Senin, 18 Oktober 2010

Perkembangan Seorang Penulis: Wawancara dengan José Saramago

“A Writer's Progress: An Interview with Nobel-Prize Winning Portuguese Novelist José Saramago”, Anna Klobucka. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari Mass Humanities (edisi musim semi, 2002), hlm. 1, 4 - 5.

Anna Klobucka mengajar di 
University of Massachusetts, Dartmouth. Penulis The Portuguese Nun: Formation of a National Myth (2000) dan O Formato Mulher: A Emergência da Autoria Feminina na Poesia Portuguesa (2009), selain ikut menyunting After the Revolution: Twenty Years of Portuguese Literature 1974-1994 (1997).

José Saramago lahir pada 16 November 1922, anak petani gurem di Azinhaga, Portugal, sebuah udik kecil di timur laut Lisabon. Namanya akan sama seperti nama ayahnya, José de Sousa, andai si kerani catatan sipil tidak berinisiatif membubuhkan nama panggilan keluarga Sousa: Saramago, sejenis tanaman liar yang kerap dibabati oleh kaum miskin buat dimakan. Semacam kecelakaan sejarah ini memiliki gaung simbolik yang kaya, yang kerap memberi sauh bagi narasi kompleks Saramago sendiri. Dalam novelnya tahun 1989 umpamanya, História Do Cerco De Lisboa / Sejarah Pengepungan Lisabon, seorang pemeriksa pruf (proofreader) yang sederhana menulis ulang masa lalu nasional Portugal serta kisah hidupnya sendiri dengan menyisipkan satu patah kata ke dalam karya sejarah yang sedang ia sunting. Silang sengkarut multilapis antara fakta dan fiksi, pertautan antara perspektif individual dan kolektif, serta gaya narasi yang unik dan cerdas dalam menyulut ironi yang ber­jarak sekaligus penderitaan emosional menjadi ciri khas novel-novel José Saramago, penulis berbahasa Portugis pertama yang dianugerahi Hadiah Nobel Sastra pada 1998.

Perjalanan panjang Saramago menuju pencapaian sastrawi dan kemasyhuran tidak bisa di­bilang lurus. Meski debutnya sebagai novelis dimulai pada usia muda –karyanya Terra do Pecado / Negeri Dosa terbit pada 1947—ia meninggalkan genre yang akan memberinya pengakuan dunia ini selama hampir 30 tahun. Ketika pada 1976 Saramago menerbitkan novel keduanya, Manual de Pintura e Caligrafia / Buku Petunjuk Lukisan dan Kaligrafi, novel ini diberi anak-judul “ensaio de romance”, sebuah label yang bisa diterjemahkan baik sebagai “novel-esai” maupun “ujicoba sebuah novel”. Makna yang terakhir ini merujuk pada gagasan Saramago tentang menulis sebagai kerja cantrik, proses memakan tenaga yang harus dihadapi dengan kesabaran dan kerendahan hati.

Kendati Saramago maupun para kritikus menekankan makna formatif karya-karya awalnya, bagi mayoritas pembaca, novel sejarahnya tahun 1982-lah Memorial do Convento yang menghadirkan pujian kritis dan sidang pembaca yang luas. Barangkali novel ini masih menjadi karya Saramago yang paling banyak dibaca dan ditelaah. Novel ini juga disadur ke atas panggung oleh komponis Italia Azio Corghi sebagai opera Blimunda, yang dipentaskan perdana di Milan pada 1990. Penggalian nyeleneh Saramago atas skenario-skenario historis, yang dimulai dengan kunjungan ulangnya ke Portugal abad ke-18 dalam Memorial do Convento, berlanjut sepanjang tahun 1980-an dan sesudahnya, dari kediktatoran Salazar di Portugal tahun 1930-an dalam O Ano da Morte de Ricardo Reis / Tahun Kematian Ricardo Reis (1984) sampai ke Galilea kuno dalam O Evangelho Segundo Jesus Cristo / Injil Menurut Yesus Kristus (1991).

Reaksi resmi atas O Evangelho Segundo Jesus Cristo –pemerintah Portugis memveto pencalonannya untuk Hadiah Sastra Eropa, dengan klaim bahwa novel itu menghina umat Katolik—memaksa Saramago dan istrinya, jurnalis Pilar del Río, hengkang ke Pulau Lanzarote di Kepulauan Kanari wilayah Spanyol. Di sanalah mereka kemudian menetap. Tahun 1990-an juga menandai perubah­an dalam karya Saramago. Novel-novelnya: Ensaio sobre a Cegueira / Esai tentang Kebutaan (1995), Todos os Nomes / Semua Nama Itu (1997), serta A caverna / Gua (2000) adalah parabel-parabel filosofis yang muram, tokoh-tokohnya kerap tak bernama, berlatar dalam ruang waktu distopian yang tak bisa dipastikan. Toh kemuraman mereka tak pernah mutlak. Seperti dalam karya-karya awalnya, karya-karya Saramago yang terkemudian ini juga menyiratkan keyakinan kukuh akan potensi dinamis dan transformatif dalam aktivitas individual manusia, sekalipun pandangannya akan masa depan umat manusia juga terasa kian gelap.

Sebagai seorang kiri yang tanpa basa-basi dan seorang komunis yang sampai hari ini masih memegang kartu partai, Saramago belum pernah mengelak dari keterlibatan politik maupun kontroversi. Selama sekian dasawarsa, dengan teguh ia membela peran sastra sebagai wacana publik dan tanggung jawab kaum seniman serta cendekiawan untuk mengambil tindakan dalam lingkup publik. Cakupan keterlibatannya dalam banyak persoalan tidak surut seiring usia. Misalnya, ia menyumbang prakata untuk Our Word Is Our Weapon karya Subcomandante Marcos, pemimpin Tentara Pembebasan Nasional Zapatista, gerakan petani di Chiapas, Meksiko. Peran Saramago sebagai juru bicara internasional atas apa yang baru-baru ini ia jabarkan sebagai “imperatif sederhana dari persamaan keadilan bagi semua” malah meningkat semenjak menerima Hadiah Nobel.


Anda mengalami ledakan kreativitas sastra, disusul dengan ketenaran nasional dan internasional, tatkala menapaki usia 60 tahunan. Bagaimana Anda menjelaskan arah tak lazim dari perkembangan Anda sebagai novelis?
Aku tak tahu bagaimana harus menjelaskannya, dan kukira tak seorang pun dalam situasi serupa akan mampu menemukan dan menelusuri garis yang mengarah sepanjang hidup seseorang dari nol menuju sesuatu. Ketika berumur sekitar 19 tahun dan ditanya ingin jadi apa kelak, aku menjawab ingin jadi penulis. Aku tidak menunggu lama untuk mencoba mencapai tujuan ini, karena aku menerbitkan novel Terra do Pecado ketika baru berumur 24 tahun. Tapi selama sekitar 20 tahun berikutnya aku cuma sedikit menulis dan tidak menerbitkan apa-apa. Secara paradoksal, ketika menulis sekali lagi menjadi aktivitas regulerku, cita-cita lama untuk menjadi penulis tidak begitu jelas lagi dalam benakku. Aku terus menulis dan menerbitkan semata karena kebiasaan, tanpa proyek yang terumuskan dengan jelas untuk menuntun arahku. Sampai tahun 1974 –tahun terjadinya revolusi yang mengakhiri hampir 50 tahun kediktatoran di Portugal—aku baru menerbitkan enam buku: novel yang sudah jauh tertinggal dan nyaris dilupakan itu, dua jilid puisi, dan tiga kumpulan artikel serta editorial suratkabar. Dua karya awal, Manual de Pintura e Caligrafia serta Objecto Quase / Kuasi Objek terbit pada 1975.

Pada akhir 1975, atas alasan-alasan politis aku dipecat dari jabatan direktur tak tetap surat­kabar Diário de Notícias, yang kuemban selama beberapa bulan. Aku berkata dalam hati bahwa bila benar-benar ingin jadi penulis, inilah saatnya. Sekian minggu sesudahnya aku berada di pedesaan Alentejo, dan pengalaman tersebut membuahkan novel Levantado do Chão  / Mengawang dari Tanah, terbit pada 1980. Akhirnya aku mulai meyakini bahwa aku punya sesuatu untuk diucapkan yang memang layak diucapkan. Pada 1982, ketika berumur 60 tahun, kuterbitkan Memorial do Convento. Akhirnya aku menjadi penulis seperti yang kuinginkan, dan ketika ditanya bagaimana aku sampai pada titik ini, satu-satunya jawaban yang kutemukan cuma ini: “Aku bukan sekadar menulis, kutulis apa yang adalah diriku.” Bila ada rahasianya, barangkali itulah rahasianya.

Setelah menjajal pelbagai genre yang berbeda, sejak 1980-an Anda menemukan rumah induk sastra Anda ada dalam novel. Pada saat yang sama, Anda terus menulis naskah teater, dari A Noite / Malam (1979) sampai In Nomine Dei / Atas Nama Tuhan (1993). Anda sepertinya sudah meninggalkan puisi. Bagaimana Saramago sang novelis membedakan dirinya dari Saramago sang dramawan, Saramago sang penyair, serta Saramago sang esais?
Aku penulis yang lebih jago sebagai novelis ketimbang penyair, dramawan, atau esais. Tapi aku tidak akan menjadi novelis sebagaimana adanya sekarang tanpa identitas-identitas lain itu yang juga eksis dalam diriku, betapapun tak sempurnanya. Aku pernah berkata pada kesempatan sebelumnya bahwa sebenarnya aku ini bukan novelis, tapi lebih mirip esais gagal yang mulai menulis novel karena tidak tahu cara menulis esai.

Novel-novel sejarah yang Anda tulis sejak 1980-an, mulai dari Memorial do Convento hingga O Evangelho Segundo Jesus Cristo, membentuk lingkaran narasi besar pertama dalam hidup kekaryaan Anda. Banyak pembaca menangkap adanya garis bagi yang jelas antara kisah-kisah ini dengan karya-karya Anda sesudahnya, tiga novel alegoris tahun 1990-an: Ensaio sobre a Cegueira, Todos os Nomes, serta A caverna. Bagaimana Anda menggambarkan keseimbangan antara kontinuitas dan perubahan dalam tulisan Anda selama dua dasawarsa ini?
Lingkaran narasi pertama yang Anda sebutkan juga mencakup, sebagai titik berangkatnya, Levantado do Chão, novel yang di dalamnya kuartikulasikan untuk pertama kalinya “suara naratif” yang sejak saat itu menjadi ciri khas karyaku. Dalam novel-novel lingkar kedua ada gaung yang jelas dari kumpulan cerpen-cerpen awalku, Objecto Quase. Lebih jauh lagi, jangan lupakan kumpulan kolom-kolom suratkabarku yang lebih awal, Deste Mundo e do Outro / Dari Dunia Ini dan Lainnya (1971) serta A Bagagem do Viajante / Bagasi Pengelana (1973). Menurut pandanganku, segala sesuatu yang kutulis sepanjang tahun-tahun sesudahnya berakar dari teks-teks tersebut. Sedangkan mengenai definisi “garis bagi” yang memisahkan dua lingkar novel itu, aku jelaskan lewat metafor patung dan batu: sampai dengan O Evangelho Segundo Jesus Cristo, aku menggambarkan patung-patung, sejauh patung itu merupakan permukaan luar seonggok batu; mulai Ensaio sobre a Cegueira dan novel-novel sesudahnya, aku masuk ke dalam batu, ke dalam ruang di mana si batu tidak tahu apakah dari luar ia merupakan patung atau, misalkan saja, kusen pintu.

Oleh kritikus, Anda didefinisikan pertama-tama dan utama sebagai moralis politik. Apa usur-unsur fundamental dalam moralitas sosial-politik yang Anda anut sebagai penulis, cendekiawan, dan manusia?
Dalam Objecto Quase terdapat epigraf dari Keluarga Suci karya Karl Marx dan Friedrich Engels: “Jika manusia dibentuk oleh lingkungannya, maka lingkungannya mesti dijadikan manusiawi.”[1] Inilah seluruh kearifan yang kuperlukan guna menjadi diriku sebagaimana anggapan orang: seorang “moralis politik.”

Kita telah mendengarnya berulang kali selama berbulan-bulan belakangan: sejak 11 September 2001, dunia yang kita kenal telah berubah selamanya. Anda setuju?
Dunia sudah berubah sebelum 11 September. Dunia telah mengalami proses perubahan selama 20 atau 30 tahun terakhir ini. Sebuah peradaban berakhir, yang lain dimulai. Ini bukan pertama kalinya transformasi macam ini terjadi, tapi dalam kasus ini kebetulan kitalah yang menjadi saksi. Bagaimanapun, sejak 11 September, jelas ada sesuatu yang telah berubah dalam mentalitas kolektif orang Amerika Utara, yang kehilangan keyakinan bahwa Amerika Serikat terlindung dari malapetaka apapun kecuali bencana alam. Mereka temukan kerapuhan hidup, kerapuhan yang sudah dialami oleh dunia selebihnya baik di masa lalu maupun sedang mengalaminya sekarang dengan intensitas yang mengerikan. Mereka telah menyadari (setidaknya aku harap mereka menyadari) fundamentalisme mereka sendiri, sejenis fundamentalisme yang membuat mereka acuh tak acuh akan apa yang terjadi di dunia luar, yang telah menciptakan watak congkak dan besar mulut dalam hubungan yang dibentuk oleh bangsa Amerika dengan apa yang asing bagi mereka, dengan yang-lain. Telah mereka temukan rasa takut. Aku sendiri khawatir bahwa hasil satu-satunya dari agresi material dan psikologis yang mereka alami hanyalah pengukuhan kembali ketakaburan dan arogansi mereka itu sebagai kompensasinya.

Dalam karya Anda, renungan akan masa lalu berdampingan dengan episode-episode permenungan akan masa depan, dalam modus utopian sekaligus distopian. Bagaimana Anda membayangkan, 20 tahun sejak sekarang, tatanan (atau kekacauan) dunia baru?
Aku bukan nabi. Manusia masa depan akan berbeda dengan kita. Aku sama sekali tidak yakin bahwa dia dan aku akan saling memahami satu sama lain.

Sedangkan mengenai tata dunia baru, untuk sementara waktu ini ia akan terus diatur seturut apa yang menguntungkan Amerika Serikat dan dipaksakan oleh Amerika Serikat. Besok, peran pemimpin dunia bisa jadi milik Cina—Cina yang selamanya beralih ke kapitalisme, sebagaimana percepatan langkah-langkah yang diambilnya ke arah itu dewasa ini menuntun orang untuk meyakini demikian. Lalu, sekali lagi Amerika Serikat akan mengalami ketakutan.

Sebagai penutup, sebuah pertanyaan yang barangkali tak terelakkan: Bisa ceritakan proyek-proyek Anda awal 2002 ini, tahun ke-80 dari hayat dan karya Anda?
Aku kurangi berpergian agar bisa lebih banyak menulis. Kupilih tujuan perjalananku sesuai dengan derajat manfaatnya [bagi karyaku]. Akan kuterbitkan jilid keenam dari buku harianku Cadernos de Lanzarote / Catatan-Catatan Lanzarote, dan kuharap musim gugur mendatang bisa menyaksikan penerbitan novel baruku, O Homem Duplicado / Manusia Duplikat. Mengenai yang terakhir ini, jelas aku takkan berkata lebih banyak lagi. Kecuali bahwa ini tak ada hubungannya dengan kloning.
____
1) Lihat Karl Marx dan Friedrich Engels, Keluarga Suci, terj. Oey Hay Djoen (Jakarta: Hasta Mitra, 2007), Bab VI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar