Jumat, 09 Agustus 2013

"Votán I. Seekor Kumbang dalam Jaringan ('Freeware' versi Durito)," oleh Subcomandante Marcos


Votán I.
Seekor Kumbang dalam Jaringan
(Freeware versi Durito)

Juli 2013.

Sebelum kami menjelaskan bagaimana jalannya Sekolah Kecil ini (yang pada waktunya akan kami kirimkan semacam “petunjuk arah” atau “petunjuk kelakuan buruk” atau “petunjuk pertahanan hidup”), mari kita lihat sedang apa mereka “di atas sana.” Bukan karena kami sedikit berserakan (yang tak syak lagi memang demikian adanya), tapi karena kami melihat kalender dan geografi mereka di atas sana, artinya: kami mencoba memahami.

Jadi, harap berbaik hati dan bersabarlah, dan temani kami dalam melayangkan pandangan dari bawah sini ke atas sana. Coba lihat… hmm…

Banyak komentar tentang konjungtur historis mencoba –dengan percuma—berebut perhatian dengan judul-judul berita. Tipu muslihat media kini kalah dengan hashtag –atau apapun namanya—(yang disebut viral, katanya, tapi karena sifatnya yang masif, bukan karena sifatnya yang merusak … atau begitukah?)

Ah, alangkah putus asanya ahli-ahli komunikasi, imuwan politik, kolumnis, dan redaktur berita: topik-topik “aktual” bukan mereka lagi yang menentukan, menandai, atau memaksakan analisa mereka sendiri –yang bukan tidak sering dilumasi dengan uang segala warna—karena semua orang kini punya caranya sendiri, kalendernya sendiri, dan geografinya sendiri.

Sisihkan dahulu sesaat hubungan patetik antara tokoh-tokoh media dan tokoh-tokoh politik pada setiap tingkatan —kerajaan, kementerian, presiden, gubernur, legislatif—yang “transendensinya” hanya menempati jurnalisme remeh temeh (artinya, semua media bayaran). Renungan para ilmuwan politik dan jurnalis mengenai isu ini hanya menarik bagi “komentator profesional” yang kian langka itu demi kolom mereka sendiri.

Seperti pesan twitter Durito: “Dalam kaitan antara showbiz dan politik, harus disebut: photoshop menciptakan keduanya dan mereka lebur satu sama lain.”

Karena sekarang ini rakyat (massa pembangkang yang tidak menengok ke arah ia diperintakan untuk menengok, tidak menyimak apa yang diperintahkan padanya untuk disimak) telah mengidap kegandrungan tertentu untuk membuat hidup sehari-hari menjadi berita halaman depan: bagaimana gaya rambut seseorang, apa yang terjadi padaku di tempat ini, apa yang kusuka-tak kusuka, apa yang aku lihat-dengar-ucapkan dan apa yang diucapkan padaku, kejahatan-kejahatan yang tidak tampil di media bayaran, kekonyolan berulang para penguasa (yang sebelumnya tertutup oleh gundukan uang dalam lemari media-media bayaran) yang kini terungkap tanpa bisa mereka kendalikan.

Bahwa yang katanya kampiun kebebasan dan demokrasi –pemerintah Amerika Serikat—ternyata memata-matai tanpa aturan dan menggencarkan kebiadaban di sekujur planet? Duaarrr! Internet menjadi tangan kurang ajar yang merobohkan tata panggung yang menyembunyikan obsesi besar Kekuasaan: untuk mengontrol segala hal dan semua orang, untuk mengetahui apa saja.

Dan mendadak, ketika Kekuasaan menyadari bahwa tidak berguna lagi untuk membayari lampu sorot utama mereka (media) baik untuk meredupkan diri atau mengarahkan sinarnya ke tontonan kedunguan yang dewasa ini sedang marak, mereka yang punya harga diri, rakyat, massa, kumpulan-kumpulan orang menyalakan cahaya-cahaya kecil mereka sendiri, bukan untuk mengiringi secara ritmis balada yang dimainkan di atas, tapi untuk menunjukkan bahwa sang raja-pangeran-menteri-presiden-gubernur-anggota legislatif sedang telanjang.

Sadar bahwa ia ketahuan, Kekuasaan hanya bisa mengoceh tak karuan dan tentunya, mengkriminalkan mereka yang telah mengungkapnya. Apa yang terjadi saat si politisi A atau si pejabat B mempraktikkan sindrom kepongahan menyedihkannya “kau-tahu-aku-ini-siapa?” Duaarrr!, tamparan telak dunia maya dan semua orang mendengar-melihat-menyebarkannya. Dan, jelas, respons yuridis-kepolisian dari para politisi adalah: menangkap yang berkicau di twitter itu; inisiatif hukum untuk mengontrol jejaring sosial; ruang udara global yang dirampas oleh pemerintah Amerika Utara, kepatuhan menyedihkan pemerintah negara-negara Eropa (“ia cuma orang Indian, tangkap saja”).

Sisipkan nama apapun yang kalian mau dari mereka yang sedang (atau sedang mencoba) menjadi seperti di atas: Peña Nieto, Obama, Berlusconi, Rajoy, Putin, dll yang harus kau tanggung di pelosokmu masing-masing. Pelawak-pelawak besar, tanggung, atau kecil (yang semuanya buruk) menari mengikuti irama hingar-bingar internet (perlukah dibilang bahwa mereka bahkan tak bisa menyamai geraknya?) Ringkas kata: internet=(sama dengan) globalisasi masif dan serba segera atas kekonyolan dan ketidakbecusan kelas politik.

Tapi awas! Karena di atas sana mereka juga menyadari bahwa yang-instan (sebagai bukti masif inkompetensi mereka) juga bersifat sesaat. Dan penangkal atas suatu skandal adalah skandal yang lebih besar. Bahwa penangkal terbaik untuk suatu “hashtag” yang menyebar luas adalah “hashtag” lainnya. Selama kecaman-kecaman itu tidak beranjak dari “kita harus berbuat sesuatu” menjadi “kita harus melakukan ini,” dan dari sana menuju sebuah kalender dan geografi (“kita harus melakukan ini di tempat ini pada hari ini”), maka tak ada masalah.

Bagi Kekuasaan, tidak masalah apabila absurditasnya menjadi bahan obrolan di meja makan, tapi bakal menjadi masalahnya buatnya bila, misalnya, “teroris-teroris internasional baru” (artinya: jejaring sosial) beranjak dari mengolok-olok ke mobilisasi… kemudian “telepon-telepon merah” pun (oke, aku tahu mereka tidak benar-benar memakainya, tapi kalian tahu kan maksudku) mulai berdering di pusat-pusat Kekuasaan Global—artinya, sentra-sentra finansial. Sebab marah secara personal pada suatu ketidakadilan adalah satu hal; dan sungguh hal yang berbeda untuk menyatukan orang-orang yang marah itu sebagai suatu kolektif. Ringkas kata, masalah menjadi serius manakala tangan-tangan kecil dalam jaringan berubah menjadi kepalan-kepalan perlawanan di jalanan … dan di pedesaan.

Tapi di atas sana, para analis bersikukuh pada “konjungtur” (“konteks historis” itu, sayangku) yang sudah terkutuk dan terkutuk kuadrat itu. Dan selalu tontonan yang sama. Misalnya, pemilu… tipu-tipuan pra-elektoral, elektoral, dan pasca-elektoral. Simpulannya nyaris seragam: “tak ada gunanya”… sampai musim pemilu berikutnya dan seorang visioner yang sedang naik daun berikutnya menawarkan hal yang selalu sama: bahwa hasrat akan kebebasan itu bisa dicapai melalui pemungutan suara. Dan sama seperti itu, penebusan bisa didapati dengan mencoblos atau menandai “x” di titik tertentu dalam selembar kertas kecil, lalu memasukkannya dengan penuh kesungguhan ke dalam sebuah kotak, dan menunggu sampai makhluk tak kasat mata yang disebut “suara terbanyak” itu tampil bak sebuah selubung ironis atas mereka yang sesungguhnya membuat keputusan: segelintir orang berduit.

“Masyarakat Kekuasaan,” begitu kami menyebutnya, barangkali hanya menunjukkan bahwa Kekuasaan dan praktik kiminalnya tidak bertempat dalam aparatus tradisional yang digembar-gemborkan oleh ilmu politik dan para politisi.

Ah, kelas politik dan juru bicara yang menyertainya. Seperti berjarak tahunan cahaya dari realitas, kaum politisi dari atas belum menyadari bahwa apa yang mereka kira mereka kelola sudah tidak ada lagi. Akting mereka (yang buruk) hanyalah panggung yang di belakangnya tersembunyi reruntuhan sebuah dunia… dunia mereka…

DURITO Versi π (3,14159265 dst.)
Politisi itu ibarat zombie dengan tanda bertuliskan “vegetarian radikal,” dan apapun slogan kampanye mereka, pesan yang sesungguhnya adalah: “Aku masih sama tapi kini akan bersikap baik,” kata Durito kepadaku. Ia bilang bahwa Hannibal Lecter tak lain tak bukan adalah zombie yang tahu tata krama dan punya bakat tata boga (omong-omong, dua spesialis tata boga ikut datang ke Sekolah Kecil, jelas mereka penasaran dengan bumbu-bumbu hidangan kami, “Marco’s Special,” yang tidak cocok buat vegetarian dan yang begitu berhasil sampai-sampai Ratatouille pun lewat. Menurutmu mereka ingin mencuri resep rahasia ini?)

Ya, Durito telah kembali. Ia yang mendaku diri sebagai “satu-satunya pahlawan super yang tidak memakai celana ketat, atau celana dalam di atas celana ketat... atau celana dalam sama sekali.”

Sudah berhari-hari ini Durito ngotot bahwa kini gilirannya untuk angkat bicara. Menanggapi bantahanku bahwa banyak orang sudah tidak ingat lagi padanya dan lebih banyak orang lagi yang bahkan tidak tahu dia ada, Durito memberiku kartu nama ini dan memintaku menerbitkannya. Karena dia ngotot, aku sisipkan di sini, kalau-kalau ada orang ga jelas (bisa lelaki bisa perempuan, jangan lupa kesetaraan gender) memutuskan untuk menggunting dan menyimpannya:

Don Durito dari Lacandón K.K. d. T.L. d. (t)T. (t)B.

Ksatria Kelana.

Daun Huapác No. 69.

Pegunungan Meksiko Tenggara.

Ini tidak beres, jadi aku tanya apa-apaan itu artinya “K.K. d. T.L. d. (t)T. (t)B.” dan ia menjawab: “Ksatria Kelana dengan Tunggangan Limbung dan Tiada Tanggungjawab Tanpa Batas.” 

Aku beritahu dia bahwa tak ada lagi orang yang pakai kartu nama saat ini, sekarang adanya “blog,” “profil,” dan yang setara dengan itu di jagat maya. Menanggapi keberatanku, Durito mengambil lagi kartunya, menggoreskan sesuatu di situ dan memberikannya balik padaku. Sekarang bunyinya:

Don Durito Dot Com.

Ksatria kelana dan Seniman Cyber Graffiti.
Pada tanda w (tiga kali) titik #yosoy69yomiyomi.

(Bersedia menggraffiti tembok Facebook dan lain-lainnya. Biaya nol.)

Versi 7.7 bis

Unduh gratis hanya untuk linux.

Katakan ya untuk software gratisan.

Tentu saja aku tidak lagi bertanya apa arti semua itu.

Nah, masalahnya Durito memberitahuku, momen apa lagi yang paling tepat bagi kemunculannya kembali ketimbang saat sejumlah kecil orang, segelintir malah, dari kalender dan geografi yang begitu terpencar-pencar sedang menunggu dimulainya kelas-kelas belajar di Sekolah Kecil Zapatista?

Bagi mereka yang belum mengenalnya atau tidak ingat padanya, (atau mereka yang, seperti penulis teks ini, berusaha melupakannya), Durito itu seekor kumbang. Memang bukan sembarang kumbang. Ia menyebut diri ksatria kelana (dan doyan mendeklamasikan separagraf penuh kutipan dari Don Quixote). Ia membawa jepitan kertas yang diluruskan seadanya sebagai lembing, potongan kulit buah cacaté sebagai topi baja, tutup botol obat sebagai tameng, dan sebilah pedang yang –nah, yang ini butuh penjelasan sedikit—sebab pedangnya tak lain tak bukan adalah “Excalibur” (meski terlihat mirip sekali dengan ranting kecil). Lebih-lebih lagi, tunggangannya bukan kuda, tapi kura-kura kecil sejempol kaki yang ia namai “Pegasus” (“sebab rasanya seperti terbang saat ia benar-benar ngebut,” Durito menjelaskan).



Durito, atau Don Durito dari Lacandón, berkata bahwa misinya –dan aku di sini cuma mentranskrip sama persis dengan yang ia diktekan padaku—adalah menantang kaum berkuasa, membela kaum tak berdaya, membangkitkan desah kaum perempuan, menjadi model poster, dan… apapun yang terbersit sepanjang jalan karena tak ada gunanya untuk menyempitkan diri sendiri, bukan? Misalnya, aku juga sedikit insinyur teknik –tukang batu separuh sendok teh—, tukang ledeng, pelukis, penyuluh masalah-masalah romantika, apoteker, webmaster, pesulap, penikmat es krim pralin coklat kacang pikan, penulis, spesialis perawatan kecantikan termasuk membasuh, meminyaki, mengelas, mengecat, dan lain-lain. Jangan lupa beri tekanan pada “dan lain-lain.”

Jadi mempertimbangkan bahwa sama seperti jutaan orang lainnya, “konjungtur historis” ini tidak memperhitungkan kami, maka sembari menunggu hari penting dimulainya pelajaran di sekolah kecil Zapatista, Durito akan memberi kita kursus persiapan di bidang, katanya, “politik tingkat tinggi.”

Untuk itu, Durito mengaktifkan modus “Massively Multiplayer Online –MMO—” (agar semua orang mendengarnya, katanya, paling tidak semua orang di World of Warcraft dan Call of Duty), dan ia pun memulainya dengan … sepotong tweet?!

“Parpol-parpol institusional adalah bioshaker perjuangan akan kebebasan.”

(Durito memberiku senyum puas atas kemampuannya membuat ringkasan, tapi ia merasa perlu untuk mengelaborasinya, maka kita pun menderita dibuatnya …)

Untuk memahami jalannya politik kontemporer di atas, kita harus mendatangi pusat pemikirannya yang baru: media komunikasi bayaran. Harap diperhatikan pada poin ini: catat bahwa aku tidak memakai istilah yang dipakai selama ini “media komunikasi massa,” sebab ada juga media alternatif (atau media independen atau apapun sebutannya) yang juga bersifat massal dan media lainnya yang menjadi kancah pertarungan (seperti internet).

Televisi misalnya. Nyalakan TV-mu dan kau akan lihat betapa realitas meniru publisitas. Ada iklan-iklan alat-alat canggih yang bukan hanya bisa membuatmu menurunkan berat badan tapi juga memberimu bentuk badan yang yomiyomi, alias menggiurkan.

Bila kau punya alat ini, kau bisa menjejali diri dengan gorengan, tepung-tepungan, karbohidrat, hidrokarbon, gula, dan sodium benzoat dalam jumlah berlimpah, dan lebih dari itu kau bisa selonjoran di sofa atau tempat tidur atau ranjang gantung atau lantai (tak perlu dikata, kelas-kelas sosial masih ada) dan menikmati video games, novel, atau serial televisi. Hanya dalam sekian hari, kau bisa memiliki bentuk tubuh seperti lelaki atau perempuan muda yang sedang nongol di TV mendemonstrasikan betapa mudahnya memakai alat ini, yang ternyata juga bisa berguna untuk menjemur pakaian.

Baik, jadi begitulah cara kerja politik dari atas saat mereka meminta suaramu. Tidak perlu berorganisasi, atau berjuang setiap hari di mana pun untuk membangun takdirmu sendiri. Untuk itu, yang kau butuhkan hanya produk ini [si kandidat]. Dan dalam versi yang baru ini, kami telah memasang tombol reset, yang selain itu juga dilengkapi dengan sebotol kecil jel beraroma bunga-bungaan. Ia akan mengatasi apa saja. Kau cuma perlu duduk nyaman dan melihat bagaimana tawaran-tawaran kerja yang bermartabat dan kredit-kredit berbunga rendah berlimpah ruah, begitu pula sekolah-sekolah sekuler yang ilmiah dan gratis, kebudayaan tersedia dan bisa dijangkau semua orang, perumahan lengkap dengan fasilitas murah yang berfungsi, makanan bergizi, rumah-rumah sakit dilengkapi dengan baik dan personil medisnya terlatih, penjara akan dipenuhi bajingan-bajingan betulan (artinya, para bankir, pejabat, dan polisi), tanah tersedia bagi mereka yang menggarapnya dan kekayaan sumber daya alam adalah milik Bangsa. Ringkas kata, dunia yang senantiasa kau impikan, namun tanpa harus berbuat apapun kecuali mencoblos kotak kecil di surat suaramu. Tidak, kau bahkan tak perlu repot-repot mewaspadai apakah ada kecurangan atau surat suara tidak dihitung dengan semestinya, sebab kami yang akan melakukannya buat kalian!

Ah, “bioshaker” kebebasan: menurunkan berat badan tanpa bergerak (biarkan alat ini yang bekerja untukmu); meraih kebebasan tanpa berjuang (biarkan sang pemimpin yang berjuang untukmu).

Tapi sekarang, jangan matikan tevemu. Mari kita lihat di balik iklan-iklan itu. Ya, cowok-cowok berotot dan nona-nona gemulai itu tidak memakai barang yang diiklankan. Bila kau tanya mereka di balik panggung mereka akan bilang alat-alat itu percuma, mereka sendiri takkan membelinya, bahwa mereka bisa mencapai bentuk badan demikian lewat makanan sehat dan olahraga. Mengerti kan?

Nah, hal yang sama dalam politik: mereka yang benar-benar memerintah di dunia tak percaya pada demokrasi elektoral, mereka tahu betul tak ada hal fundamental yang diputuskan di sana. Mereka tahu bahwa penguasa sejati, Kekuasaan, berada di lain tempat, bersama mereka.

Tapi manakala kau siap memindah saluran teve, atau menyetel DVD “The Walking Dead” hasil produksi alternatif, tuan, nyonya, atau nona lain muncul memberitahumu agar jangan pindah saluran, bahwa kau harus memilih dirinya, bahwa kau sekarang akan benar-benar mendapatkan apa yang dibutuhkan dan layak kau dapatkan, dan guna mencapainya, lihat nih, yang perlu kau perbuat cuma menandai surat suaramu di sini di samping logo itu, ya benar!, seperti junk food

Baiklah, sekarang ujian pilihan ganda untuk bisa lulus dari kursus persiapan:

Melihat situasi di atas, kau akan...

a) Mendengarkan tuan-nyonya-nona itu dan memutuskan untuk mencobanya, barangkali sekarang ini sungguhan, yang perlu kita perbuat adalah mencoba parpol yang berbeda … dengan politisi yang sama seperti biasanya.

b) Mengganti saluran atau menekan tombol play di DVD dan memulai obrolan dengan rekanmu atau anjingmu atau kucingmu atau ketiganya sekaligus, mengapa zombie selalu kalah padahal jumlahnya jauh lebih banyak: Yah, tak selalu, sangat jarang memang / Pada akhirnya zombie yang menang / Dan di film karya Romero itu, yang dibintangi pemeran The Mentalist, di penghujung film kau lihat zombie-zombie pergi mencari tempat mereka sendiri / Ah, itu judulnya “Land of the Dead” / Ya, mereka pergi, barangkali ketakutan oleh kejamnya orang hidup / Hmm, jadi maksudmu zombie-zombie pergi untuk mendirikan kotapraja pemberontak otonom zapatista mereka sendiri? / Atau mereka pergi ke Sekolah Kecil Zapatista / Karena bisa dipastikan di sana akan penuh orang aneh-aneh / Ya, seperti kami —kata yang cowok / Kami juga, bego —sahut yang cewek / Gubrak / Oke, sekarang ciuman.

c) Kau tidak punya teve atau kau mematikannya, dan kau melihat-lihat internet untuk mencari tahu apakah sudah ada orang yang menyewa bus untuk pergi ke San Cristóbal de las Casas, Chiapas, dari tanggal 8 sampai 18 Agustus, untuk menghadiri pesta peringatan Junta Pemerintahan yang Baik, pergi ke Sekolah Kecil dan Seminar Masyarakat Adat. Sembari menyalakan komputer, kau menjajal sepatu bot mengerikan yang kata orang bakal berguna buat pergi ke Chiapas.

d) Kau tidak membaca/memahami pertanyaannya.

Evaluasi (jangan curang ya):
Bila kau memilih a, tak usah datang, kau hanya akan merasa sebal. Bila kau memilih b, jangan khawatir, kami terlihat seperti zombie juga kok… meski sedikit menyisir rambut juga tak kenapa-kenapa. Bila kau memilih c, kau perlu tahu bahwa sepatu bot itu tidak bakal ada banyak gunanya. Bila kau memilih d, mulailah lagi dari awal tulisan (bukan, bukan tulisan yang ini, tapi yang dimulai lebih dari 500 tahun lalu).

Da-da. Akhir dari kursus persiapan Durito.

-*-

Dan Zapatista, opsi apa yang akan mereka pilih? Akankah mereka memakai mesin olahraga atau makanan seimbang atau keduanya? Atau bukan keduanya—kau tahu kan bagaimana Zapatista suka membuat opsi-opsi mereka sendiri …

Barangkali kau akan mendapatkan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan ini dalam mata pelajaran “Kebebasan Menurut Zapatista.” Tapi aku tidak bisa memberi jaminan. Yang bisa dipastikan hanyalah: sekalipun jawabannya sedikit, pertanyaan bakal berlimpah.

(Ah, Durito juga membawa cerita, “sejarah anjing-kucing,” tapi buat kapan-kapan saja).

Vale. Tabik dan percayalah, segala yang layak diperbuat takkan pernah mudah, misalnya, mendaki bukit agar bisa melihat betapa cahaya bersembunyi perlahan-lahan di balik bayang-bayang pekat malam.

(bersambung)

Dari pegunungan Meksiko Tenggara
SupMarcos.
Meksiko, Juli 2013.

::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::

Tonton dan dengarkan video-video yang menyertai teks ini:

Gambar tak diedit dari Durito. Top Secret.”
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Dikarang oleh León Gieco dengan vokal Carlos Karel, lagu “Señor Durito.”
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Parodi serial teve “The Walking Dead”
::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::::
Dari plesetan populer “Hitler ngamuk”, berikut responsnya atas kampanye pemilu di Meksiko beserta kandidat-kandidat barunya... seperti el Gato Morris (catat: berisi kata-kata kasar yang mungkin tidak sopan, tapi tak satu pun yang tidak kalian dengar saban harinya di belahan bumi manapun).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar