Minggu, 05 Juni 2016

“Sungai Kehidupan Kami,” oleh Gabriel García Márquez

“El río de nuestra vida”, El Espectador, 22 Maret 1981, dimuat ulang di El País 25 Maret 1981 dengan judul “El río de la vida”. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus.


Satu-satunya yang bisa membuat saya ingin kembali jadi anak-anak adalah pergi sekali lagi naik kapal uap menyusuri Sungai Magdalena. Barangsiapa belum pernah mengalaminya tak bakal bisa membayangkan seperti apa rasanya. Saya harus menjalaninya dua kali setahun —pulang pergi—selama enam tahun di sekolah menengah dan dua tahun di universitas, dan pada setiap kesempatan belajar lebih banyak, dan lebih baik, tentang kehidupan ketimbang yang saya dapatkan di sekolah. Pada saat arus air sedang pasang, perjalanan makan waktu lima hari dari Barranquilla ke Puerto Salgar, di mana kereta akan mengangkut kami ke Bogotá. Pada musim kering, saat yang sangat dan paling menyenangkan buat bepergian, pelayaran bisa mulur sampai tiga minggu.

Kereta dari Puerto Salgar meniti tepian batu seharian penuh. Di tanjakan-tanjakan tercuram ia menggelinding mundur untuk mencari daya dorong, lalu maju lagi mendengus-dengus naik bak seekor naga, dan kadang penumpang sampai perlu turun dan berjalan kaki hingga ke landaian berikutnya, buat meringankan beban. Desa-desa di sepanjang rel beku dan sedih, dan para bakul yang seumur hidupnya berjualan menawar-nawarkan di jendela kereta ayam bumbu kuning besar dimasak utuh serta kentang tumbuk yang baunya seperti makanan rumah sakit. Kereta tiba di Bogotá pukul enam sore, yang buat saya jadi seperti momen tersuram dalam hidup. Kota ini murung dan beku, dengan trem-trem berisik memercikkan bunga api di tiap tikungan, dan kucuran hujan air campur jelaga tak pernah reda. Para prianya berpakaian hitam-hitam, dengan topi hitam, berjalan cepat-cepat dan bersenggolan seperti ada urusan mendesak, dan tak ada satu pun perempuan terlihat di jalanan. Kami harus menghabiskan setahun penuh di sana, pura-pura belajar, padahal yang kami perbuat sesungguhnya cuma menunggu bulan Desember tiba agar bisa melayari Sungai Magdalena sekali lagi.

Di zaman itu kapal uap punya tiga tingkat dan dua cerobong asap, yang pada malam hari melaju seperti kampung terang-benderang, meninggalkan jejak musik dan mimpi-mimpi ilusif ke dukuh-dukuh di pinggiran kali. Bedanya dengan kapal-kapal di Mississippi, roda  pendorong kapal kami bukan berada di sisi-sisinya, melainkan di buritan, dan tak pernah di bagian mana pun di dunia saya melihat lagi yang seperti itu. Nama-namanya mudah dan cepat diingat: Atlántico, Medellín, Capitán de Caro, David Arango. Kapten-kapten mereka, seperti dalam cerita-cerita Conrad, berwibawa tapi lembut hati, makannya seperti orang barbar, dan tak pernah tidur sendirian di kabin-kabin mereka yang terpencil. Awak kapal menyebut diri sendiri marineros (pelaut) seolah-olah sedang berada di tengah samudera. Namun di bar-bar dan rumah-rumah bordil Barranquilla, saat sedang berbaur di tengah para pelaut sungguhan, mereka dikenal dengan nama khasnya: vaporinos (tukang kapal uap).

Perjalanan lambat dan penuh kejutan di siang hari, para penumpang duduk-duduk di geladak atas memandangi hidup berlalu. Kami bisa melihat buaya-buaya mengapung di kedangkalan seperti batang pohon, dengan mulut menganga, menanti mangsa masuk. Kami lihat kawanan kuntul terbang ketakutan saat kapal lewat, rombongan itik liar di paya-paya pedalaman, ikan tiada akhir, duyung menyusui anakan mereka dan memekik-mekik seperti sedang menyanyi di pinggiran. Kadang, bau busuk memualkan menganggu tidur siang kami, dan bangkai seekor sapi besar yang tenggelam mengambang-ambang nyaris seperti tak bergerak dibawa arus dengan seekor burung nasar bertengger di perutnya. Sepanjang jalan, kami terbangun saat subuh, kaget oleh hiruk-pikuk monyet-monyet dan ocehan burung bayan.

Pada zaman sekarang susah untuk mengenal siapa-siapa dalam penerbangan udara. Tapi di kapal-kapal Sungai Magdalena itu, para penumpang akhirnya seperti satu keluarga besar, sebab kami sepakat tiap tahunnya bertemu lagi di perjalanan. Keluarga Eljach turun di Calamar, keluarga Peña dan Del Toro –dari dusun—naik di Plato; keluarga Estorino dan Viña di Magangué, keluarga Villafañes di Banco. Makin lama perjalanan, pestanya makin meriah. Kehidupan kami terhubung dengan cara yang sepintas lalu, tapi tak terlupakan, dengan orang-orang di dermaga-dermaga pemberhentian, dan banyak akhirnya yang nasibnya jadi terpaut selamanya. Vicente Escudero, seorang mahasiswa kedokteran, ikut menari tanpa diundang di pesta kawinan di Gamarra, berdansa tanpa minta izin dengan perempuan tercantik di desa itu, lalu ditembak dan dibunuh oleh suami si perempuan. Sebaliknya, Pedro Pablo Guillén menikahi gadis pertama yang ia sukai dalam pesta mabuk-mabukan legendaris di Barrancabermeja, dan sampai sekarang masih hidup berbahagia dengan istrinya itu dan kesembilan anaknya. José Palencia yang tiada duanya, seorang musisi bawaan lahir, ikut lomba genderang di Tenerife, memenangkan seekor sapi dan menjualnya saat itu juga seharga 50 peso: sudah kaya di zaman itu. Kadang kapal bisa kandas sampai lima belas hari di gundukan pasir. Tak ada yang keberatan, sebab ini berarti pesta berlanjut, dan surat dengan stempel sang kapten sudah cukup untuk jadi alasan mengapa terlambat masuk sekolah.

Suatu malam, dalam perjalanan terakhir saya tahun 1948, kami semua terbangun oleh tangis memilukan dari pinggir sungai. Kapten Climaco Conde Abello, salah satu kapten terbesar, memerintahkan orang-orangnya mengarahkan reflektor ke tempat kegaduhan berasal. Seekor duyung betina terjerat ranting-ranting pohon tumbang. Para awak lompat ke air, mengikat hewan itu ke lir, dan berhasil melepaskannya. Hewan yang fantastis dan menggugah, hampir empat meter panjangnya, kulitnya pucat mulus, dan torsonya kelihatan seperti perempuan, dengan tetek besar seorang ibu yang penuh kasih, dan mata lebar sayu yang menitikkan air mata manusia. Dari Kapten Conde Abello jugalah saya mendengar untuk pertama kalinya bahwa dunia akan berakhir apabila semua orang terus membunuhi binatang-binatang sungai. Ia larang siapa pun menembak dari geladak. “Kalau mau bunuh-bunuhan, di rumah sendiri-sendiri saja,” serunya, “Tidak di kapalku.” Namun tak ada yang mengindahkannya. Tiga belas tahun kemudian –pada 19 Januari 1961—seorang kawan menelepon saya di Meksiko mengabarkan bahwa kapal uap David Arango terbakar jadi abu di dermaga Magangué. Saat menutp telepon saya mendapat kesan mengerikan bahwa masa muda saya akhirnya tamat, dan bahwa yang tersisa dari sungai kami tinggallah nostalgia yang sudah hancur terbakar.

Sungai Magdalena menjadi latar banyak
karya García Márquez. Kapal uap di artikel ini
tergambar dengan baik di sampul edisi
Perancis El amor en los tiempos del cólera.
Dan memang terbukti. Sungai Magdalena mati, dengan air yang teracuni dan hewan-hewan yang diburu sampai punah. Kerja pelestarian yang mulai dibicarakan pemerintah sejak sekelompok jurnalis yang peduli mengangkat permasalahan ini tak lebih dari hiburan lawak. Rehabilitasi Sungai Magdalena hanya mungkin dilakukan melalui upaya intens dan terus-menerus dari sekurang-kurangnya empat generasi yang peduli: dengan kata lain, satu abad penuh.

Orang bicara gampang saja soal reboisasi. Itu saja, dalam kenyataannya, berarti menanam 59,110 juta batang pohon di sepanjang tepian Sungai Magdalena. Ucapkan secara penuh: lima puluh sembilan juta seratus sepuluh ribu batang pohon. Namun masalah terbesarnya bukan jumlah, tetapi di mana akan ditanam. Hampir semua lahan subur di tepi sungai itu milik swasta, dan penghijauan menyeluruh berarti menutupi 90% luasannya. Layak ditanyakan siapa pemilik tanah baik hati yang mau dengan rela menyerahkan 90% lahan mereka buat ditanami pohon, dan dengan demikian merelakan perginya 90% pendapatan mereka saat ini.

Pencemaran, di lain pihak, bukan cuma berdampak pada Sungai Magdalena, tetapi juga semua anak sungainya. Anak-anak sungai ini bukan cuma menjadi drainase kota-kota dan desa-desa tepian, tapi menyeret dan menumpuk juga limbah industri, pertanian, hewan, dan manusia, yang semuanya mengalir ke dalam tampungan maha luas sampah nasional yakni Bocas de Ceniza. Pada November tahun lalu, di Tocaima, dua orang prajurit gerilya menceburkan diri ke Sungai Bogotá untuk kabur dari sergapan tentara. Mereka berhasil lolos, tapi nyaris mati terinfeksi air sungai. Para penghuni tepian Magdalena, terutama di sisi bawah, sudah lama tak pernah lagi meminum atau memanfaatkan airnya atau makan ikan segar dari sungai. Karena itu akan sama dengan –maafkan bahasa saya, nyonya-nyonya—makan tai.

Kerja besar, tapi setidaknya terukur. Proyek lengkap dari apa yang perlu dilakukan sudah dirinci dalam studi yang dijalankan beberapa tahun lalu oleh tim gabungan Belanda-Kolombia, dan tiga puluh jilid hasilnya teronggok telantar di arsip Instituto de Hidrología y Meteorologia (IMAT). Wakil direktur untuk kerja monumental ini adalah insinyur muda dari Antioquia, Jairo Murillo, yang mengabdikan separuh hayatnya untuk itu, dan sebelum rampung mengorbankan sisa umurnya untuk itu pula: ia tenggelam dalam sungai impiannya. Tak perlu dibilang lagi bahwa tak ada kandidat presiden selama beberapa tahun terakhir ini yang berisiko kehilangan nyawa di perairan seperti itu. Para penduduk desa tepian sungai —yang sebentar lagi akan menjadi pusat perhatian nasional berkat ekspedisi Caracola[1]—harus sadar akan hal itu. Dan perlu mereka camkan bahwa antara Honda dan Bocas de Ceniza ada cukup banyak suara untuk bisa memilih seorang presiden Republik.



[1] Catatan penerjemah: La Caracola adalah perahu yang dibiayai oleh jaringan radio swasta Kolombia pada tahun 1980an untuk meningkatkan kesadaran tentang kerusakan lingkungan di Sungai Magdalena dan daerah alirannya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar