Kamis, 14 Oktober 2010

Puisi yang Mengubah Koordinat Situasi


On the Front Line: Guerrilla Poems of El Salvador
Terjemahan Inggris dan kompilasi oleh Claribel Alegría dan Darwin J. Flakoll
Curbstone Press, 2002 [1989].


Di Amerika Latin, puisi dan revolusi tak bisa dipisahkan. Pada 1983, saat pertama kali naik ke pegunungan Chiapas, Meksiko, untuk persiapan gerilya, Subcomandante Marcos, yang kini dikenal sebagai pentolan gerakan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN), tidak menggotong amunisi di ransel kanvasnya yang berat, melainkan karya-karya García Márquez, Cortázar, Vargas Llosa, Neruda, dan empu-empu sastra Amerika Latin lainnya.

Dan Marcos jelas bukan yang pertama melakukan itu. Satu dekade sebelum Marcos dan EZLN, anak-anak muda El Salvador “tiba pada puisi melalui jalan revolusi,” sebagaimana kata Roque Dalton, penyair dan novelis inspiratif El Salvador yang angkat senjata melawan kebrutalan rezim militer di negeri itu. 

El Salvador adalah negara kecil penuh penindasan oleh rezim militer selama puluhan tahun. Pada 1932, 30 ribu petani dan warga sipil dibantai oleh Jenderal Maximiliano Hernández Martínez yang merebut kekuasaan setahun sebelumnya lewat kudeta. Akibat kebrutalan ini nyaris tak ada lagi resistensi berarti bagi rezim berkuasa… sampai dua dasawarsa kemudian, ketika sebagian anak muda anggota partai komunis merasa perlu angkat senjata karena sudah tidak mungkin mengakhiri penindasan rezim lewat jalan damai. Terbentuklah pasukan gerilya Front Pembebasan Nasional Farabundo Martí (FMLN).

Cita-cita FMLN menggugah banyak anak muda, aktivis, seniman, sastrawan, dan warga lainnya. Semua ikut dalam gerilya bersenjata maupun gerilya intelektual ini. Radio Farabundo Martí dan Radio Venceremos didirikan untuk menyiarkan secara klandestin program-program pendidikan rakyat, termasuk di bidang sastra (radio ini salah satu radio klandestin paling terkenal di dunia, yang pengalamannya dalam memerangi rezim dan menempa perdamaian pernah diceritakan dg begitu menggugah dalam  buku Rebel Radio karya José Ignacio Lopez Vigil).

Di tengah-tengah peperangan inilah puisi bersliweran, baik yang ditulis oleh para penyair yang ikut angkat senjata macam Roque Dalton, maupun oleh para prajurit, relawan-relawan pendidikan, yang semuanya masih muda, berkobar oleh idealisme membara, untuk lalu sebagian besarnya mati oleh peluru penguasa. Antologi On The Front Line ini mengumpulkan puisi-puisi yang berserakan selama puluhan tahun perjuangan tersebut. Sang editor sendiri juga seorang penyair pejuang kenamaan. Claribel Alegría adalah sastrawati dan aktivis kelahiran Nikaragua yang membaktikan hidup demi perdamaian sipil di El Salvador. Pemenang penghargaan sastra Casa de las Américas 1978, Alegría telah menerbitkan 10 buku puisi dan 3 novel.

Buku dibuka dengan puisi “Una historia” yang ditulis Roberto Saballos untuk mengenang kakaknya, María Teresa Saballos, yang diculik tentara pada 15 September 1979.

Inilah kisah María Teresa
hari-harinya yang meletihkan
malam-malamnya yang panjang
ibundanya yang sendirian
dan putranya yang masih muda
inilah kisah tentang kejemuannya
langkah-langkahnya yang pelan
rambutnya yang hitam
senyumnya yang mengembang
dan tangannya yang menua

Inilah kisah dirinya
dengan lebih banyak duka ketimbang suka
dengan tahun yang lebih pendek oleh kesedihan
inilah kisah kepergiannya
perpisahan yang tanpa perpisahan

Inilah kisah tentang bundanya
langkah-langkahnya yang percuma
penantian sunyinya dari penjara ke penjara
dari pengadilan ke pengadilan
dengan bapak-bapak hakim yang tersenyum
dengan tangannya yang hampa

Inilah kisah tentang matanya
yang menatap rambutnya
pandangan jernihnya
dan tangannya yang perkasa
yang hilang jauh lalu
pada subuh yang dingin
inilah kisah María Teresa
inilah kisah rakyat saya

Roberto sendiri lantas ditembak mati pada 1980. “Tidak mudah menjalani hidup 35 tahun / tatkala maut telah menjadi begitu murahan,” tulis seorang pendidik politik yang bernama samaran Lety dalam puisi “Cumpleaños”. Memang, pembunuhan dan penculikan aktivis begitu mudah dilakukan tanpa pengadilan bahkan tanpa dakwaan atau kesalahan. Atau seperti kata penggalan puisi “Hay dias” karya Jaime Suárez Quemain:

musuh anak-anak tak beratap
berjalan pelan-pelan
ditudungi cahya rembulan
dan menggedor pintu para malaikat
dan membawa pergi mereka, terikat, untuk menggali kubur
di mana kembang-kembang akan mekar subur

Jaime Suárez Quemain (30 th) adalah editor koran independen yang diringkus orang-orang berpakaian sipil saat sedang nongkrong di kafe. Mayatnya yang terpotong-potong ditemukan esok harinya. Sementara José María Cuéllar, yang diberondong senapan mesin di jalanan pada 1981 oleh penembak misterius, menuliskan tentang kesendiriannya dalam “Acabo de partir de mi mismo”:

aku tak peduli bila tak seorang pun mengingatku
kubawa san salvador dalam kantungku
dan mengobrol dengan orang-orang yang tak saling kenal
dan tak mengenalku
aku tak peduli bila pintu berdentam di nikaragua
bila seorang gadis menyatakan cintanya di santiago
bila seekor burung dara mengangkasa di atas yang-tse
bila buku terbaik tengah ditulis di lima
aku tak peduli
aku kosong
sendirian seperti mantel musim dingin

Miguel Huezo Mixco –yang bergabung dengan salah satu organisasi pemuda pembentuk FMLN pada 1979, mantan pengelola Radio Farabundo Martí yang beruntung masih hidup sampai sekarang—seakan menuliskan nasibnya sendiri yang memang menampik kedatangan maut dalam “Si la muerte…”

bila maut datang mencariku
tolong
beritahu dia untuk kembali esok
sebab aku belum bayar utang
dan merampungkan puisi
bila maut datang
tolong beritahu dia bahwa aku tahu
namun sejenak menunggu
sebab belum kukecup kekasihku selamat tinggal
atau berjabat tangan dengan handai taulan
atau mengemocengi buku-bukuku
atau menyiulkan tembang kesukaanku
atau berdamai dengan musuh-musuhku
beritahu dia bunuh diri belum kucoba
pun melihat rakyatku merdeka

Melihat rakyatku merdeka... kapankah itu? Delfy Góchez Fernández, gadis muda yang baru berusia 20 tahun saat dua peluru polisi menembus punggungnya pada Mei 1979, meyakini bahwa saat itu akan tiba sekalipun ia sudah tiada (dalam “Con gusto moriré”):

dengan pejuang abadi
yang darahnya
mengisi hari
saat itu akan tiba

Dan saat itu memang tiba ketika perjanjian damai ditandatangani pada 1992. FMLN menjadi partai politik resmi dan semua unit bersenjatanya dibubarkan. Sejak ikut serta dalam pemilu 1994, FMLN hampir selalu merebut mayoritas kursi di parlemen, dan baru pada pemilu 15 Maret 2009, calon presiden dari FMLN Mauricio Funes, berhasil memenangkan pemilu presiden.

Jalan yang sungguh panjang untuk mengakhiri penindasan dan membuat perubahan dengan merajut perdamaian. Dan puisi punya peran penting untuk menghapus dendam puluhan tahun itu. Lagi, seperti kata penggalan puisi Jaime Suárez Quemain “De nuevo usted Señor”:

karena syair, Tuan,
juga buat Anda
buat semua orang
ia keluyuran di jalan
mampir di jendela
menggelantung di leher lugu anak-anak
berdenyut dalam sipu
gadis-gadis manis bercelana hot pants
yang Anda bayar dengan harga murah
ia naiki bis
berteman dengan loper koran
dan kaum buruh
dan sekalipun sesekali
sering kali
ia meludahi wajah Anda
syair ingin menebus Anda
mengisi pandangan Anda dengan senyum
menyuntik nadi Anda dengan keramahan
melindungi mimpi Anda dan mengusir
mimpi buruk yang merecoki Anda
syair, Tuan,
ingin mengganti seragam Anda
mencucinya dan
menyucihamakannya dengan cuma-cuma
sebab sekalipun Anda
mengelak dari kicau burung-burung
Anda, Tuan, Anda…
masih bisa diselamatkan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar