Rabu, 27 Oktober 2010

Sisi Kocak Kebebasan: Wawancara Quino

“Quino, On The Funny Side of Freedom,” Lucía Iglesias Kuntz. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari The UNESCO Courier, edisi Juli/Agustus 2000, hlm. 69-74. (Sebagian catatan kaki ditambahkan oleh penerjemah).


“Aku tidak percaya humor bisa mengubah apa-apa, namun kadang ia bisa menjadi bulir pasir kecil yang bertindak sebagai katalis kebebasan,” kata kartunis Argentina Joaquín Salvador Lavado, yang lebih dikenal sebagai Quino. Lahir di Mendoza pada 1932, Quino yang disanjung sebagai “kartunis terbesar Amerika Latin di abad ini”, tak pernah ingin jadi apapun selain kartunis. Ia habiskan seumur hidupnya menghadap meja gambar. Reputasi internasionalnya terbangun oleh serial Mafalda, yang menyuguhkan dunia orang dewasa dilihat dari mata anak-anak [baca resensi saya]. Tokoh utamanya, gadis cilik penuh rasa ingin tahu yang selalu melontarkan pertanyaan-pertanyaan kikuk dan cemas akan perdamaian dunia, tampil dalam 10 buku yang telah diterjemahkan ke lebih dari 20 bahasa dan terbit di koran-koran serta majalah di pelbagai belahan dunia. Jenuh oleh tekanan harus mencetuskan ide baru setiap minggu, Quino memutuskan berhenti menggambar Mafalda pada 1973, dan mengisi waktunya dengan proyek-proyek lain yang membuatnya leluasa mengolah humor sarkastis yang selalu menjadi ciri khasnya. Digarap dalam hitam putih secara teliti dan penuh dengan detail-detail yang menggugah, gambar-gambar Quino berfokus pada hubungan kekuasaan, ketimpangan sosial, dan kerusakan lingkungan. Ringkas kata, segala isu yang –seperti diakuinya sendiri—“sama sekali tidak ada lucunya.”

Bagaimana Anda menjelaskan gaya humor Anda?
Menurutku kartun-kartunku bukan sejenis yang membuat orang tertawa terbahak-bahak. Aku cenderung memakai pisau bedah ketimbang menggelitik perut. Aku tidak berusaha melucu; itu keluar begitu saja dariku. Aku ingin jadi lebih lucu lagi, tapi semakin tua kau akan merasa semakin kurang menghibur dan jadi lebih merenung.

Buku-buku Anda sudah diterbitkan dengan banyak pujian di Perancis, Yunani, Italia, Cina, dan Portugal. Apa ini berarti humor itu universal?
Kukira ya. Konotasi lokal berbeda-beda tentunya, apalagi dalam humor politik. Tapi suatu gurauan bisa sama relevannya di Spanyol era Franco sebagaimana di Kuba era Fidel atau rezim-rezim militer se-Amerika Latin. Sementara gurauan tentang makanan, hal-hal yang kita ucapkan tentang daging di Argentina bisa dialihkan tentang nasi di Jepang. Aku pernah dengar ada seorang aktor Amerika Utara yang begitu menggemari lawakan Jepang sampai ia memutuskan belajar bahasa Jepang dan mengekspornya ke AS. Ketika gurauan Jepang itu menyebut pai buah ceri, ia menggantinya dengan pizza agar pemirsanya paham. Namun cara kerja humornya sama.

Anda tak pernah melejit di negara-negara berbahasa Inggris. Tidakkah Anda tertarik pada pasar itu?
Pertama-tama, aku tak pernah berpikir dalam kaidah pasar. Entah bukuku berhasil atau tidak berhasil. Bertahun-tahun lalu buku kartun nirkataku, The World of Quino, terbit di Amerika Serikat. Rekan-rekanku di Amerika Utara menyambutnya dengan sangat baik, termasuk Schulz.[1] Bahkan ada yang berkata: “Akhirnya ada kartunis yang tidak menggambar pasangan suami istri membaca koran pagi di meja makan saat sarapan.” Tapi buku itu tidak laku. Kukira publik penutur bahasa Inggris terbiasa dengan humor visual yang lebih langsung ketimbang karyaku. Aku berfokus pada detail, dan pembaca selalu bertanya mengapa aku memasukkan gambar-gambar tertentu. Bila aku menggambar koran, kutulis berita macam-macam di situ sampai membentuk semacam kode bagi pembaca. Banyak orang tidak memperhatikan detail ini. Sementara untuk Mafalda, orang Inggris beranggapan dia “terlampau Amerika Latin.”

Akankah Anda mengatakan humor Anda khas Argentina?
Serial Mafalda jelas. Lingkungan tempat tokoh-tokohnya hidup adalah perkampungan Buenos Aires tempatku sendiri hidup, dan cara bicara Mafalda juga khas Argentina, bahkan dalam edisi yang terbit di Spanyol dan negara-negara Amerika Latin lainnya. Di karyaku selebihnya yang memakai dialog, aku mencoba memakai idiom yang sedikit lebih netral. Sementara untuk kartun-kartunku yang lain, aku tidak tahu cara menjawab pertanyaanmu. Orang tuaku, bibi dan pamanku dan kakek-nenekku semuanya orang Spanyol. Semasa kecil, banyak imigran di sekitarku: si tukang daging orang Spanyol, begitu pula pemilik toko sembako yang menjual kacang lentil. Si tukang sayur orang Italia, dan kawan-kawan orang tua serta kakek-nenekku berasal dari Andalusia. Kontak riil pertamaku dengan orang Argentina terjadi saat di sekolah dasar. Aku berbicara dengan logal Andalusia yang sangat kental sampai teman-teman sekolahku tidak bisa mengerti apa yang kuucapkan. Aku merasa susah bergaul dengan mereka.

Kadang Anda pakai teks, kadang tidak. Menurut Anda teks itu faktor krusial dalam humor?
Aku lebih suka tanpa kata-kata. Tapi ada beberapa gagasan yang tak mungkin bisa dimengerti tanpa teks. Dalam hal ini humor itu seperti sinema. Chaplin, misalnya, tak pernah membutuhkan kata-kata. Begitu pula Jacques Tati. Tapi Woody Allen, yang tidak memakai lawakan visual, jadi tak lucu lagi begitu ia berhenti bicara.

Apa tema favorit Anda?
Kukira tidak ada, meski sepanjang waktu ini aku bisa melihat ada tema-tema tertentu yang muncul berulang kali. Yang paling sering ditemui dalam karyaku adalah humor tentang yang lemah dan yang kuat, tentang hubungan antara penguasa dan orang biasa. Aku tumbuh besar dalam keluarga yang sangat politis. Perang Saudara Spanyol dan bangkitnya fasisme adalah drama-drama yang menandai masa kecilku. Kejadian-kejadian itu memberiku pandangan politis tentang hidup, pandangan yang ingin kuungkapkan dalam semua gambarku. Menurutku hubungan kekuasaan ada dalam segala situasi, entah seseorang sedang berhadapan dengan pejabat pemerintah, yang senantiasa merupakan pihak yang berkuasa, atau pelayan atau dokter. Aku terpukau oleh hubungan yang didasarkan pada ketergantungan. Tema-tema lain yang kuangkat ada yang menyangkut hidup dan mati, di mana maut tergambar sebagai sosok yang kuat sementara hidup sebagai yang lemah. Aku khawatir kehilangan kebebasanku dalam usia senja—aku ngeri membayangkan harus bergantung pada orang lain untuk hal-hal yang paling sederhana. Jadi kugambar kartun tentang seorang tua 84 tahun yang ingin segelas anggur tapi bertentangan dengan keinginan cucu-cucunya.­

Adakah tema-tema yang terlarang?
Waktu aku baru mulai, aku bergurau soal tahanan. Napi dan orang terdampar sudah menjadi langganan humor sedunia. Tapi ketika orang mulai dipenjara di Argentina karena alasan-alasan politik, aku berhenti bergurau soal itu, dan sampai sekarang pun masih tidak bisa. Kurasa bakal kontraproduktif untuk mengangkat isu tragis seperti pemenjaraan dan penyiksaan melalui humor, dan aku masih belum bisa ikut serta dalam kampanye Amnesty International, sekalipun sering dikritik tentang hal ini. Aku juga tidak suka tragedi seperti gempa bumi atau bencana-bencana alam, sekalipun ini menurutku lebih dikarenakan fobia personal yang tidak dialami, misalnya, oleh kartunis-kartunis Brazil. Beberapa tahun lalu pesawat Uruguay yang membawa satu tim rugbi jatuh di pegunungan Andes. Orang-orang yang akhirnya selamat harus memakan daging mereka yang meninggal. Sebuah majalah humor Brazil mengkhususkan salah satu nomornya untuk peristiwa ini, yang sama sekali tidak lucu. Tapi mereka berhasil membuatnya lucu, sangat suram namun lucu. Dan belum berapa lama lalu aku melihat satu nomor mingguan Perancis, kalau tidak salah Le Canard Enchaîné, yang menampilkan gambar tentang perkosaan dalam penjara, topik yang takkan sanggup kugarap.

Buku Anda terbaru, Cuánta bondad, penuh gambar yang mengolok-olok teknologi modern: faks, komputer, ponsel. Anda benar-benar tidak menyukai barang-barang ini?
Aku benci ponsel, dan pemakaiannya secara konyol bikin aku gregetan. Aku bisa mengerti bila seorang dokter, tukang listrik, atau tukang ledeng memerlukan ponsel. Belum lama lalu di Asturias seorang pria selamat dari keroyokan serigala karena ia menelepon minta tolong dengan ponselnya. Tapi aku tidak tahan berada di ruang tunggu dokter mendengarkan orang menelepon cuma untuk bilang dokternya terlambat atau bertanya apa mereka perlu mampir toko. Kurasa internet sangat berfaedah dalam situasi-situasi tertentu. Di bidang kedokteran misalnya, menakjubkan bahwa seorang dokter di kota kecil bisa berkonsultasi dengan ahlinya di Amerika Serikat atau Swiss. Tapi sama sekali berbeda halnya untuk terpaku pada internet dan mencari pasangan atau pacar dengan mengubek-ubek komputer. Aku kenal seorang perempuan tua, seorang psikolog Italia, yang berkomunikasi dengan rahib-rahib Tibet melalui internet meski aku yakin ia tak pernah peduli untuk menyapa tetangganya. Banyaknya alat komunikasi berarti orang kian mengisolir diri dari orang-orang di sekelilingnya.

Sepak bola juga tampil dalam beberapa karya Anda. Anda suka bola?
Aku tidak mengetahui soal bola sebanyak yang aku inginkan, tapi ini sangat menarik buatku terutama dari sudut pandang sosial. Inilah satu-satunya olahraga yang membuat penontonnya bertindak kriminal. Aku pernah melihat terjadinya kekerasan antara tim hoki es, termasuk tewasnya seorang pemain yang tulang dadanya kena gebuk dan ditinggalkan mati. Tapi dalam sepak bola, publik itu sendirilah yang meradang, menyerang, dan membunuh. Seorang penulis Amerika yang mempelajari fenomena holiganisme di Inggris tiba pada simpulan bahwa sepak bola membikin frustrasi karena butuh waktu 90 menit untuk menanti sebuah gol disarangkan. Di basket atau bahkan hoki, perolehan angka terus menerus berubah, tapi dalam bola 30 atau 40 menit bisa berlalu tanpa gol satu pun. Alhasil frustrasi pun menumpuk di antara penonton dan itu harus diluapkan entah bagaimana. Aku lebih tertarik pada sepak bola dari sudut itu ketimbang sebagai olahraga, sekalipun kuakui ada pemain-pemain yang sungguh nikmat untuk ditonton. Ketika Johann Cruyff di lapangan, rasanya seperti menonton Rudolf Nureyev di atas panggung.

Tuhan digambarkan
dengan segitiga kesucian
di atas kepala (karena
lingkaran kesucian sudah
dipakai oleh malaikat).
Tuhan sering muncul dalam kartun-kartun Anda. Mengapa?
Aku tidak percaya Tuhan, tapi aku banyak membaca Kitab Suci karena itu sumber gagasan yang fantastis. Dan sekalipun bila Tuhan tidak ada, itu tetap tema yang sangat bagus. Ia sosok yang mustahil diabaikan: entah orang mencintainya atau membencinya. Dan ia terus menerus muncul dalam kartun-kartunku karena dalam satu hal ia adalah karakter yang bisa kau identifikasi. Saat menggambar kau mencipta banyak hal dengan pensil, dan kau bisa membangun di atas kertas segala jenis dunia yang terlintas di pikiran. Mungkin ia tidak ada, tapi sebagaimana kata Borges, cukup untuk memiliki kata yang ditujukan untuk merujuk sesuatu, dan sesuatu itu pun akan jadi nyata. Apalagi, agama itu sama seperti seks atau obat-obatan: selalu menyulut reaksi dan surat-surat dari pembaca, dan aku suka itu.

Apa kenangan terburuk Anda dalam menekuni profesi ini?
Tanpa ragu sedikit pun, yang paling mengesalkanku adalah dipakainya kartun-kartunku untuk maksud-maksud yang jauh berbeda dengan maksud yang mengilhamiku saat menggambarnya. Terutama, aku akan sangat marah ketika kartun-kartunku dipakai dalam kampanye politik sayap kanan. Pernah aku dikirimi dari Spanyol stiker bergambar Guille, adik Mafalda, membawa bendera pro-Franco. Itu pukulan telak, karena aku lahir dalam keluarga yang berantakan gara-gara Perang Saudara Spanyol, dan film-film tentang periode itu masih membuatku menangis. Komikku juga dipakai dalam kampanye politik seorang perwira militer Argentina yang pernah jadi kapolda Buenos Aires. Aku bertanya-tanya apakah orang-orang ini membaca karyaku dan sama sekali salah tafsir, atau apakah mereka sangat memahaminya dan justru ingin membelokkan maknanya. Hal-hal macam ini benar-benar tak bisa kupahami. Aku dengar Mafalda dipakai di Venezuela untuk kampanye pemilu, tapi aku takkan menyewa pengacara di Caracas karena kondisi macam ini akan mulur berkepanjangan selamanya.

Anda selalu bebas untuk menggambar apapun yang Anda suka?
Kelihatannya memang paradoksal, tapi di bawah pemerintahan militer Argentina –yang sama halnya dengan mengatakan pada hampir seluruh pemerintahan, karena sejak lahir aku cuma mengenal empat presiden yang terpilih secara demokratis—tak pernah ada badan sensor resmi. Ini berkebalikan dengan Brazil, di mana ada badan tempat semua kartunis harus mengirimkan gambar mereka sebelum bisa diterbitkan. Di Argentina, para editorlah yang mencoba meredammu. Masalahnya, kau tak pernah tahu apa atau siapa yang jadi masalah, jadi kau pun mulai menyensor karyamu sendiri. Ketika aku tiba di Buenos Aires dengan map penuh gambar kartun, aku langsung sadar bahwa gereja dan militer tidak mungkin dijadikan target banyolan, bahwa seks harus dipoles secara sopan, dan sama sekali tidak mungkin membahas soal homoseksualitas. Sejak masih muda dan ingin diterbitkan, aku menahan diri pada tema-tema yang diperbolehkan. Namun sampai hari ini, ketika semuanya boleh, aku masih merasa sangat sukar untuk lepas dari kebiasaan swasensor.

Anda hidup dalam pelarian selama kediktatoran militer.[2] Anda dipaksa keluar negeri?
Aku hengkang ketika situasinya benar-benar buruk. Banyak temanku dihilangkan, dan ketika aku pergi mengantar kartun ke majalah yang menerbitkan karyaku, kudapati bom telah meledak di sana atau gedungnya baru saja diberondong senapan mesin malam sebelumnya. Dengan kerja sepertiku, yang bisa dilakukan di meja hotel di tempat manapun sesukamu, bodoh kiranya untuk tetap tinggal. Antara 1976 hingga 1979 aku tinggal di Italia. Lantas aku mudik untuk menengok keadaan, dan sekarang delapan bulan dalam setahun aku tinggal di Buenos Aires dan sisanya di Milan, yang menjadi basisku di Eropa. Aku juga menghabiskan banyak waktu di Spanyol dan Perancis.

Selain di Argentina, Anda harus membuat konsesi agar buku-buku Anda bisa terbit?
Ya, sedikit, tapi biasanya untuk alasan-alasan yang anekdotal kalau bukan konyol. Sekitar 15 tahun lalu secara kebetulan aku dengar bahwa Mafalda sangat terkenal di Cina. Seorang gadis cilik dari Cina memberitahuku hal ini saat memintaku menandatangani sebuah album di pesta buku Buenos Aires. Sebelumnya aku tak punya bayangan bahwa buku-bukuku terbit di Cina, jadi aku sangat penasaran. Lewat seorang teman aku berhasil menemukan bahwa edisi bajakan itu dicetak di Taiwan, dan bahwa penerbitnya, seperti semua pembajak hebat, adalah orang Inggris. Agenku berhasil membuat edisi bajakan ini ditarik dan edisi resminya terbit di Cina daratan. Aku datang ke sana beberapa bulan lalu, dan bertanya bagaimana mereka menerjemahkan semua strip Mafalda yang membahas tentang “bahaya kuning”. Ketika menggambar strip-strip itu kita baru saja tahu bahwa Cina punya bom atom, dan terungkapnya fakta ini menyulut keprihatinan mendalam dunia Barat. Mereka memberitahuku bahwa segala yang berkaitan dengan Cina telah dibuang, karena mereka beranggapan aku tidak cukup mengenal Cina untuk bisa beropini—penalaran yang ajaib, menurutku. Aku juga mendapati bahwa Susanita, teman Mafalda yang berangan-angan punya keluarga besar, dianggap subversif terhadap kebijakan keluarga berencana di Cina.

Mafalda sangat politis. Pernahkah ini menimbulkan masalah bagi Anda?
Aku masih ingat kasus Kuba, negara yang kudatangi tujuh atau delapan kali dan di sana aku punya teman-teman baik. Mafalda terbit dalam edisi Kuba dan serial film animasi yang didasarkan pada strip kartun itu juga dibuat di sana. Tapi kapan pun aku pergi ke Kuba, orang selalu memintaku menjelaskan strip yang menggambarkan Mafalda duduk menghadap sepiring sup –makanan yang paling ia benci melebihi apapun—dan bertanya mengapa Fidel Castro tidak bilang sup itu enak agar di Argentina sup dilarang. Memang benar bahwa pada zaman itu, apapun yang terkait dengan Kuba dipandang penuh curiga di Argentina. Tapi yang sebetulnya diucapkan Mafalda adalah: “Kenapa sih si bego Fidel Castro nggak bilang…?”[3] Koran Spanyol El País menyensor sebagian gambarku dengan alasan terlampau “suram”, yang kujawab bahwa bisa jadi aku suram, tapi tak pernah sesuram hidup itu sendiri.

Serial Mafalda sering dibandingkan dengan Peanuts karya Schulz.
Sudah sewajarnya. Aku mengawali strip Mafalda sesudah ada pesanan iklan untuk sebuah merk perkakas rumah tangga, dan aku diminta untuk menggambar sesuatu yang mirip itu. Kubeli semua buku karya Schulz yang bisa kudapat di Buenos Aires, mempelajarinya dan lantas mencoba menggarap sesuatu yang serupa tapi diselaraskan dengan situasi kami. Iklan ini tak pernah dicetak karena majalah yang akan menerbitkan kartun-kartun ini sadar bahwa ini iklan kloset. Jadi kusimpan gambar-gambarku sampai setahun sesudahnya, 1964, dan kukeluarkan lagi untuk majalah Primera Plana.

Menurut Anda mengapa Mafalda masih terus diterbitkan dan dibaca hampir 30 tahun sesudah Anda berhenti menggambarnya?
Kukira sebagiannya karena pesannya masih relevan. Umat manusia masih punya banyak masalah untuk dihadapi. Dunia yang dikritisi Mafalda, dunia yang ada pada 1973 saat aku berhenti membuat strip ini belumlah lenyap, malah mungkin jadi bertambah buruk. Sekalipun aku tersanjung karena Mafalda masih terus dibaca, menyedihkan pula kalau dipikir bahwa ketidakadilan sosial yang dikecamnya masih terus berlangsung.

Mengapa Anda berhenti menggambar Mafalda, bertentangan dengan kehendak pembaca?
Humor dan karya seni pada umumnya bisa aus. Aku sangat mengagumi Schulz, dan aku suka Peanuts. Kubaca strip itu dengan penuh semangat selama 10 atau 15 tahun. Tapi aku juga ingin melihat humornya yang khas itu tercermin pada karya-karya lain. Aku merasakan hal yang sama mengenai pelukis Kolombia Fernando Botero: kurasa ia tidak harus terus melukis sosok-sosok gendut sepanjang hidupnya. Sementara aku sendiri, sesudah 10 tahun Mafalda, aku mulai menderita tiap kali menggambar nomor baru, dan aku merasa amat sukar untuk tidak mengulang-ulang. Ketika aku mulai menggambar, aku belajar bahwa bila kau tutup panel terakhir gambar stripmu dan orang bisa menebak akhirnya, maka cerita itu tidak layak. Sekalipun buku-buku itu masih sangat laris dan orang-orang memintaku lagi, kurasa aku mengambil keputusan yang tepat untuk berhenti menggarap Mafalda, dan aku tidak merindukannya sama sekali.

Sketsa untuk poster UNICEF
Mafalda inedita (1988)
Namun toh Anda menggambarnya lagi...
Ya. UNICEF memesan beberapa gambar untuk peringatan 10 tahun Konvensi Hak-Hak Anak, dan dengan senang hati aku membuatnya. Aku juga menggambarnya lagi untuk peringatan kelima pemerintahan demokratis Presiden Raul Alfonsín di Argentina, dan aku membolehkan Mafalda dipakai untuk kampanye kesehatan publik serta tujuan-tujuan lain yang menurutku layak didukung. Sekarang aku memakainya ketika ingin memprotes sesuatu — dialah juru bicara perasaan kesalku. Tapi aku tak pernah dan takkan pernah setuju bila Mafalda dipakai dalam iklan, begitu pula aku takkan membolehkan ia diadaptasi untuk teater atau film. Satu-satunya konsesi yang kubuat adalah untuk film animasi karena gambar tangan dibutuhkan untuk membuatnya.

Apa yang Anda sampaikan pada para pembaca, terutama anak-anak, yang meminta Anda menggambar Mafalda lagi?
Menjawab anak-anak itu mudah. Aku gambar Mafalda selama 10 tahun, jadi aku selalu memberitahu mereka hal yang sama. Kataku: bayangkan bila kalian harus melakukan hal yang sama setiap pagi sejak lahir sampai saat ini. Kalian suka itu? Mereka selalu bilang tidak. Anak-anak umur 15 atau 16 tahun lebih susah diyakinkan, dan kukira aku tidak berhasil meyakinkan mereka.

Beberapa kajian pseudo-ilmiah menyatakan bahwa anak-anak Amerika Latin yang membaca Mafalda cenderung tak suka sup.[4] Lalu ada pula anak-anak gadis yang benar-benar diberi nama Mafalda. Sebuah majalah bahkan menobatkannya sebagai salah satu dari 10 perempuan Argentina paling berpengaruh selama abad ke-20. Tidakkah ini tanggung jawab yang berat?
Jelas. Tapi tanggung jawab riil buatku adalah menghadapi halaman kosong saban minggu yang di atasnya aku bisa menuliskan apa saja sesukaku. Ada orang yang pernah memberitahuku bahwa ratusan orang ingin punya halaman mingguannya sendiri untuk bisa mengungkapkan apapun semau mereka. Menyadari tanggung jawab itu membuatku pening, tapi selebihnya, itu bukan urusanku.

Anda mengidentifikasi diri dengan karakter ciptaan Anda yang mana?
Pada taraf tertentu aku merasa identik dengan mereka semua. Aku percaya semua karakter yang muncul di gambar-gambarku semuanya relevan. Aku menyadari ini dari sebuah wawancara dengan sutradara film Amerika Frank Capra, yang sedang membicarakan pentingnya pemeran pembantu. Ketika ia memfilmkan suatu adegan di jalan, ia mengajak bicara tiap-tiap pemeran pembantu itu dan dengan cermat menjelaskan peran mereka. “Anda, nyonya, pergi ke toko obat dengan gundah karena suami Anda sakit. Anda, tuan, dekorator ruangan yang hendak mengecat sebuah apartemen dan Anda terburu-buru karena telat.” Setiap karakter yang tampil di film-film Capra, sekalipun cuma di latar belakang, punya kisah. Serupa dengan itu, ketika aku menggambar restoran, aku bayangkan pria yang duduk di meja belakang itu bekerja di bank dan punya saudara ipar yang tinggal di Venezuela. Aku senang berkhayal begitu.

Anda pernah bilang umat manusia adalah kanker planet ini. Apakah tak ada harapan?
Kuberi satu contoh: orang selalu berkata kawasan Amazon itu paru-paru bumi kita, tapi ini toh tidak menghentikan mereka untuk terus merusaknya. Seolah-olah seseorang yang terkena kanker paru-paru tidak berbuat apa-apa untuk mencegahnya, apalagi menyembuhkan diri. Karena begitu banyak orang mencemaskan perusakan Amazon, mengapa PBB tidak membelinya dan melindunginya? Tapi tidak. Manusia memang seperti itu. Mereka terus merokok sekalipun kena kanker paru-paru. Dalam pandanganku, harapan terletak pada menumbuhkan optimisme historis tertentu. Aku sependapat sepenuhnya dengan penerima Hadiah Nobel Sastra dari Portugal José Saramago, yang selalu bersikukuh bahwa sosialisme dan kaum kiri suatu hari nanti akan kembali mendapatkan pamornya yang hilang. Menurutku dia benar. Aku selalu membandingkan politik dengan penerbangan. Selama berabad-abad banyak orang meninggal karena mencoba terbang. Tapi sebelum mereka bisa terbang layang atau dengan pesawat ringan, pertama-tama harus ditemukan mesin pembakaran dalam, yang beratnya luar biasa. Bila Leonardo da Vinci mengenal material-material ringan yang kita gunakan sekarang, orang sudah bisa terbang sejak abad ke-15. Ini seperti menyambangi katakombe-katakombe Kristen di Roma. Dahsyat! Tiga abad bersembunyi! Kelompok politik mana saat ini yang bisa bertahan tiga abad tanpa diinfiltrasi? Dan 2000 tahun sesudahnya mereka masih ada, sekalipun memang sudah menjadi berkebalikan total dengan apa yang mereka klaim dulu.

Anda selalu menggambar dalam hitam putih?
Ya, dengan sedikit pengecualian. Edisi Perancis Mafalda berwarna karena penerbitnya merasa bila tidak berwarna, di Perancis tidak akan laku. Aku setuju tapi tidak begitu senang dengan hal ini. Mafalda sebagaimana yang kulihat adalah hitam putih, dan secara umum aku lebih menyukai komik hitam putih kecuali bila warna yang dipakai memang menambah sesuatu. Tentunya saat kau menonton film-film Akira Kurosawa, kau sadar warnanya memang memberi bobot tertentu. Aku memakainya jarang-jarang, hanya bila ada darah atau memang pada tempatnya. Aku pernah melukiskan seorang anak yang ditinggal di rumah sendirian dan ia menggambar garis melintas sepanjang dinding rumah itu, dari tangga sampai lorong ke kamar tidur. Ketika orang tuanya pulang ia menyapa mereka dengan berkata, “Aku berani taruhan kalian pasti tidak tahu warna kebebasan.”

Warna apa itu?
Hijau.
____
1) Charles M. Schulz (1922-2000), kartunis Amerika yang terkenal atas serial Peanuts dan tokoh anjing Snoopy.
2) 1976-1983.
3) Catatan penerjemah: Dalam edisi Indonesia, rupanya frase “cretino de Fidel Castro” (si bego Fidel Castro) juga tidak diterjemahkan lengkap. “Kenapa sih Fidel Castro nggak bilang kalau sup itu enak!” Lihat Mafalda 4, terjmh. Ratna Dyah Wulandari (Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia, 2010), hlm. 88.
4) Catatan penerjemah: Kajian yang dimaksud oleh wawancara ini adalah data kelompok anak usia 7-11 tahun yang dilansir oleh berkala riset pasar Pan-Latin American Kids Study pada 1996:

Tingkat Kekerapan Membaca Mafalda
Persentase yang Menganggap Sup
Makanan Favorit Mereka
Selalu
4,2%
Sering
28,6%
Kadang-kadang
47,9%
Tidak dalam setahun terakhir
55,0%
Meski demikian, seperti dijelaskan sendiri oleh penerbit studi ini, tabel ini hanya menyandingkan dua data amatan dalam himpunan yang berbeda dan tidak menunjukkan hubungan kausalitas antar kedua himpunan. Sehingga tidak bisa dibilang membaca Mafalda membuat anak-anak tidak menyukai sup atau sebaliknya, tidak menyukai sup membuat anak-anak suka membaca Mafalda.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar