Selasa, 02 November 2010

Tentang Menulis dan Menerjemahkan: Percakapan Mayra Montero dan Edith Grossman

“The Writing Life”, Edith Grossman dan Mayra Montero. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari The Washington Post, 25 Desember 2005.


Catatan penerjemah: The Washington Post mengundang penerjemah kawakan Edith Grossman dan novelis Kuba ternama Mayra Montero untuk saling membahas kerja mereka. Grossman telah menerjemahkan ke bahasa Inggris novelis-novelis besar Amerika Latin seperti Gabriel García Márquez, Carlos Fuentes, Mario Vargas Llosa, dan Mayra Montero sendiri, sementara terjemahan barunya atas Don Quixote diakui sebagai “masterpiece”. Grossman juga berbagi pengalamannya menerjemahkan dalam Why Translation Matters (2010), yang saya ulas di sini. Sementara Montero telah menghasilkan belasan novel, salah satunya saya ulas di sini.

Montero : Novelis Puerto Rico Luis Rafael Sánchez pernah memberitahuku bahwa kau penerjemah terbaik sedunia.

Grossman : Ay! Ay! Ay!

Montero : Aku menyuratimu sesudah Rafael Sánchez memberitahu demikian, dan kau menjawab bahwa kau sibuk sekali. Tapi akhirnya aku memperoleh perhatianmu juga.

Grossman : Ya, memang! Aku merasa karyamu memikat baik karena kecemerlangannya maupun karena asyiknya cerita-cerita yang kau kisahkan. Orang kerap mendeskripsikanmu sebagai “penulis erotis.” Tapi menurutku kau penulis erotis dalam pengertian yang sama manusia itu makhluk erotis. Dengan kata lain, kau menulis buku-buku yang sangat mendalam dengan tokoh-tokoh yang sangat kompleks, dan sensualitas mereka sungguh hidup. Unsur yang alamiah. Ada dua bukumu yang jelas-jelas lebih erotis dibanding yang lain –niat yang dikandungnya lebih erotis—tapi aku tidak percaya kalau kau pada dasarnya penulis erotis.

Montero : Aku tidak tertarik pada seks untuk seks itu sendiri dalam tulisanku. Hanya dua dari sembilan karyaku yang benar-benar erotis. Bahkan ketika kuputuskan untuk menulis tentang seksualitas, bahkan dalam variasinya yang paling gamblang, aku selalu punya katup pengaman. Aneh, mungkin gara-gara pendidikan yang kuenyam –sangat Katolik, dengan banyak suster—aku cenderung memperhalus seks dengan humor dalam dosis yang cukup kentara.

Grossman : Tak ada orang yang bisa jujur menulis tentang manusia bila membuang seksualitas dari gambarannya. Kukira orang tercengang oleh perempuan yang menulis tentang seksualitas, maka dari itu barangkali ciri-ciri atau momen-momen erotis bercokol lebih lama dalam benak orang ketimbang bila penulis pria yang menuliskannya. Menurutmu bagaimana?

Montero : Aku sependapat sepenuhnya.

Grossman : Aku penasaran: bagaimana perasaanmu ketika pertama kali membaca terjemahan Inggrisku atas karyamu?

Montero : Seperti berdiri di depan cermin. Aneh. Aku masih bisa merasakan ritme, kaitan, jiwa ceritaku sendiri, seperti jantung bergedup di dalam teks.

Grossman : Kau  mendapati sesuatu yang mencerahkan ketika membaca karya sendiri dalam bahasa lain? Adakah sesuatu dalam karyamu sendiri yang jadi lebih terang?

Montero : Ya! Aku melihat ide yang terkandung dalam novel itu sendiri dalam pengertian lain. Hal-hal menakjubkan terkuak. Yang mengejutkan adalah aku bisa menemukan titik tolaknya dengan segera. Seakan-akan kubawa seisi novel itu dalam kepalaku. Tiba-tiba aku bisa mengingat dengan sempurna apa yang kutulis dalam bahasa Spanyol, sekalipun mungkin aku tak bisa mengucapkannya.

Grossman : Jadi bila ada perbedaan atau pengubahan sedikit pun kau bisa langsung tahu. Itu menarik dan sedikit membingungkan. Adakah sesuatu dalam buku aslinya yang terubah gara-gara terjemahannya?

Montero : Yah ... judulnya, yang jelas. Judul adalah bagian yang sangat penting dari buku manapun. Judul adalah pintu cerita. Atas alasan inilah, aku selalu merasa sedikit segan mengubah apapun. Misalnya, Tu, la oscuridad harusnya You, Darkness, tapi malah diganti jadi In the Palm of Darkness yang sama sekali berbeda. Dan Como un mensajero tuyo, yang harafiahnya “like your own messenger” atau “like a messenger sent by you” –larik syair karya Giuseppe Ungaretti, penyair Italia—diganti jadi The Messenger yang sangat kering. Aku tidak senang dengan ini, tapi judul buku berbahasa Inggris untuk pasar Amerika dipengaruhi oleh banyak faktor, dan penerbit mana pun mengalami tekanan komersil, lalu menyesuaikan judulnya menjadi apa saja yang menurut mereka bisa membuat suatu buku jadi laris.

Grossman : Jadi kau menganggap judul sebagai pintu masuk cerita; apakah kau melihat terjemahan sebagai rumah yang sama yang kau bangun saat kau menuliskan novel?

Montero : Aku tak pernah membaca terjemahan sampai draft pertamanya selesai.

Grossman : Ya, aku tak pernah mengobrol dengan penulis saat tengah-tengah menerjemahkan karyanya. Ada alasannya: aku mau terjemahanku berasal dari persepsi mandiriku atas teks itu.

Montero : Bagus sekali. Dengan begitu kau tak punya bayangan-bayangan yang sudah terbentuk terlebih dulu soal buku itu, tak ada percakapan dengan penulisnya. Sama sekali! Kau mendekatinya seperti pembaca manapun.

Grossman : Dan aku selalu lebih memilih kerja sendirian, tanpa si penulis, sampai rampung. Baru sesudahnya aku senang penulis ikut terlibat. Selalu ada banyak penghalusan yang perlu dibuat. Misalnya: kadang aku bertanya-tanya soal “aksen” Karibia dalam tulisanmu, Mayra. Aku tidak berusaha menangkap “aksen”. Aku mencoba menciptakan bahasa Inggris yang mencerminkan bahasa Spanyol. Maka “aksen” dalam bahasa Spanyol –dalam hal ini, logat khas Karibia—dalam satu pengertian bukanlah urusanku. Inggrislah yang jadi urusanku. Misalnya, tingkat berbahasa Inggris yang diucapkan masing-masing karakter—aku perlu menakar itu dengan cermat.

Montero : Aku ini sangat Karibia, dan tidak mudah menangkap hakikat Karibia itu. Kau ingat ketika kita menggarap novel baruku, Dancing to Almendra? Kita harus banyak bertelepon membicarakan beberapa ungkapan. Itu novel yang penuh dengan bahasa prokem, terutama prokem “jerga” khas Kuba yang mengandung dialek Afrika, Spanyol, bahkan Cina.

Grossman : Penting kiranya agar terjemahannya “terasa” sama dan punya ritme yang sebanding—itu lebih penting daripada kepersisan literal kata per kata. Tapi aku ingin tahu: kau baca penulis-penulis berbahasa Inggris?

Montero : Tentu saja. Waktu masih remaja, Edgar Allan Poe favoritku, barangkali karena aku rentan kena mimpi buruk. Sepanjang tahun-tahun itu aku juga membaca Truman Capote, Hemingway, Steinbeck, dan banyak, banyak sekali, penulis Rusia dalam terjemahan Spanyol. Ingat bahwa aku besar di Kuba saat Soviet menjadi sekutu kami: kubaca Gorky, Chekhov, Mayakovsky. Kubaca juga banyak puisi pada masa-masa itu.

Beberapa tahun belakangan, aku baca buku-buku berbahasa Inggris tentang voodoo, yang sangat menarik minatku, seperti karya Alfred Metraux, Voodoo in Haiti, kitab sucinya voodoo. Atau buku tentang racun-racun voodoo karya Wade Davis, Passage of Darkness. Ada lagi yang sangat penting buatku, Divine Horsemen karya Maya Deren. Ia penari dan sutradara film Amerika yang pergi ke Haiti pada 1950-an dan menetap di sana untuk waktu yang lama. Ia menulis buku bagus tentang pengalamannya.

Sekarang aku mencoba membaca fiksi dalam bahasa Inggris ... sungguh aku mencoba ... Percayalah, aku bisa membaca bahkan menulis Inggris lebih bagus ketimbang menuturkannya!

Grossman : Itu terjadi pada semua orang yang belajar bahasa asing: mereka lebih mahir membaca daripada menuturkannya. Jadi, siapa penulis berbahasa Inggris favoritmu?

Montero : Poe. Joseph Conrad. Jack London.

Grossman : Jack London—menarik sekali. Kukira bintangnya sudah meredup di Amerika Serikat. Dan Poe, puisi atau prosanya?

Montero : Prosanya. Poe sesungguhnya pengaruh sastra terbesarku. Sesudahnya, Horacio Quiroga, Julio Cortázar dan terutama penulis Kuba Alejo Carpentier. Carpentierlah yang terus aku baca dan baca ulang. El siglo de las luces adalah novel favoritku. Aku juga mencari penulis-penulis baru, suara-suara baru, terutama dari bahasa Spanyol karena aku menulis dalam bahasa itu — Antonio Muñoz Molina yang tinggal di New York, dan penulis Cile Roberto Bolaño yang meninggal dua tahun lalu. Tapi aku ingin tahu, bagaimana caramu menemukan suara itu dalam bahasa lain ketika seorang penulis mempunyai suara yang khas dalam bahasa mereka sendiri?

Grossman : Yah, itulah kerjaan penerjemah. Mereka mencoba menemukan suara dalam bahasa Inggris yang pas dengan suara dalam bahasa Spanyol, atau bahasa apapun. Atau setidaknya, begitulah kerjaanku. Atau tak tahu pasti bagaimana aku melakukannya. Aku dengar Spanyol dan aku mulai “menuturkan” Inggrisnya dalam batin. Aku tak tahu cara lain untuk menjelaskan proses ini. Sekalipun kau penulis dan aku penerjemah, dalam pengertian yang sangat riil kita berdua sama-sama menulis buku. Aku menulisnya dalam bahasa lain. Aku mengikutimu. Aku tak perlu menghadapi kertas kosong, namun toh aku tetap menulis.

Montero : Menurutku jadi penerjemah itu sulit, justru karena kau tak harus menghadapi halaman kosong. Menatap halaman penuh bisa sangat sulit. Lalu ada masalah tambahan ketika seorang penulis mengganti gaya atau muatannya buku demi buku.

Grossman : Ya. Namun denganmu kedua hal itu tetap sama. Yang pertama adalah caramu memperlakukan bahasa. Presisi, puitis, kuat. Lalu pandanganmu tentang manusia dan tentang kondisi kemanusiaan selalu bisa dikenali. Aku berkata pada seseorang bahwa buku-bukumu kerap mengingatkanku akan Graham Greene — ada suatu kesan akan tatanan moral di semesta ini yang harus kita patuhi.

Montero : Aku lupa siapa yang berkata bertahun-tahun lalu bahwa pada dasarnya seorang penulis cuma menulis satu buku saja sepanjang hidupnya dengan judul yang berbeda-beda, tokoh yang berbeda-beda—dan aku sependapat dengan itu. Kukira, setidaknya buatku, aku cuma menuturkan satu kisah dengan segala jenis putaran dan kelokannya.

Grossman : Benar. Seperti musik. Kau bisa tahu siapa pengarang lagunya sesudah satu atau dua bar karena cirinya yang sangat khas. Kubaca satu atau dua paragraf dari seorang penulis, dan aku tahu persis siapa yang sedang kubaca. Sama seperti saat kau mendengar Miles Davis dan tak mungkin mengira ia Dizzy Gillespie, atau mengira Mozart sebagai Ives, sulit merancukan tulisanmu dengan, misalnya, Mario Vargas Llosa.

Montero : Kau tahu, musisi sebagaimana penulis selalu mencari bahasa ucap mereka sendiri. Tapi ini lebih dari sekadar bahasa. Ini ada kaitannya dengan etik dan estetik.

Grossman : Etik dan estetik. Yang membawa kita balik pada apa yang kita bicarakan sebelumnya mengenai bahasa dan cerita: apa sesungguhnya yang ingin dibilang seorang penulis tentang dunia, dan bagaimana ia mengungkapkan visi tersebut? Etik dan estetik—campuran keduanya adalah hakikat dari segala kesenian, ya kan? Bagi penulis maupun bagi penerjemah.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar