalani EZLN.

Aku tahu ini tidak klop dengan skema yang sangat kaku dari macam-macam atas sana, tapi sejujur-jujurnya hal itu tidak merisaukan kami.

Dan apabila hal ini mengacaukan penjelasan malas dan miskin dari para gosipolog dan zapatolog di Jovel, ya biar sajalah.

Aku tidak sedang sakit, demikian juga aku belum mati.

Atau tepatnya, mengesampingkan fakta bahwa aku telah dibunuh berulang kali, bahwa aku telah mati berulang-ulang kali, nih aku ada lagi.

Bila kami sendirilah yang mengipasi gosip tersebut, itu karena memang pas buat kami.

Trik besar terakhir dari si hologram adalah berpura-pura sakit parah, termasuk mati yang konon dialaminya.

Jelas, kalimat “bila kesehatannya mengizinkan” yang dipakai oleh Subcomandante Insurgente Moisés dalam komunike yang mengumumkan saling berbagi dalam CNI [Kongres Adat Nasional –cat. penerjemah] setara kadarnya dengan “bila rakyat meminta” atau “bila jajak pendapat mendukung” atau “bila tuhan berkenan” dan klise-klise lainnya yang menjadi semboyan kelas politik belakangan ini.

Kalau boleh kuberi saran: cobalah sedikit punya rasa humor, bukan cuma untuk kesehatan jasmani rohanimu sendiri, tapi karena tanpa rasa humor kau tidak akan memahami Zapatismo. Dan mereka yang tidak bisa memahami, menghakimi; dan mereka yang menghakimi, mengutuk.

Dalam kenyataannya inilah peran paling mudah dari sosok itu. Untuk memupuk gosip cuma perlu memberitahu segelintir orang tertentu: “Kuberitahu rahasia ya, tapi jangan kasih tahu siapa-siapa.”

Dan tentu saja mereka kasih tahu ke mana-mana.

Para kolaborator tak sengaja pertama dalam isu soal sakit dan kematian adalah “para ahli zapatologi” di Jovel yang angkuh dan di Ciudad de México yang khaotik yang menganggap mereka sangat dekat dan punya pengetahuan mendalam soal Zapatismo. Selain itu, tentunya, polisi yang mendapat gaji mereka sebagai jurnalis, jurnalis yang mendapat gaji mereka sebagai polisi, dan jurnalis yang cuma mendapat gaji mereka, yang buruk, sebagai jurnalis.

Terima kasih pada mereka semua. Terima kasih atas pertimbanganmu. Kalian berbuat persis sesuai perkiraan kami. Satu-satunya sisi buruk dari semua ini adalah bahwa aku ragu akan ada orang yang pernah memberitahu kalian sebuah rahasia lagi.

Merupakan keyakinan dan praktik kami bahwa untuk memberontak dan berjuang, tak dibutuhkan pemimpin atau juragan atau ratu adil atau juru selamat. Untuk berjuang, orang cuma perlu rasa malu, secuil martabat, dan banyak pengorganisasian.

Selebihnya, entah itu melayani kolektif atau tidak.

Sungguh-sungguh lucu apa yang telah disulut oleh kultus individu dalam diri para ahli politik dan analis di atas. Kemarin mereka bilang masa depan rakyat Meksiko bergantung pada aliansi dua tokoh. Sebelumnya mereka bilang Peña Nieto telah independen dari Salinas de Gortari, tanpa sadar bahwa dalam skema ini, bila orang mengkritik Peña Nieto, praktis mereka ada di pihak Salinas de Gortari; dan bila mengkritik yang belakangan, mereka mendukung Peña Nieto. Sekarang mereka bilang orang harus berpihak dalam perjuangan yang berlangsung di atas untuk mengontrol telekomunikasi, sehingga engkau di pihak Slim atau di pihak Azcárraga-Salinas. Dan lebih jauh ke atas lagi, di pihak Obama atau di pihak Putin.

Mereka yang menatap dan mendamba untuk bisa di atas silakan terus mencari pemimpinnya; mereka boleh terus berpikir bahwa sekarang, untuk yang sebenar-benarnya, hasil pemilu akan dijunjung; bahwa sekarang, untuk yang sebenar-benarnya, Slim akan menyokong kubu kiri elektoral; bahwa sekarang, untuk yang sebenar-benarnya, naga dan pertempuran akan muncul di Game of Thrones; bahwa sekarang, untuk yang sebenar-benarnya, Kirkman akan setia pada versi asli komik dari serial teve The Walking Dead; bahwa sekarang, untuk yang sebenar-benarnya, barang-barang buatan Cina tidak akan rusak sekali pakai; bahwa sekarang, untuk yang sebenar-benarnya, sepak bola akan jadi olahraga dan bukan bisnis.

Dan ya, barangkali untuk beberapa kasus mereka benar. Tapi jangan lupa bahwa dalam semua ini mereka cuma penonton, artinya, konsumen pasif.

Mereka yang mencintai dan membenci SupMarcos kini tahu bahwa mereka telah mencintai dan membenci sebuah hologram. Cinta dan benci mereka percuma, steril, kosong, melompong.

Tak bakal ada rumah-museum atau plakat logam di tempatku lahir dan dibesarkan. Tak bakal ada orang yang mencari penghidupan dengan pernah menjadi Subcomandante Marcos. Tak ada yang akan mewarisi nama atau pekerjaannya. Tak ada perjalanan-perjalanan berbayar untuk memberi ceramah di luar negeri. Tak bakal ada pengantaran atau pelayanan di rumah sakit mewah. Tak bakal ada janda atau pewaris. Tak bakal ada pemakaman, penghargaan, patung, museum, anugerah, atau apapun yang dilakukan sistem untuk mendorong kultus individu dan menihilkan yang-kolektif.

Sosok ini adalah hasil ciptaan dan sekarang para penciptanya, lelaki dan perempuan Zapatista, tengah menghancurkannya.

Bila orang memahami pelajaran dari compañeras dan compañeros kami ini, mereka akan sudah memahami salah satu fondasi zapatismo.

Maka, dalam sekian tahun terakhir, terjadilah apa yang telah terjadi.

Sekarang kami melihat muslihat, sosok, hologram itu tak lagi dibutuhkan.

Berulang kali kami merencanakan ini, dan berulang kali kami menunggu saat yang tepat: kalender dan geografi yang tepat untuk menunjukkan apa sebenar-benarnya kami pada mereka yang sebenar-benarnya diri mereka.

Lalu Galeano tiba bersama kematiannya untuk menandai kalender dan geografi kami: “di sini, di La Realidad; kini: dalam lara dan amarah.”

V. Lara dan Amarah. Bisik dan Pekik.
Saat kami sampai di caracol La Realidad sini, tanpa ada yang menyuruh kami mulai bicara berbisik-bisik.

Lara kami berucap pelan, amarah kami lirih.

Seolah-olah kami berusaha untuk tak membuat takut Galeano dengan keberisikan, dengan suara-suara yang tak dikenalnya.

Seolah-olah suara dan langkah kami memanggilnya.

Tunggu, kawan,” kata keheningan kami.

Jangan pergi,” kata-kata kami bergumam.

Tapi ada lara-lara lain dan amarah-amarah lain.

Pada menit ini juga, di pelosok-pelosok lain Meksiko dan dunia, seorang pria, seorang perempuan, seorang yang lain, seorang gadis cilik, seorang bocah kecil, seorang lelaki jompo, seorang perempuan sepuh, sebuah kenangan, dihajar dari jarak dekat, dikepung oleh sistem yang adalah kejahatan rakus, dipentung, diparang, ditembak, dihabisi, diseret di sela-sela tawa menghina, ditelantarkan, jasad mereka lantas dipungut dan diratapi, kehidupan mereka dikuburkan.

Beberapa nama saja:

Alexis Benhumea, dibunuh di negara bagian Meksiko.
Francisco Javier Cortés, dibunuh di negara bagian Meksiko.
Juan Vázquez Guzmán, dibunuh di Chiapas.
Juan Carlos Gómez Silvano, dibunuh di Chiapas.
El compa Kuy, dibunuh di Distrik Federal.
Carlo Giuliani, dibunuh di Italia.
Aléxis Grigoropoulos, dibunuh di Yunani.
Wajih Wajdi al-Ramahi, dibunuh di kamp pengungsian kota Ramallah, Tepi Barat. Umur 14 tahun, ditembak mati di punggung dari sebuah pos penjagaan tentara Israel, tak ada arak-arakan, demo, atau apapun lainnya di jalanan.
Matías Valentín Catrileo Quezada, suku Mapuche yang dibunuh di Cile.
Teodulfo Torres Soriano, kawan dari yang Keenam, hilang di Mexico City.
Guadalupe Jerónimo dan Urbano Macías, anggota komune dari Cherán, dibunuh di Michoacán.
Francisco de Asís Manuel, hilang di Santa María Ostula.
Javier Martínes Robles, hilang di Santa María Ostula.
Gerardo Vera Orcino, hilang di Santa María Ostula.
Enrique Domínguez Macías, hilang di Santa María Ostula.
Martín Santos Luna, hilang di Santa María Ostula.
Pedro Leyva Domínguez, dibunuh di Santa María Ostula.
Diego Ramírez Domínguez, dibunuh di Santa María Ostula.
Trinidad de la Cruz Crisóstomo, dibunuh di Santa María Ostula.
Crisóforo Sánchez Reyes, dibunuh di Santa María Ostula.
Teódulo Santos Girón, hilang di Santa María Ostula.
Longino Vicente Morales, hilang di Guerrero.
Víctor Ayala Tapia, hilang di Guerrero.
Jacinto López Díaz “El Jazi”, dibunuh di Puebla.
Bernardo Vázquez Sánchez, dibunuh di Oaxaca.
Jorge Alexis Herrera, dibunuh di Guerrero.
Gabriel Echeverría, dibunuh di Guerrero.
Edmundo Reyes Amaya, hilang di Oaxaca.
Gabriel Alberto Cruz Sánchez, hilang di Oaxaca.
Juan Francisco Sicilia Ortega, dibunuh di Morelos.
Ernesto Méndez Salinas, dibunuh di Morelos.
Alejandro Chao Barona, dibunuh di Morelos.
Sara Robledo, dibunuh di Morelos.
Juventina Villa Mojica, dibunuh di Guerrero.
Reynaldo Santana Villa, dibunuh di Guerrero.
Catarino Torres Pereda, dibunuh di Oaxaca.
Bety Cariño, dibunuh di Oaxaca.
Jyri Jaakkola, dibunuh di Oaxaca.
Sandra Luz Hernández, dibunuh di Sinaloa.
Marisela Escobedo Ortíz, dibunuh di Chihuahua.
Celedonio Monroy Prudencio, hilang di Jalisco.
Nepomuceno Moreno Nuñez, dibunuh di Sonora.

Lelaki dan perempuan migran, dihilangkan paksa dan barangkali dibunuh di setiap sudut wilayah Meksiko.

Para tahanan yang ingin mereka bunuh dengan tetap hidup: Mumia Abu Jamal, Leonard Peltier, suku Mapuche, Mario González, Juan Carlos Flores.

Penguburan terus menerus suara-suara yang adalah kehidupan, dibungkam oleh runtuhan tanah atau menutupnya jeruji.

Dan penghinaan terbesar adalah, bersama sesekop penuh tanah yang disorongkan oleh antek yang sedang bertugas, sistem berkata: “Kau tidak masuk hitungan, kau tidak bernilai apa-apa, tak ada yang menangisimu, tak ada yang bakal marah oleh kematianmu, tak ada yang bakal mengikuti jejakmu, tak ada yang membopong hidupmu.”

Dan seiring sekop penghabisan jatuhlah vonis: “bahkan bila mereka menangkap dan menghukum orang-orang yang membunuhmu, kami akan selalu menemukan lainnya, lainnya, lainnya lagi, untuk memerangkap dan mengulangi tarian maut yang mengakhiri nyawamu.”

Dan berkata, “Keadilan kecil, kerdil, yang akan kau terima, dipabrik oleh media bayaran untuk menirukan dan mendapat sedikit ketenangan guna menghentikan khaos yang akan menerjang mereka, tidak menakutkanku, mencelakakanku, atau menghukumku.”

Apa yang harus kami katakan pada jenazah ini, di sudut dunia bawah manapun, yang dikubur dalam lupa?

Apa cuma lara dan amarah kami yang diperhitungkan?

Apa cuma keberanian kami yang penting?

Apa saat kami gumamkan sejarah kami, tak terdengar tangis mereka, jerit mereka?

Ketidakadilan punya begitu banyak nama dan menyulut begitu banyak jerit.

Tapi lara kami dan amarah kami tidak menghalangi kami mendengar mereka.

Dan gumam kami bukan cuma untuk meratapi orang-orang mati kami yang gugur secara tidak adil.

Mereka memungkinkan kami mendengar lara-lara lainnya, menjadikan amarah lainnya amarah kami, dan terus melanjutkan jalan rumit, panjang, dan menyiksa untuk membuat semua ini menjadi pekik yang berubah menjadi perjuangan kebebasan.

Dan jangan lupa bahwa ketika seseorang bergumam, seorang lainnya berteriak.

Dan hanya telinga yang menyimak yang bisa mendengarnya.

Ketika kami bicara dan mendengar sekarang ini, seseorang berteriak penuh lara, penuh amarah.

Seolah-olah orang harus belajar mengarahkan pandangannya, si pendengar harus menemukan jalan untuk membuatnya subur.

Sebab saat seseorang mengaso, seorang lainnya lanjut mendaki tanjakan.

Guna melihat upaya ini, cukup dengan menundukkan pandangan dan menjunjung hati.

Bisakah?

Maukah?

Keadilan yang kecil terlihat begitu mirip balas dendam. Keadilan kecillah yang membagi-bagi impunitas, dengan menghukum yang satu, mengampuni yang lain.

Keadilan, bukan balas dendam (foto: Cooperativa de Medios

Yang kami kehendaki, yang kami perjuangkan, tidak berakhir dengan menemukan para pembunuh Galeano dan memastikan mereka menerima hukuman (jangan ragu bahwa inilah yang akan terjadi).

Pencarian yang sabar dan teguh menghendaki kebenaran, bukan rasa lega dari kepasrahan.

Keadilan sejati berkait dengan compañero Galeano yang dikuburkan.

Sebab kami bertanya pada diri sendiri bukan apa yang kita perbuat dengan kematiannya, tapi apa yang kita buat dengan hidupnya.

Maafkan bila aku masuk dalam kawasan becek ungkapan klise, tapi compañero ini tidak layak mati, tidak seperti ini.

Segala keuletannya, pengorbanannya sehari-hari, yang tepat waktu, tak kasat mata buat siapapun kecuali buat kami, adalah demi kehidupan.

Dan bisa kupastikan pada kalian bahwa ia seorang yang luar biasa, dan lebih dari itu, dan inilah yang menakjubkan, ada ribuan compañeros dan compañeras sepertinya di komunitas-komunitas adat Zapatista, dengan tekad yang sama, komitmen yang sama, kejelasan yang sama, dan satu tujuan tunggal: kebebasan.

Dan memakai hitung-hitungan maut: bila ada seseorang yang layak mati, maka dialah orang yang tiada dan memang tidak pernah ada, kecuali dalam minat sesaat saja dari media bayaran.

Seperti kata compañero kita, ketua dan juru bicara EZLN, Subcomandante Insurgente Moisés, dengan membunuh Galeano, atau orang Zapatista yang mana saja, mereka yang di atas mencoba membunuh EZLN.

Bukan sebagai pasukan tentara, tapi sebagai kekuatan pembangkang dan keras kepala yang membangun dan mendirikan kehidupan di tempat di mana mereka, yang berada di atas, mendambakan bentangan tandus industri tambang, minyak, pariwisata, matinya bumi berikut mereka yang menggarap dan menghuninya.

Ia juga bilang bahwa kami datang, sebagai Komando Jenderal Tentara Pembebasan Nasional Zaptaista, untuk membongkar makam Galeano.

Kami merasa perlu kiranya salah seorang dari kami mati agar Galeano hidup.

Untuk memuaskan si kurang ajar yang adalah maut, untuk menggantikan Galeano kami taruh nama lain agar Galeano terus hidup dan maut mengambil bukan sebuah nyawa, melainkan nama semata-mata, penggalan-penggalan huruf yang hampa dari segala makna, tanpa sejarahnya sendiri, tanpa kehidupan.

Itu sebabnya kami putuskan bahwa mulai hari ini Marcos berhenti mengada.

Ia akan pergi bergandengan tangan dengan Bayang Si Pejuang dan Terang Kecil agar tidak tersesat jalan, Don Durito ikut bersamanya, begitu juga Pak Tua Antonio.

Ia tidak akan dirindukan oleh bocah-bocah lelaki dan perempuan yang biasa mengerubunginya untuk mendengar cerita-ceritanya, mereka sudah besar-besar sekarang, sudah bisa menilai sendiri, dan sama berjuang demi kebebasan, demokrasi, dan keadilan, yang merupakan tugas setiap Zapatista.

Anjing-kucinglah, dan bukan angsa, yang akan menyanyikan lagu perpisahannya.

Pada akhirnya, mereka yang paham akan tahu bahwa ia yang tak pernah berada di sini tidak pergi, ia yang tidak pernah hidup tidak mati.

Dan maut pun pergi, terkecoh oleh lelaki adat bernama perang Galeano, dan batu-batu yang diletakkan di pusaranya akan sekali lagi berjalan dan mengajari siapapun yang mau menyimak landasan Zapatismo, yakni: jangan menjual diri, jangan berpasrah, jangan menyerah.

Ah kematian! Seakan-akan belum jelas bahwa ia melepaskan mereka yang di atas dari segala tanggung jawab melampaui orasi pemakaman, penghormatan hambar, patung basi, museum pengendali.

Dan kami? Yah, bagi kami kematian mengikat kami pada kehidupan yang dikandungnya.

Jadi inilah kami, mengolok-olok kematian di realitas.

Kawan-kawan,
Berdasar itulah, pada pukul 02:08 tanggal 25 Mei 2014, dari front tempur tenggara EZLN, aku canangkan bahwa tidak ada lagi ia yang selama ini dikenal sebagai Subcomandante Insurgente Marcos, yang menyatakan diri sebagai “subcomandante besi tahan karat.”

Demikianlah.

Melalui suaraku Tentara Pembebasan Nasional Zapatista tidak lagi berbicara.

Vale. Tabik dan sampai tiada... atau sampai selamanya, mereka yang mengerti akan tahu bahwa ini tidak penting, sebagaimana ia tak pernah menjadi penting.

Dari realitas Zapatista,
Subcomandante Insurgente Marcos
Meksiko, 24 Mei 2014

NB. 1. “Game is over?”
NB. 2. Skak mat?
NB. 3. Touché?
NB. 4. Camkan, bung, dan kirimkan tembakau.
NB. 5. Hmm… jadi seperti ini neraka … Ada Piporro, Pedro, José Alfredo! Hah? Karena machista? Nah, kurasa tidak, karena aku tidak pernah …
NB. 6. Jadi, setelah muslihat selesai, aku boleh keluyuran sambil telanjang dong?
NB.7. Hei, gelap amat di sini, aku butuh terang kecil.

(…)

(sebuah suara terdengar dari kejauhan)

Selamat pagi buta compañeras dan compañeros. Namaku Galeano, Subcomandante Insurgente Galeano.

Ada orang lain di sini yang bernama Galeano?

(terdengar suara-suara dan seruan)

Ah, itu sebabnya mereka berkata bahwa saat terlahir kembali, aku akan terlahir sebagai kolektif.

Maka begitulah.

Selamat jalan. Jaga diri kalian, jaga diri kami.

Dari pegunungan Meksiko Tenggara,
Subcomandante Insurgente Galeano
Meksiko, Mei 2014.