Sabtu, 05 Maret 2011

Mati Satu Mati Semua

A Funny Dirty Little War
Osvaldo Soriano
Terjemahan Inggris oleh Nick Caistor dari No habrá más penas ni olvido (1980)
Readers International, 1986


Persoalan kecil melebar ke mana-mana, dan sebelum tindakan bisa dilakukan, ia sudah berbiak kelewat besar untuk bisa ditangani dengan cara-cara normal. Banyak komedi diformat dengan rumusan demikian. Beberapa episode serial teve Mr. Bean misalnya, berawal dari hal-hal sesepele kehilangan karcis kereta sehingga si tokoh kesulitan untuk keluar dari stasiun tanpa kena denda, dan berakhir dengan terjebaknya si tokoh dalam kereta barang yang meluncur hingga ke Rusia.

Begitu pula novelet Osvaldo Soriano yang kocak dan tragis ini. Awalnya cuma politiking kelas teri di sebuah kota kecil fiktif bernama Colonial Vela, di sebuah provinsi Buenos Aires, Argentina: ketua Dewan Kota Ignacio Fuentes bersama wakilnya Mateo Guastavino hendak didongkel dari kedudukannya oleh konspirasi beberapa orang: Sekjen Partai Peronis setempat, Inspektur polisi, Walikota. Mereka menyebarkan desas desus bahwa kedua tokoh itu berpikiran Marxis, meskipun semua warga tahu bahwa Ignacio adalah Peronis sejati.

Ignacio pun tak main-main dalam mengamankan kedudukannya. Ia keluarkan semua senjata miliknya, “merekrut” dua opsir polisi yang terus menerus ia naikkan pangkatnya (dalam rentang sehari menjadi Sersan), seorang tukang sapu taman kota, seorang napi, lalu menduduki Balai Kota dan memakainya sebagai basis pertahanan “kubu Peronis” dalam melawan “kudeta Fasis”. Dari intrik politik kampungan persoalan meruncing menjadi persoalan “ideologis”: mana dari kedua kubu ini yang lebih Peronis? Kelompok Pemuda Peronis menyatakan dukungannya pada Ignacio. Sedangkan Ketua Serikat Buruh yang terima suap bekerja untuk Sekjen Partai.

Persoalan makin ruwet dengan datangnya wartawan serta warga sipil bersenjata. Meledaklah perang saudara skala kota yang berujung pada tewasnya hampir semua tokoh di novel ini, termasuk para biang kerok yang –ketika melihat persoalan ini sudah menjadi terlalu besar untuk bisa mereka tangani sendiri—mencoba cuci tangan darinya. Konyolnya, satu-satunya pihak yang diuntungkan dari semua ini barangkali adalah Peron sendiri, yang namanya makin menjulang oleh “kelompok-kelompok” yang berani mati membelanya ini.

Tak salah bila Nick Caistor menerjemahkan judul novel ini menjadi A Funny Dirty Little War walaupun judul sesungguhnya lebih “puitis dan tragis” dari itu: No habrá más penas ni olvido (Tak Ada Lagi Duka atau Lupa). Di satu pihak buku ini memang lucu dan bisa membuat kita tertawa terpingkal-pingkal, namun di sisi lain juga memberi wawasan tentang bagaimana konflik sosial bisa membesar skalanya sampai menjadi perang yang sungguh kotor. Soriano menuliskan novelet ini selama masa pelariannya di Eropa sesudah Argentina mengalami kudeta militer pada 1976. Terbit pertama di Spanyol dan Italia pada 1980, buku ini telah diterjemahkan ke dalam bahasa Perancis, Belanda, Cek, Portugis, Polandia, dan Hungaria, sebelum akhirnya terbit di Argentina pada 1983 sesudah usainya rezim militer di negeri itu dan Soriano pulang ke kampung halamannya.

Versi film buku ini, arahan sutradara Héctor Olivera, juga mendapat banyak pujian kritikus dan meraih Silver Bear Award pada Festival Film Berlin 1984.



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar