Minggu, 29 September 2013

"Karangan," karya Antonio Skármeta dan Alfonso Ruano. Sebuah cerita anak tentang bahaya kediktatoran.


Karangan, Antonio Skármeta, dengan ilustrasi Alfonso Ruano. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari La composición (Caracas: Ediciones Ekaré, 2000).


Antonio Skármeta sepertinya hanya punya satu tema yang terus diolahnya sepanjang karir kepenulisannya, yaitu bagaimana negerinya, Cile, berubah selamanya oleh kudeta militer Jenderal Augusto Pinochet pada 1973, dan bagaimana masyarakat berjuang hidup sambil terus melakukan perlawanan diam-diam. Semua karyanya tak terlepas dari tema itu.

Kita ingat Il Postino tentunya. Film indah besutan Michael Radford itu diangkat dari novel Skármeta Ardiente paciencia (1985) yang mengisahkan persahabatan antara penyair Pablo Neruda dan tukang posnya pada masa-masa menjelang kudeta militer berlangsung. Di Indonesia, Ardiente paciencia dialihbahasakan oleh Noor Cholis lewat terjemahan Inggris dan diterbitkan dengan judul Il Postino (Jakarta: Akubaca, 2002).

Novel Skármeta lainnya, El baile de la Victoria (2003), berkisah tentang persekongkolan antara seorang maling dan seorang balerina untuk mencuri uang dari fungsionaris-fungsionaris rezim yang paling korup. Novel ini diangkat ke layar lebar oleh sutradara Spanyol Fernando Trueba pada 2009 tapi tak sesukses Il Postino baik secara artistik maupun komersial.

Sementara novel terbaru Skármeta, Los días del arco iris (2010), yang meraih penghargaan Premio Planeta-Casa de América 2011, bersama karya dramanya yang belum diterbitkan El plebiscito, dijadikan dasar untuk skenario film No (2012) garapan Pablo Larraín. Film ini berkisah tentang orang-orang penggagas kampanye iklan "No" (menolak) yang digalang menjelang referendum nasional Cile 1988 untuk memutuskan apakah Pinochet boleh terus menjalankan masa jabatannya 8 tahun lagi. Hasil referendum yang menyatakan "tidak" inilah yang pada akhirnya menandai usainya masa kediktatoran dan membawa Cile memasuki masa transisi demokrasi. No dianggap setara dengan Il Postino secara artistik, dan berhasil meraih Art Cinema Award pada Festival Film Cannes 2012.

Bukan hanya menggarap fiksi dewasa, Skármeta juga menulis kisah anak-anak yang terjemahannya hendak saya bagikan berikut ini: La composición (2000). Temanya tetap: bahaya kedikatoran militer, tapi kali ini dipandang dari perspektif seorang anak. Buku ini telah meraih penghargaan Américas Book Award (yang diberikan oleh Konsorsium Program Studi Amerika Latin) dan Jane Addams Children's Book Award (untuk buku bergambar terbaik yang mendorong isu perdamaian dan keadilan sosial). Puncaknya, pada 2003, La composición meraih UNESCO Prize for Children's and Young People's Literature in the Service of Tolerance. Skármeta paham betul, mengajarkan tentang demokrasi dan kediktatoran itu penting agar rezim militer tak kembali berulang di masa depan.

Bagaimana dengan kita? Kita juga pernah hidup di bawah rezim diktator lebih dulu dan jauh lebih lama dibanding Cile. Bahkan Soeharto bisa dibilang adalah "guru" Pinochet (kudeta atas presiden sosialis Salvador Allende diberi nama "Operación Yakarta" atau "Operasi Jakarta", dengan meniru persis bagaimana proyek sosialis Bung Karno disabot, kudeta dijalankan, dan kaum kiri dibantai secara fisik maupun gagasan). Tapi sudahkah kita melakukan tindakan sistematis mendidik anak-anak kita tentang kediktatoran Soeharto dan Orde Baru sebagai kebiadaban yang tak boleh terulang? Sudahkah kita ajari mereka bahwa orang seperti itu sama sekali tak layak dijadikan pahlawan? Atau jangan-jangan kita biarkan saja hantu jenderal tua itu tersenyum culas di bak-bak truk sambil bertanya menyesatkan, “Piye kabare? Isih Penak Jamanku To?”


Kamis, 26 September 2013

Dekadensi Kebudayaan? Atau Sekadar Gerundelan Penulis Tua?


La civilización del espectáculo, Mario Vargas Llosa. Meksiko: Alfaguara, Februari 2012. ISBN 978-607-11-1766-3. 228 hlm.


Buku esai terbaru Mario Vargas Llosa, La civilización del espectáculo (Peradaban Hiburan atau bisa juga Peradaban Tontonan) ini memukau, tetapi juga menggundahkan. Impresif, tetapi cukup bikin depresif. Membacanya memang terasa bagai gerundelan orang tua yang tidak lagi memahami budaya anak muda kontemporer, dan masih mengangankan “kebudayaan tinggi” sebagai ideal atas dekadensi kultural saat ini. 

Pada pembukaannya (hlm. 13) tertulis: “Belum pernah sebelumnya sepanjang sejarah begitu banyak risalah, esai, teori, dan analisa ditulis mengenai kebudayaan sebanyak di zaman kita. Dan hal ini kian mengejutkan karena kebudayaan, dalam pengertian tradisional kata tersebut, justru pada zaman sekarang ini berada di ambang menghilang. Dan mungkin sudah menghilang…”

Vargas Llosa meratapi bagaimana produk-produk kebudayaan telah menjadi hiburan semata, karya seni menjadi banal, erotisisme menjadi pornografi, jurnalisme menjadi pencarian sensasi, yang semuanya bertumpu pada kelarisan. Peradaban hiburan adalah peradaban “di mana kenikmatan, untuk lari dari kebosanan, menjadi hasrat universal” (hlm. 33). Ketika kebudayaan tak lagi independen (dipatok dengan kelarisan dan ukuran komersial, bukan mutu), maka masyarakat akan kehilangan pijakannya dalam mempertahankan kebebasannya dan politik jadi kehilangan makna.

Ini poin menarik dari seorang penulis yang sebelumnya dikenal sangat liberal secara politik. Bisa dibilang inilah kritik tajam Vargas Llosa pada perkembangan (kultural) terkini kapitalisme-liberal, ideologi yang justru ia junjung tinggi dan gencarkan selama hampir seluruh masa kepenulisannya. Bila dulu ia berpendapat hanya dengan inilah masyarakat bisa memperoleh basis kebebasannya (bukan melalui komunisme, fasisme, atau lainnya), kini ia mengakui ekses-ekses kapitalisme bisa menggerogoti kebebasan masyarakat dengan membelokkan pengertian “kebudayaan” sebagai semata-mata “cara menyenangkan untuk menghabiskan waktu,” bukan lagi penggalian dan pencarian eksistensi kemanusiaan yang mendalam.

Yang menarik, antitesis keadaan ini bagi Vargas Llosa adalah agama. Bukan berarti ia menganjurkan untuk kembali pada negara agama dan fundamentalisme lainnya, tetapi ia mengakui bahwa ada kedalaman, pencarian, atau tambatan spiritual tertentu yang didapat dalam agama, yang besar pengaruhnya bagi tinggi rendahnya kesenian. Semua peradaban dunia menjunjung pencarian transendensi ini. Di sini Vargas Llosa seperti menggaungkan esai Walter Benjamin berpuluh tahun sebelumnya tentang bagaimana kemajuan teknologi reproduksi telah melenyapkan aura yang terpancar dalam ikon-ikon dan karya seni religius.

Mungkin Vargas Llosa benar, tapi buat saya ia terlampau pesimistis. Ambillah sastra. Apa betul kita tengah digempur oleh bacaan ringan yang sepintas lalu dan tak memiliki kedalaman? Betul, tapi bukan berarti tidak ada penulis bagus yang tetap tekun menempuh jalan sastrawi. Tiap generasi pasti melahirkan penulis bagusnya sendiri-sendiri. Vargas Llosa sendiri mengakui itu: “Saya tidak bermaksud mengecam para penulis sastra hiburan ini karena terlepas dari entengnya tulisan mereka, di antaranya ada yang benar-benar berbakat. Bila di zaman kita jarang didapati avontur-avontur sastrawi seperti Joyce, Virginia Woolf, Rilke, atau Borges, itu bukan hanya karena penulisnya; tapi karena budaya tempat kita tinggal menghambat dan bukan mendorong upaya-upaya berani yang melahirkan karya-karya yang menuntut dari pembaca konsentrasi intelektual yang sama intensnya dengan yang memungkinkan karya-karya itu ada.” (hlm. 36)

Saya agak meragukan pernyataan di atas. Pernahkah ada masa ketika sastra tinggi benar-benar populer dan dibaca orang banyak? Saya kira tidak. Jujur saja, berapa banyak penutur bahasa Inggris pernah membaca Finnegans Wake, pada saatnya ia terbit maupun sekarang? Pada tiap zaman “benturan kebudayaan” macam ini pasti terjadi. Pernah ada masanya ketika musik jazz dianggap sebagai perlawanan dari budaya tinggi, dan ada masanya ketika jazz menjadi budaya tinggi itu sendiri.

Bisa jadi Vargas Llosa hanya tengah menua dan terbata-bata memahami dunia zaman ini yang tak lagi seperti dunia yang dijalaninya dulu. Karena itu ia pesimistis. Bisa jadi pula ia sedang beralih dari satu konservatisme ke konservatisme lain. Maka makin tepatlah sinyalemen Alberto Manguel bertahun-tahun lalu yang mengibaratkan Vargas Llosa sebagai “fotografer buta”, yang tak bisa melihat apa yang ditangkap dengan begitu jitu oleh lensanya. Lensanya adalah sastranya, dan matanya adalah pandangan politiknya. Bagaimana bisa seseorang dengan karya-karya yang demikian radikal (baik secara bentuk maupun isi) bisa sedemikian konservatif dalam pandangan sosial-politiknya?

Rabu, 04 September 2013

"Dongeng Pulau Tak Dikenal," oleh José Saramago

Dongeng Pulau Tak Dikenal karya José Saramago, peraih Hadiah Nobel Sastra 1998. Terbit pertama kali dalam bahasa Portugis, O Conto da Ilha Desconhecida (1998). Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus (2013) dari edisi bahasa Spanyol terjemahan Pilar del Río, El cuento de la isla desconocida. Buku elektronik ini dirilis untuk kepentingan literasi dan bukan komersil.