Kamis, 07 Oktober 2010

Sastra Amerika Latin: Tak Sekadar Macondo vs. McOndo

Dimuat di Kompas, Minggu, 23 April 2006, hlm. 27, dengan subjudul "Tanggapan untuk Artikel Imam Muhtarom"


Untuk membahas khazanah sastra Amerika Latin yang demikian luas, beragam, dan vital dalam percaturan sastra dunia, sungguh penting bagi si pembahas untuk mengenali tema bahasannya dari sumber primer (artinya membaca betul-betul setiap penulis dan buku yang dirujuknya), agar terhindar dari generalisasi dan penyederhanaan berlebihan yang berpotensi menyesatkan.

Saya khawatir Imam Muhtarom terjebak dalam penyederhanaan ini ketika ia membuat dikotomi “McOndo vs Macondo” dalam sastra Amerika Latin (
Kompas, 9/4). Dan, penyederhaan ini saya rasa terjadi akibat pengutipan dari beberapa artikel sekunder tanpa pembacaan langsung atas karya-karya dimaksud.

Pertama, artikel Imam dibuka dengan satu alinea soal genre “realis magis”. Namun sayang, nama-nama yang dikategorikannya sebagai “
boom realis-magis” lebih cocok bila disebut “boom sastra Amerika Latin 1960-an”. Sungguh tidak mungkin memasukkan Mario Vargas Llosa atau Carlos Fuentes dalam jajaran penulis realisme-magis.

Salah kaprah ini memang telanjur akut. Gara-gara kedahsyatan
Seratus Tahun Kesunyian dan kebesaran sosok García Márquez, sastra Amerika Latin jadi identik dengan realisme magis. Padahal, tak semua orang menulis soal hujan yang turun 100 tahun atau diktator sepuh dengan buah zakar sebesar ginjal sapi. Bila kita telisik lebih jauh sastra Amerika Latin tahun 1960-an hingga 1990-an, realisme magis sesungguhnya hanya diwakili oleh beberapa penulis saja, yang paling tersohor tentunya García Márquez dan Isabel Allende.

Di luarnya kita dapati aneka macam suara. Ada Julio Cortázar yang fantastis namun bukan magis, Guillermo Cabrera Infante yang kocak dan penuh permainan kata, Carlos Fuentes yang subtil dan “berat”, Paco Ignacio Taibo II yang menghibur lewat genre cerita detektif, serta Mario Vargas Llosa yang sangat realis (“hiperrealis” menurut beberapa pengamat). Bila semua penulis yang disebutkan tadi sangat politis dengan caranya masing-masing, di lain pihak ada José Lezama Lima yang justru ogah akan komitmen politik dalam sastra. Dari deretan penulis perempuan ada Laura Restrepo, Ángeles Mastretta, dan Luisa Valenzuela yang politis sekaligus erotis, ada juga Mayra Montero yang super-erotis meski kadang tak politis.


Menggolongkan keberagaman ini ke dalam satu terma tunggal “Macondo” (kata lain “realisme-magis”) bisa turut membuahkan salah paham dalam menilai gerakan literer tandingan yang menamakan diri “McOndo”. Untuk menilai gerakan ini, saya kira kita harus terlebih dulu memilah-milah antara karya dengan kredo penciptaan para eksponennya, lalu membandingkan keduanya.


Neoliberalisme magis

Istilah McOndo (gabungan dari “McDOnald’s, Macintosh, dan Condominium”, untuk menyebut Amerika Latin abad ke-21) dicetuskan tahun 1996 oleh penulis Cile Alberto Fuguet dalam antologi cerpen 18 penulis muda dengan judul yang sama. Antologi ini sengaja diluncurkan di salah satu cabang McDonald’s di kota Santiago, Cile. “Saya Bukan Seorang Realis-Magis”, pengantar Fuguet dalam McOndo, dimuat oleh salon.com pada 1997, sementara esainya yang berjudul “Neoliberalisme Magis” terbit di Foreign Policy
edisi Juli-Agustus 2001. Newsweek dan The Observer lantas menurunkan laporan utama tentang lahirnya generasi baru sastra Amerika Latin dan memproklamirkan berakhirnya realisme-magis.

Artikel Newsweek dan Foreign Policy inilah yang dikutip oleh Imam Muhtarom tanpa mempertimbangkan konteks ekonomi-politiknya. Bagi saya, ingar-bingar McOndo tak lebih dari ingar-bingar khas peralihan abad lalu, masa-masa yang dipenuhi eforia “kapitalisme sebagai akhir sejarah”, ledakan teknologi informasi, janji-janji globalisasi dan Ekonomi Baru yang diusung oleh Amerika Serikat. Dalam esainya di Foreign Policy, Fuguet merayakan globalisasi dan reformasi pasar tanpa hirau sama sekali akan dampak sosial-ekonominya bagi Amerika Latin. Fuguet lebih peduli pada dampak estetiknya: bagaimana Zona Perdagangan Bebas Benua Amerika melahirkan “revolusi budaya abad ke-21” serta “terapi kejut bagi jiwa”. Fuguet menulis: “Reformasi pasar di seantero Amerika Latin telah mereformasi kami juga. Bagaimana tidak? Bila tujuan liberalisasi adalah membuka pintu, maka banjir kultural dan sosial pun masuk… Ya, perekonomian tumbuh memang (untuk sesaat), namun kreativitas tumbuh lebih dahsyat lagi.”

Tak heran bila media
mainstream AS memberi porsi yang berita tentang lahirnya generasi McOndo. Perayaan atas apa yang disebut oleh Fuguet sebagai “fusi kreatif baru” ini bisa menutupi borok-borok kebijakan politik luar negeri AS terhadap Amerika Latin. Dengan kata lain, Fuguet hendak melupakan sejarah sosial-politik kawasan itu dan berbalik memusatkan penulisannya pada tema-tema privat.

Tapi di wilayah seperti Amerika Latin, di mana “abad ke-19 berbaur dengan abad ke-21” seperti ditulis oleh Fuguet sendiri, mungkinkah sejarah dilupakan? Pablo Neruda sering berkata bahwa setiap penulis Amerika Latin berjalan sambil menyeret raga yang berat: raga masyarakatnya, raga masa lalunya. Dan Carlos Fuentes mempertegasnya demikian: “Kita harus mengasimilasi beban berat masa lalu kita agar tidak lupa apa yang telah memberi kita hidup. Bila kau lupakan masa lalumu, matilah kau.”


Masa lalu tak pernah mati di Amerika Latin, dan tegangan sejarah itulah —antara masa lalu yang bergelimang penindasan dan masa depan yang dirundung kemiskinan—yang memberi penulis Amerika Latin daya hidupnya. Mario Vargas Llosa pernah menuliskan tegangan ini secara memukau dalam satu paragraf di
Historia de Mayta (1984). Sang narator dalam novel itu melangkah keluar dari Museum Inkuisisi sambil merenung:

En la puerta del Museo de la Inquisición, a la familia de andrajosos hambrientos se ha unido por lo menos otra docena de viejos, hombres, mujeres, niños. [...] Al verme aparecer estiran inmediatamente unas manos de uñas negras, pidiendo. La violencia detrás mío y delante el hambre. Aquí, en estas gradas, resumido mi país. Aquí, tocándose, las dos caras de la historia peruana. 

(“Di pintu masuk Museum Inkuisisi ada sekurangnya selusin orang-orang jompo, lelaki, perempuan, anak-anak, sama gembelnya seperti keluarga yang kulihat tadi [...] Mereka langsung mengulurkan tangan begitu melihatku, kukunya hitam-hitam, mereka mengemis. Kekerasan bersemayam di belakangku dan kemiskinan terhampar di depanku. Di sini, di anak tangga inilah kisah negeriku dirangkum. Di sini, dari ujung tangga yang satu ke ujung tangga yang lain, terdapat dua sisi sejarah Peru.”)

Antara klaim dan karya

Gerakan McOndo mengklaim bahwa kaidah literer yang dipakai oleh angkatan García Márquez sudah tidak memadai lagi untuk menggambarkan kompleksitas Amerika Latin. “Realisme magis mereduksi situasi yang kelewat kompleks dan membuatnya jadi imut. Amerika Latin tidaklah imut,” tulis Fuguet. Dalam satu hal mereka benar. Tapi, adakah hal baru yang disajikan oleh gerakan ini untuk memampang wajah Amerika Latin yang sesungguhnya?

Para penulis muda ini berpaling dari Macondo yang udik dan magis menuju McOndo yang dipenuhi mal-mal belanja, perumahan suburban, budaya massa, internet, dan polusi. Tapi mereka sepertinya lupa bahwa jauh-jauh hari sebelumnya generasi Macondo telah membedah lingkungan urban Amerika Latin sampai sedetail-detailnya.
La región más transparente (1958), novel pertama Carlos Fuentes, belum ada taranya dalam menyibak seluk beluk Mexico City, kota terbesar di muka bumi. Dan Fuentes kembali menelisik Mexico City kontemporer yang kini disebutnya sebagai “el basurero más grande del mundo” atau “tempat pembuangan sampah terbesar di dunia”, dalam karya terbarunya La Silla del Águila (2003).

Apa boleh buat, segala gembar-gembor gerakan McOndo tentang urbanisme sama sekali belum bisa menandingi pencapaian dua mahakarya Fuentes ini. Bahkan, bila benar generasi ini hendak menjejakkan penulisan sastranya sepenuhnya pada kota yang riil tanpa eksotisme, lalu mengapa tokoh McOndo dari Bolivia, Edmundo Paz Soldán, mencipta sebuah kota fiktif bernama Río Fugitivo dalam novelnya, La materia del deseo (2001)? Lalu apa bedanya Río Fugitivo dengan Macondo?

Macondo atau McOndo: bukan itu yang penting dalam membaca sastra Amerika Latin, melainkan seberapa detail tiap-tiap karya bisa menyuguhkan realitas subbenua itu bagi pembacanya. Sudahkah para penulis generasi yang lebih muda mencapai taraf literer sedemikian rupa untuk bisa meyakinkan pembacanya bahwa Amerika Latin ala merekalah yang lebih realistis dan benar? Sebelum terbukti dalam karya kita masih sulit percaya. Isabel Allende menutup novelnya,
El Bosque de los Pigmeos (2004), dengan wejangan demikian: ... no tienes ojo para los detalles. Tal vez eso no sea un impedimento para la medicina, ya ves que el mundo está lleno de médicos chambones, pero para la literatura es fatal (“... kau tidak punya perhatian pada detail. Mungkin itu bukan kekurangan kalau kau mengambil kedokteran, dunia ini dipenuhi dokter-dokter yang tak cakap jadi dokter, tapi dalam sastra hal itu fatal.”)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar