Kamis, 07 April 2016

"Pablo Neruda: Setengah Abad Sudah Abadi", oleh Njoto

Disalin dari Harian Rakjat, 10 Djuli 1954. Njoto menulis dengan nama pena Iramani.


Besok, tg. 11 Djuli, akan berkumpul dikota Santiago, Chili, be-ribu2 kalau tidak ber-puluh2ribu Rakjat, diorganisasi oleh sebuah Panitia terdiri dari pengarang dan pemenang Hadiah Seni Nasional, Pedro de la Barra, pendiri Orkestra Simfoni, Armando Carvajal, ketua Parlemen dan novelis, Baltasar Castro, direktur Perpustakaan Universitet Chili, Hector Fuenzalida, pengarang dan direktur Museum Kesenian Rakjat, Tomas Lago, dan banjak lagi. Mereka akan memperingati genap setengah abad umur salah seorang pengarang dan putera Chili, Pablo Neruda.

Jang paling baik dapat memperkenalkan seorang penjair, bukanlah seseorang lainnja. Jang paling baik dapat memperkenalkan seseorang penjair adalah sjair2 penjair itu sendiri! Dan sjair2 Pablo Neruda bukannja tidak terkenal dikalangan pembatja Indonesia. Se-kurang2nja 6 buah sadjaknja — jang pada umumnja pandjang2 — sudah diterdjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Belum lagi esai2nja. Pembatja bisa menilai sendiri kebesaran dan arti Neruda. Lebih2 disaat dunia kita berada dipersimpangan djalan antara keruntuhan dan pembaruan seperti sekarang ini.

Ia dilahirkan di Parral, Chili, pada 12 Djuli 1904. Sedjak tahun 1937 ia terkenal sebagai penjair, sedjak ia mendjulangkan suaranja untuk pahlawan2 republiken di Spanjol. Neruda bukan hanja bergerak dilapangan kesusasteraan, tetapi djuga dilapangan politik, karena ia sedar bahwa haridepan kesusasteraan bangsanja tergantung dari nasib politik negerinja. Di-tahun2 1928-1930 ia mendjabat Duta Chili di Colombo, ditahun 1934 Duta di Barcelona, kemudian ditahun 1935 di Madrid, dan ditahun 1940 di Mixico. Sesudah itu dia tinggal ditanahairnja, aktif sebagai seorang senator, disamping bersadjak.

Diantara sadjak2nja jg. sangat masjhur jalah “Canto General” jang baru diselesaikannja ditahun 1950. Sepandjang hidupnja, demikian juga sadjak2nja, penuh dinafasi semangat kemerdekaan. Salah sebuah sadjaknja jang sangat indah melukiskan kebesaran Simon Bolivar, bapak kemerdekaan Amerika Selatan jang namanja kini abadi didalam sebutan Bolivia. Pablo memang nama Pablo sendiri, tetapi Neruda bukanlah nama-aslinja. Dia demikian kagumnja akan penjair Tjeko, Jan Neruda — seorang penjair besar dan pentjinta kemerdekaan negerinja —, sehingga ia berketetapan untuk mengganti namanja dengan Neruda: Pablo Neruda.

Kaum fasis jang sementara berkuasa dinegerinja mengusir Pablo Neruda keluarnegeri, dan baru ditahun 1952, atas desakan jang kuat dari Rakjat Chili sendiri, pemerintah Chili memperbolehkan Neruda kembali. Selama dipengasingan, Neruda tidak pernah merasa asing, karena ia satu dengan perdjuangan bangsa2 untuk kemerdekaan dan perdamaian. Se-kurang2nja tiga hadiah penting sudah dia terima, jaitu Hadiah Nasional Chili untuk Kesusasteraan (1945), Hadiah Perdamaian Internasional (1950), dan Hadiah Stalin untuk Perdamaian (1953).

Tudjuan hidupnja tersimpul didalam tulisannja “Kepada Inteligensia Amerika Selatan”:

“Kaum intelektuil Amerika Selatan harus bertindak lebih tegap dalam perdjuangan untuk perdamaian. Dalam perdjuangan ini harus dipersatukan hasil2 kebudajaan Rakjat kita jang terbaik dengan harapan dan usaha mereka. Besar pertanggungdjawaban kita. Kaum penghasut perang hendak mentjeburkan kemadjuan kemanusiaan kedalam samodera darah. Dengan djalan perang, mereka hendak memulai suatu masa kebinatangan pembalasan dan pendjadjahan. Kemerdekaan dan masadepan Amerika Selatan mendjadi taruhan. Perdjuangan untuk perdamaian memberikan kepada kita kemungkinan2 baru untuk mentjipta, untuk melindungi tjita2 kita jg. luhur serta nasib benua kita”.

Lusa Pablo Neruda mengindjak usia setengah abad. Tetapi dia sudah abadi, seperti sadjak2nja abadi!

Iramani

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar