Kamis, 14 Oktober 2010

Celetuk Kritis Si Pipi Gembil

Mafalda 1 
Quino 
Terjemahan Indonesia oleh Ratna Dyah Wulandari dari Mafalda 2 (1967)
Kepustakaan Populer Gramedia, 2009
Dimuat di Kompas, 20 Desember 2009, hlm. 19, dengan suntingan.


Bayangkan adegan ini: seorang guru TK sedang mengajar di depan kelas "Mama sayang aku. Mama cinta aku." Tiba-tiba seorang murid perempuan maju menjabat tangannya sambil berkata, "Selamat ya, bu! Kayaknya ibu punya mama yang sangat baik." Ia lalu kembali ke tempat duduknya dan berucap lagi, "Nah, sekarang tolong ajari kami hal-hal yang memang berguna." Si guru terbengong-bengong, dan Anda mungkin terpingkal-pingkal.

Murid perempuan berpipi gembil dan berambut ijuk itu bernama Mafalda, tokoh rekaan kartunis Argentina Joaquín Salvador Lavado, yang terkenal dengan nama Quino. Terbit pertama kali tahun 1964, komik strip
Mafalda langsung merebut hati pembaca Argentina oleh celetukan-celetukannya yang cerdas, lugu, dan menggemaskan atas absurditas dunia orang dewasa dan kehidupan sosial pada umumnya.

Mafalda dan kawan-kawan sepermainannya membahas dan mengomentari apa saja, mulai dari yang ringan sampai berat, semisal dunia sekolah, masakan sup, kelahiran dan kematian, sampai soal-soal perdamaian dunia, perlucutan senjata nuklir, dan kemiskinan. Perlu diingat bahwa pada masa-masa terbitnya
Mafalda (1964-1973), tren ekonomi-politik yang terbilang seragam sedang mengharu-biru sebagian besar negara Amerika Latin tak terkecuali Argentina, yakni: represi politik oleh rezim militer seiring dengan kebijakan ekonomi neoliberal yang menguntungkan segelintir golongan namun memiskinkan rakyat banyak. Komentar-komentar Mafalda pun tak ayal juga merupakan kritik atas keadaan dalam negeri Argentina tersebut. Itu sebabnya ia bisa punya begitu banyak penggemar—Mafalda bagaikan penyambung lidah masyarakat dalam menatap karut-marut realitas sosialnya. Kritikus David William Foster menempatkan Mafalda secara khusus sebagai salah satu "respons kultural terhadap tirani" (Violence in Argentine Literature, 1995, hlm. 11).

Dan bukan cuma di Argentina, ternyata. Meski komik strip
Mafalda disudahi oleh Quino sendiri pada 1973 (totalnya terkumpul menjadi 10 jilid buku), ia masih terus dibaca, dicetak ulang, bahkan diterjemahkan ke dalam 30 bahasa dunia. Umberto Eco memberi pengantar edisi Italianya dan pada 1976 PBB memakai Mafalda sebagai ilustrasi 10 tahun Konvensi Hak-hak Anak. Dengan diterbitkannya seri buku Mafalda ini di Indonesia oleh Kepustakaan Populer Gramedia (KPG) mulai Oktober 2009, akankah pesona Mafalda ikut merasuki kalangan pembaca di Indonesia?

Membaca Mafalda di Indonesia

Mafalda dan kawan-kawannya adalah gambaran khas anak-anak kelas menengah yang kritis di Argentina. Di satu sisi, semangat kemanusiaan Mafalda sangat universal, yang membuatnya bisa diterima oleh pembaca dari kultur yang berbeda-beda. Kita takkan kesulitan mengerti sentilan di hlm. 6 ini misalnya: Susanita (atau Susan kecil) mengeluh mengapa anak-anak mesti bersekolah. "Katanya kehidupan adalah sekolah terbaik, terus kenapa kita mesti ke sekolah lain? Apa sih jeleknya sekolah kehidupan? Kita kan bisa belajar semuanya dari kehidupan!" Mafalda pun nyeletuk, "Di sekolah kehidupan, pesta wisudanya selalu dirayain di pemakaman!"

Kendati demikian, di lain pihak sebagian humor
Mafalda juga bisa dibilang "Argentina banget". Sehingga susah-susah gampang sebenarnya membaca buku ini tanpa mengetahui konteksnya, terutama untuk humor-humor yang mengandalkan kata-kata atau teks sebagai media penyampai pesannya. Di sini, penerjemahan menjadi sangat vital.

Mari kita bandingkan strip berikut ini dari edisi asli
Mafalda 2 (Buenos Aires: 1972, strip no. 347) dengan edisi Indonesia Mafalda 1 (hlm. 50):


Di sini, "reforma agaria" akan lebih tepat dibiarkan sebagai "reforma agraria" (yang sudah menjadi istilah baku dalam ilmu sosial di Indonesia) ketimbang dialihkan menjadi "reformasi pertanian" yang jauh kehilangan maknanya. Tuntutan akan reforma agraria –program pembagian lahan beserta akses-akses sosial ekonominya bagi rakyat kebanyakan itu—memang selalu menggetarkan kelompok mapan di banyak negara, baik Argentina maupun Indonesia masa kini. Karena itulah, Felipe gemetaran bukan cuma karena terkejut oleh teriakan Mafalda, namun juga oleh "isi" teriakannya—sesuatu yang sayangnya kurang tertangkap oleh terjemahan Indonesianya di atas.

Terlepas dari sedikit kekurangan itu, bukan berarti buku ini cacat penerjemahan. Malah sebaliknya, ini termasuk salah satu buku terjemahan terbaik yang saya baca selama tahun 2009 ini. Penerjemahnya dari bahasa Spanyol, Ratna Dyah Wulandari, pantas diacungi jempol atas prestasi yang tidak mudah ini: mengalihkan satu dua kalimat pendek komik strip agar kelucuan sekaligus kedalaman maknanya tetap terasa dalam bahasa yang berbeda.

Dalam pengantar penerbit, KPG menyatakan akan menerbitkan lima jilid Mafalda secara berturutan tiap bulan sembari melihat sambutan pembaca. Bila Mafalda bisa diterima baik oleh pembaca Indonesia, penerbitannya akan berlanjut sampai jilid ke-10. Saya kira, laris atau tidak, Mafalda harus tetap diterbitkan lengkap. Mengapa? Saya teringat strip berikut ini dari Mafalda 10 (Buenos Aires: 1974, strip no. 1822):

Sosok pengusaha kaya pada panel pertama dan kedua strip di atas kurang lebih berkata demikian: "Mengubah dunia? Hah! Dasar anak-anak! Aku juga waktu muda berpikir seperti itu, tapi sekarang lihat..." Menyaksikan itu Mafalda tercenung, lalu mengabarkan pada teman-temannya, "Gawat, kawan-kawan! Ternyata bila kita tidak buru-buru mengubah dunia, maka dunialah yang akan mengubah kita!" Orang boleh bilang mengubah dunia adalah impian anak-anak, tapi ketika pada akhirnya rezim kediktatoran militer usai di Argentina dan demokrasi ditumbuhkembangkan, generasi pembawa perubahan itu sebagiannya adalah generasi yang besar dengan membaca Mafalda. Jelas, nalar kritis anak-anak macam Mafalda bukan omong kosong belaka. Argentina, juga Indonesia masa kini, sungguh membutuhkannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar