Selasa, 04 Maret 2014

Mundo Nuevo: Jejak CCF di Amerika Latin


Belakangan ini, para budayawan sepuh Indonesia sedang ramai dimintai pertanggungjawaban sejarah oleh generasi muda mengenai “peran” mereka dalam tragedi 1965. “Peran” yang dimaksud di sini secara khusus merujuk pada keterlibatan mereka dalam proyek-proyek kebudayaan antikomunis yang disokong oleh Congress for Cultural Freedom (CCF), sebuah operasi terselubung (covert action) Central Intelligence Agency (CIA) Amerika Serikat. CCF adalah tangan penggerak operasi global AS di bidang kebudayaan untuk meluaskan dominasi ekonomi-politik liberal mereka.

Bahwa CCF adalah operasi CIA bukanlah isapan jempol belaka. Fakta ini sudah dibongkar jauh-jauh hari sejak April 1966; pertama oleh reportase Tom Wicker di New York Times, dan kedua oleh reportase majalah Ramparts melalui redakturnya, Warren Hinckle. Barangsiapa menyangsikan “kualitas” reportase-reportase tersebut, perlu dicatat bahwa Ramparts dianugerahi George Polk Memorial Award for Excellence in Journalism atas kerja investigatifnya itu. Berpuluh tahun kemudian, dengan meneliti arsip-arsip yang telah dideklasifikasi, Frances Stonor Saunders merinci keterkaitan CIA-CCF dalam buku Who Paid the Piper? CIA and the Cultural Cold War (1999).

Mengutip kalimat pembukaan Saunders dalam bukunya: “Selama puncak Perang Dingin, pemerintah AS menyediakan sumber daya yang sangat besar untuk program rahasia propaganda kebudayaan [...] Program ini dikelola dengan sangat rahasia oleh tangan spionase Amerika, CIA. Di pusat aksi ini terdapat Congress for Cultural Freedom yang dijalankan oleh agen CIA Michael Josselson [...] Semasa puncaknya, Congress for Cultural Freedom punya kantor di 35 negara, mempekerjakan lusinan personil, menerbitkan lebih dari 20 majalah bergengsi, menggelar pameran-pameran seni rupa, memiliki layanan kantor berita, menyelenggarakan konferensi-konferensi internasional papan atas, dan menganugerahi para musisi dan seniman dengan penghargaan-penghargaan dan pertunjukan publik.” Tujuannya: “Menjauhkan kaum intelegensia dari Marxisme menuju pandangan yang lebih akomodatif terhadap ‘cara Amerika’.”[1]

Fakta-fakta inilah, yang meskipun sudah diketahui umum, rupanya tetap tak hendak diakui oleh para penulis dan intelektual Indonesia yang terlibat. Operator CCF untuk Asia, Ivan Kats, yang menjalin hubungan dekat dengan para intelektual Indonesia untuk menggarap kerja CCF di sini, dibela oleh Goenawan Mohamad dengan dibilang “tak tahu” soal hubungan CCF dengan CIA dan “terkejut” saat membaca laporan New York Times karena “tak menyangka”.[2] Almarhum Mochtar Lubis menyangkal keras kaitan itu, sementara Taufiq Ismail mengaku “tertegun” setelah mengetahuinya.[3]

Para pembela mereka juga kerap mengungkapkan dalih yang kira-kira berbunyi demikian, "CIA kan bukan intel Melayu. Kerjanya sangat rapi. Operasinya saja covert action. Maka sangat wajar dan bisa dimaklumi kalau orang-orang CCF maupun para penulis yang bekerjasama dengan mereka tidak tahu menahu bahwa mereka bekerjasama dengan CIA."

Argumen itu mungkin betul. Tapi yang jadi masalah di sini: adakah tindakan etis yang dilakukan oleh para penulis  dan budayawan itu setelah fakta keterkaitan CCF-CIA dibongkar oleh reportase New York Times dan Ramparts pada 1966? Kita bisa menengok ke Amerika Latin untuk mencari pembandingnya.

Jelas, di mata AS saat itu, Amerika Latin sebagaimana Asia Tenggara adalah wilayah prioritas yang harus disterilkan dari pengaruh komunis. AS punya banyak alasan untuk merasa waswas. Tahun Baru 1959 dibuka dengan kaburnya diktator boneka AS dari Kuba, Fulgencio Batista, akibat ditumbangkan oleh pasukan gerilya Fidel Castro. Revolusi Kuba dan kemenangan Castro punya dampak luar biasa pada kesadaran geo-politik subbenua itu. Negara-negara Amerika Selatan mulai melihat dirinya sebagai satu kesatuan politik yang mengalami rute historis serupa dan tumbuhlah rasa sebagai “satu Amerika Latin.” Dari pengalaman gerilya itu pula Che Guevara menuliskan teorinya yang terkenal, teori foco, yaitu bahwa garda depan pasukan bersenjata bisa menyulut gerakan-gerakan revolusioner sejenis di sepenjuru Amerika Latin.

Untuk menangkal pengaruh Revolusi Kuba (dan dengan demikian ide-ide Marxis) di bidang pemikiran dan kebudayaan, sekretariat CCF di Paris merasa perlu menerbitkan sebuah majalah baru untuk menggantikan majalah CCF di Amerika Latin sebelumnya, Cuadernos del Congreso por la Libertad de la Cultura (disingkat Cuadernos). Cuadernos terbit triwulanan sejak Maret 1953 dan sukses membangun jaringan di beberapa negara dari Cile hingga Uruguay.[4] Namun pasca Revolusi Kuba 1959, Cuadernos dirasa sudah terlampau kuno. Kalangan pembacanya terpusat pada generasi yang menggelorakan semangat Republikan dalam Perang Saudara Spanyol, dan tidak mampu masuk ke segmen pembaca lebih muda yang menjadikan Revolusi Kuba sebagai kiblatnya. Pada 1963 Cuadernos disudahi, dan dari kantor CCF yang sama di Paris digodok sebuah majalah baru bernama Mundo Nuevo (Dunia Baru).

Di bawah keredaksian Emir Rodríguez Monegal, kritikus sastra asal Uruguay yang bisa kita sebut sebagai “Ivan Katsnya Amerika Latin”, Mundo Nuevo dibuat menjadi lebih “sastrawi” dibanding Cuadernos. Dengan semboyan “una revista de diálogo” (atau “majalah dialog”), ia juga menyatakan diri “apolitis” atau tidak memihak satu pandangan politik tertentu. Klaim ketidakberpihakan ini terasa janggal menurut kritikus Jean Franco, karena jelas-jelas “Mundo Nuevo dimaksudkan untuk menandingi pengaruh Revolusi Kuba pada imajinasi para penulis muda serta pengaruh jurnal kebudayaan Kuba Casa de las Américas [yang] merayakan perjuangan pembebasan negara-negara Dunia Ketiga, gerakan Black Power di AS, perjuangan gerilya, dan tradisi anti-imperialisme Amerika Latin.”[5]

Di sini kita bisa melihat jelas perbedaan ideologis Mundo Nuevo di bawah Rodríguez Monegal dengan Casa de las Américas di bawah kepemimpinan Haydée Santamaría. Apabila Casa de las Américas berusaha membentuk “geografi kultural baru” dengan menempatkan Amerika Latin dalam konteks perjuangan pembebasan nasional negara-negara Dunia Ketiga, Mundo Nuevo berusaha menempatkan Amerika Latin ke dalam “akar universal”-nya di Eropa. Mirip sekali dengan proyek “humanisme universal” di Indonesia dengan klaim universalisme dan ketidakberpihakannya. Apabila Haydée Santamaría mengkritik para penulis Amerika Latin yang tinggal di Eropa, Rodríguez Monegal justru mengklaim bahwa para penulis besar Amerika Latin adalah yang tinggal di luar negeri. Perbedaan cara pandang ini juga kentara jelas saat dua jurnal yang mereka kelola membahas topik yang sama, misalnya peringatan 100 tahun kelahiran penyair Nikaragua Ruben Darío. Apabila Mundo Nuevo menempatkan pencapaian Darío dalam jajaran modernisme tinggi, setara dengan para penyair Eropa seperti Stéphane Mallarmé atau Rainer Maria Rilke, Casa de las Américas melihat Darío sebagai prototipe gerilyawan Kuba yang siap menghadapi imperialisme AS.[6]

Atas prinsip itu jugalah (“menempatkan kebudayaan Amerika Latin dalam konteks yang internasional sekaligus aktual,” sebagaimana disebutkan dalam editorial edisi perdananya), Mundo Nuevo memilih berkantor pusat di Paris. Tentunya ada juga kebutuhan praktis terkait pembiayaan dari CCF yang bermarkas di kota yang sama[7] serta koordinasi dengan jurnal-jurnal lain terbitan CCF. Mundo Nuevo dicetak 5.000-6.000 eks dan diedarkan di seluruh negara Amerika Latin serta sedikit di AS dan Eropa. Tak pelak lagi ia adalah bagian dari apa yang oleh Sekretaris Eksekutif CCF sekaligus agen CIA Michael Josselson disebut sebagai “grande famille (keluarga besar) majalah-majalah antikomunis.” Artikel-artikel Mundo Nuevo diterjemahkan dan dimuat di pelbagai jurnal terbitan CCF lainnya, sebagaimana Mundo Nuevo juga berhak menerbitkan terjemahan artikel-artikel dari “keluarga besar majalah antikomunis” lainnya yang dibiayai CCF.[8]

Dengan misinya yang kosmopolit dan kontemporer, serta peluang untuk diterjemahkan ke bahasa-bahasa selain Spanyol, Rodríguez Monegal berhasil menarik banyak penulis Amerika Latin dari pelbagai kecondongan politik untuk bekerja sama atau mengirimkan karyanya ke Mundo Nuevo. Tersebutlah nama-nama yang sedang naik daun seperti Carlos Fuentes, José Donoso, Augusto Roa Bastos, Guillermo Cabrera Infante, Octavio Paz, Gustavo Sainz, Gabriel García Márquez, Mario Vargas Llosa, dan Julio Cortázar—nama-nama yang nantinya menjadi nama-nama besar dan mendunia dalam apa yang disebut sebagai “boom” sastra Amerika Latin. Maka dalam satu hal, Mundo Nuevo punya peran “mempromosikan” terlebih dahulu para penulis ini kepada pembaca Eropa sebelum “boom” sastra sungguh-sungguh terjadi.[9] Petikan karya-karya yang kini menjadi “kanon” sastra Amerika Latin era boom terlebih dulu terbit di Mundo Nuevo sebelum terbit utuh sebagai novel (misalnya potongan Cien años de soledad karya García Márquez, Cambio de piel karya Carlos Fuentes, dan Tres tristes tigres karya Guillermo Cabrera Infante). Rodríguez Monegal bahkan mengajak García Márquez menjadi kontributor tetap Mundo Nuevo dengan tawaran upah AS$400 sebulan.

Mundo Nuevo (kiri) edisi No. 2, Agustus 1966, dan Casa de las Américas (kanan)
edisi Th VI No. 39, November-Desember 1966. Pada nomor Mundo Nuevo yang ini,
petikan mahakarya Cien años de soledad García Márquez pertama kali dipublikasikan.


Sebelum García Márquez sempat memberi jawaban atas tawaran itu, kehebohan keburu pecah akibat terbitnya reportase The New York Times dan Ramparts. Artikel-artikel di kedua media itu diterjemahkan ke bahasa Spanyol dan dicetak ulang di koran Uruguay Marcha serta Casa de las Américas, musuh bebuyutan Mundo Nuevo. Sebagian di antara para penulis di atas mengambil sikap melancarkan kecaman terbuka atas akal-akalan Mundo Nuevo. Perlu dicatat di sini bahwa Mario Vargas Llosa dan Julio Cortázar sejak awal bersikap skeptis terhadap proyek ini dan paling enggan berkontribusi. Sedangkan Cabrera Infrante tak merasa bermasalah dengan afiliasi CIA karena ia sendiri bentrok dengan rezim Castro dan memutuskan eksil dari Kuba. Sementara bagi para penulis yang secara jelas menyatakan haluan politik kirinya, seperti García Márquez yang berteman karib dengan Fidel Castro, dikuaknya fakta ini benar-benar membuatnya merasa “dikadali” (“cornudos”). Ia dan Roa Bastos menyesali kontribusinya dan menyatakan takkan pernah berhubungan lagi dengan Mundo Nuevo, sebagaimana terbaca dari suratnya kepada Rodríguez Monegal:

“Percayalah bahwa saya tidak punya syak wasangka terhadap mata-mata di dunia nyata. Saat Anda mengajak saya bekerja di Mundo Nuevo, banyak kawan yang selera humor politiknya lebih rendah dari saya mengingatkan tentang kecurigaan umum bahwa CCF menjalin hubungan luar nikah dengan CIA Amerika Serikat [...] Singkat kata, saya yakin cerita soal mata-mata ini tak terlukiskan selama kita semua dengan jujur tahu permainan apa yang tengah kita mainkan. Tapi sekarang sepertinya CCF sendiri tidak tahu permainan mereka, dan dengan keterlaluan ini sudah melewati batas-batas humor dan memasuki ranah sastra fantasi yang tak terduga dan menggelincirkan. Atas situasi ini, Tuan Direktur, tentu tidak mengejutkan apabila Anda yang paling pertama paham bahwa saya tidak akan bekerjasama lagi dengan Mundo Nuevo, yang telah menutup-nutupi kaitannya dengan organisasi yang telah membawa saya dan banyak kawan lain ke dalam situasi dikadali ini.”[10]

Rodríguez Monegal sendiri membantah kaitan dengan CIA tersebut dan tetap bersikeras menyatakan Mundo Nuevo independen. Dalam penjelasannya kepada pembaca di edisi Mei 1967, ia tekankan bahwa Mundo Nuevo “bukanlah organ pemerintahan atau partai manapun, kelompok atau sekte apapun, kecondongan religius atau politik apapun, melainkan sebuah jurnal yang disunting semata-mata seturut keputusan redakturnya yang merupakan satu-satunya pihak yang bertanggungjawab dalam memilih materi yang diterbitkan.”[11]

Mungkinkah Rodríguez Monegal sebenarnya juga tidak tahu kaitan CCF-CIA sebagaimana Ivan Kats dibilang tidak tahu? Beberapa bukti menyatakan sebaliknya, terutama surat-surat Rodríguez Monegal sendiri ke para petinggi CCF termasuk Michael Josselson, Pierre Emmanuel, dan Shepard Stone pasca pecahnya skandal. Dalam surat-suratnya ke Josselson dan Stone, Rodríguez Monegal mendesak agar skema pembiayaan Mundo Nuevo diambil alih oleh Ford Foundation dan agar Ford Foundation menyebarluaskan pernyataan pers bahwa Mundo Nuevo memang telah didanainya sejak awal.[12] Rodríguez Monegal berharap pernyataan pers ini bisa membantah kaitan antara jurnalnya dengan CCF-CIA. Ia berharap bisa mengubah karangan ini menjadi kenyataan! “Il faudra convertir cette fiction en réalité,” demikian tulisnya dalam surat kepada Pierre Emmanuel di CCF (Emmanuel ini seorang penyair Perancis dan pengurus CCF yang –kebetulan—sempat diperkenalkan kepada Goenawan Mohamad oleh Ivan Kats di kantor CCF, Paris, meski konon tak lebih dari 30 menit).[13]

Permohonan Rodríguez Monegal dikabulkan: Ford Fundation mengambil alih skema pembiayaan Mundo Nuevo, tapi tanpa pernyataan pers yang diharap-harapkannya itu. Pada 1968 Rodríguez Monegal mengundurkan diri sebagai pemimpin redaksi Mundo Nuevo dan hingga wafatnya terus bersikeras bahwa jurnalnya hanya pernah didanai oleh Ford Foundation dan tak pernah oleh CCF. Kantor Mundo Nuevo dipindah ke Buenos Aires dan arah jurnal itu bergeser lebih ke ilmu sosial daripada sastra. Kualitasnya secara umum jauh menurun akibat sedikitnya penulis yang masih mau menjadi kontributornya. Ford Foundation memberi tenggat pembiayaan sampai tahun 1971 dan mengharapkan Mundo Nuevo bisa mandiri secara finansial sesudahnya. Karena tidak sanggup, akhirnya majalah itu pun tutup pada tahun tersebut.

Dari sini kita bisa melihat, para budayawan sepuh Indonesia ternyata juga memilih cara Rodríguez Monegal untuk terus membantah kaitan antara CCF-CIA dengan proyek-proyek kebudayaan yang mereka lakukan sekitar 1965 dan sesudahnya, sekalipun bukti-bukti menyatakan sebaliknya. Pasca skandal terkuak, agen-agen CIA di dalam CCF mundur. CCF dibubarkan dan berganti nama menjadi International Association for Cultural Freedom (ICAF), tapi proyek ICAF berjalan terus. Tak satu pun dari budayawan tadi yang melakukan kecaman publik atas kerja CCF di Indonesia, tapi juga tak ada satu pun yang berani berterus terang menyatakan persetujuan –sebagaimana Cabrera Infante—atas keterlibatan CIA dalam ketegangan politik di Indonesia masa-masa itu. Yang ada hanya penyangkalan. Dan ini lagi-lagi menguatkan sinyalemen Frances Stonor Saunders bahwa kerja propaganda budaya ini memang harus menyangkal keberadaannya sendiri (“a central feature of this programme was to advance the claim that it did not exist.”)[14] Maka janganlah terlalu berharap akan adanya pertanggungjawaban sejarah dalam waktu dekat, karena memang sepertinya sudah menjadi “tugas” sang budayawan untuk terus menyangkalnya.



[1] Francis Stonor Saunders, Who Paid the Piper? CIA and the Cultural Cold War (London: Granta, 1999), hlm. 1.
[2] Goenawan Mohamad, “Jawaban untuk Martin: Bagian Pertama,” 10 Desember 2013.
[3] Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca 1965: Bagaimana Orde Baru Melegitimasi Anti-Komunisme Melalui Sastra dan Film (Tangerang Selatan: Marjin Kiri, 2013), hlm. 92.
[5] Jean Franco, The Decline and Fall of the Lettered City: Latin America in the Cold War (Cambridge, Mass.: Harvard University Press, 2002), hlm. 45. Buku yang mengupas secara mendalam Mundo Nuevo sebagai kepanjangan tangan politik kebudayaan CCF dan imperialisme AS adalah karya María Eugenia Mudrovcic, Mundo Nuevo: Cultura y Guerra Fría en la década del 60 (Buenos Aires: Beatriz Viterbo, 1997).
[6] Lihat Russell St. Clair Cobb, “Our Men in Paris? Mundo Nuevo, the Cuban Revolution, and the Politics of Cultural Freedom,” disertasi di University of Texas, Austin, Agustus 2007, hlm. 3-4.
[7] Mundo Nuevo dikelola di bawah manajemen Instituto Latinoamericano de Relaciones Internacionales (ILARI), yang juga menerbitkan tiga majalah lainnya yakni Aportes, Cadernos Brasileiros, dan Temas. Pada 1966 ILARI menerima dana AS$260.000 dari CCF, dan anggaran terbesarnya (sejumlah AS$80.000) diperuntukkan buat Mundo Nuevo. ILARI sendiri didirikan langsung oleh Michael Josselson sebagai organisasi proxy dengan akta legal organisasi di Swiss. ILARI kemudian mewarisi semua kantor, peralatan, dan personalia CCF di Argentina, Brasil, Cile, Peru, Uruguay, membuka kantor-kantor baru di Paraguay dan Bolivia, serta menutup kantor yang sudah ada di Meksiko dan Kolombia. Lihat Mudrovcic, op.cit., hlm. 25.
[8] Cobb, op. cit., hlm. 28.
[9] Dalam memoarnya mengenai masa-masa ini, José Donoso menyebut Mundo Nuevo-lah yang paling bertanggungjawab atas “boom” sastra Amerika Latin (“boom” di sini berarti lonjakan karya sastra Amerika Latin yang diterjemahkan dan diterbitkan di luar negeri). Lihat José Donoso, Historia personal del “boom” (Barcelona: Editorial Anagrama, 1972).
[10] Surat Gabriel García Márquez kepada Emir Rodríguez Monegal, tanggal 24 Mei 1967. Dari arsip surat-surat Emir Rodríguez Monegal yang dikoleksi Princeton University. Kotak 7, Map 12. Dikutip dari Cobb, op.cit., hlm. 161-163.
[11] “Al lector,” Mundo Nuevo 11, Mei 1967, hlm. 4.
[12] Surat-surat ini disimpan dalam arsip CCF-IACF, koleksi khusus University of Chicago. Dikutip dari Cobb, op. cit., hlm. 13. Riset lebih lanjut tentang peran CCF dan International Association for Cultural Freedom (IACF) di Indonesia saya kira harus dilanjutkan dengan meneliti koleksi ini.
[13] Surat Rodríguez Monegal kepada Pierre Emmanuel, dikutip dari Russell Cobb, “The Politics of Literary Prestige: Promoting the Latin American ‘Boom’ in the Pages of Mundo Nuevo,” A Contracorriente Vol. 5 No. 3, musim semi 2008, hlm. 86. Tentang perkenalan Pierre Emmanuel-Goenawan Mohamad, baca Mohamad, op.cit.
[14] Saunders, op. cit., hlm. 1.

Selasa, 26 November 2013

"Utopia Tanpa Senjata Melissa Sepúlveda: Kredo Kaum Anarkis Zaman Ini," oleh Bastián Fernández


Catatan penerjemah: Perpolitikan Cile sepertinya bergerak ke arah yang makin radikal. Pada bulan ini kandidat sosialis Michele Bachelet menang dalam putaran pertama pemilu Cile. Kemenangan ini memastikan bahwa Camila Vallejo, mantan ketua Federasi Mahasiwa Cile (FECh), serta Karol Cariola, sekjen Pemuda Komunis, yang keduanya memimpin demonstrasi besar-besaran pada 2011 lalu menuntut perubahan sistem pendidikan, naik menjadi anggota Kongres di majelis rendah. Pasca Camila, FECh sendiri dipimpin berturut-turut oleh Gabriel Boric (2011-2012) dan Andrés Fielbaum (2012-2013) dari kubu Kiri Otonom. Pada malam 12 November lalu, dominasi komunis dari Kiri Otonom patah oleh Melissa Sepúlveda, seorang anarkis. Ini pertama kalinya setelah 90 tahun, Federasi Mahasiswa dipimpin lagi oleh seorang anarkis. Berikut wawancara dengan Melissa Sepúlveda yang diterjemahkan oleh Ronny Agustinus dari “La utopía desarmada de Melissa Sepúlveda”, oleh Bastián Fernández, El Mostrador, 25 November 2013.



Hanya tiga orang perempuan yang pernah memimpin Federasi Mahasiswa Cile (FECh) dalam 107 tahun sejarahnya, dan perempuan yang ketiga itu adalah seorang libertarian. Melissa Sepúlveda mempelajari kedokteran, meski belum tahu apa yang akan menjadi spesialisasinya, ia seorang feminis, dengan tato kumbang kuning di lengan kanannya yang tidak punya arti apa-apa, menurutnya, dan yang tidak ingin ia bicarakan.

Namun saat membahas soal negara, kapitalisme, dan gerakan sosial, mata coklatnya yang gelap itu berbinar. Melissa menjawab tanpa terburu-buru dan kerap memakai kata ganti jamak. Bibirnya tebal, menawan, dan paras mukanya agak mirip Penélope Cruz. Awalnya beberapa pertanyaan menyulut selintas senyum ironik, seakan-akan jawabannya sudah sangat jelas atau pertanyaannya terlampau bodoh. Pertanyaan lainnya menyulut ekspresi nostalgia, tatapan menunduk dan mencari-cari jawaban yang tepat. Mencipta sebuah utopia, mengatasi segala bentuk otoritarianisme untuk mencapai sebuah masyarakat bebas yang ditata di bawah pemerintahan swakelola.

Dalam kata-kata Buenaventura Durruti, apa kau membawa dunia baru dalam hatimu?
– Ya ... (tersenyum). Kurasa begitu. Dan demikianlah kami berharap bisa mulai menggulingkan dan menjadi alternatif riil. Inilah salah satu tantangan terbesar yang dihadapi kaum kiri revolusioner di Cile, yakni tampil sebagai sebuah alternatif yang serius dan peluang bagi rakyat.

Saat malam bertambah larut pada hari Selasa 12 November 2013, Melissa dinyatakan menang atas lawannya dari kubu Kiri Otonom (Izquierda Autónoma atau IA), Sebastián Aylwin. Di jalan sempit Arturo Burhle, di depan Serikat Nasional Pekerja Bangunan (Sindicato Nacional de Trabajadores de la Construcción atau Sintec), lebih dari 150 mahasiswa dari Front Mahasiswa Libertarian (FEL) dan Persatuan Mahasiswa Nasional (UNE) berkumpul di bawah bendera-bendera merah hitam. Dari sana mereka berarak-arakan ke markas FECh, yang setelah 90 tahun akan diketuai oleh anarkis.

Sejak akhir abad ke-19 anarkisme telah meretas jalannya dalam sejarah politik, dengan menentang Negara, partai-partai politik, kekuasaan faktual dan kekuasaan ekonomi.

Anarkisme mutualis, individualis, insurreksionis, feminis, dan environmentalis adalah beberapa aliran yang pernah lahir dari anarkisme. Dalam rentang itu ada komunisme libertarian (atau anarko-komunisme), sebuah paham yang paling dirasa dekat oleh Melissa. Berikut sebagian poin-poin pokok ideologi politik ini.

Anarkisme dan Libertarian
Mengenai libertarian, Melissa berkata bahwa paham ini menganut tradisi anarkisme, tetapi memberi perhatian khusus pada praktik-praktik politik organisasi atau gerakan. Praktik-praktik itu antara lain: demokrasi langsung, horisontalitas, aksi massa langsung, dan federativisme. “Yang terakhir ini adalah sebentuk pengorganisasian di mana keputusan-keputusan diambil di basis-basis, tetapi memiliki organisasi yang kompleks di mana federasi-federasi ada dari bawah ke atas.”

Utopia dan Ideal Sosial
“Yang kami tuju sekarang adalah menanggulangi kondisi material yang bisa kita lihat dan konkret. Kondisi itu ada di rumah-rumah sakit, pendidikan, kondisi kaum buruh,” kata Melissa. Yang menyebabkan pembedaan ini, menurutnya, adalah sistem ekonomi, politik, dan struktur makro yang menghasilkan pengelompokan-pengelompokan hidup orang-orang. “Tujuan akhirnya adalah mencapai sebuah masyarakat yang melampaui masyarakat kelas. Pemberlakukan pemerintahan swakelola rakyat dan pemerataan kekayaan. Dan itulah yang kami sebut komunisme libertarian,” ujarnya.

Kebebasan
Inilah konsep yang selalu ada dalam aliran anarkis. “Aku tidak bisa merumuskan apa terjemahan kebebasan ini,” katanya. Ia juga menyadari bahwa subjek-subjek yang dibangun dalam kapitalisme “tidak tahu bagaimana menerjemahkan masyarakat tanpa kelas, kurasa itu tidak bisa kita bayangkan.” Namun ia percaya kita bisa membayangkan masa depan, dan mulai membangun pilar-pilar masyarakat ini. “Ada prinsip-prinsip solidaritas, kerjasama, di mana kita memahami bahwa setiap manusia memiliki kedudukan yang setara dalam masyarakat. Itu yang bisa kita bangun hari ini, sambil membayangkan, suatu hari nanti, membangun masyarakat bebas.”

Hubungan dengan Negara
Anarkisme selalu mengedepankan pembubaran negara, baik negara kapitalis maupun Marxis, karena melihat pelbagai bentuk represi dan dominasi di dalamnya. Mengenai hal ini Melissa mengklarifikasi bahwa ada sejumlah kajian baru mengenai cara memahami negara dan hubungan dengannya. “Negara pada akhirnya berujung sebagi relasi sosial. Bukan cuma pemerintahan, atau sistem politik, juga tidak serta merta merupakan penubuhan neoliberalisme. Tapi Negara yang kita kenal saat ini dan perkembangannya secara historis telah menjadi instrumen yang menguntungkan kelas-kelas dominan. Relasi itulah yang hendak kita habisi,” ujarnya.

Hubungan dengan Kekuasaan
Melissa membedakan dua konsep kekuasaan. Kekuasaan dengan kapasitas koersif, dan kekuasaan dengan kapasitas kreatif. “Komunisme libertarian Cile mengambil topik kekuasaan rakyat, yang diperkenalkan oleh Marxisme-Leninisme.” Dalamnya bentuk konstruksi inilah yang akan mengarah menuju komunisme libertarian. “Kemampuan kita untuk menberdayakan hidup kita sendiri. Dari kolektivitas itu, yang didasarkan pada horisontalitas, timbul pemahaman apa yang bisa didapat oleh mekanisme-mekanisme representasi kami. Bahwa penataan masyarakat yang kami inginkan merupakan kerja kolektif, oleh semua orang.”

Media Komunikasi
Oleh media kaum anarkis secara turun temurun terus digambarkan sebagai orang-orang bertudung yang melemparkan molotov atau memasang bom di bank-bank. Menurut Melissa, masalahnya bukan sekadar penggambaran anarkisme secara karikatural ini. “Media zaman ini punya fungsi yang tidak memihak rakyat Cile, karena ia membuat banyak perjuangan lainnya jadi tak terlihat. Buruh harus bermalam di Mapocho dan baru bisa muncul [di media] sebagai pemogokan. Dan selalu soal sensasinya belaka dan bukan apa yang membuat serikat terpaksa mogok,” ucapnya.

Anarkisme di Cile
Melissa mengakui makna penting yang dimiliki ideologi politik ini dalam sejarah Cile. Sejak dulu, menurutnya, paham ini terkait erat dengan gerakan buruh dan pendirian FECh. “Kaum muda pemberontak” dari era 1920an, dengan tokoh-tokoh seperti José Domingo Gómez Rojas dan Juan Gandulfo, berasal dari elite intelektual. “Mereka paham bahwa kondisi mengenaskan yang dihidupi kaum buruh saat itu membutuhkan sikap proaktif dari pihak mahasiswa yang memiliki akses pada pengetahuan dan perkakas yang tidak dimiliki buruh.”

Ideologi Front Mahasiswa Libertarian (FEL)
Di titik ini presiden baru FECh ini menegaskan bahwa FEL bukanlah organisasi dengan suatu kesatuan ideologis, “melainkan yang bertemu di bawah praktik demokrasi langsung, horisontalitas, massa aksi langsung.”

Tantangan-tantangan di FECh
Sadar akan “momen bersejarah” ini, Melissa mengatakan bahwa FECh menerimanya “sepenuh tanggung jawab.” Menurut pendapatmu apa peluang-peluang kunci yang terbuka dari federasi, selain menang pemilihan? “Mampu memanfaatkan federasi sebagai alat bagi gerakan mahasiswa, gerakan sosial, dan gerakan buruh. Juga meningkatkan taraf partisipasi dalam universitas, merangkul kawan-kawan yang lain. Dan itu harus punya penerjemahan konkret, yakni dalam program Luchar (Berjuang) dan harapan untuk melaksanakannya,” ia memungkas.