Jumat, 15 Oktober 2010

Tiga Hari Bersama Gabo (2)

"Three Days with Gabo", Silvana Paternostro.
Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari George Plimpton (ed.), Latin American Writers at Work – The Paris Review (Modern Library, 2003), hlm. 155 – 181. (Catatan kaki dari penerjemah Indonesia).

Naskah terjemahan Indonesia ini dipakai sebagai salah satu materi Kelas Narasi ETF, Jakarta.


13.00

“Kita lihat ada apa di koran hari ini.” Ia menjangkau koran Tadeo Martínez di seberang meja. “Adakah cerita yang bisa kita datangi dan liput?” tanyanya. Ia amati halaman depan dan menggelengkan kepala tak setuju. “Luar biasa,” katanya. “Ini koran lokal dan tak satu pun cerita soal Cartagena di halaman depan. Beritahu bosmu, Tadeo, bahwa koran lokal harus punya berita lokal di halaman depan.”
 
“Tak ada apa-apa di sini,” gumamnya sambil membalik halaman. “Nah lihat, ada sesuatu nih. Dijual kompor, tidak dipakai, belum dirangkai. Jual cepat. Telepon Gloria Bedoya, 660-1127, ekstensi 113. Ini bisa jadi cerita. Haruskah kita menelepon? Taruhan pasti ada sesuatu di sini. Mengapa wanita ini menjual kompor, mengapa kompornya belum dirangkai? Apa yang kita ketahui dari sini soal wanita ini? Bisa menarik.” Ia diam, menunggu kami tergugah. Tapi tak seorang pun nampak berminat mencari tahu mengapa seorang wanita menjual kompor yang belum dirangkai, apalagi bila kami bisa terus mendengarkan Gabo.
 
Gabo melihat cerita di mana-mana. Selama tiga hari berikutnya ia terus menerus berkata “eso es un reportaje” (ini cerita). Aku sadar Gabo penuh nostalgia: ia kangen jadi reporter. “Jurnalisme bukan kerjaan, tapi kelenjar,” katanya.

Bukan kebetulan bila buku barunya, Kabar Penculikan, adalah karya nonfiksi. Ini memungkinkan Gabo menjadi reporter sekali lagi selama tiga tahun yang dibutuhkan untuk menuliskannya. Buku itu berkisah tentang sembilan penculikan yang direkayasa antara 1989 dan 1991 oleh Pablo Escobar, kepala kartel obat bius Medellín yang kejam. Dengan biaya berapapun ia ingin mencegah Kolombia meneken perjanjian ekstradisi dengan Amerika Serikat. Guna mempertahankan motonya (“Mending masuk kubur di Kolombia daripada masuk kurungan di Amerika Serikat”), Escobar menekan pemerintah dengan membom gedung-gedung, membunuh kandidat presiden, menteri, hakim-hakim, perwira polisi dan akhirnya menculik sembilan orang, delapan di antaranya jurnalis.
 
Dengan bernas dan menyeramkan, Gabo merekonstruksi enam bulan penahanan itu—merekam keresahan dan ketidaksabaran bukan cuma orang-orang yang diculik dan sanak keluarga mereka, tapi juga para penculiknya, awak kartel Escobar, dan petinggi-petinggi pemerintah yang terlibat dalam proses negosiasi. Tentunya, sebagai García Márquez ia memiliki semacam akses yang didambakan jurnalis mana saja. Ia bisa menemui para keluarga, petinggi-petinggi pemerintah, termasuk tiga mantan presiden. Ia bicara dengan remaja-remaja yang bertugas jaga, yang mendengarkan Guns n’ Roses dan menonton Lethal Weapon berulang-ulang, mabuk ganja dengan senapan mesin dikokang di sampingnya—anak-anak yang membunuh untuk kartel demi membelikan ibu mereka kulkas. Ketika Gabo mulai menulis buku ini, Pablo Escobar sudah mati—ditembak oleh satuan polisi pada 1993. Tapi ia punya akses ke rekan utama sang raja narkoba, kakak-beradik Ochoa yang menerimanya dalam penjara. Pengacara-pengacara Escobar menunjukinya surat tulisan tangan: “Tiap-tiap detail dalam buku ini nyata. Sejauh mana memungkinkan untuk memverifikasi fakta-faktanya, mereka sudah diverifikasi. Bila Pablo Escobar sendiri tidak bisa merevisi teksnya, itu karena ia sudah mati. Saya tahu ia bakal setuju menemui saya.”
 
Fakta bahwa ia bisa menemui siapapun yang ia mau membuat Gabo merindukan masa-masa ketika ia masih seorang jurnalis tanpa rupa, orang yang bisa mengambil bloknot dan pergi mencari tahu mengapa kompor tadi belum dirangkai. “Sulit bagiku sekarang menulis reportase. Aku ingin menulis soal desa itu, yang pasokan rotinya teracuni. Tapi aku tahu bila pergi ke sana beritanya akan berbelok; akulah yang akan jadi berita.” Ia merujuk pada sebuah insiden yang terjadi di luar kota Bogotá sekian tahun lalu—seisi kota keracunan.
 
Selain memungkinkannya kembali pada jurnalisme, Kabar Penculikan punya maksud lain: “Aku ingin melihat masih bisakah aku menulis seperti jurnalis,” ia memberitahu kami. “Ini buku paling sulit yang pernah kutulis. Jauh lebih gampang menulis fiksi, di mana aku penguasanya. Aku mengontrol semuanya. Tapi ini ditulis seolah-olah buat suratkabar. Kutulis buku ini tanpa memakai ajektif sastra atau majas. Ini latihan yang berguna sebab penting bagiku untuk tidak mengulang-ulang. Tantangan untuk menulis Tumbangnya Sang Patriark (3) sehabis menulis Seratus Tahun Kesunyian aku paksakan sendiri. Aku bisa menulis tiga ratus Seratus Tahun Kesunyian. Aku tahu caranya, maka kuputuskan menulis Tumbangnya Sang Patriark dengan gaya yang sangat berbeda. Tumbangnya Sang Patriark tidak sukses ketika terbit. Bila aku menulis Seratus Tahun Kesunyian satu lagi, ia akan lebih bisa diterima.” Ia tersenyum dan memberitahu kami bahwa salah satu momen yang paling memuaskannya adalah melihat di Amerika Serikat sebuah edisi Seratus Tahun Kesunyian dengan garis kelabu menurun di satu sisi bertuliskan: Dari pengarang Asmara Semasa Kolera. “Inilah kemenangan atas Seratus Tahun Kesunyian,” ujarnya.
 
“Sebagai penulis kita juga harus menjaga diri dari para penulis yang kita sukai. Gampang sekali masuk perangkap dan mulai mencontoh mereka. Umpamanya, orang suka bilang aku mencontoh Faulkner, tapi selama perjalananku ke Selatan Amerika, ketika aku pergi bersama Mercedes, dengan anak masih di gendongan dan 20 dolar atas nama kami, aku sadar bahwa aku tidak terlalu mengidentifikasi diri dengan tulisannya, tapi dengan realitas, yang artinya: Selatan Amerika itu mirip Aracataca.”
 
Aracataca adalah kota kecil Kolombia di kawasan Karibia tempat Gabo dilahirkan, sekitar 200 mil dari tempat kakekku tumbuh besar. Ada sesuatu yang terasa familier sejak Gabo berjalan masuk ruangan, duduk di sebelahku, dan mulai bicara. Berulang kali ia berkata bahwa ia menuturkan kembali cerita-cerita yang didongengkan neneknya. Mendengarkan Gabo membuatku merasa seperti sedang mendengarkan kakekku—andai saja kakekku bisa menulis!
 
Gabo menyandar ke kursinya, mengusap kumis ubannya dan mewanti-wanti kami, “Kau tidak menulis dengan baik bila kau gembira ketika telepon berdering dan kau menjawabnya; atau listrik padam dan itu membuatmu senang. Tapi bila kau sudah mantap dan telepon berdering, kau takkan mengangkatnya; kau akan menyumpahi lampu kalau padam.” Contohnya soal listrik pasti terasa jauh bagi beberapa pihak, tapi bagi kami jurnalis Amerika Latin, padamnya listrik dan hilangnya teks di komputer selalu merongrong belakang kepala kami. Gabo, yang pernah kehilangan seluruh teksnya, kini punya generator daruratnya sendiri.
 
Ia mulai membaca beberapa paragraf lantang-lantang dari artikel-artikel kami. Ia tawarkan suntingan ringan. Beberapa kalimatnya terlalu panjang dan Gabo pura-pura tersedak waktu membacanya. “Kita harus pakai koma buat menarik nafas,” katanya. “Bila tidak, aksi menghipnotis itu tidak jalan. Ingat, kapan pun ada ganjalan, pembaca terjaga dan kabur. Dan salah satu hal yang membuat pembaca terjaga dari hipnotis adalah merasa kehabisan nafas.”
 
Kami habiskan hampir sepanjang pagi menyimak Gabo mengajar dengan mendongeng. Tugas kami, aku sadar, cuma menyandar dan menikmatinya—seperti sedang rehat kopi yang mulur waktunya atau minum-minum di bar terdekat. “Aku tahu jurnalisme tidak bisa diajarkan, ini harus dihayati, tapi aku bisa menularkan pada kalian sebagian dari pengalamanku. Tak ada teori. Realitas tak punya teori, realitas berkisah. Dari situ kita harus belajar.”


USAI MAKAN SIANG

Cahaya di kamar itu begitu redup sampai-sampai mata mereka butuh waktu sejenak untuk membiasakan diri. Inilah ruang yang tidak lebih lebar dari dua kali tiga meter, dengan satu jendela cahaya. Dua orang lelaki duduk di selembar kasur yang ditaruh di lantai. Mereka mengenakan kerudung seperti orang-orang di rumah pertama, dan begitu asyik menonton teve. Segalanya suram dan mencekam. Di pojok sisi kiri pintu, di ranjang sempit dengan tonggak-tonggak besi, duduklah seorang wanita dengan rambut putih layu, mirip hantu, matanya nanar dan kulitnya menempel ke tulang belulangnya. Ia tidak menampakkan tanda-tanda mendengar mereka masuk; tidak selirikan mata pun, tidak setarikan nafas pun. Kosong, mayat saja tidak mungkin terlihat semati itu.
Gabo membacakan bab dari Kabar Penculikan. Aku rela menyerah pada kata-katanya, hanya saja sepatu putihnya mustahil diacuhkan. Kupejamkan mata untuk memasrahkan diri sepenuhnya pada “racun”-nya.
Kala malam heningnya pekat dan sunyinya senyap, disela hanya oleh ayam jago sinting yang tidak peka-waktu dan berkokok kapanpun ia mau. Salak anjing terdengar di kaki langit, dan ada satu yang berada sangat dekat situ. Kedengaran oleh mereka seperti anjing penjaga yang terlatih. Maruja bangun pada awal yang buruk. Ia meringkuk di kasur, memejamkan mata, dan selama beberapa hari tidak membukanya lagi kecuali bila harus, berusaha memperoleh privasi yang ia perlukan untuk bisa berpikir dengan lebih jernih. Bukannya dia tidur selama delapan jam berturutan; ia akan lelap selama setengah jam dan bangun lagi dalam realitas yang sama, kepedihan yang sama yang sedang menanti untuk menerkamnya. Rasa takut tak hilang-hilang: sensasi fisik terus menerus dalam perutnya akan sesuatu yang keras, melilit dan siap meledak jadi panik. Maruja memutar seluruh film hidupnya. Ia berupaya bertahan pada kenangan-kenangan manis, tapi ingatan-ingatan yang tidak mengenakkan selalu turut campur…
Ia bacakan seluruh bab itu. Kurasakan kepanikan Marina Montoya saat ia mengenakan sweater merah jambu dan kaus kaki pria warna coklat lalu mengucapkan sampai jumpa pada dua teman sekamarnya. Aku berpindah ke kamar morat marit tempat para penjaga memberitahu Marina bahwa ia akan dibebaskan. Tapi semua orang tahu bahwa sepatu hak tinggi yang ia pakai bersama sweater itu sedang menuntunnya menuju eksekusi.
 
“Ada komentar? Ada yang perlu kuubah?”
 
Tak seorang pun berkata-kata.
 
“Ini investigasi tiga tahun,” ucapnya bangga. “Risetnya krusial. Setiap fakta yang bisa diverifikasi sudah diverifikasi. Aku beri kredit dalam buku ini untuk asisten risetku.”

Gabo sedang bicara, tapi kepalaku masih berat. Aku belum keluar dari hipnotis. Aku merasa pening dan masih bisa melihat tubuh Marina, berpakaian merah jambu, terkapar mati di rerumputan yang memisahkan satu-satunya jalan menuju bandara Bogotá, jalan yang sama yang kulalui setiap kali menjenguk orang tuaku.
 
“Secuil nasehat bagus adalah: pertama tulislah bagian awal dan akhirnya. Mulailah dengan anekdot dan tutup dengan akhir yang bergaung. Lalu isi sela antaranya. Kau harus pagari ceritamu, ibarat ternak. Bila tidak, kau terus mencari-cari, dan itu bisa membawamu ke mana saja. Kau harus kapling ceritanya, kau harus belajar cara menyudahi siklus informasi. Detaillah kuncinya. Kau harus berpegang kuat pada benang dalam narasinya. Bila tidak kau tenggelam. Bahkan Cervantes pun kehilangan seekor keledai, dan kita harus menghindari kehilangan keledai sebanyak mungkin,” ucapnya.
 
“Salah satu masalah terbesar dalam menulis adalah terlalu banyak kuatir. Bila kau bisa menulis seperti kau mengucapkannya, itulah impian seorang penulis, mampu menulis seperti mengucapkannya. Ini tidak bisa, karena saat orang mencoba, ia sadar betapa sulitnya melakukan itu. Di Meksiko aku terbiasa menulis dengan jendela terbuka, agar bisa mendengar burung-burung atau hujan, dan aku akan memasukkannya ke dalam teks yang sedang kugarap. Kini tidak lagi. Persoalan tentang hanya bisa menulis dalam suatu ruang tertentu, dengan cara tertentu, adalah mania seorang novelis. Kini aku bisa menulis di mana saja seperti yang biasa aku perbuat dulu ketika jadi reporter. Aku tinggal mencolokkan PowerBook-ku di kamar hotel mana saja. Tapi aku terbiasa menulis dengan layar panjang. Tiap menulis kusimpan dan memindahkannya langsung ke dalam disket. Tiap babnya jadi file.
 
Ia memberitahu kami ia kepingin sekali menulis di layar yang bentuknya seperti lembaran kertas. Tapi ini belum diproduksi. “Kubeli semua layar yang bisa kudapat. Aku punya sebelas,” katanya. “Aku percaya orang perlu membeli apa saja yang membuat kerja kita jadi lebih gampang. Komputer itu luar biasa. Bisa kubuktikan. Aku mulai menulis dengan komputer ketika Asmara Semasa Kolera. Aku beralih dari menulis satu halaman sehari jadi sepuluh halaman, dari menulis satu buku tiap tujuh tahun jadi menulis satu buku tiap tiga tahun. Tetap saja, menulis tak kunjung usai kesulitannya. Menatap halaman kosong, orang merasakan keresahan yang sama seperti hubungan seks, selalu menebak-nebak apakah ini akan berhasil atau tidak. Selalu ada derita. Seperti Borges biasa bilang: Manakah Tuhan dari Tuhan di balik Tuhan yang menggerakkan bidak-bidak catur?”
 
Ia memberitahu kami bahwa ia tahu momen terburuk bagi seorang penulis, atau bagi seorang jurnalis, adalah menatap halaman kosong. Dan ia berbagi apa yang menurutnya salah satu saran paling berguna, yakni yang dikatakan Ernest Hemingway kepada The Paris Review tahun 1958: “Kau baca apa yang sudah kau tulis, dan karena kau selalu berhenti pada saat kau tahu apa yang akan terjadi berikutnya, kau lanjutkan dari situ. Kau menulis sampai tiba di tempat kau masih merasakan akibatnya dan tahu apa yang akan terjadi kemudian lalu kau berhenti dan mencoba hidup sampai hari berikutnya kau menggarapnya lagi.”

“Aku menulis dari delapan tiga puluh pagi sampai sekitar dua atau tiga sore,” kata Gabo. “Dari tahun-tahun panjang di kursi itu aku terkena encok; itu sebabnya aku main tenis setiap hari. Kadang sesudah aku selesai, encokku begitu nyeri sampai aku harus merobohkan diri ke lantai begitu saja.” Pukul tujuh kurang sedikit ketika ia melihat arloji putihnya. “Kalian-kalian ini takkan membuatku membolos tenis,” katanya. Ia pun berdiri dan berjalan keluar.


SELASA, 9 APRIL09.00

Tanggal ini, hampir 50 tahun silam Gabo kehilangan mesin tik pertamanya—mesin tik yang ia pakai untuk menulis “Penyerahan Ketiga”, cerpennya yang pertama kali diterbitkan. Ia masih mahasiswa hukum yang tidak berbahagia, tinggal di losmen murahan di pusat kota Bogotá. Ia rindu cuaca panas pesisir Karibia, dan jarang menghadiri kelas. Ilmu hukum, yang diharapkan keluarganya akan dipelajarinya, tak pernah menarik minatnya.
 
Pada jam makan siang 9 April 1948, Gabo sudah hampir duduk makan ketika ia dengar Jorge Eliecer Gaitán, kandidat presiden yang masih muda dan populer, yang mengguncang struktur politik tradisional Kolombia, ditembak. Gabo bercerita bahwa ia tiba di alun-alun hanya untuk menjumpai “orang-orang yang sudah membasahi saputangan mereka dengan darah Gaitán.” Jalanan Bogotá membara dan mesin tik Gabo musnah dalam kebakaran. Kolombia lumpuh. Universitas-universitas ditutup. Sekian bulan sesudahnya di Cartagena sini, Gabo –pada umur 19 tahun—memulai hidupnya sebagai jurnalis dengan menulis tajuk rencana.
 
“Suatu hari aku sedang jalan-jalan, dan Zavala, redaktur El Universal, sedang duduk dengan mesin tiknya di luar, di alun-alun. Dia berkata padaku, ‘Aku kenal kamu.’ Katanya, ‘Kaulah orang yang menulis cerpen-cerpen di El Espectador. Mengapa kau tidak duduk membantuku dengan tajuk rencana yang sedang kurampungkan ini?’ Kutulis sesuatu. Zavala mengeluarkan pensilnya dan mencoret beberapa. Kali berikutnya aku menulis tajuk rencana, ia coret cuma sedikit. Hari ketiga aku menulis tanpa disunting. Aku sudah jadi jurnalis.”

Hari ini ia tidak duduk di sebelahku. Ia tidak mengenakan guayabera putih tapi kemeja sutra lengan pendek warna biru pirus. Sepatunya masih putih. Hubunganku dengannya terasa jauh tapi aku masih terpaku pada cerita-ceritanya. “Aku mulai menghasilkan uang dengan menulis ketika berumur 43 tahun,” ia memberitahu kami. “Kubeli rumah pertamaku, rumah yang di Cuernavaca, tahun 1970, dua puluh lima tahun sesudah cerita pertamaku terbit. Aku hitung-hitung bahwa untuk membawa anak-anak ke bioskop waktu itu aku perlu menulis 12 halaman, dan buat membawa mereka ke bioskop dan membelikan es krim aku perlu 20 halaman. Ketika tinggal di Paris, aku tidak punya jam tetap untuk menulis dan kebanyakan menulis sewaktu malam. Sepanjang siang cemas soal mengisi perut. Kini aku tahu bahwa lebih baik menulis waktu siang, dengan komputer, dengan perut kenyang, dan dengan penyejuk udara.”
 

REHAT KOPI

Jaime Abello, direktur yayasan, menyewa seorang fotografer dan meminta kami berkumpul untuk foto bersama. Yayasan tidak mengeluarkan sertifikat apapun. “Pada waktunya, hidup akan menentukan siapa yang sanggup dan siapa yang tidak,” Gabo pernah berkata. “Paling tidak, kalian semua bisa pulang dengan oleh-oleh,” kata Jaime. “Ayo, duduk di tangga.”
 
Gabo merasa puas hati dan duduk di tengah. Fotografer dari El Universal menyuruh kami tersenyum ke kamera.
 
“Tunggu,” seru si perempuan yang mengelola Yayasan. “Aku ingin foto dengan Gabo.” Ia naik melewati kami dan duduk di sampingnya.


13.00

Tak terelakkan rupanya, Fidel Castro pun harus muncul. Kami, atau mestikah kubilang aku, sedang menunggu saat yang pas. Gabo ingin bicara soal etika: haruskah seorang reporter membaca dokumen yang tertinggal tak terjaga, dokumen yang potensial untuk jadi berita pertama?
 
Pertanyaannya memberiku kesempatan. “Aku punya pengalaman seperti itu,” ujarku. Pada 1991 aku menghadiri upacara pembukaan pertemuan presidensial Ibero-Amerika pertama yang diselenggarakan di Guadalajara. Castro diberitahu bahwa seluruh pembesar harus membatasi pidato mereka 7 menit. Tiap orang menunggu gelisah giliran Castro yang terkenal gara-gara pidato panjangnya. Kami semua membayangkan apakah Castro, yang sehari setelah kemenangan Revolusi 1959 berpidato spontan selama 7 jam, akan mematuhi instruksi ini. Ia bicara persis 7 menit. Presiden Balaguer dari Republik Dominika bicara 45 menit.
 
Selama rehat, gerombolan jurnalis, termasuk aku, mengepung Fidel. Secara pribadi ia nampak lebih besar dari aslinya, bahkan sekalipun seragam militernya terlihat sedikit mangkak dan kerah kemejanya juga serabutan. Saat berjalan masuk, orang-orang mengikutinya. Ia tampak menikmatinya.
 
“Comandante, aku memotong tebu di Brigade Venceremos,” seru seorang jurnalis.
 
Ia berhenti dan mencari-cari suara itu. “Mana?”
 
Seorang perempuan mengulurkan foto hitam putih dari kerumunan—foto mereka berdua waktu janggut Fidel masih hitam. “Bisa tanda tangani, Comandante?”
 
“Sulitkah bicara selama tujuh menit?” seseorang lainnya berteriak.

“Aku ditipu,” kata Fidel. “Mereka bilang bahwa bila aku bicara lebih dari tujuh menit seluruh lonceng di Guadalajara akan berdentang.”
 
Kuperhatikan ada gumpalan kertas kecil di sebelah bloknot kuning tempatnya duduk. Waktu kerumunan orang bergerak bersamanya, aku kembali ke tempat duduknya dan menjumput gumpalan kertas itu. Kubuka dan kubaca tulisan tangannya yang kecil dan dempet-dempet: “Por cuánto tiempo habré hablador?” (Berapa lama aku bicara?) Di bloknot yang lebih besar Fidel membuat daftar presiden dan jumlah waktu masing-masingnya bicara, sampai ke detik-detiknya. Aku pergi meninggalkan notes itu. Aku menyesalinya semenjak itu.
 
“Aku jelas akan mengambilnya,” kata Gabo. “Percayalah, bila ia menganggapnya begitu penting, ia takkan pernah meninggalkannya di sana. Ya, aku akan menyimpannya sebagai kenang-kenangan.”
 
Seperti yang kuharapkan, Gabo mulai bicara soal Fidel Castro. Ia membicarakan Kuba blak-blakan, dengan prihatin dan semangat, seperti mahasiswa kuliahan yang memasang poster Che Guevara di dinding. Tapi tentang Fidel, ia bicara tanpa benar-benar mengucapkan sesuatu yang negatif, bersyak wasangka, atau bahkan buka rahasia. “Aku bicara soal Fidel lebih dari perasaan ketimbang dari suatu posisi penilaian. Ia salah seorang yang paling kucintai di dunia.”
 
“Diktator,” ada yang menimpali.
 
“Menggelar pemilu bukan satu-satunya jalan untuk jadi demokratis.”
 
Jurnalis Amerika di kelompok kami terus mendesaknya. Gabo mulai menjawab, tapi melihat kami mencatat, suaranya jadi kaku: “Ini bukan wawancara. Bila aku ingin mengungkapkan opiniku soal Fidel, kutulis sendiri dan percayalah, kerjaku akan lebih bagus.”
 
Barangkali merasa agak bersalah karena menggertak kami, ia ceritakan soal profil yang ia tulis soal Fidel. “Kuberikan padanya buat dibaca. Di situ aku sangat kritis. Aku bicara soal situasi pers bebas. Tapi ia tidak berucap apapun tentang itu. Yang sungguh membuatnya gusar soal artikelku adalah ketika aku menyebutkan ia makan 18 sendok es krim setelah santap siang pada suatu hari. ‘Apa aku benar-benar makan delapan belas sendok?’ tanyanya padaku berulang kali.”
 

USAI MAKAN SIANG

“Ceritai kami soal perjalananmu ke Chigorodó.” Gabo menyuruh Rubén Valencia.
 
Chigorodó adalah sebuah desa di Urabá, kawasan paling berbahaya di Kolombia—yang maknanya banyak karena berasal dari negara yang digambarkan sebagai negara paling sarat kekerasan di dunia. Teluk Urabá di pantai barat Kolombia adalah bom Molotov geografis. Ia memiliki tanah paling subur di negeri ini; ia titik masuk senjata dan dermaga eksit obat bius; ia memiliki kaum tani miskin dan tuan tanah kaya raya; ia punya kelompok-kelompok gerilya, satuan-satuan militer, dan pasukan tembak mati. Tahun lalu, seribu orang terbunuh, korban kekerasan politik. Menurut laporan surat kabar, seorang pembunuh bayaran berusia 20 tahun sudah menewaskan 83 orang. Pada Agustus 1995, delapan belas orang terbunuh di aula dansa. Pembantaian seperti ini kerap terjadi.
 
Rubén adalah orang yang paling tidak kuperkirakan akan mengunjungi Chigorodó. Ia seorang pemuda kurus kering dengan kacamata persegi yang terlampau besar buat wajahnya, dengan begitu banyak minus di lensanya sampai matanya terlihat mungil. “Aku pergi ke sana,” katanya, “untuk menulis soal dampak kekerasan terhadap kehidupan orang-orang di wilayah itu, untuk mencari sisi kemanusiaan cerita ini.”
 
Laporan yang ia terbitkan adalah yang ia ajukan ke lokakarya ini. Gabo sedang menggenggamnya. “Beritahukan apa yang terjadi dari sejak saat kau tiba. Siapa orang pertama yang kau ajak bicara?” tanyanya.
 
“Kota itu sepi, maestro. Kutemukan seorang bocah 12 tahun, aku bertanya padanya tahukah ia di mana aula dansa itu dan ia membawaku ke sana. Terjadi eksodus setelah pembantaian; semua petani kabur ketakutan.” Valencia memberitahu kami bahwa ia berkeliling mencari seseorang untuk diajak bicara, tapi cuma rasa takut dan kebisuan yang ia dapatkan. Seorang perempuan berhenti dengan sepeda motor dan menawarkan tumpangan ke Apartadó, sekitar setengah jam perjalanan dalam hujan, di mana ia bisa memperoleh lebih banyak informasi. Ia menginap di Hotel Las Molas. Pada hari ketiganya di sana, seorang tamu menunggunya di lobi.
 
“Kaukah orang yang menyelidiki pembantaian?” tanya orang asing itu padanya. “Yuk keluar minum-minum. Kukira kau ingin bicara denganku.”
 
“Sori,” jawab Valencia. “Terlalu larut. Aku tidak bisa keluar setelah gelap. Anda mau naik ke kamarku?”
 
Begitu berada dalam kamar, orang itu bertanya, “Apa yang sudah kau temukan? Apa yang ingin kau ketahui?”
 
“Aku seorang jurnalis, aku mencoba mencari sisi kemanusiaan dalam konflik ini.”

“Ah, ya.”
 
“Siapa gerangan Anda?” Akhirnya Valencia bertanya padanya.
 
“Aku seorang malaikat,” jawab orang itu.
 
“Malaikat jenis apa?”
 
“Malaikat dengan sayap putih dan sayap hitam.”
 
“Dan dengan sayap yang mana Anda mau bicara padaku?”
 
“Tergantung.”
 
“Pada apa?”
 
Ketika Valencia bicara, kami semua terdiam, terserap dalam ceritanya. Aku merasa agak iri: hebat amat ceritanya!

“Tapi bukan itu yang kubaca di sini,” kata Gabo sambil mengangkat artikelnya. “Kenapa tidak kau tulis cerita itu? Kenapa tidak kau tulis sebagaimana yang kau ceritakan pada kami barusan? Itu kisah yang bakalan kutulis.”
 
“Gambarkan orang itu,” kata Gabo sambil menatapnya.
 
Rubén terdiam.
 
“Bisa kau ingat wajahnya?”
 
“Ya.”
 
“Ia membuatmu teringat hewan apa?”
 
“Iguana.”
 
“Itu dia, kau tak perlu apa-apa lagi,” kata Gabo. “Kau sesat jalan, nak. Kita bukan sosiolog, kita pendongeng, kita kisahkan cerita tentang orang-orang. Melaporkan dengan suara manusiawi adalah apa yang membuat jurnalis jadi besar. Di mana cerita itu?”
 
Rubén, yang bersikukuh memanggil García Márquez maestro, menjawab: “Tidak mudah. Ketika kuusulkan untuk menulis cerita itu, redakturku bilang, ‘Valencia, kau bukan García Márquez. Tetaplah pada fakta-fakta!’ ”


15.00

“Daza, kenapa tidak kau bacakan pada kami salah satu laporanmu?” tanya Gabo. Aku merasa resah. Hari hampir berakhir. Lokakarya hampir berakhir, dan Gabo tidak mengucapkan sepatah kata pun tentang laporanku. Karena aku menulis soal Kuba kukira ia akan menunjukkan ketertarikan khusus. Tapi ia bahkan belum menyatakan sudah membacanya.
 
Daza menulis tentang salah satu sosok bawah tanah Medellín—profil seorang pria yang lebih suka ditemani binatang ketimbang manusia. Ia berbagi buñuelo hariannya (roti goreng, satu-satunya lauknya) dengan tikus piaraan. Ia membawa-bawa seekor ayam dengan tali kekang dan memelihara kutu di kamarnya. Daza membacakannya pada kami. Laporannya menyentuh, penulisannya liris, malah terlalu liris barangkali . Bukan reportase tradisional.
 
“Aku tidak akan menyentuh tulisan Daza,” kata Gabo. “Barangkali ia sedang menciptakan bentuk baru di sini, bentuk yang sama sekali tidak kukenal.”
 
Apakah ia menganggapnya bagus atau jelek, kami tak tahu.

Daza bukan cuma berani dalam gaya penulisannya. Ia satu-satunya orang yang menunjukkan rasa tidak suka: “Gabo sedikit mabuk kebesarannya sendiri.”
 
Daza ditugaskan meliput pertemuan presidensial Ibero-Amerika, yang pada tahun 1994 diselenggarakan di Cartagena. Para reporter naik pitam karena orang-orang penting mustahil diwawancara. Gabo, sebagai aktor politik penting, hadir sebagai tamu dalam delegasi. Ia dilaporkan berkata bahwa alih-alih mengeluh, para jurnalis harus keluar ke jalanan mencari cerita, dan tidak berharap berita disajikan ke mereka di atas pinggan perak. Bila para presiden tidak tersedia, seorang jurnalis yang baik bagaimanapun akan tetap menemukan cerita.
 
Sambil menyanggahnya Daza berujar, “Mudah bagi Anda bicara begitu. Kutulis kisah tentang betapa tidak adilnya komentar itu menurut pendapatku, terutama karena datang dari Anda. Maksudku, Anda ada di situ, di balik pintu bersama semua presiden.”
 
“Aku tidak berada di sana sebagai jurnalis yang sedang dinas.”
 
Daza mengakui bahwa teguran Gabo bermanfaat. Ia berikan gambarannya: ketika ditugaskan meliput pertemuan Kelompok Negara-negara Non-Blok yang digelar di Cartagena tahun lalu, ia tidak pergi ke balai sidang tempat para pemimpin bertemu. Untuk menulis soal Yasser Arafat yang hadir di sana dan soal konflik Israel-Palestina, ia pergi ke salah satu perkampungan kumuh miskin yang berlimpah di Cartagena—perkampungan yang memang dinamai Palestina. Ia menulis cerita yang membandingkan situasi Arafat dengan situasi seorang gadis yang tinggal di Palestina, termarjinalkan di pinggiran kota kaya yang berjubel turis.
 
“Kau dapat hikmahnya,” kata Gabo.
 
“Anda juga ada di pertemuan itu.” Daza tak kenal lelah. “Anda datang bersama delegasi Kuba.”
 
“Aku memang hadir,” balas Gabo tak sabar. “Aku datang karena ada isu akan terjadi upaya pembunuhan terhadap Fidel.
 
Dan pihak keamanan Kuba takkan membiarkan Fidel ambil bagian dalam prosesi, jadi kuajukan diri untuk ikut naik delman bersamanya. Kuberitahu mereka bahwa di Kolombia sini bila aku naik panggung, tak seorang pun bakal menembak. Jadi kami berlima berdesak-desakan dalam delman, terjepit-jepit, bercanda. Waktu kuberitahu Fidel bahwa aku yakin tak ada apa-apa yang bakal terjadi, kudanya malah benar-benar tersandung.”


MAKAN MALAM

Ia makan malam dengan kami di La Vitrola, restoran paling kosmopolit di Cartagena. Dekorasinya lebih berkesan Inggris kolonial ketimbang Spanyol, tapi sekelompok musisi Kuba berpakaian putih-putih menyanyikan lagu-lagu son tradisional. Inilah tempat kelas atas Kolombia bersantap ketika sedang liburan, tempat presiden mampir minum. Bintang-bintang sinetron, bandar-bandar narkoba yang kecil namun mencolok, abg-abg kaya yang sedang kencan pertama, segelintir eksekutif muda setempat semuanya datang juga. Menunya menyerupai menu restoran di New York. Vinaigrette-nya dibikin dengan cuka balsam, mozzarella-nya segar dan anggurnya, bagi Kolombia, sedap.

Kami duduk dan menunggu dalam ruangan kecil sambil menyeruput es buah. Gabo tiba mengenakan overall biru gelap yang diretslitingkan dari perut sampai dada. Pria Karibia waktu siang, saat malam ia seperti baru meloncat keluar dari sampul album rekaman—funk atau disko. Sepatunya sama persis modelnya dengan yang pagi, tapi kali ini warnanya kelabu. Ia minta wiski ke pelayan. Kami pergi ke ruang privat di sebelah pintu masuk. Ia duduk di antara Andrea dan aku.
 
Menunya paket: zucchini goreng disertai pilihan udang saus kelapa atau kakap merah dengan krim.
 
“Terlalu berat buat makan malam,” Gabo mengeluh.
 
Sang empunya tempat mendekat. “Saya bisa memberi Anda kakap, dibakar tanpa saus? Atau pasta?”
 
“Macam apa?”
 
Anda maunya yang bagaimana?”
 
“Polos.”
 
“Bagaimana bila pasta in brodo?”

“Sempurna. Saya minta itu.”

Aku tanya bisakah aku pesan yang sama; seharian aku merasa ganjen.
 
“Dua,” Gabo memberitahunya.
 
Ketika anggur dihidangkan, ia menolak dan terus meminum wiskinya.
 
Restoran penuh. Meja kami pemandangannya terbuka. Tiap orang mengenali Gabo. Ia mohon agar pintunya ditutup, dan kuminta pelayan menutupnya. Seorang reporter Newsweek yang datang dari Buenos Aires untuk mewawancarai Gabo duduk di sebelah kiriku. Aku bercakap-cakap dengannya barang sejenak tapi sesungguhnya aku cuma ingin bicara dengan Gabo, berbisik padanya, tidak membaginya dengan rekan-rekanku yang lain.
 
Aku menoleh padanya. Kami mempercakapkan banyak hal. Ia ingin tahu mengapa dan di mana aku tinggal di New York. Kuberitahu dia aku tinggal di Village dan bertanya apakah dia suka New York. Ia amat suka, tapi tidak bila terlalu dingin, sebab tak ada lain yang lebih disukainya kecuali berjalan kaki menyusuri jalanan. Aku bilang akan membawanya keliling Village dan dia berjanji menelepon. Kami bercakap soal Kuba, soal Barranquilla, soal Bill Clinton, The New Yorker dan majalah-majalah Minggu. Ia memberitahuku dalam detail yang amat rinci soal cerpen yang akan ia tulis dan soal kemeja sutra warna kuning yang ia punya, kemeja yang ia pakai bila merasa kasmaran. Gelasnya kosong, jadi ia menyeruput dari gelasku. “Aku suka berada dekat perempuan. Aku lebih mengenal mereka ketimbang kaum pria. Aku merasa lebih nyaman dekat mereka; aku tumbuh besar dengan para perempuan di sekitarku.”
 
Pelayan berjalan mendekat dan memberi Gabo serbet putih yang dilipat. Ia membukanya dan membaca apa yang ada di dalamnya. Ia memberitahu pelayan untuk tidak berkata apa-apa. Pasti sulit melihat semua orang menginginkan sesuatu darinya sepanjang waktu. Ia memberitahu kami tentang temannya yang mencalonkan diri jadi anggota dewan dan meneleponnya: “Gabo, bisakah kau tulis sesuatu tentangku, bicara sesuatu tentangku, meskipun itu hanya untuk mengataiku.”
 
Pintu terbuka dan seorang pria mengintip ke dalam. Gabo mendongak, berdiri, dan dengan lengan terjulur berjalan mendekat. “Ah, mon ami, quelle coincidence.” Aku duga ini pria yang mengiriminya pesan dalam serbet. Waktu duduk lagi ia berbisik di telingaku, “Aku cuma ingin kabur dari jendela itu.”


RABU, 10 APRIL
09.30

Gabo duduk di ujung meja lagi, membaca apa yang kelihatannya seperti manuskrip, menunggu setiap orang tiba. Ia tahu kelas pergi keluar setelah makan malam kemarin. Ia terlihat geli pada orang-orang terakhir yang tiba terlambat, barangkali dengan selintas nostalgia. Tiap orang terlihat ngantuk, belum mandi, dan lekas marah akibat sakit kepala berdenyut-denyut gara-gara terlalu banyak minuman adas manis. Ia terlihat bersih berseri-seri dalam setelan putihnya.

Aku duduk di ujung meja satunya dan bertanya-tanya apakah ia belum menyebut-nyebut tulisanku untuk membuatku terus merasa deg-degan dan gelisah. Waktu berdetik, sejam lewat, dan cerita Tadeo soal terdakwa wanita Spanyol di Cartagena yang tidak diizinkan menjalani masa tahanannya karena positif HIV masih terus didiskusikan. “Kau punya cerita terbaik di sini,” kata Gabo, “tapi kau keliru waktu mengisahkannya; ini jadi tidak masuk akal.”

Akhirnya ia memandangku. Aku tidak segugup seperti waktu pertama kali ia duduk di sebelahku, tapi toh jantungku tetap berdebar-debar kencang.
 
“Silvana punya selera bagus soal musik,” kata Gabo. “Seperti aku, dia suka Van Morrison.”

Tulisanku adalah tentang kesulitan-kesulitan yang dihadapi musisi rock muda di Kuba, di mana negara tidak mendukung mereka dan inisiatif swasta mustahil. Aku menulis soal pergulatan seorang pengamen dengan gitar tanpa senar yang suaranya kugambarkan seperti suara Van Morrison.
 
“Silvana menulis bagus, terstruktur baik. Aku takkan mengubah apa-apa,” kata Gabo. Tapi ia tidak setuju dengan beberapa deskripsiku: “Perlukah menyebut televisinya rusak, televisinya hitam putih dan tak ada uang buat mereparasinya? Ada banyak rumah di Cartagena sini yang uangnya cekak dan tevenya tidak berwarna. Akankah kau menulisnya bila ini bukan soal Kuba?”

Kami tarik ulur tentang masalah kontrol kebudayaan dalam pemerintahan Kuba. “Aku sudah bicara pada mereka berulang kali,” ucapnya seakan-akan frustrasi karena mereka tidak mengindahkannya. Lantas ia berdiri, berjalan mendekatiku dan menyerahkan tulisanku. Ia tidak berbuat begini dengan siapapun lainnya.
 
Ia berjalan kembali ke kursinya. Kakiku tidak menyentuh lantai. Aku merasa seperti Si Cantik Remedios—aku mengawang.
 
Gabo punya komentar penghabisan untuk dilontarkan: “Aku lihat kalian semua—dalam ketakutan kalian, dalam kekikukan kalian, dalam pertanyaan kalian, aku teringat apa yang kurasakan waktu seumuran kalian. Menceritai kalian soal pengalaman-pengalamanku juga memungkinkanku menengok diri sendiri. Lagipula, ini sudah 50 tahun sejak aku mulai menulis—setiap hari seumur hidupku. Bila kalian tidak suka kerja kalian, berhentilah. Satu-satunya hal yang membuatmu mati adalah melakukan sesuatu yang tidak kau sukai. Bila kalian suka kerja kalian, panjang umur dan kebahagiaan terjamin.”

Semua orang membentuk antrian menghadapnya. Eksemplar-eksemplar Seratus Tahun Kesunyian, Kematian yang Digunjingkan Semua Orang, Tak Seorang pun Menyurati Kolonel semuanya perlu ditandatangani. Ia meneken seluruhnya dan menjabat tangan setiap orang. Rubén Valencia mengulurkan satu eksemplar Tumbangnya Sang Patriark. Penasaran ingin tahu apa yang ditulis Gabo untuk seseorang yang begitu menghormat dan memujanya, aku minta Valencia menunjukiku tulisannya. Terbaca: “Dari sang patriark lokakarya.” César Romero ingin bukunya ditandatangani bagi putranya yang baru lahir. Gabo menulis: “Untuk Rodrigo ketika kau bermula.”

Aku tidak membawa buku buat ditandatanganinya. Aku menunggu di samping pintu. Waktu melihatku, ia mengumbar senyum usil yang sama seperti ketika memasuki ruangan ini untuk pertama kalinya. “Dan kau, Silvana, tidakkah kau sedih ini berakhir? Tidakkah kau akan menangis?”

____
3)  El otono del Patriarca. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia dari edisi Inggris Autumn of the Patriarch oleh Masri Maris menjadi Tumbangnya Seorang Diktator (Yayasan Obor Indonesia, 1992).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar