Senin, 18 Oktober 2010

Menyambangi Karl Marx, oleh Mario Vargas Llosa

"Una visita a Karl Marx", Mario Vargas Llosa. Terbit pertama kali di Caretas, N° 342 (Lima, 25 November 1966, hlm. 34-35). Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari Contra viento y marea Vol. I (Barcelona: Seix Barral, 1986).

Catatan penerjemah: Saat menuliskan esai ini, Mario Vargas Llosa masih mengagumi Marx secara politis dan sastrawi. Kini, kendati ideologi politik Vargas Llosa telah bergeser, bisa dipastikan kekagumannya akan sosok Marx sebagai penulis tetap tak berubah.


Jalan itu amat pendek dan orang bisa menyusurinya bolak-balik dalam 10 menit. Panjangnya tak lebih dari 400 yard dan terletak antara Oxford Street dengan Shaftesbury Avenue. Kelihatannya sama seperti sembarang jalan lainnya di Soho, distrik kehidupan malam yang semrawut di London: penuh restoran, klub, bar, toko jajanan, gang-gang sempit, kios-kios penjual koran, kartu pos, dan buku porno, rumah-rumah bordil dengan pengumuman seadanya tertempel di pintu waktu malam, mengiklankan “kamar jam-jaman” dan “model lukis”, klub-klub kecil tempat para pejalan yang lewat entah karena jemu atau nafsu bisa melihat tari telanjang dan film biru dengan 10 shilling. Nama-nama eksotis menyala di jendela dan plang-plang pendar, mengiklankan makanan dari Hungaria, Italia, dan Srilanka. Sampai taraf tertentu bar-bar di sini menjiplak kafe-kafe di Saint-Germain-des-Pres (salah satunya ada yang berna ma Les Enfants Terribles). Dean Street tidak memiliki nuansa populer abad ke-19 yang dimiliki oleh jalanan Soho lainnya, dengan stan-stan buah, kembang, dan sayur mayurnya, dengan baunya yang menyengat dan pembelinya yang berisik dan berjalan separuh tidur. Tak ada pasar di Dean Street, hiburan di situ bersifat pabrikan dan industrial.

Meski hanya satu dua bangunan di Dean Street yang tampak baru dan seluruh rumah lainnya bisa jadi seratus tahun umurnya –rapat berjajar-jajar dengan tinggi tiga atau empat tingkat, batu bata nya menghitam oleh kekelaman zaman—wujud fisik jalan tersebut pasti banyak berubah dalam seratus tahun ini, karena tidak lagi terlihat gembel atau miskin. Sulit membayangkan bahwa pada 1853 (menurut laporan polisi kala itu), Dean Street adalah “jalan paling murahan dan termiskin di London”, dan susah pula membayangkan bagaimana bentuknya pada 1850, ketika keluarga Marx –terperangkap oleh kemiskinan—datang untuk ting gal di sini, dalam dua kamar yang tak nyaman. Di situlah mereka menghabiskan tahun-tahun paling sulit dan paling penting dalam hidupnya. Tak ada plang yang menandai rumah yang mereka tinggali, dan karena penomoran jalan yang ada di buku-buku biografi masih memakai nomor asli padahal sudah berubah sejak itu, orang-orang yang ingin tahu atau para pengagum harus pergi ke Marx Memorial Library untuk menemukan lokasi rumah sepi yang diapit gang ini, dengan dua jendela kecil dari kamar yang berfungsi sebagai ruang main/makan/belajar/tidur untuk anak-anak Marx (kamar sebelah dalam adalah kamar tidur orang tuanya).

Musim dingin bermula dan bila orang berdiri terlalu lama di luar, kuping dan hidung membeku dan tangan jadi kaku, jadi saya masuk ke sebuah bar kecil yang berasap dan hiruk pikuk. Mereka tidak menyuguhkan kopi, maka saya terpaksa minta segelas bir Inggris hangat. Tapi saya mujur mendapati kursi kosong di samping radiator, dan dari situ bisa melihat dua jendela kecil tersebut pas di depan saya. Apa gerangan yang saya perbuat di Dean Street? Saya tidak membawa dua buku yang baru saja saya baca. Sayang sekali, karena saya ingin menengok ulang lembar-lembar yang mengisahkan kehidupan yang dilakoni Marx di Dean Street, untuk menyalakan kembali kekagetan serta keterpukauan saya. Biografi karya Franz Mehring sepertinya sudah kalah oleh karya para sejarawan kontemporer, dan esai Edmund Wilson tentang asal usul sosialisme tak pelak lagi bisa didebat dari banyak sudut pandang, tapi potret yang dilukiskan kedua buku tersebut tentang periode krusial dalam hidup Marx –enam tahun yang menakjubkan dan menyedihkan di Dean Street—sungguh tiada taranya. Dengan proporsi epikal keduanya memberi gambaran lebih lanjut mengenai kemenangan si pahlawan pemberontak di tengah pertempurannya yang sepi dalam menentang masyarakat atau melawan kejahatan, yang tampil dalam begitu banyak puisi dan cerita klasik.

Saya merasa frustrasi. Saya datang ke sini buru-buru dan penuh rasa ingin tahu, untuk mendapati beberapa peninggalan, beberapa jejak dari pertempuran tak terlupakan itu, hanya untuk menemui bahwa tempat pertarungan tersebut kini telah menjadi wilayah penuh kepalsuan, tempat mewah di mana kaum borjuasi lokal dan turis-turis berduit datang untuk menikmati panganan-panganan asing, minum-minum, dan membeli seks. Menggundahkan dan paradoksal bahwa distrik ini, jalan ini –yang dalam pengertian tertentu menjadi tempat lahirnya perlawanan paling geram dan efektif terhadap borjuasi—kini menjadi tempat foya-foya paling dekaden dan paling afkiran bagi kaum borjuis London. Di zaman Marx, tak sangsi lagi, seorang borjuis takkan pernah menginjakkan kaki ke Dean Street.

Segala jenis kemalangan telah menimpa keluarga Marx berbulan-bulan sebelum kepindahan mereka ke London. Diusir dari Jerman, mereka pergi bernaung ke pemukiman buruh di Brussels, namun Marx ditangkap polisi dan dibuang ke Perancis. Saat pergi mencarinya, sang istri Jenny Marx ditangkap di jalan oleh
gendarme (polisi Perancis). Dituduh gelandangan, Jenny dibui dan terpaksa berbagi ranjang dengan seorang pelacur. Di Paris, kendati hidup dengan nama samaran, keluarga Marx ketahuan oleh polisi dan dikirim ke Inggris. Tapi mereka masih punya sisa uang, dan untuk sekian bulan pertama di London mereka hidup cukup nyaman dengan menyewa sebuah flat lengkap dengan perabotannya di Camberwell. Pada 1850, uang habis dan induk semang mengusir mereka. Saat itulah mereka pindah kemari dan keadaan jadi kian memburuk. Karena tak sanggup melunasi bon-bon makan di toko-toko setempat, seluruh harta keluarga –termasuk ranjang dan mainan anak-anak—disita dan dilego. Putra bungsunya, yang baru sekian bulan usianya dan lahir di tengah-tengah pengejaran dan pembuangan ini, jatuh sakit. Tidak bisa dirawat dan diberi makan selayaknya, ia pun meninggal. Selama berbulan-bulan, satu-satunya pangan yang bisa disantap keluarga Marx hanyalah roti dan kentang, dan pada musim dingin pertama, ayah-ibu maupun anak-anaknya terserang flu. Putri termudanya tidak tahan dan meninggal sebentar sesudahnya. Nyaris pada saat yang sama, merebak wabah kolera di Soho dan sebagian besar penduduk meninggalkan pemukiman tersebut, tapi keluarga Marx terpaksa bertahan karena tak ada uang. Tahun berikutnya, sedikit barang-barang mereka yang tersisa ikut disita, termasuk pakaian (sepatu anak-anak dan mantel Marx dijual). Suatu malam polisi bertandang ke rumah dan Marx dibui atas dakwaan mencuri: seorang tetangga di Dean Street mencurigai hiasan kaca yang berkilauan di salah satu kamar Marx (satu-satunya kenang-kenangan keluarga yang coba dipertahankan oleh Jenny) adalah barang curian. Pada 1855, anak lelakinya yang masih bertahan ikut meninggal. Di antara semua pukulan tak terbilang banyaknya yang dialami enam tahun itu, inilah sepertinya yang paling memengaruhi Marx secara mendalam. “Aku telah mengalami segala jenis permusuhan,” tulisnya pada Engels, “tapi kini, untuk pertama kalinya aku tahu apa arti kemalangan.”

Pada saat inilah, ketika keluarga Marx anjlok ke dalam kemiskinan paling ekstrem di Dean Street, dengan heroik Engels memutuskan pulang ke Manchester, masuk ke pusat industri yang ia benci milik keluarganya, agar bisa menopang hidup temannya secara ekonomis. Atas nama Marx, ia setuju menuliskan artikel-arti kel yang dikirimkan Marx ke New York untuk
The New York Times dan New York Tribune. Selain bisa menopang keluarga itu agar tetap makan, komitmen ini juga menjaga Marx agar tidak teralihkan perhatiannya dari studinya atas ilmu ekonomi. Di sinilah, di Dean Street, seorang opsir polisi datang untuk menyelidiki kondisi kehidupan Marx, dan laporannya yang ditulis pada 1853 meru pakan dokumen berharga: 
Tak ada satupun perabot yang bersih atau layak di ke dua kamar. Semuanya pecah, remuk, atau koyak, dengan debu tebal melapisi segalanya ... manuskrip-manuskrip, buku dan koran-koran, di sebelah mainan anak-anak, pernak pernik keranjang jahit istrinya, cangkir dengan bibir pecah, sendok-sendok kotor, pisau, garpu, lentera, wadah tinta, gelas minum, beberapa pipa tanah liat Belanda, abu tembakau, semuanya bertumpuk-tumpuk. ... Memasuki kamar Marx, asap dan hawa temba kau membuat mata berlinang begitu rupa sampai... Anda seperti sedang meraba-raba dalam gua... duduk jadi urusan yang cukup runyam. Di sini kursi cuma punya tiga kaki, di sana kursi lainnya, yang kebetulan utuh, dipakai anak-anak main masak-masakan. 
Dan opsir polisi yang teliti ini juga memberitahu kita bahwa, “Sebagai seorang suami dan ayah, terlepas dari wataknya yang resah dan liar, Marx adalah lelaki baik dan santun.”

Di Dean Street inilah aktivitas politik Marx surut dengan telak, tapi kerja intelektual dan kreatifnya mencapai daya dan kedahsyatan yang adimanusiawi. Di sini, mengesampingkan segala kesukaran, tragedi, dan penyakit keluarga, dengan kepala batu ia paksakan dirinya memenuhi jadwal studi harian delapan jam di British Museum. Tidaklah sulit untuk membayangkan perjalanannya saban hari, pergi pukul sembilan pagi dan pulang tujuh tiga puluh malam, disusul dengan tiga atau empat jam lagi (kadang lima atau lebih) studi pribadi di kamarnya sana, di balik jendela kecil-kecil itu. Di sinilah, pada tahun berjangkitnya wabah, ia rampungkan esainya yang mengagumkan,
The Class Struggle in France, serta tahun berikutnya menulis buku Der 18te Brumaire des Louis Bonaparte, sembari anak-anaknya main kuda-kudaan, meringkik dan mendengus-dengus mengitari meja sambil mengacung-acungkan pecut. Di sinilah ia menuliskan catatan pertamanya untuk Das Kapital dan membahas, dalam surat harian panjang lebar kepada Engels sahabatnya, tafsiran ekonominya atas sejarah dan situasi kaum buruh Eropa. Di sini, dalam enam tahun itu ia belajar berbagai bahasa, menyusun buku-buku, melahap seluruh rak perpustakaan, menulis ratusan artikel dan masih sempat mengarang cerita untuk anak-anaknya tentang karakter imajiner bernama Hans Rockle, “yang punya toko ajaib tapi selalu keluyuran tanpa satu sen pun di kantungnya.”

Bagaimana dan dari mana ia menghimpun cukup tekad dan tenaga untuk melaksanakan ikhtiar yang begitu ambisius dan mulia dalam situasi yang demikian sulit? Dalam buku Edmund Wilson ada kutipan dari Marx yang menyentak saya dalam-dalam. Teks ini ditulisnya ketika ia masih mahasiswa biang onar, sangat kasar namun cerdas, ketika ia masih membaca Hegel dengan bersemangat dan mengirimi Jenny puisi romantis yang menggebu-gebu. “Penulis”, kata Marx, “boleh menghasilkan uang untuk bisa hidup dan menulis, tapi tidak sedikit pun ia boleh hidup dan menulis untuk menghasilkan uang. Tidak sedikit pun penulis boleh menganggap karya nya sebagai harta. Baginya, karyanya adalah tujuan dalam dirinya sendiri; dan sama sekali bukan harta baginya sampai bila perlu si penulis siap mengorbankan hidupnya demi karyanya. Sampai taraf tertentu, sebagaimana yang diperbuat alim ulama terhadap agama, penulis mengem ban prinsip ‘patuhi Tuhan sebelum manusia’ ketika berurusan dengan makhluk manusia yang di dalamnya ia terkekang oleh hasrat-hasrat dan kebutuhan manusiawinya."

Saya baca ulang paragraf ini berulang kali, dan kini di bar ini, yang dibanjiri anak-anak muda dengan rambut keriting gondrong, kemeja tambal sulam, kaus biru merah muda, dasi kembang-kembang dan jas panjang, sekali lagi saya merenungkannya dalam-dalam. Tidak mungkinkah Flaubert menorehkan teks yang sama persis tanpa mengubah koma satu pun? Tidakkah Flaubert yang dahsyat dan saksama itu, si pria penyepi dari Croisset itu, menuliskan definisinya tentang pengarang dan karyanya dengan istilah-istilah yang sangat serupa?

Hari sudah gelap di Dean Street, dan karena ini Sabtu, berjubel orang menyusuri trotoar. Perlahan dan ingin tahu, mereka melongok-longok ke jendela restoran luar negeri, kedai-kedai buku porno, bordil terselubung, serta bioskop dan bar striptis. Saya berhenti di depan jendela kembar itu dan tiba-tiba tiga atau empat pejalan kaki juga berhenti dan menatap resah: gambaran menyedihkan apakah yang ingin mereka lihat? Tapi daun-daun jendela rumah itu terkatup dan mereka pun berlalu dengan kecewa. Saya ikut pergi dan kini tidak lagi berpikir bahwa sangat disayangkan tak ada orang yang terpikir untuk memasang plang memperingati masa tinggal Marx di Dean Street.


London, November 1966

Mario Vargas Llosa, Patricia Vargas Llosa, Carlos Fuentes,
dan Juan Carlos Onetti menyimak "bualan" Pablo Neruda

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar