Kamis, 14 Oktober 2010

Dan Maut Pun Urung Menjemput

Death at Intervals
José Saramago
Terjemahan Inggris oleh Margaret Jull Costa dari As intermitencias da morte (2005)
Vintage, 2009


Kata orang, kematian tak kenal libur dan istirahat, bahkan saat kita, manusia-manusia fana ini, sedang berlibur atau istirahat. Seusai Tahun Baru misalnya, kalau kita buka koran tanggal 2 Januari tiap tahunnya, selalu ada saja berita malapetaka dari 31 Desember - 1 Januarinya. Tahun 2010  ini misalnya, bisa kita baca di Kompas edisi 2 Januari 2010 berita-berita macam "Tabrakan, 6 Orang Tewas", "Warga Ditembak Orang Tak Dikenal". Belum lagi peristiwa-peristiwa yang tidak masuk berita, serta catatan kematian di rumah sakit.

Nah, apa jadinya bila persis pada 1 Januari tak didapati kematian satu pun? Ada seseorang yang mengalami tabrakan mobil karena mabuk usai dugem Tahun Baruan, yang menurut segala logika dan analisa dokter harusnya tewas, tapi tidak. Ibu suri raja yang sudah sangat sepuh dan sedang sakit juga tinggal menghela nafas terakhir, namun persis teng jam 12 malam, ia urung meninggal, terus menggantung dalam kondisi antara hidup dan mati seperti itu. Dan dahsyatnya, kasus-kasus serupa didapati di seluruh penjuru negeri. Maka seperti itulah novel Saramago ini dibuka: "Keesokan harinya, tak ada seorang pun yang meninggal dunia". Saya rasa ini salah satu kalimat pembuka paling menyentak yang pernah saya baca selain pembukaan Albert Camus di Mite Sisifus: "Sebenarnya hanya ada satu masalah falsafi yang bernar-benar serius, yakni bunuh diri."

José Saramago, Nobelis Sastra 1998, empu cerita-cerita "fantastis" yang membumi, fantasi yang tidak melibatkan naga, peri, atau tukang sihir, yang selalu memukau saya dengan skenario-skenario muskil yang sangat "riil": bagaimana bila warga seluruh kota tiba-tiba terjangkit kebutaan mendadak (Blindness), bagaimana bila dalam pemilu hampir seluruh surat suara didapati tidak dicoblos/dicontreng (Seeing), bagaimana kalau seseorang menonton video dan melihat seseorang yang mirip sekali dirinya ada di situ (The Double), bagaimana bila seseorang ngotot mencari pulau tak dikenal saat peta bumi konon sudah terpetakan semuanya (Tale of the Unknown Island), bagaimana bila seorang proofreader nekat menambah satu kata dalam buku sejarah dan akhirnya sejarah Portugis dan sejarah hidupnya sendiri pun berubah (The History of the Siege of Lisbon), bagaimana bila semenanjung Iberia tiba-tiba terbelah dari Eropa dan mengapung sendirian di Samudera Atlantik (The Stone Raft), serta favorit saya: tafsir atas hidup Yesus yang pencapaian sastrawinya sekaligus tingkat "kemurtadannya" membuat Da Vinci Code cuma layak jadi tisu toilet (The Gospel According to Jesus Christ). Dan sekarang: bagaimana jika maut, entah karena apa, berhenti mencabut nyawa manusia?

Kritik sosial dan tilikan mendalam tentang harkat kemanusiaan selalu kental mewarnai semua karya Saramago. Apa yang akan orang lakukan dalam situasi-situasi seperti di atas itu? Bagaimana manusia akan bersikap, masih setiakah ia pada kemanusiaannya? Dan lebih jauh: jangan-jangan arti menjadi manusia sendiri perlu dirumuskan ulang.

Demikian juga dalam novelnya ini: Apa arti berhentinya kematian bagi hidup manusia di negeri itu? (hanya di negeri itu, karena di negara lain orang-orang tetap mati seperti biasa). Sebagian besar warga bersorak merayakan karena ini berarti manusia telah berhasil mencapai cita-citanya: kehendak untuk hidup abadi. Dan mereka jadi sangat patriotik karena hanya negeri mereka yang dapat "berkat" untuk ini. Namun tidak semua bergembira tentunya. Khas Saramago, ia gambarkan bagaimana tiap-tiap golongan menyikapi situasi ini:
 
- Otoritas keagamaan tentu panik karena jelas tanpa kematian, tak perlu ada agama. Mereka meminta umat berdoa agar maut kembali.
- Tanpa disangka, filsuf-filsuf sekuler pun ternyata juga demikian. Tanpa ada kematian, filsafat juga tak diperlukan.
- Pengusaha jasa pemakaman terancam gulung tikar dan mem-PHK ribuan pekerjanya. Untuk mencegah itu, mereka mengajukan usulan agar pemerintah mewajibkan warga memakamkan binatang peliharaan.
- Perusahaan asuransi juga terancam bangkrut karena dibanjiri surat penghentian polis: buat apa punya asuransi kematian kalau kematian tidak ada lagi? Namun para pengacara perusahaan tak kurang akal, mereka menyikapinya dengan cerdas dan mengancam: mari bikin kesepakatan, polis tetap dibayar sampai usia 80 tahun (dan mereka meminta pemerintah menetapkan usia ini sebagai usia "kematian wajib"). Sesudahnya pemegang polis akan menerima semua benefit dan bebas menetapkan apakah mau memperpanjang polis sampai 80 tahun berikutnya. Kalau tidak, coba perhatikan tulisan kecil-kecil yang menyatakan "pembayar polis membayar polis seumur hidupnya", dan dalam konteks sekarang, itu berarti: selamanya.
- Yang paling repot adalah panti jompo. Perlu diingat bahwa kondisi tanpa kematian ini bukan berarti seseorang muda selamanya. Manusia tetap menua, namun tak mati. Akibatnya di panti jompo akan bertumpuk manula yang jumlahnya makin lama makin banyak.
- Mereka yang sakit parah dan berada di ambang kematian. Mereka inilah yang paling tersiksa, salah satunya seorang petani miskin beserta cucunya. Akhirnya si kakek punya ide menyuruh menantu dan anak perempuannya membopongnya dengan gerobak ke perbatasan untuk mati. Seorang tetangga mengetahui hal ini lalu menyebarkan gosip, koran pun meliputnya dan jadi skandal nasional. Orang berdebat soal etika. Tapi berita telanjur tersebar, dan banyak orang putus asa lain mencontoh si petani: pergi ke perbatasan untuk mati.
- Dari sini, sebuah sindikat kejahatan terbentuk, menamai diri maphia ("mengapa pakai ph?" / "buat membedakannya dengan mafia" - hlm. 54), meminta bayaran besar untuk mengangkut anggota keluarga yang sakit ke perbatasan. Maphia membuat kesepakatan diam-diam dengan pemerintah, yang punya kepentingan juga di sini karena pusing oleh soal demografi negaranya.
- Atas aktivitas ini negara-negara tetangga protes keras dan mengirim pasukan ke perbatasan.

Di tengah situasi panas selama 7 bulan ini, mendadak maut kembali, dengan mengirim surat ke dirjen televisi nasional agar mengumumkan sbb:
- bahwa alasan dia berhenti bekerja sementara adalah untuk memberi kesempatan pada manusia yang begitu membenci kematian untuk merenungkan apa arti "hidup selamanya" itu
- bahwa situasi akan kembali normal tengah malam ini, artinya: semua orang yang semestinya mati selama 7 bulan itu akan mati pas tengah malam.
- bahwa dia telah berlaku tidak adil selama ini dengan mencabut nyawa manusia secara begitu tiba-tiba dan diam-diam. Dia akan mengubah cara kerjanya dengan mengirimkan terlebih dulu surat peringatan kematian seminggu sebelum yang bersangkutan wafat, untuk memberi waktu kepada yang bersangkutan buat melunasi utang, minta maaf dan memberi maaf pada keluarga, handai taulan dll.

Apa yang terjadi kemudian?
- Yang jelas adalah kepanikan. Dalam tujuh bulan itu, 62.580 orang seharusnya meninggal. Dan jumlah sedemikian akan meninggal serentak pas tengah malam. Pemerintah, rumah sakit, dan pengusaha jasa pemakaman kalang kabut.
- Gereja sesumbar bahwa inilah hasil kekuatan doa. Dihadapkan pada pertanyaan "kenapa harus 7 bulan?", mereka menjawab "kalau ke Planet Mars saja manusia butuh waktu 3 bulan, tentu ke Surga akan lebih lama lagi."
- Maphia kebingungan, karena bisnis mereka terancam. Solusinya: menarik biaya keamanan dari para direktur jasa pemakaman dengan dalih buat-buatan bahwa nyawa mereka dan keluarganya terancam oleh "kelompok-kelompok radikal antikematian".
- Lalu apakah manusia jadi seperti yang diharapkan maut, bahwa dengan tahu kapan ajalnya tiba, ia akan membayar utang, maaf-memaafkan, dsb? Tidak. Seperti bisa diduga, manusia justru terbenam dalam hilangnya semangat hidup atau malah orgi seks dan mabuk gila-gilaan.
- Akhirnya yang terjadi adalah suasana hidup penuh ketakutan tiap pagi: akankah aku menerima surat lembayung wangi dari maut pagi ini?

Seakan belum cukup puas dengan eksplorasi ini, Saramago mengambil putaran menarik memasuki paruh kedua novelnya. Bila paruh pertama buku seperti berkutat dengan segi-segi sosial absennya maut, paruh kedua buku menyoroti sang maut itu sendiri: apa yang terjadi bila sepucuk surat pemberitahuan kematian yang ia kirimkan kembali padanya? Tiga kali ia coba kirim ulang, dan selalu kembali. Terbengong-bengong ia mendapati kejadian yang belum ada presedennya ini sepanjang sejarah kerjanya sebagai sang maut. Akhirnya ia putuskan mencari orang itu.

Meski tergolong tipis untuk standar buku Saramago, novel ini mengambil putaran-putaran tak terduga yang tentunya tidak bisa diulas semua di sini. Resensi ini pun sudah mengandung terlalu banyak spoiler yang bila ditambah lagi akan membuat para pembacanya ingin mengirim si peresensi langsung menemui maut haha...


Ketika maut jadi menjemput Saramago pada usia 87 tahun, Juni 2010.
Jenazahnya disemayamkan dengan bunga anyelir merah yang menjadi lambang
berakhirnya kediktatoran Antonio Salazar di Portugal pada 1974 [ foto: Momento 24 ]

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar