Rabu, 17 November 2010

Menulis sebagai Laku Pengharapan, oleh Isabel Allende


“Writing as an Act of Hope,” Isabel Allende. Disampaikan pertama kali sebagai ceramah di The New York Public Library. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari William Zinzer (ed.), Paths of Resistance: The Art and Craft of The Political Novel (Boston: Houghton Mifflin, 1989), hlm. 39-63.



Dalam setiap wawancara selama beberapa tahun belakangan ini kudapati adanya dua pertanyaan yang memaksaku merumuskan diri baik sebagai penulis maupun manusia: mengapa aku menulis? Dan, untuk siapa aku menulis? Malam ini akan kucoba menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut.

Pada 1981, di Caracas, kupasang selembar kertas di mesin tik dan menulis kalimat pertama La casa de los espíritus (Rumah Arwah): “Barrabás tiba di keluarga kami lewat laut.” Pada waktu itu aku tak tahu mengapa aku melakukannya, atau untuk siapa. Malah aku mengira takkan ada orang yang bakal membacanya selain ibuku, yang membaca apa saja yang kutulis. Aku bahkan tidak sadar tengah menulis novel. Kukira aku sedang menulis surat—surat batin untuk kakek, seorang patriark sepuh yang disegani, yang sangat aku sayangi. Umurnya hampir 100 tahun dan ia memutuskan dirinya sudah terlampau letih untuk terus hidup, jadi ia pun duduk di kursi goyangnya, tak mau makan dan minum, memanggil-manggil Elmaut, yang cukup bermurah hati untuk lekas menjemputnya.

Aku ingin berpamitan padanya, tapi aku tak bisa pulang kembali ke Cile, dan aku tahu bahwa meneleponnya percuma saja, jadi kumulailah surat ini. Aku ingin memberitahunya bahwa ia bisa pergi dengan damai sebab segala ingatannya bersemayam dalam diriku. Aku tak melupakan apapun. Aku menyimpan semua anekdotnya, tentang semua anggota keluarga, dan untuk membuktikannya aku mulai menulis kisah tentang Rosa, tunangan kakek dulu, yang disebut Rosa si Jelita dalam buku. Rosa ini benar-benar ada, bukan tiruan dari García Márquez seperti yang diklaim beberapa orang.

Selama setahun aku menulis saban malam tanpa terburu-buru dan tanpa rencana. Kata-kata menderas keluar seperti arus yang ganas. Ada ribuan kata tak terucap tersangkut di dada, menyesakkan. Kesunyian panjang dalam hidup pelarian mengubahku jadi batu, aku perlu membuka katup dan membiarkan arus kata-kata terpendam ini menemukan jalan keluar. Pada akhir tahun itu, sudah jadi 500 halaman ketik di meja, tidak lagi terlihat laiknya surat. Sementara itu, kakek telah meninggal jauh sebelumnya, jadi pesan batin ini telah sampai kepadanya. Maka aku pun berpikir, “Nah, mungkin dengan cara ini aku bisa bercerita pada orang-orang lain tentangnya, dan tentang negeriku, tentang keluarga dan diriku.” Jadi kurapikan sedikit lagi, kuikat manuskrip itu dengan pita merah jambu agar beruntung, dan kubawa ke beberapa penerbit.

Arwah nenek melindungi buku ini sejak awalnya, jadi di semua tempat di Venezuela naskah ini ditolak. Tak ada yang mau menerbitkan—kepanjangan, aku perempuan, tak ada yang kenal. Jadi kuposkan saja ke Spanyol, dan buku itu pun terbit di sana. Ada yang mengulasnya, lalu diterjemahkan dan terbit di negara-negara lain.

Dalam proses menuliskan anekdot-anekdot dari masa lalu, mengenang emosi-emosi serta pedihnya nasibku, dan mengisahkan bagian tentang sejarah negeriku, kurasakan hidup ini jadi lebih bisa dipahami dan dunia terasa lebih mudah ditanggung. Aku merasa akarku telah dipulihkan dan dalam olah kesabaran untuk menulis tiap hari aku juga memulihkan jiwaku. Aku merasa pada waktu itu menulis jadi tak terelakkan—bahwa aku tak bisa jauh-jauh darinya. Menulis itu begitu nikmat, senantiasa menjadi orgi pribadi, mencipta dan mencipta ulang dunia seturut kaidah-kaidahku sendiri, mengisi halaman-halaman itu dengan mimpi-mimpi dan mengusir pergi apa-apa yang menghantuiku.

Tapi itu penjelasan yang rada gampangan. Ada alasan-alasan lain untuk menulis.

Enam tahun dan tiga judul buku telah berlalu sejak Rumah Arwah. Banyak hal telah berubah dalam diriku selang waktu-waktu itu. Aku tidak bisa lagi sok naif, mengelak dari pertanyaan-pertanyaan, atau berlindung dalam ironi. Sekarang aku terus menerus ditantang oleh pembacaku, dan mereka bisa sangat keras. Tidak cukup lagi menulis dalam keadaan kerasukan, diliputi hasrat menuturkan sebuah kisah. Orang harus bertanggung jawab atas setiap patah kata, setiap gagasan. Hati-hatilah: kata tertulis tak bisa dihapuskan.

Aku mulai menerima makalah-makalah akademis dari universitas-universitas di Amerika mengenai simbol-simbol dalam bukuku, atau soal majas-majasnya, warna-warnanya, nama-namanya. Makalah-makalah ini selalu membuatku ketakutan. Aku baru saja menerima tiga makalah berbeda perihal Barrabás, si anjing. Salah satunya menyebut bahwa Barrabás menyimbolkan keluguan Clara, karena ia menemani Clara sepanjang masa mudanya, dan ketika Clara jatuh cinta, secara simbolis anjing ini pun mati dalam genangan darah. Sepertinya ada makna tindakan seksual di situ. Makalah kedua menyebut bahwa anjing itu melambangkan represi (militer), dan makalah ketiga mengatakan bahwa ia adalah sisi lelaki Clara, makhluk besar nan gelap yang tersembunyi dalam dirinya. Padahal, Barrabás hanyalah seekor anjing yang memang kupunyai di rumah. Dan ia mati seperti diceritakan dalam buku. Namun tentu terdengar lebih canggih untuk menjawab bahwa Barrabás menyimbolkan keluguan Clara, jadi begitulah penjelasan yang kuberikan manakala ada yang bertanya.

Barangkali alasan terpenting untuk menulis adalah mencegah erosi waktu, agar kenangan-kenangan tak hilang tersapu angin. Menulis untuk mencatat riwayat dan menamai setiap hal. Menuliskan apa yang seyogyanya tak terlupakan. Tapi lantas mengapa menulis novel? Barangkali karena aku berasal dari Amerika Latin, negeri penuh orang gila yang gilang gemilang, gonjang ganjing geologis dan politis—tanah yang begitu luas dan mendalam, indah dan menakutkan, sampai-sampai hanya novel yang bisa menjabarkan kompleksitasnya yang memukau.

Novel itu ibarat jendela, membuka ke arah lanskap tak berkesudahan. Dalam novel kita dapat memasukkan semua interogasi, kita bisa sampaikan hal yang paling megah, yang paling keji, yang paling cabul, fakta-fakta luar biasa atau menakjubkan—yang, di Amerika Latin, bukanlah hiperbola, sebab itulah dimensi realitas kami. Dalam novel kita dapat memberi tatanan khayali pada yang kacau-balau. Kita bisa menemukan kunci pada labirin sejarah. Dalam novel kita dapat menggunakan apa saja: testimonial, kronik, esai, fantasi, legenda, puisi, dan sarana-sarana lain yang bisa membantu kita memecahkan misteri dunia kita dan mendapati jatidiri kita yang sejati.

Bagi seorang penulis yang memupuk dirinya dengan citra-citra dan hasrat-hasrat, terlahir di sebuah benua yang ajaib merupakan suatu privilese. Di Amerika Latin kita tak perlu mengulur imajinasi kita. Para kritikus di Eropa dan Amerika Serikat kerap menatap tak percaya pada karya-karya dari Amerika Latin, bertanya bagaimana para penulisnya berani mengarang-ngarang kebohongan dahsyat tentang perempuan muda yang terangkat ke langit berbalut seprei lenan; tentang kaisar-kaisar hitam yang membangun benteng dengan semen dan darah banteng kebiri; tentang para buronan yang mati kelaparan di Amazon dengan tas-tas ransel penuh batu giok; tentang tiran-tiran purba yang memerintahkan agar ibunya dicambuk telanjang di hadapan pasukan dan tiran-tiran modern yang memerintahkan agar anak-anak disiksa di hadapan orang tua mereka; tentang angin ribut dan gempa bumi yang menjungkirbalik dunia; tentang revolusi yang digerakkan dengan parang, pelor, puisi, dan ciuman; tentang lanskap-lanskap halusinatif di mana akal sehat menghilang.

Susah sekali menjelaskan pada para kritikus ini bahwa hal-hal tersebut bukanlah hasil dari imajinasi patologis kami. Mereka tertulis dalam sejarah kami; kita bisa menjumpainya setiap hari di surat-surat kabar. Kita mendengarnya di jalanan; kami kerap mengalaminya dalam kehidupan kami sendiri. Mustahil membicarakan Amerika Latin tanpa menyinggung-nyinggung soal kekerasan. Kami menghuni negeri penuh kontras-kontras yang menyesakkan dan kami harus bertahan hidup pada masa-masa penuh kekerasan akbar.

Kontras dan kekerasan, dua bumbu mujarab untuk sastra, sekalipun bagi kami, warga penghuni realitas tersebut, hidup senantiasa bergelantung dari benang yang sangat rapuh.

Bentuk pertama yang paling telanjang dan kentara dari kekerasan itu adalah kemiskinan ekstrem banyak orang, kontras dengan kekayaan ekstrem segelintir orang. Di benuaku dua realitas yang saling bertentangan ini hadir bersama-sama. Yang satu adalah paras resminya, yang lebih mudah dicerna dan dengan pretensi mewakili martabat dan peradaban. Yang satunya lagi adalah parasnya yang gelap dan tragis, yang tidak suka kami tunjukkan namun selalu mengancam kami. Ada dunia penampakan dan dunia nyata—perumahan-perumahan mewah di mana anak-anak kecil berambut pirang bermain sepeda dan para pembantu mengajak jalan-jalan anjing-anjing yang anggun, serta perumahan satunya, pemukiman kumuh dan penuh sampah, di mana anak-anak berkulit gelap bermain-main dengan anjing-anjing kelaparan. Ada kantor-kantor bermarmer dan berbesi baja di mana para eksekutif muda mengobrol soal bursa saham, dan desa-desa terlupakan di mana orang-orangnya masih terus hidup dan mati seperti di Abad Pertengahan. Ada dunia fiksi yang dibentuk oleh wacana resmi, dan dunia lainnya yang penuh darah, duka, dan cinta, tempat kami bergelut selama berabad-abad.

Di Amerika Latin kami semua bertahan hidup di garis batas antara kedua realitas tersebut. Sistem demokrasi kami yang rapuh tetap berlanjut asalkan tidak mencampuri kepentingan-kepentingan kaum imperialis. Sebagian besar republik kami didirikan di atas kepatuhan. Kelembagaan dan hukum-hukum kami tak efisien. Angkatan bersenjata kami kerap bertindak bak tentara bayaran kelompok sosial berpunya yang mengirim upeti ke perusahaan-perusahaan transnasional. Kami sedang hidup di tengah krisis ekonomi, sosial, dan politik terparah sejak penaklukan benua Amerika oleh orang Spanyol. Nyaris tak sampai dua atau tiga pemimpin tulen di seluruh benua ini. Ketimpangan sosial makin menganga tiap hari, dan demi menghindari meledaknya kemarahan publik, represi juga menghebat dari hari ke hari. Kejahatan, narkoba, penderitaan, dan kebodohan hadir di setiap negara Amerika Latin, dan kaum militer adalah ancaman langsung bagi masyarakat dan pemerintahan sipil. Kami mencoba menegakkan kepala sekalipun kaki kami terbenam dalam kubangan kekerasan, eksploitasi, korupsi, teror negara, dan teror kelompok-kelompok yang mengangkat senjata melawan status quo.

Tapi Amerika Latin juga tanah penuh asa, persahabatan, dan cinta. Para penulis mengarungi perairan beriak ini. Mereka tidak tinggal di menara gading; mereka tidak dapat memisahkan diri dari realitas yang brutal ini. Dalam lingkungan seperti ini tak ada waktu dan niat untuk melakukan sastra yang narsistik. Hanya sedikit sekali dari para penulis kami yang merenungi perut mereka dalam monolog batin yang egois. Mayoritas penulis kami mati-matian ingin berkomunikasi.

Aku merasa bahwa menulis adalah laku pengharapan, semacam komuni dengan sesama. Penulis dengan niat baik membawa lentera untuk menerangi sudut-sudut gelap. Hanya itu, tak lebih—seberkas cahaya kecil untuk menunjukkan sisi tersembunyi realitas, untuk turut mengurai dan memahaminya, dan dengan demikian, andai bisa, mencetuskan perubahan dalam kesadaran pembaca. Penulis jenis ini tidak tergoda oleh bujuk rayu ketenaran atau lingkungan-lingkungan sastra yang eksklusif. Kedua kakinya berpijak teguh pada tanah dan berjalan bergandengan dengan orang-orang di jalan. Ia tahu bahwa lenteranya hanya seupil dan kegelapan amatlah luas. Hal ini membuatnya rendah hati.

Tapi sama halnya janganlah kita percaya bahwa sastra memberi kita kuasa jenis apapun, jangan pula kita lumpuh oleh kerendahhatian palsu. Kita harus terus menulis sekalipun memar-memar dan kebungkaman meluas kerap meliputi kita. Buku bukanlah tujuan itu sendiri; buku hanyalah cara untuk menjamah seseorang, jembatan yang menjulur melintasi ruang penuh kesendirian dan kekelaman, dan kadang merupakan cara merebut dukungan orang pada apa yang kita perjuangkan.

Aku mempercayai prinsip-prinsip dan nilai-nilai tertentu: cinta, kemurahan hati, keadilan. Aku tahu kedengarannya kuno. Namun demikian, aku meyakini nilai-nilai tersebut dengan amat teguh sampai aku sudi bila ada yang tersenyum mengejek. Aku yakin kita punya kapasitas untuk membangun dunia yang lebih ramah—dan bahwa melakukan hal itu adalah alternatif kita satu-satunya, karena kesetimbangan yang ada sekarang amatlah ringkih. Kita diberitahu, bahwa dalam sastra optimisme itu berbahaya; optimisme menjurus ke penyederhanaan dan merupakan pelanggaran terhadap kaidah-kaidah keramat nalar dan selera tinggi. Tapi aku tidak termasuk dalam golongan intelektual putus asa itu. Putus asa adalah perasaan yang melemahkan. Hanya lawan-lawan kita yang diuntungkan olehnya.

Novel keduaku, De amor y de sombra (Cinta dan Bayang-bayang), berkisah tentang desaparecidos (orang hilang). Berlatar pada pembantaian politik yang berlangsung di Cile selama kudeta militer 1973 yang mengakhiri 150 tahun demokrasi, novel itu mengecam represi dan kekebalan hukum para pelaku pembunuhan, dan mendapat sambutan hangat sebagian besar pembaca dan kritikus. Tapi juga mengundang kecaman keras. Ada yang bilang novel itu terlampau politis dan sentimentil dan tidak begitu obyektif, seolah-olah orang bisa berlaku obyektif menghadapi kejahatan rezim diktator. Mungkin para kritikus ini akan memaafkanku, sebagaimana penulis-penulis lain dimaafkan, bila buku iu cuma bercerita tentang kengerian dan kepahitan. Mereka tidak suka bahwa dalam novel itu solidaritas dan harapan berjaya di atas kematian dan penyiksaan. Bila tokoh-tokoh utamanya, Irene dan Francisco, tewas di bilik penyiksaan, atau paling tidak bila pengalaman keji yang mereka derita menenggelamkan mereka dalam keputusasaan dan melumat selamanya kemampuan mereka untuk mencintai dan bermimpi, para kritikus ini mungkin akan lebih bisa menerimanya. Bahwa cinta bisa lebih kuat mengalahkan kebencian jelas-jelas susah diterima dalam sastra, sekalipun dalam hidup hal ini sering terjadi.

Bila karya-karyaku digolongkan politis, kuharap pembaca mendapati bahwa mereka politis bukan hanya karena alasan-alasan ideologisnya, tapi juga karena pertimbangan-pertimbangan lain yang lebih subtil. Mereka bersifat politis justru karena Alba Trueba dalam Rumah Arwah, yang telah diperkosa, disiksa, disilet, mampu berdamai dengan kehidupan; karena Irene dan Francisco dalam Cinta dan Bayang-bayang, tetap bercinta sekalipun teror mengepung mereka; karena dalam novel ketigaku, Eva Luna, Eva mengalahkan rintangan-rintangan takdirnya dengan kemurahan hati dan keterbukaan; karena tokoh-tokoh ini mencari kebenaran dan punya nyali untuk merisikokan nyawa mereka.

Kurasa aku punya ambisi diam-diam untuk jadi penulis besar, yang mampu mengarang cerita-cerita yang bakal tahan deraan zaman dan penilaian sejarah. Ya, aku tahu ini sangat pretensius! Tapi aku lebih tertarik menyentuh pembacaku, sebanyak mungkin, pada tataran spiritual dan emosional. Melakukan hal ini dari sudut pandang yang feminin adalah tantangan indah dalam masyarakat tempatku hidup. Sastra politik yang mulai diciptakan oleh beberapa penulis perempuan begitu revolusionernya sampai-sampai tak heran bila banyak kritikus ketakutan. Kaum perempuan mempertanyakan satu set nilai-nilai yang telah menopang masyarakat manusia sejak kera pertama berdiri dengan kedua kaki dan mengarahkan pandangan mereka ke langit. Setelah berabad-abad kesunyian, kaum perempuan menggempur lingkaran sastra yang eksklusif lelaki. Tentu saja beberapa perempuan telah melakukannya sebelumnya, bertarung melawan rintangan-rintangan berat. Namun sekarang separuh dari novel-novel yang terbit di Eropa dan Amerika Serikat ditulis oleh perempuan. Saudari-saudari kita memakai kata-kata tertajam untuk mengubah aturan yang senantiasa harus kita patuhi. Sampai sekarang, umat manusia menata diri seturut prinsip-prinsip tertentu yang dianggap bagian dari alam: kita semua lahir, konon kabarnya, dengan suatu dosa asal; pada dasarnya kita semua jahat, dan tanpa kontrol ketat agama dan hukum kita semua akan saling memangsa seperti kanibal; kekuasaan, penindasan, dan hukuman perlu untuk menjaga agar kita tetap lurus. Menurut teori-teori ini, bukti terbaik dari hakikat kita yang menyimpang itu adalah kondisi dunia sebagaimana adanya sekarang—batu bulat tersesat dalam mimpi buruk kosmik, di mana kesemena-menaan, perang, ketimpangan, dan kebencian merajalela.

Namun sekelompok kecil perempuan dan pemuda kini sedang melancarkan pernyataan-pernyataan paling memukau. Untungnya, sebagian besar dari mereka bekerja di universitas-universitas terbaik, jadi sekalipun mereka cuma segelintir, suara mereka punya gaung yang besar. Orang-orang ini mempertanyakan segala sesuatu, mulai dari citra diri kita sendiri sebagai manusia. Sampai kini, kaum lelakilah yang memutuskan nasib planet naas ini, menganggap ambisi, kuasa, dan individualisme sebagai keluhuran (Tentu mereka tidak mengakuinya; jelas lebih apik bicara tentang perdamaian dan kerjasama). Nilai-nilai ini juga hadir dalam sastra. Kritikus, sebagian besar dari mereka lelaki, sebagaimana bisa Anda tebak, telah memutuskan apa yang bagus dalam sastra –apa yang berharga atau artistik, menurut pola estetik, intelektual, dan moral kita—dan mengabaikan separuh umat manusia yang perempuan, yang opininya tentang hal ini atau hal-hal lainnya tidak menarik perhatian mereka.

Kurasa sudah waktunya merevisi situasi ini. Tapi bukan para Punggawa Lama yang akan melakukannya. Ini akan dilakukan oleh kaum perempuan dan para pemuda yang tak rugi apa-apa dan karenanya tak takut apa-apa.

Dalam proses menganalisa buku, para kritikus telah mengajukan segala jenis eksperimen literer, sebagian di antaranya sungguh tak bisa ditolerir. Berapa banyak buku yang coba Anda baca akhir-akhir ini dan tak sanggup lewat dari 15 halaman karena mereka jelas-jelas membosankan? Teknik-teknik sastra yang flamboyan memenangkan penghargaan sekalipun temanya jeleknya bukan main. Nilai-nilai yang paling busuk dipuja-puja bila tekniknya apik. Dusta, kepahitan, dan arogansi dimaafkan bila bahasanya orisinal dan penulisnya sudah mendapat gelarnya. Pesimisme sedang tren.

Tapi banyak novel yang tidak masuk ke dalam pola tersebut kini sedang ditulis oleh para perempuan dan beberapa lelaki pemberani, dan tidak semuanya muda—misalnya, García Márquez menulis buku dahsyat yang sentimentil itu, El amor en los tiempos del cólera (Asmara Semasa Kolera), yang merupakan semacam telenovela memukau tentang dua orang sepuh yang jatuh cinta, dan mereka saling cinta selama 80 tahun. Luar biasa.

Para penulis ini mengguncang blantika sastra belakangan karena mereka mengajukan serangkaian nilai-nilai yang serba baru. Mereka tidak lagi menerima aturan-aturan lama. Mereka sudi mengkaji apapun—mencipta lagi dari mula dan mengekspresikan nilai-nilai etis dan estetis yang berbeda; tidak senantiasa mengganti yang sudah ada, namun melengkapinya. Ini bukan perkara mengganti chauvinisme lelaki dengan feminisme militan, namun sama-sama memberi peluang pada perempuan maupun lelaki untuk menjadi orang-orang yang lebih baik dan sama-sama berbagi beban berat planet ini. Aku yakin inilah sastra politik yang sejati di zaman kita.

Semua sistem politik, termasuk revolusi-revolusi, dicipta dan disetir oleh lelaki, selalu dalam rezim patriarkal. Gerakan-gerakan filosofis yang penting telah berusaha mengubah manusia dan masyarakat, namun tanpa menyentuh dasar relasi antar manusia, artinya: ketimpangan antar jenis kelamin. Para penulis pria dari segala zaman telah menggoreskan sastra politik, mulai Utopia sampai parodi, namun nilai-nilai feminin dicemooh dan para perempuan tak diberi suara untuk mengungkapkannya.

Sekarang, pada akhirnya, kaum perempuan melabrak aturan kebisuan dan bersuara lantang mempertanyakan dunia. Ini sebuah kataklisme. Inilah kesusastraan baru yang berani bersikap optimistis—bicara tentang cinta alih-alih pornografi, tentang welas asih menentang kekejaman. Inilah sastra yang tidak takut akan bahasa sehari-hari, bersikap sentimentil bila perlu; sastra yang mencari dimensi spiritual dari realitas, yang mengamini adanya yang-tak-terpahami dan yang-tak-terjelaskan, kekalutan dan teror; sastra yang tak punya jawab, hanya pertanyaan; sastra yang tidak mengarang sejarah atau mencoba menjelaskan dunia semata-mata dengan nalar, namun juga mencari pengetahuan melalui perasaan dan imajinasi. Mungkin, sastra yang seperti ini berkata, tidaklah benar bahwa manusia itu jahat dan menyimpang. Mungkin gagasan tentang dosa asal adalah kesalahan parah. Mungkin kita tidak lahir ke dunia untuk dihukum, karena sang dewata mencintai kita dan sudi memberi kita peluang untuk mengurai sandi-sandinya dan menelusuri jalan-jalan baru.

Dampak buku-buku ini sulit diukur, sebab instrumen-instrumen lama tak lagi berguna. Barangkali karya sastra terkuat yang ditulis belakangan ini adalah karya orang-orang yang tak terlindungi oleh sistem: kulit hitam, Indian, homoseksual, pelarian, dan terutama, perempuan—orang-orang gila di dunia ini, yang berani mempercayai kekuatan mereka sendiri. Kami berani berpikir bahwa umat manusia tidak akan saling menghancurkan, bahwa kita punya kapasitas mencapai kesepakatan, bukan hanya untuk bertahan hidup namun untuk meraih kebahagiaan. Itu sebabnya kami menulis—sebagai laku solidaritas antar manusia dan komitmen pada masa depan. Kami ingin mengubah aturan, sekalipun umur kami tak cukup panjang untuk melihat hasilnya. Kami harus membuat revolusi jiwa, nilai-nilai, dan hidup yang sesungguhnya. Dan untuk berbuat itu kami harus mulai memimpikannya.

Maka aku pun akan terus menulis: tentang sepasang sejoli yang berangkulan di bawah terang bulan, dekat tambang terbengkalai tempat mereka menemukan jasad 15 orang petani yang dibantai oleh militer. Atau tentang perempuan-perempuan yang diperkosa serta lelaki-lelaki yang disiksa beserta keluarga mereka yang menjual diri sebagai budak karena kelaparan. Dan juga –kenapa tidak?—tentang senja yang keemasan dan ibu-ibu yang penuh kasih serta penyair yang mati karena cinta. Aku ingin bercerita dan mengatakan, misalnya, bahwa aku lebih peduli pada kebebasan manusia ketimbang kebebasan berusaha, tenggang rasa ketimbang derma amal. Aku ingin berkata bahwa lebih penting menurutku untuk berbagi daripada bersaing. Dan aku ingin menulis tentang perubahan-perubahan yang diperlukan di Amerika Latin yang akan memungkinkan kami bangkit berdiri sesudah lima abad penghinaan.

Perlu banyak keterampilan untuk bisa menuliskan hal-hal tersebut dengan enak. Namun dengan ketelatenan dan kerja keras aku berharap bisa mencapai keterampilan tersebut. Kurasa aku sangat ambisius. Yah, sebagian besar penulis begitu, termasuk para penulis perempuan.

Nah sekarang, buat siapa aku menulis?

Manakala menatap selembar kertas kosong, aku tidak berpikir soal sidang pembaca yang luas atau orang-orang yang mengangkat belati buat mencacahku. Kalau aku berpikir macam itu, teror akan melumpuhkanku. Justru ketika aku menulis, bayangan tentang seorang yang pemurah terlintas di benakku—bayangan akan Alexandra Jorquera, seorang perempuan muda di Cile yang sebelumnya tak kukenal. Ia membaca bukuku berulang-ulang sampai hafal paragraf-paragrafnya luar kepala. Malah dia lebih tahu soal buku-bukuku ketimbang aku sendiri. Ia mengutipku dan aku malah tak tahu kalau ia mengutipku. Pernah ia memberitahuku bahwa dalam karya-karyaku ia mendapati sejarah Cile yang disangkal oleh buku-buku ajar resmi rezim kediktatoran—sejarah rahasia dan terlarang yang toh masih terus hidup dalam ingatan sebagian besar orang Cile.

Inilah pujian terbaik yang pernah diterima karyaku. Demi gadis inilah aku sangat ketat dengan penulisanku. Kadang, tergoda oleh indahnya suatu kalimat, hampir saja kebenaran kukhianati, lantas bayangan Alexandra terlintas di benakku dan aku pun teringat bahwa dia, serta pembaca-pembaca lainnya sepertinya, tidak pantas diperlakukan demikian. Kala lainnya aku terlalu eksplisit, nyaris mendekati pamflet. Lantas aku mundur sejenak, teringat bahwa dia juga tidak pantas diperlakukan demikian—dipandang rendah kemampuannya memahami. Dan manakala aku merasa tak berdaya melawan kebrutalan dan penderitaan, selintas bayangan wajahnya membangkitkan kembali kekuatanku. Semua penulis harusnya punya pembaca seperti dirinya, yang menanti kata-kata mereka. Mereka takkan pernah merasa kesepian, dan karya mereka akan punya dimensi lain yang baru dan menyala-nyala.

Di Amerika Latin sekarang, 50 persen penduduknya buta huruf. Di antara mereka yang bisa baca tulis, hanya sedikit yang mampu membeli buku, dan di kalangan mereka yang mampu membeli buku, segelintir saja yang punya kebiasaan membaca. Kalau begitu, lalu apa pentingnya buku di Amerika Latin? Jawaban masuk akalnya mestinya: tak ada. Tapi tidak niscaya harus seperti itu. Untuk sebab-sebab yang aneh, kata tertulis punya dampak yang sangat kuat di benua yang buta huruf ini. Rezim-rezim totaliter telah memburu, menyiksa, membuang, dan membunuh banyak penulis. Ini bukan kebetulan; diktator tidak membuat kekeliruan dalam detail-detail macam ini. Mereka tahu buku bisa sangat berbahaya buat mereka. Di negara-negara kami sebagian besar media massa dikuasai oleh perusahaan swasta atau pemerintah yang tak efisien. Eduardo Galeano, penulis besar Uruguay, menyatakannya dengan gamblang: “Hampir semua media massa menyokong kultur kolonialistik, yang membenarkan penataan tak adil dunia ini sebagai hasil kemenangan absah pihak yang terbaik—artinya, yang terkuat. Mereka berdusta soal masa lalu dan kenyataan. Mereka hadirkan gaya hidup yang menyatakan konsumerisme adalah alternatif atas komunisme, yang menyanjung kejahatan sebagai pencapaian, kurangnya kritisisme sebagai kebajikan, dan egoisme sebagai hakikat alamiah.”

Apa yang bisa dilakukan penulis melawan pesan yang digencarkan kuat-kuat dan terus menerus ini? Hal pertama yang harus kita coba lakukan adalah menulis dengan jelas. Bukan dengan gampangan—ini cuma pantas buat iklan sabun. Kita tidak harus mengorbankan estetika demi etika. Sebaliknya, hanya bila kita mampu mengutarakannya dengan indah, kita bisa meyakinkan. Sebagian besar pembaca sangat mampu menangkap subtilitas dan kelokan-kelokan puitis serta simbol-simbol dan majas-majas. Janganlah kita menulis dengan sikap menggurui, seakan-akan pembaca itu bodoh, namun kita juga harus waspada terhadap bunga-bunga kata yang ruwet dan tak perlu, yang kerapkali hanya pemanis untuk menutupi lemahnya gagasan. Banyak dibilang bahwa kami masyarakat penutur bahasa Spanyol ini gemar berkata-kata kosong, bahwa kami perlu 600 halaman untuk mengucapkan apa yang lebih bagus diucapkan dalam 50 halaman.

Kesempatan untuk meraih pembaca dalam jumlah besar merupakan tanggung jawab besar. Sayangnya, sulit bagi buku untuk berdiri melawan pesan media massa. Ini pertempuran yang tak seimbang. Karenanya penulis harus mencari bentuk-bentuk lain untuk mengekspresikan pikiran mereka, menghindari prasangka bahwa hanya dalam buku mereka bisa bersastra. Semua cara sah dipakai, bukan hanya dengan bahasa canggih dunia akademis, melainkan juga bahasa langsung jurnalisme, bahasa sehari-hari di radio, televisi, dan film, bahasa puitis lagu-lagu populer dan bahasa menggebu-gebu saat berhadap-hadapan muka dengan pemirsa. Semua ini adalah bentuk sastra. Cerdaslah dan pakailah setiap peluang untuk memperkenalkan diri kita di media massa dan berusaha mengubah mereka dari dalam.

Di Venezuela, José Ignacio Cabrujas, seorang dramawan dan novelis, salah satu intelektual paling brilian di negeri itu, juga menulis telenovela. Tayangan telenovela adalah fenomena budaya terpenting di Amerika Latin. Ada orang yang menontonnya tiga atau empat kali sehari, jadi Anda bisa bayangkan betapa pentingnya penulisan jenis ini. Cabrujas tidak menghindar dari realitas. Telenovela yang ditulisnya menunjukkan dunia yang penuh kontras-kontras. Ia hadirkan masalah seperti aborsi, perceraian, machismo, kemiskinan, dan kriminalitas. Hasilnya jauh berbeda dengan serial “Dynasty.” Tapi sama-sama laris.

Aku mencoba memasukkan unsur telenovela dalam Eva Luna, karena aku terpukau oleh realitas versi telenovela. Nyonya-nyonya di teve itu memakai bulu mata palsu pada jam 11 siang. Perbedaan antara orang kaya dan miskin adalah orang kaya memakai gaun pesta sepanjang waktu dan orang miskin wajahnya coreng moreng. Mereka semua jadi buta atau lumpuh namun lantas semuanya sembuh kembali. Sama seperti kehidupan!

Banyak di antara penulis-penulis terpenting Amerika Latin dulunya adalah jurnalis, dan mereka berulang kali kembali melakukannya karena menyadari bahwa kata-kata mereka di koran atau radio bisa mencapai pemirsa yang tak terjangkau oleh buku-buku mereka. Yang lain menulis teater atau skenario film atau lirik lagu lagu-lagu populer. Semua cara sahih bila kita ingin berkomunikasi dan tidak berasumsi menulis hanya untuk kelompok elite terdidik atau demi mengejar anugerah-anugerah sastra.

Di Amerika Latin buku nyaris merupakan kemewahan. Penata rambutku memanggilku Dr. Allende karena aku selalu membawa-bawa buku, dan ia barangkali berpikir bahwa gelar doktor adalah prasyarat minimum atas kemewahan tersebut. Di Cile, harga sebuah novel 300 halaman bisa setara gaji bulanan seorang buruh. Di beberapa negara lainnya –Haiti, misalnya—85 persen penduduknya buta huruf. Di tempat lain di Amerika Latin, tak ada terbitan yang memakai bahasa mayoritas suku Indian. Banyak penerbit gulung tikar gara-gara krisis ekonomi, dan harga buku yang diimpor dari Spanyol sangat tinggi.

Namun demikian, jangan patah arang. Ada harapan untuk semangat. Sastra telah menyintas bahkan pada kondisi paling parah sekalipun. Para tahanan politik menuliskan cerita-cerita di bungkus rokok. Di tengah peperangan Amerika Tengah, prajurit-prajurit kecil, baru 14 tahun umurnya, menulis puisi di buku-buku tulis mereka. Suku Indian Pieroa, yang belum musnah oleh genosida yang dilancarkan terhadap penduduk asli Amazon, telah menerbitkan beberapa legenda dalam bahasa asli mereka.

Di benuaku, para penulis kerap memiliki prestise lebih tinggi dibanding para penulis di belahan dunia lain. Beberapa penulis dianggap dukun atau nabi, seolah-olah mereka diterangi oleh semacam kearifan alam. Jorge Amado harus menjauh dari Brasil selama beberapa bulan dalam setahun agar bisa menulis, sebab masyarakat berkerumun di rumahnya meminta nasehat macam-macam. Mario Vargas Llosa menggalang pembangkangan terhadap pemerintahan Alan García di Peru. García Márquez kerap menjadi penengah para presiden di Amerika Tengah. Di Venezuela, Arturo Uslar Pietri dimintai pendapatnya mengenai isu-isu seperti korupsi dan minyak bumi. Para penulis ini telah menafsirkan realitas mereka dan mengisahkannya pada dunia. Sebagian di antara mereka punya bakat meramalkan masa depan dan mengungkapkan pikiran terpendam rakyat mereka dalam kata-kata tertulis, yang tentunya mencakup masalah-masalah sosial politik, sebab mustahil kiranya menulis dalam bola kaca, tak peduli terhadap kondisi benua mereka.

Tak heran bila novel-novel Amerika Latin kerap dituding politis sifatnya.

Lalu untuk siapa aku menulis, pada akhirnya? Yang jelas untuk diri sendiri. Tapi terutama buat orang-orang lain, sekalipun hanya segelintir. Bagi mereka yang tak bersuara dan mereka yang dipaksa bungkam. Untuk anak-anakku dan bakal cucu-cucuku. Untuk Alexandra Jorquera dan orang-orang lain sepertinya. Aku menulis untuk kalian.

Dan mengapa aku menulis? García Márquez pernah berkata bahwa ia menulis agar teman-temannya makin menyayanginya. Kukira aku menulis agar orang-orang makin saling menyayangi. Mengolah kata-kata adalah keterampilan yang indah, dan di benuaku, di mana kami masih harus menamai segala sesuatu satu demi satu, maknanya sungguh kaya dan mendalam.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar