Jumat, 29 Oktober 2010

Ada Kalanya Kesedihan Tak Perlu Dituliskan

Sorrow
Claribel Alegría
Terjemahan Inggris oleh Carolyn Forché dari Saudade (1999)
edisi dwibahasa, Curbstone Press, 1999


Ada kalanya kesedihan hanya harus direnungi dan dijalani tanpa harus dituliskan. Bahkan bagi seorang penyair sekelas Claribel Alegría.

Claribel Alegría adalah penyair dan aktivis kenamaan dari El Salvador, yang salah satu buku suntingannya pernah saya resensi di sini. Selama puluhan tahun ia dan suaminya, Darwin J. Flakoll, menuliskan sejarah negeri dan rakyat mereka, mencatat detail-detail perjuangan gerakan Sandinista, dan ikut berjuang agar El Salvador terbebas dari tirani. Meninggalnya sang suami pada 1995 menghempaskan Alegría pada kesedihan mendalam. 

Judul asli kumpulan puisi ini, Saudade, adalah frase yang tak mudah dicari terjemahan/padanannya (seperti dijelaskan di artikel wiki ini). Judul Sorrow yang dipakai untuk edisi Inggris juga tidak begitu tepat sebenarnya. Saudade mirip "kangen", namun lebih keras dari itu. Dalam bayangan saya, mungkin frase "rindu dendam" dari J.E. Tatengkeng bisa dipakai untuk menggambarkannya.

Dalam situasi diri yang limbung itu Alegría pergi ke Thailand dan Indonesia untuk mencari ketenangan batin dan "bercakap-cakap" dengan suaminya. Ini menarik buat saya, bagaimana Asia dipandang sebagai tempat kebatinan bukan cuma oleh bule-bule dari Dunia Pertama macam Elizabeth Gilbert dg Eat, Shit, Make Love-nya itu (eh, judulnya salah ya?), namun juga buat orang Amerika Latin yang notabene sama-sama "Dunia Ketiga", di mana Amerika Latin sendiri juga dipandang eksotis oleh bule-bule Dunia Pertama. Orientalisme rupanya memang telah tertanam begitu kuat dalam imajinasi banyak orang.

Kepergian ke Timur inilah yang kemudian melahirkan kumpulan puisi ini, yang --maaf--menurut saya tidak menampakkan kualitas Alegría sebagai salah satu penyair terpenting Amerika Latin. Lihatlah puisi pertama "Salí a buscarte" ("Aku pergi mencarimu"), hlm. 2:

Salí a buscarte
atravesé valles
y montañas
surqué mares lejanos
le pregunté a las nubes
y al viento
inútil todo
inútil
dentro de mí estabas

Aku pergi mencarimu
lintasi lembah
dan pegunungan
arungi laut nun di kejauhan
bertanya pada awan
dan angin
segala percuma
percuma
kau toh ada dalam diriku


Frase "lintasi lembah, pegunungan, arungi laut" tidakkah terdengar seperti lirik lagu dangdut? Begitu klise dan bombastis. Namun ada beberapa lainnya yang menggetarkan, ketika perasaan kehilangan dan kerinduan diekspresikan dalam majas yang lebih sublim, termasuk puisinya yang dibuat di Jakarta ini, "No importa si en Yakarta" ("Tidak soal apakah di Jakarta"), hlm. 84:

No importa si en Yakarta
en París
o en Umbria
el espejo me habla
en español

Tidak soal apakah di Jakarta
di Paris
atau di Umbria
cermin bicara padaku
dalam bahasa Spanyol


Maka begitulah, ada kalanya kesedihan tak perlu (langsung) dituliskan. Orang butuh waktu untuk bisa meletakkan kondisi diri dalam perspektif, yang mungkin merupakan salah satu cara untuk menghindari mediokritas. Namun tentu penilaian saya ini hanya tertuju pada kualitas puisi yang ada, dan sama sekali tak bermaksud menghakimi perasaan Alegría bahwa sentimentalitas yang dirasakannya itu "dangdutan."

Medioker atau tidak, Alegría sudah jujur menuliskannya. Dan menurutnya ia memang harus menuliskannya, agar sang suami tetap "ada", seperti terungkap dalam puisinya "Cada vez" ("Tiap kali"), hlm. 92:

Cada vez
que los nombros
resucitan mis muertos

Tiap kali
kunamai
bangkitlah lagi orang-orangku yang mati

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar