Rabu, 10 Agustus 2016

Sampah dan Orang Sisa-sisa

Pengantar kuratorial sesi Amerika Latin oleh Ronny Agustinus, dalam ARKIPEL Jakarta International Documentary Film Festival 2016.
  
Wacana antroposen menjadi semakin populer dalam ilmu-ilmu sosial dan ekologi belakangan ini. Meski titik waktu resminya sebagai sebuah kala geologi masih perlu dipastikan, tak terbantahkan bahwa kita memang hidup di era antroposen, ketika ulah manusia—dan bukan alam—yang paling berperan dalam mengubah iklim serta paras bumi. Dan sepanjang sekitar 200 tahun terakhir, wujud antroposen tak syak lagi adalah masyarakat kapitalis industri. Dengan segenap pola produksi dan konsumsinya, kapitalisme industri di mana-mana akan berujung pada residu pamungkasnya: sampah—residu akhir yang justru membuat wacana antroposen menjadi mendesak untuk dibicarakan pada awalnya. Dan itulah yang akan menjadi tema kurasi program Amerika Latin dalam ARKIPEL social/kapital 2016 ini: sampah sebagai akhir dan juga awal pergulatan  social/kapital, sampah dalam arti fisikal maupun sosial, dan bagaimana keduanya bertalian erat.
Sampah adalah persoalan besar kota-kota Amerika Latin, dan bukan kebetulan bila sebagian filem pertama yang mengawali gebrakan Sinema Baru Amerika Latin pada akhir 1950-an hingga awal 1960-an mengangkat persoalan sampah. Sebagai bagian dari usaha untuk menunjukkan realitas Amerika Latin apa adanya (dalam kerangka besar gerakan-gerakan pembebasan), lahirlah dokumenter-dokumenter macam Cantegriles (1958) dan Tire dié (1958/1960). Filem 8 menit Cantegriles karya Alberto Miller (Uruguay) tedeng aling-aling menyandingkan gambaran wilayah perumahan mewah Cantegril Country Club di Punta del Este, Uruguay, dengan wilayah kumuh di seputar tempat pembuangan sampah (yang oleh kalangan kaya dengan olok-olok disebut “cantegriles”-nya kaum miskin). Sementara Tire dié direkam di Santa Fe, Argentina, oleh sutradara Fernando Birri beserta para mahasiswanya dari Sekolah Dokumenter Santa Fe selama tiga tahun—proyek yang mereka namai “filem survei” dengan versi akhir sepanjang 33 menit.[1] Cantegriles menunjukkan kontras antara wilayah kumuh dan kaya di Punta del Este, sementara Tire dié menyeimbangkan antara kepedulian pada subjek-subjek di lokasi dengan sistem ekonomi-politik (social/kapital) yang melatarinya, yang paling gamblang tampak dalam caranya mengambil bidikan longshot dari atas untuk mendudukkan Tire dié di tengah Santa Fe seutuhnya. Kedua filem ini menjadi pelopor bahkan panutan filem-filem dokumenter sosial sejenis di kemudian hari, seperti Boca do lixo (1993) besutan Eduardo Coutinho dari Brasil.
Penyikapan atas sampah dengan demikian membutuhkan pandangan yang lebih dari sekadar pandangan teknik-teknokratik bagaimana meminimalisir sampah industri dan konsumsi. Penyikapan atas sampah membutuhkan penyikapan pula atas orang-orang dan kemiskinan di seputarnya.[2] Dua filem dokumenter memasukkan intervensi seni sebagai unsur pokok pendekatannya. Landfill Harmonic (2015) —yang ditayangkan di sini—mengisahkan bagaimana masyarakat pemulung di wilayah pembuangan sampah Cateura, Paraguay, dengan bantuan seorang konduktor orkestra, membuat alat-alat musik dari sampah yang ada, mengenal musik, lalu termanusiakan lahir-batin. Perlu dicatat bahwa tema serupa pernah digarap dalam filem Waste Land (2010) yang mengisahkan bagaimana masyarakat pemulung di wilayah pembuangan sampah terbesar sedunia[3] Jardim Gramacho, Rio de Janiro, Brasil, dengan bantuan seorang perupa dan fotografer, membuat karya-karya rupa dari sampah yang ada, mengenal seni, lalu termanusiakan lahir-batin. Tentu saja filem-filem jenis ini disanjung dan populer di “Dunia Pertama” karena meredakan gundah gulana hati pemirsa Barat yang mungkin sudah mbentoyong gara-gara terlalu berat memikul white man’s burden. Mereka melihat bagaimana akhirnya peradaban Barat (musik klasik Barat, kanon seni rupa Barat) bisa membawa kebaikan bagi kumpulan orang terpinggirkan ini. Saya tak meragukan manfaat pendekatan intervensi seni macam ini, meski premis untuk menjadikannya solusi yang berdampak panjang secara ekonomi-politis tetap saja kelewat utopis.

Di ujung yang lain, saya memilih dokumenter pendek 12 menit Ilha das Flores (1989) karya Jorge Furtado dari Brasil. Dengan montase kreatif atas materi-materi foto dan footage, buat saya inilah filem paling jitu dan menohok dalam membahas sampah sebagai residu sisa-sisa sistem produksi dan konsumsi kapitalisme global, serta “orang sisa-sisa” yang harus ada sebagai bagian inheren dari sistem. Furtado tak menyajikan impian-impian indah bahwa ada jalan keluar yang manis dari ini.
Menyandingkan keduanya saya harap memberikan perenungan dan kontras tersendiri untuk program Amerika Latin tahun ini. Maka bila paragraf terakhir pengantar tematik ARKIPEL 2016 menyebut tentang bagaimana social/kapital telah melebur status warga “dalam sebuah dunia baru (global) tanpa—atau hanya dengan samar-samar—ingatan-ingatan akan negara,” maka dua filem di atas hendak menyajikan gambaran tersebut dalam dua kutub ekstremnya: komunitas yang “makan” dari sampah dan komunitas yang secara harafiah memakan sampah, yang keduanya terjalin rapat dengan cara kapitalisme global bekerja yang membuat di layar maupun di luar layar negara tampak tidak hadir, samar-samar sekalipun.




[1] Kawasan pembuangan sampah Tire diré mendapat namanya dari seruan “Tire diez!” (“Beri aku sepuluh sen”) yang diteriakkan anak-anak manakala ada kereta lewat, seperti kawan-kawan sekampung saya dulu di Jawa Timur berteriak-teriak “Minta uang” bila ada pesawat terbang lewat.
[2] Perlu dicatat di sini dokumenter Cartoneros (2006) karya Ernesto Livon-Grosman yang membahas sampah kertas dan daur-ulangnya tanpa menampilkan gambaran klise para pemulung kumuh yang tinggal di sekitar gunungan sampah. Konteks filem ini adalah Buenos Aires awal 2000-an, ketika krisis ekonomi dan dampak korupsi sistemik membangkrutkan negara dan membuat kelas menengah terpaksa bertahan hidup dengan menjadi pemulung kertas, karton, dan dus (cartoneros”).
[3] Carlos Fuentes dalam novelnya La Silla del Águila (2003) menyebut Mexico City sebagai “el basurero más grande del mundo” (“tempat pembuangan sampah terbesar di dunia”). Secara faktual ia keliru.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar