Sabtu, 16 Oktober 2010

Gajah Dibilang Jerapah

Latin American Fiction and the Narratives of the Perverse: Paper Dolls and Spider Women
Patrick O'Connor
Palgrave Macmillan, 2004


Suatu ketika di Bikini Bottom, Spongebob sedang meniup gelembung berbentuk gajah, dan Patrick tertawa-tawa melihatnya: "Hehehe! Itu jerapah!" Kira-kira seperti itu jugalah cara pandang Patrick yang lain ini, Patrick O'Connor, atas teks-teks Amerika Latin.

Hanya karena ia seorang profesor queer theories, sejarah sastra Amerika Latin dan bahkan sejarah Amerika Latin secara keseluruhan dipandangnya melulu sebagai perversi. Ada bagian-bagian yang menarik dan masuk akal dari ulasannya, misalnya ketika menyoal masa-masa boom sastra Amerika Latin era 1960-an dan membandingkannya dengan teori-teori queer. Masuk akal, karena masa-masa itu memang menandai kebangkitan era queer dan queer theories  dengan merebaknya apa yang sering disebut sebagai "revolusi seksual" (beberapa karya Carlos Fuentes, misalnya Diana o la cazadora solitaría, bicara gamblang mengenai eksperimentasi seksual yang dijalaninya masa-masa itu, misalnya menjajal seks anal dsb).

Namun klaim-klaim O'Connor lainnya di buku ini terlampau luas , dan beberapa tafsirannya menurut saya layak disebut, dalam istilah Umberto Eco, "overintepretasi". Herannya, O'Connor justru tidak mengulas karya-karya yang "jelas-jelas" bercerita soal perversi, semisal Los cuadernos de don Rigoberto-nya Mario Vargas Llosa.
As I have been suggesting throughout, in both theory and practice the perverse has defined itself against an intelligible narrative of the normal. As that narrative becomes gradually unintelligible, the concept of a subculture or an alternative culture becomes more complex, especially as it is related to the one master narrative that won’t go away, global capitalism. Under such a regime, the taste for reading and writing complex Latin American fictions may itself be understood as a perverse taste, a stubborn, persistent desire for the unproductive pleasure that both reinforces a marginal self and casts doubts upon other, confidently normal subjectivities.
Unintelligible itu saya kira satu hal, sementara complex adalah hal yang sama sekali berbeda. Dan saya kira terlampau heroik (dan naif) untuk mengatakan bahwa selera untuk terus membaca sastra Amerika Latin adalah perversi terhadap rezim kapitalisme global. Tidakkah O'Connor menyadari latinidad adalah salah satu barang jualan kapitalisme global itu sendiri sekarang, dan bahwa "reading and writing complex Latin American fictions" adalah bisnis ribuan dolar?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar