Rabu, 06 Oktober 2010

Lirisisme Juan Ramón Jiménez

Platero and I
Juan Ramón Jiménez
Terjemahan Inggris oleh  Eloïse Roach dari Platero y yo (1917)
University of Texas Press, 1983


Di komik strip Mafalda 3 (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2009), digambarkan saat Mafalda bingung mencari hadiah Hari Ibu buat mamanya, akhirnya dia membelikan buku Platero y yo (Platero dan Aku).

Pilihan yang sungguh tepat, karena buku karya Juan Ramón Jiménez, penyair Spanyol peraih Hadiah Nobel Sastra 1956 ini memang "buku keluarga" yang indah. Bisa dibaca anak-anak maupun dewasa. Meskipun sesungguhnya saya sendiri bertanya-tanya, apakah anak-anak saya (yang lahir di abad ke-21) masih bisa related atau "merasakan sesuatu" bila nanti membaca buku ini?

Buku ini bercerita tentang persahabatan dan petualangan si penulis (Juan Ramón Jiménez) dengan keledainya (Platero) menyusuri wilayah pedesaan Andalusia, dengan segala keindahan, kepolosan, dan kemiskinannya. Bab-babnya pendek-pendek, lebih semacam vinyet-vinyet tentang pengalaman mereka yang ditulis dengan gaya yang sungguh liris (maklum karena penulisnya penyair). Platero sendiri (keledai cilik berbulu halus yang doyan jeruk mandarin, anggur, dan ara yang dicelup madu) digambarkan ekspresi-ekspresinya dengan detail sampai sosok keledai ini jadi sungguh terasa hidup dan bisa berkomunikasi dengan pembaca hanya melalui gerak-geriknya. Keduanya terus berjalan, mencecap nikmat-nikmat kecil dalam hidup ini di tengah kemiskinan dunia manusia yang tidak dipahami si keledai.

Lihat misalnya, pengamatan Juan Ramón Jiménez ketika menikmati pemandangan anak-anak desa bermain "pura-pura"


"Bapakku punya jam perak" / "Bapakku dong punya kuda" / "Bapakku malah punya bedil" / Ya, jam perak untuk membangunkannya sebelum subuh; bedil yang tak bisa membunuh rasa lapar; kuda yang mengantarnya melewati derita...
 

Mengharukan sekali... Juan Ramón Jiménez punya kelebihan tak tertandingi untuk membawa pembaca terserap ke dalam realitas fisik. Tak ada filsafat, tak ada permenungan bertakik-takik. Hanya kata-kata sederhana keseharian yang begitu kuat memerikan kenyataan.

Atas alasan sentimentil dan bukan literer, saya paling suka Bab XCIV berjudul "Pinito". Bab ini berkisah tentang ejekan "Itu! Itu! Lebih bodo dari Pinito!" yang beredar di wilayah Andalusia entah sejak kapan. Ejekan turun temurun ini didasari cerita tentang seorang idiot (mungkin gila) bernama Pinito yang dulu pernah hidup di wilayah itu. Juan Ramón Jiménez bercerita bagaimana samar-samar ia teringat pernah melihat Pinito semasa kecilnya, dan ketika dewasa sekarang, betapa sungguh ia ingin berjumpa dengan orang gila yang sudah tiada itu, untuk tahu benarkah ia gila, mengapa orang menjulukinya begitu?

Cerita ini mengingatkan saya pada ungkapan
"gombalé Mukiyo" yang saya kenal semasa kecil di kota kelahiran saya, Malang , untuk menyebut bualan yg keterlaluan (mungkin setara "ah bullshit!" gitu). Konon, ungkapan ini juga berasal usul dari seorang gila bernama Mukiyo yang keluyuran di jalan-jalan kota Malang pada 1950-an. Kabarnya, dia selalu membawa lap dekil ke mana-mana. Karena itulah orang Malang mengejek cerita yang membual sebagai "gombalé Mukiyo".

Buku yang indah, tapi sekali lagi, bisakah anak-anak yang tak pernah mengenal kehidupan kampung atau kemiskinan secara langsung bisa merasa terlibat dalam tuturan yang sangat realistis ini? Tapi mungkin di situlah justru kekuatan kata-kata dan imajinasi
Juan Ramón Jiménez akan dibuktikan tak lekang dimakan waktu. We'll see..

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar