Hanya eksperimen iseng belaka karena sedang tertarik mendalami infografis. Aslinya dibuat dalam ukuran A3 resolusi tinggi, sehingga bisa dijadikan poster. Data yang terkumpul soal García Márquez dan bisa diinfografiskan sebenarnya lebih banyak daripada yang muat terpampang di sini.
Kamis, 18 Oktober 2012
Selasa, 16 Oktober 2012
Chávez dan Revolusinya
Catatan:
Tulisan lama ini saya sampaikan
pertama kali pada 2006 dalam diskusi pendamping pemutaran film dokumenter The Revolution Will Not Be Televised (2003)
karya Kim Bartley dan Donnacha Ó Briain di kantor Perhimpunan Pendidikan
Demokrasi (P2D), Jakarta. Di sini saya menggambarkan bahwa dalam konteks
Amerika Latin dan Venezuela khususnya, militer bisa menjadi kekuatan progresif
dan revolusioner. Tapi –dan ini harus digarisbawahi—TIDAK dalam konteks
Indonesia! Hal ini perlu saya tekankan karena sebagian pendukung Prabowo dalam
bursa calon presiden 2014 membuat persamaan bahwa Prabowo adalah militer
progresif yang bisa membuat perubahan mendasar seperti Chávez (beberapa tulisan
internet telah memajang judul “Prabowo, Hugo Chavez-nya Indonesia?”) Baca
baik-baik sejarah Hugo Chávez untuk tahu betapa ia tidak bisa disamakan dengan
Prabowo. Saat menjadi tentara, Chávez memberontak melawan rezim oligarki
Venezuela, ia membangun jaringan perlawanan dengan aktivis-aktivis kiri dan
progresif lainnya dan memberi dukungan militer pada mereka. Sebaliknya, Prabowo
murni alat kekuasaan rezim diktator Orde Baru, yang menumpas gerakan perlawanan
dan prodemokrasi dengan cara menculik dan menghilangkan paksa
aktivis-aktivisnya. Tidak dengan cara apapun keduanya bisa disamakan.
Hari itu [4 Februari 2004], akhirnya
saya bertemu Chávez untuk sekian menit. Seorang ajudan memperkenalkan kami:
“Ini Aleida Guevara, Pak Presiden.” Beliau bertanya kapan saya tiba; Sabtu
kemarin jawab saya. Ia buru-buru membalas, “Ah tidak, kau sudah ada di sini
sejak lama.” “Tidak, Pak Presiden,” jawab saya, “baru Sabtu kemarin.” Chávez
menatap saya dan berkata, “Kau senantiasa ada di sini.” Momen ini sungguh
istimewa; bukan hanya karena orang sebesar dia yang mengucapkannya, tapi karena
saya sadar bahwa maksud Chávez, yang selalu ada di sini adalah ayah saya, Che
Guevara.
— Aleida Guevara, dari buku wawancara
panjangnya dengan Hugo Chávez, Chávez: Un hombre que anda por áhi (Ocean
Press, 2005)
Che Guevara, Simón Bolívar, José Marti, Emiliano Zapata: ya,
Chávez adalah pewaris seluruh tokoh militer revolusioner Amerika Latin. Di satu
sisi, rezim-rezim terburuk di Amerika Latin memang rezim diktator militer
(Pinochet atau Trujillo misalnya), namun di sisi lain, gerakan-gerakan
revolusioner di sana juga bersifat militer. Bisa dibilang sejarah revolusi
Amerika Latin adalah sejarah pemberontakan militer, bahkan gerakan masyarakat
sipil yang berkembang hebat dari Chiapas tidak akan terjadi tanpa didahului
oleh pemberontakan bersenjata Tentara Pembebasan Nasional Zapatista. Maka untuk
melihat Chávez kita perlu melihat terlebih dahulu “ideologi” tentara Venezuela,
yang merupakan turunan langsung dari Tentara Persatuan Pembebasan Amerika
Selatan bentukan Simón Bolívar.
Bolívar dan Cita-Cita Pembebasan Amerika Latin
Simón
Bolívar alias “El Libertador” adalah pejuang Venezuela yang pertama kali mencita-citakan
lepasnya Amerika Latin dari penjajahan Spanyol. Lahir di Caracas 24 Juli 1783,
Bolívar yatim piatu sejak berusia 9 tahun. Pada usia 15 tahun Bolívar dikirim
ke Spanyol oleh pamannya untuk belajar. Ia mendapat pendidikan yang istimewa,
terutama dari guru dan teman sepanjang hayatnya Simón Rodríguez, yang memperkenalkannya
pada ide-ide Pencerahan serta karya-karya klasik Yunani dan Romawi.
Awal
abad ke-19 saat berada di Eropa, Bolívar menyaksikan proklamasi Napoleon
sebagai Kaisar Perancis, sekaligus pengangkatannya sebagai Raja Italia di
Milan. Bolívar muak melihat Napoleon yang dianggapnya telah mengkhianati cita-cita
Revolusi Perancis. Ketika berada di Italia itulah Bolívar menyatakan sumpahnya
yang termasyhur di pucuk Gunung Aventin, Roma, untuk tidak pernah beristirahat
sampai seluruh Amerika terbebaskan dari penjajahan.
Detil perjuangan Bolívar tidak perlu diulas panjang lebar di
sini. Yang jelas pada akhirnya Bolívar berhasil membebaskan Venezuela, Granada
Baru (kini Kolombia), Quito (kini Ekuador), Peru, dan sebuah negara baru yang
diberi nama Bolivia untuk menghormati dirinya. Meski demikian, ada satu hal
yang tidak bisa ditaklukkan oleh Bolívar, yakni kaum oligarki nasional.
Sesudah
Spanyol terusir, kaum oligarki inilah yang naik menduduki kekuasaan di
tiap-tiap negara. Persaingan perebutan kekuasaan antar mereka sendiri
memecah-memecah kembali persatuan Amerika Selatan yang sudah diperjuangkan oleh
Bolívar. Lebih parah dan ironis dari itu, para pejuang Bolívarian justru tersingkir
dari sistem politik pasca pembebasan ini. Simón Bolívar takkan pernah bisa
kembali ke kampung halamannya di Venezuela. Jenderal Sucre, tokoh seperjuangan
Bolívar dan orang terakhir yang mengusir Spanyol dalam pertempuran di Ayachuco,
dibunuh oleh rekayasa kaum oligarki tersebut. “Apa bagusnya kemerdekaan ini?”
tanya Simón Bolívar sekembalinya ke Cartagena, Kolombia, setelah 20 tahun di
medan perang, ketika ia mendapati kota itu masih penuh anak-anak
pengemis—kemiskinan yang tak kunjung selesai gara-gara oligarki nasional tak
peduli dengan cita-cita kesejahteraan sosial yang terkandung dalam perjuangan
kemerdekaan Bolívar.
Bangkitnya Kembali Ide Bolívarian dalam Tentara Venezuela
Chávez
dan beberapa rekan tentara seangkatannya tahu bahwa tentara Venezuela mengemban
kebanggaan sebagai turunan langsung Tentara Persatuan Pembebasan Amerika Selatan bentukan Bolívar.
Seiring kebanggaan ini mereka juga sadar bahwa oligarki telah memanfaatkan
mereka sebagai alat kekuasaan belaka.
Pada Oktober 1977, Hugo Chávez yang berusia 23 tahun ditempatkan
di wilayah pegunungan timur yang masih banyak dihuni “gerilyawan pemberontak”
(menurut Chávez, apa yang dimaksud sebagai “gerilyawan” ini sesungguhnya cuma
petani miskin). Hal ini kian memperkuat keyakinannya bahwa Tentara Venezuela
sudah melenceng dari cita-citanya. Bersama keempat rekannya ia pun membentuk
“Tentara Bolívarian Pembebasan Rakyat Venezuela.” Tentu saja dengan anggota
cuma 5 tak banyak yang bisa mereka lakukan, namun inilah cikal bakal kembalinya
ideologi Bolivarian dalam tentara Venezuela. Mereka tahu bahwa meninggalkan
ketentaraan justru tidak efektif bagi perjuangan. Kelima orang ini bekerja
keras mempengaruhi rekan-rekannya yang lain. Tahun 1982 Chávez menjadi kapten
pasukan regu payung. Sebagai kapten ia bisa mempengaruhi anak buahnya lebih
banyak. Mereka bersumpah di bawah pohon samán, yang menurut catatan
sejarah pernah dipakai sebagai tempat berkemah Simón Bolívar. Mereka berikrar
untuk membentuk gerakan Bolivarian di dalam tentara. (Inilah yang sesungguhnya
membuat mayoritas pucuk pimpinan militer bisa begitu setia kepada Chávez dalam
menghadapi kudeta oligarki sebagaimana kita lihat di film yang tadi diputar.
Sebagian besar perwira tinggi sekarang adalah rekan seangkatan Chávez yang
turut mengucapkan ikrar di bawah pohon samán itu, misalnya Pangkostrad
Jenderal Baduel dan Jenderal Cordero, begitu pula kepala pasukan pengawal
kepresidenan).
Hubungan Sipil-Militer
Menciptakan prajurit-prajurit yang
berwawasan sipil dan warga sipil yang sadar militer, inilah yang selalu menjadi
tujuan kami.
— Hugo Chávez
Chávez tahu bahwa pergulatan mereka dalam tentara harus didukung
dengan gerakan oposisi dari luar. Meski ide-ide kiri bukan barang baru bagi
Chávez (ia mengaku masa mudanya sangat dipengaruhi oleh buku Plekhanov, Peran
Individu dalam Sejarah, bahkan pernah di hadapan tamtaman-tamtama sekolah
militer ia memberi ceramah soal Che Guevara, yang membuatnya dikenai sanksi disipliner),
baru pada saat ia mulai menjalankan “Tentara Bolívarian”-nya ia berkenalan
konkret dengan gerakan kiri.
Kakak sulungnya, Adán, adalah seorang komunis, bagian dari
kelompok klandestin mahasiswa Universitas Andes bersama Rafael Ramírez (kini
Menteri Perminyakan). Keduanya adalah binaan gerilyawan legendaris Douglas
Bravo, pendiri Partai Revolusi Venezuela. Sejak 1977 sampai 1982, Chávez banyak
melakukan kontak dengan Bravo yang sangat dihormatinya. Namun bagi Chávez, Bravo
sama saja dengan penguasa oligarki yang memperlakukan militer hanya sebagai
alat. Seakan-akan militer cuma “sayap bersenjata dari revolusi”. Bila di sini
kita ogah dengan dwifungsi, yang diinginkan Chávez justru dwifungsi militer
ini. “Aku tidak ingin menghadiri pertemuan yang temanya cuma berapa jumlah
personil yang ada di pihak kita dan apa rencana militernya. Aku tertarik dengan
rencana politik.” Chávez ingin angkatan bersenjata dilibatkan aktif dalam
menyusun manifesto politik.
Chávez juga berhubungan dengan tokoh-tokoh buruh dari partai
radikal Causa R (“Radical Cause”) seperti Ramón Machuca dan Alfredo Maneiro.
Dari pertemuan-pertemuan mereka Chávez membayangkan keterlibatan seluruh
komponen masyarakat dalam pemberontakan dan mengangankan terbentuknya semacam
batalion buruh.
Pembantaian Caracazo dan Pemberontakan Pertama Chávez
Cendekiawan Perancis Ignacio Ramonet berpendapat bahwa Venezuela
adalah kasus unik yang perlu dipelajari mendalam dalam menghadapi globalisasi
neoliberal. Ramonet membagi globalisasi menjadi 3 fase. Pertama, ketika
ambruknya Uni Soviet membawa perubahan-perubahan besar dan dunia sibuk
bertanya-tanya seperti apa kondisi nanti setelah konsensus-konsensus neoliberal
digencarkan. Kedua, saat proses globalisasi neoliberal ini sudah bisa
dicerna dan dipahami, lalu dunia mulai melancarkan protes atas model tersebut
(fase Zapatista, Seattle, Genoa). Ketiga, ketika proposal alternatif
mulai ditawarkan dan diimplementasikan.
Menurut Ramonet, Venezuela berada di luar pola ini, karena sejak
awal, yakni pada 1989 (bahkan sebelum Uni Soviet benar-benar runtuh), rakyat
Venezuela sudah turun ke jalan memprotes neoliberalisme. Mereka menuntut agar
Presiden Carlos Andrés Pérez batal melaksanakan “paket kebijakan” pasar
bebas yang dipaksakan oleh IMF (dalam bentuknya yang sudah kita kenal:
pencabutan subsidi, PHK massal, privatisasi BUMN, dan secara umum mereduksi
peran negara dalam perekonomian). Protes ini direspons secara militer oleh
pemerintah, dan terjadilah apa yang disebut sebagai “pembantaian Caracazo”.
Angka resmi menyebutkan korban sipil yang tewas 276 jiwa, namun berdasarkan
temuan lanjutan atas kuburan-kuburan massal bikinan tentara, Mahkamah HAM
Inter-Amerika memperkirakan jumlah korban sesungguhnya bisa melebihi 3.000
jiwa. Bila pembantaian Tiennamen –protes terhadap pemerintahan komunis—begitu
meluas pemberitaannya di seluruh dunia, pembantaian Caracazo –protes terhadap
pemerintahan neoliberal—nyaris tak terdengar di mana pun.
Peristiwa ini benar-benar mengusik Chávez. Ia berkata kepada
rekan-rekan “Tentara Bolívar”-nya: “Bolívar pernah berkata, ‘Terkutuklah
tentara yang memakai senjatanya untuk melawan rakyatnya sendiri.’ Sebagai tentara
kita sudah terkutuk sekarang, dan kita harus mengusir kutuk ini agar tidak
merongrong kesadaran kita.” Tiga tahun kemudian, 4 Februari 1992, Chávez
bangkit melancarkan pemberontakannya.
Tentu saja syarat-syarat revolusi belum cukup matang dalam
masyarakat Venezuela. Kekuasaan masih bercokol terlalu kuat dan rakyat belum
terorganisir dengan baik. Pemberontakan Chávez bisa dipatahkan dengan mudah.
Semua perwira dan prajurit yang terlibat dijebloskan ke penjara militer
Caracas. Mereka diminta mencopot seragam tentaranya tetapi menolak. Justru 2½
tahun di penjara militer semakin menempa Tentara Bolívarian ini untuk jadi
semakin solid.
Sementara di luar penjara proses politik bergulir. Carlos Andrés
Pérez dilengserkan dari kursi kepresidenan atas tuduhan korupsi. Penggantinya,
Ramon Caldera, memberi pengampunan bagi Chávez dkk. Saat dibebaskan dari
penjara pada 26 Maret 1994, sekelompok jurnalis bertanya pada Chávez, “Anda
hendak ke mana sekarang, comandante?” Jawabnya: “Ke kekuasaan.”
Revolusi Takkan Disiarkan di Televisi
Tahun 1994 saat Chávez dkk dibebaskan adalah tahun “pilkadal” di
Venezuela. Kelompok Chávez memutuskan meninggalkan jalan pemberontakan
bersenjata dan memilih perjuangan elektoral. Mereka rancang cara-cara untuk
mematahkan basis kekuatan kaum neoliberal. Mereka ajukan tokoh-tokoh Bolívarian
untuk kandidat gubernur dan walikota, dan sepanjang 1995 berkeliling pelosok
Venezuela untuk menjelaskan ide-idenya. Persatuan militer-sipil yang
dicita-cita Chávez mulai terjalin.
Meski awalnya gerakan ini (yang dinamai “Gerakan Republik
Kelima”) diremehkan oleh penguasa, pada 1997 kaum oligarki nasional mulai cemas
melihat basis gerakan ini yang kian meluas. Kampanye negatif pun digencarkan di
media cetak dan siar. Televisi memang sudah sejak lama menjadi musuh Chávez.
Dalam proses menuju pemilu 1998 ini Chávez nyaris tak pernah diwawancarai.
Beberapa jurnalis diringkus karena telah mewawancarai Chávez, dan stasiun teve
yang menyiarkan berita kampanye Chávez diancam ditutup.
Pesaing utama Chávez, mantan Miss Universe Irene Sáenz, mendapat
dukungan kuat kaum oligarki. Sebuah acara teve pernah menyiarkan jajak
pendapat: Irene Sáenz 77% dan Claudio Fermín 10%. Seorang hadirin di studio
bertanya: “Bagaimana dengan Chávez? Jajak pendapat ini tidak menyebut-nyebut comandante
Chávez.” Si pembawa acara menjawab, “Tidak, ia cuma mitos yang sudah
menguap.”
Stasiun teve lain bahkan pernah menyewa aktor sulih suara
profesional untuk memfitnah Chávez. Chávez dibikin seolah-olah menyatakan dalam
sebuah pidatonya, “Akan kugoreng para adecos dan copeyanos [orang-orang
partai berkuasa] itu dengan minyak.” Namun sang aktor akhirnya angkat bicara
dan mengatakan bahwa ia telah ditipu. Ia diberitahu oleh stasiun teve bahwa ini
hanya untuk komedi. Pengakuannya menjadi pukulan telak bagi kredibilitas kubu
oligarki.
Terlepas dari semua itu dan terlepas dari dugaan semua orang,
Chávez menang telak dalam pemilu 6 Desember 1998.
Referendum Bersejarah
Hal pertama yang dilakukan Chávez setelah dilantik adalah
menggelar referendum. Ia sadar betul bahwa “Republik Kelima” takkan bisa
berdiri bila “Republik Keempat” yang selama puluhan tahun menjadi mesin kaum
oligarki itu tidak dikubur terlebih dahulu, baik institusi-institusinya maupun
perangkat hukumnya (Sama seperti reformasi kita di sini terseok-seok karena
tidak ada perubahan mendasar diterapkan).
Sejak saat dilantik pun Chávez sudah “membuat ulah”. Ketika
ketua Kongres meletakkan UUD [lama] ke tangan Chávez dan bertanya, “Apakah
Saudara bersumpah di atas konstitusi ini?,” Chávez menjawab, “Saya bersumpah di
atas konstitusi yang sudah lapuk ini bahwa saya akan berbuat sekuat tenaga
dalam lingkup kekuasaan saya untuk memberi rakyat kita Magna Charta sejati yang
sejalan dengan impian mereka.”
Referendum yang diserukan Chávez inilah yang bikin geger dan
akhirnya memunculkan kudeta oligarki seperti kita lihat di film. Pihak
penentang melancarkan 25 gugatan ke Mahkamah Agung untuk menganulir dekrit
referendum tersebut, meski MA akhirnya menolaknya. Referendum digelar dan para
anggota Majelis Perwakilan dipilih. Majelis ini sendiri menjadi perdebatan
besar bahkan di kalangan progresif, karena keberadaannya di beberapa negara
Amerika Latin lainnya (Kolombia, Ekuador, dan Argentina) tidak punya banyak
pengaruh. Bahkan Carlos Menem di Argentina memakainya sebagai alat legitimasi
kebijakan neolibnya. Namun di Venezuela Majelis ini berjalan dan perubahan
besar dalam sistem pemerintahan mulai dilakukan. Konstitusi baru pro-rakyat
dirancang dan disahkan.
Venezuela dan Persatuan (Kembali) Amerika Latin
Bolívar bangkit 100 tahun sekali
manakala rakyat bangkit.
— Pablo Neruda
Chávez penting bukan hanya karena retorika-retorika kerasnya
dalam mengkritik kebijakan Bush di forum-forum internasional. Chávez penting
karena inilah pertama kalinya upaya persatuan Amerika Latin mulai digalang
kembali secara serius—dari segi politik,
bukan sebagai zona-zona perdagangan bebas.
Cita-cita Simón Bolívar mempersatukan Amerika Selatan dan Tengah
sebenarnya punya tujuan praktis, agar negara-negara kawasan ini bisa berdiri
sama tinggi dengan Amerika Serikat dan Eropa (Gagasan Bolívar sebenarnya mirip
dengan gagasan Tan Malaka tentang Federasi Aslia, yang menyatakan bahwa dunia
sebenarnya hanya perlu empat atau lima pemain besar yang terdiri dari federasi
negara kecil-kecil. Dalam kata-kata Tan Malaka, kurang lebih: “Anjing yang sama
besar akan selalu menjaga diri untuk tidak saling menerkam.”) Cita-cita inilah
yang digaungkan kembali oleh Chávez.
Kesadaran bahwa Zona Perdagangan Bebas Benua Amerika (Acuerdo
Libre de Comercio para las Americas atau ALCA) bisa membahayakan pembangunan
kawasan, mulai dirasakan oleh Argentina, Brasil, negara-negara Karibia, dan
terakhir oleh Bolivia. Chávez mengusulkan pembentukan Alternatif Bolívarian
untuk Amerika (ALBA, yang kebetulan dalam bahasa Spanyol juga berarti “fajar”)
sebagai penanding ALCA. Bila ALCA menitikberatkan pada “perdagangan bebas”,
ALBA meningkatkan kerjasama ekonomi antar negara berdaulat yang mengontrol penuh
SDA-nya sendiri demi memprioritaskan “keadilan sosial” rakyat di kawasan
tersebut.
Chávez juga mengusulkan pembentukan “PetroAmerica”, semacam OPEC
untuk kawasan Amerika Latin, gabungan dari BUMN-BUMN minyak yang belum
diprivatisasi: PDVSA di Venezuela, PETROBRAS di Brasil, COPETROL di Kolombia,
PETROTRIN di Trinidad, PETRO-ECUADOR di Ekuador, dan PETROPERU di Peru,
ditambah dengan Bolivia yang cadangan minyaknya besar namun selama ini belum
dikelola dengan benar.
Jumat, 12 Oktober 2012
Mo Yan dan Sastra Amerika Latin
Sumber:
“Mo Yan bromeó con Vargas Llosa y declaró su amor por García Márquez,” La Tribuna, 11 Oktober 2012.
Mo Yan meraih Hadiah Nobel Sastra 2012. Sebuah
penghargaan yang memang sangat layak –dan sudah waktunya—diterimanya. Meski
sebagian kritikus menyebut gayanya juga “realisme magis”, namun buat saya Mo
Yan terlalu bagus dan orisinal untuk disebut sebagai sekadar pengikut,
katakanlah, Gabriel García Márquez. Oleh sebab itu Komite Nobel menyebut
gayanya sebagai “realisme halusinatif”, untuk membedakan dengan “realisme
magis.” Namun bukan berarti Mo Yan tak dekat dengan karya-karya Nobelis Sastra
asal Kolombia itu atau oleh sastra Amerika Latin pada umumnya. Pada Mei 2011,
saat menghadiri peluncuran terjemahan Cina resmi atas Cien años de soledad, Mo Yan berkata, “Setelah membaca tujuh
halaman novel ini, dan terkesima oleh kalimat pertamanya, saya mendapat
inspirasi untuk karya saya sendiri." Selama puluhan tahun mahakarya García
Márquez tersebut, serta karya-karyanya yang lain, beredar di Cina dalam edisi
terjemahan bajakan, dan baru pada 2011 ia diterjemahkan dan diedarkan secara
resmi.
Sebulan sesudah momen tersebut, pada Juni
2011 Mo Yan menemui Nobelis Sastra lainnya asal Peru, Mario Vargas Llosa, yang tengah
mengunjungi Cina dalam tur promosi karyanya. Mo memicu tawa hadirin ketika
berseloroh bahwa saat istrinya melihat foto Vargas Llosa, istrinya merasa “kok
gantengan dia daripada kamu” dan suami-istri itu pun jadi “tak lagi saling berbicara
untuk sementara waktu.” Dengan humor pula Vargas Llosa lalu menanggapi bahwa ia
menyesal telah memicu permasalahan rumah tangga. Keduanya kini sama-sama
tercatat sebagai penerima Hadiah Nobel Sastra.
![]() |
| Mario Vargas Llosa bertemu Mo Yan (http://chinaesunplaneta.com) |
Senin, 24 September 2012
Pidato Camila Vallejo di Global Student Leadership Summit, Inggris, 20 September 2012
Presentasi wakil
presiden Federasi Mahasiswa Cile, Camila
Vallejo, pada rangkaian acara Global
Student Leadership Summit di Inggris, 19-21 September 2012. Presentasi ini
dilaksanakan pada hari kedua, pukul 10.00 waktu setempat. Diterjemahkan ke
bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus.
Akan saya awali dengan menggarisbawahi
permasalahan yang sudah gamblang bagi semua orang: pendidikan di belahan bumi
manapun bukanlah, atau seharusnya bukanlah, sekadar hak azasi, melainkan juga
unsur strategis bagi pembangunan masyarakat. Jadi, apa yang terjadi manakala
pembangunan ini sesat jalan? Atau ketika pembangunan ini tak lebih dari
pemiskinan ekonomi yang terus menghebat? Apa yang terjadi manakala sasarannya
bukanlah untuk memperbaiki standar hidup manusia yang selaras dengan
lingkungan, melainkan untuk meningkatkan efisiensi dan tingkat keuntungan
perusahaan-perusahaan, tanpa peduli dengan kerusakan ekologis dan manusiawinya
yang terus menerus? Manakala sasaran strategis dari model-model pembangunan
kita bukanlah kesetaraan, kebebasan, dan martabat rakyat, melainkan reproduksi
ketimpangan dan penajamannya yang dipijakkan pada akumulasi kekayaan, atau
bahkan satu generasi bentuk-bentuk baru perbudakan, seperti jeratan utang dan
narkoba.
Maka, pantaskah membiarkan sistem pendidikan
kita dijadikan alat reproduksi sosial dan ideologis dari model pembangunan semacam
itu? Atau kita ingin merancang sistem pendidikan baru yang berfungsi sebagai
perangkat transformasi sosial yang sebenar-benarnya?
Di Cile, gerakan mahasiswa, dan kemudian
pendidikan sosial, jelas memilih yang kedua. Di negara kami, bukan hanya hak
azasi atas pendidikan tak dijamin dalam konstitusi politik, mengingat
konstitusi tersebut pertama-tama memastikan adanya kebebasan berusaha, melainkan
juga bahwa desain sistem pendidikan kami secara presisi ditujukan untuk
melanggengkan dan mereproduksi model ekonomi neoliberal yang diberlakukan paksa
selama kediktatoran militer 1973.
Bukan kebetulan apabila serangkaian gerakan
sosial yang berkembang di Cile, setidaknya sejak 2010 dan seterusnya, selain
mengajukan tuntutan-tuntutan spesifik, semuanya juga mempertanyakan model
pembangunan kita. Yang terjadi adalah realitas telah melampaui janji-janji yang
selama lebih dari 30 tahun tidak bisa dipenuhi oleh model tersebut. Realitas material
ini ada kaitannya dengan masalah ketimpangan, berutangnya jutaan orang dan laba
kaum yang segelintir di atas pundak jutaan orang itu.
Cile berada di salah satu tingkat
ketimpangan tertinggi di dunia. Menurut angka-angka dari Fundación SOL, organisasi
nirlaba yang menggelar penelitian dunia kerja di Cile, ketimpangan antara kaya
dan miskin telah naik 46 kali lipat sejak 1980an. Sejak 1990an, ekonomi
produktif bertumbuh 80% sementara upah buruh hanya naik 20%. 46% penduduk
berpenghasilan kurang dari upah minimum (kurang dari 400 dolar atau 320 euro) dan
2 dari 3 orang yang berada di bawah garis kemiskinan adalah para pekerja gajian.
Faktanya adalah di Cile, sejak model
perekomian neoliberal diberlakukan, dan dikukuhkan oleh Washington Consensus, ketimpangan
meninggi dan hak-hak dasar direduksi menjadi bisnis dan privilese segelintir
orang saja.
Karena mereka tidak punya cukup upah untuk
hidup, tenaga kerja terpaksa meminjam dari bank-bank swasta untuk membiayai
pendidikan, kesehatan, pangan, sandang, dan layanan-layanan dasar bagi keluarga
mereka.
Dihadapkan pada realitas ini –yang tak
pernah disebut-sebut dalam pidato-pidato resmi tentang betapa hebatnya
kebijakan makroekonomi kami—bagi kami tidak bisa ditolerir bahwa pendidikan
tidak dirancang untuk mengatasi ketimpangan ini, malah mereproduksinya dan
membuatnya kian dalam.
Pada 1980an, dalam kediktatoran militer
penuh dan tanpa meminta pendapat siapapun, Negara direduksi perannya menjadi
sekadar pelengkap, sementara pasar diberi kuasa dan sumber daya untuk mengubah
pendidikan dan hak-hak dasar lainnya menjadi bisnis yang menguntungkan. Pendidikan
negeri dalam sekejap ditelantarkan, dan pendidikan swasta mengalami limpahan
yang belum ada presedennya.
Hari ini, pendidikan umum kurang mendapat
dana. Pada tingkat sekolah, pendanaan ini hanya senilai 30% dari bea
pendaftaran total dan pendidikan tinggi negeri kurang dari 20%, penurunan yang
dari tahun ke tahun disebabkan oleh perkembangan langkah-langkah dan
perombakan-perombakan di sektor komersial. Universitas-universitas negeri
rata-rata menerima kurang dari 15% dari anggaran mereka dari Negara, dan keluarga
pun praktis membayar biaya-biaya ini melalui sumber daya mereka secara langsung
(30.000 dolar per gelar secara rata-rata), atau melalui utang kreditan (yang
bisa melambungkan biayanya sampai 200%).
Sistem swasta tumbuh tanpa regulasi.
Investor dari Cile dan pelbagai belahan dunia lainnya menyuntikkan modal finansial
mereka ke bisnis-bisnis besar yang menguntungkan, yang memberi mereka sektor
pendidikan kami, tak peduli dengan tipu muslihat yang telah menyusun
institusi-institusi ini.
Subsidi bagi sisi permintaan ini, melalui
pembiayaan bersama (keluarga dan Negara) serta kompetisi tak sebanding antara
institusi-institusi negeri dan swasta berakibat bahwa pendidikan di Cile bukan
hanya salah satu yang termahal di dunia akibat privatisasi itu, melainkan juga
yang paling tersekat-sekat. Laporan yang sama dari OECD menunjukkan bahwa
pendidikan di Cile secara sadar distrukturkan oleh kelas-kelas sosial.
Hal ini berarti bahwa pendidikan di Cile
dicipta untuk melanggengkan dan membelah-belah kelas-kelas sosial: pendidikan
bagi orang kaya, bagi kelas menengah, dan bagi kaum miskin—pendidikan untuk
menghasilkan calon-calon elite nasional. Di sisi lain, pendidikan teknis unggulan
untuk membentuk tenaga kerja manual yang murah, sementara
universitas-universitas swasta membentuk calon direksi perusahaan-perusahaan
besar, dst. Semua orang dipilah-pilah berdasarkan kemampuan mereka membayar, dan
mayoritas terbesarnya berutang.
Jadi, sasaran privatisasi di Cile bukan
hanya mempertahankan ketimpangan sosial, menghancurkan pendidikan negeri
sebagai ruang integrasi sosial, namun punya hubungan langsung dengan hancurnya
apa yang dipandang sebagai titik temu “musuh dalam selimut”: pendidikan negeri
yang membentuk warga negara yang kritis, yang berpikir soal realitas kebangsaan
dan ketidakadilan-ketidakadilannya, aktif dalam proses demokratisasi internal dari
lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini.
Yang berusaha dihancurkannya adalah kemungkinan
bahwa pendidikan akan memberikan perangkat yang dibutuhkan bagi mahasiswa bukan
hanya untuk menjadi kaum profesional yang baik, namun warga negara yang kritis dan
bukan sekadar boneka-boneka hidup yang terkurung dalam perusahaan-Universitas
yang besar ini.
Di sekolah-sekolah negeri, pendidikan
kewargaan (educación cívica)
berangsur-angsur dihabisi. Dikuranginya jam pelajaran sejarah, filsafat, seni,
dan musik menggambarkan betapa mayoritas rakyat kami harus menjalani sebuah
pendidikan yang secara fungsional digiring ke arah neoliberalisme. Kesadaran
mereka secara mendalam telah digerogoti. Sampai pada nilai-nilai solidaritas, etik,
penalaran kolektif yang fundamental bagi pembentukan organisasi-organisasi
kerakyatan di negeri kami selama era ’60an dan ’70an.
Liberalisasi tawaran pendidikan dan
privatisasi sistem ini sebagai hasilnya, kurangnya pendanaan sekolah-sekolah
dan universitas-universitas negeri, pengalihan tata kelola sekolah dari Negara
ke pemerintah daerah dengan selisih yang amat besar dalam anggaran maupun
kemampuan, diutamakannya kebebasan berusaha di atas hak atas pendidikan dalam
konstitusi politik kami, subsidi atas sisi permintaan ini melalui beasiswa dan
kredit, serta standarisasi mekanisme pengukuran kualitas berdasarkan kriteria-kriteria
pasar, semuanya adalah kebijakan yang dianggap akan menyediakan, pada satu sisi,
pengajaran yang memungkinkan mereka mereproduksi unsur-unsur dasar produksi
ekonomi, dan di sisi lain, melahirkan unsur-unsur ideologis yang memastikan
kondisi politik bagi beroperasinya sistem ini.
Saya utarakan semua ini persis karena
sesudah sekian dasawarsa konstruksi dan rekonstruksi keorganisasian, artikulasi
dan penguatan dalam dunia mahasiswa, pada 2011 para mahasiswa Cile berjalan
melalui sebuah proses sintesa historis, di mana kami berhasil bukan hanya dalam
mengajukan gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ekonomi untuk
meningkatkan pendanaan pendidikan negeri, namun juga dalam bingkai proses
panjang pendewasaan politik, kami berhasil memahami bias pendidikan kami, bias
yang sangat ideologis ke arah kian tajamnya ketimpangan sosial.
Dan dengan demikian kami simpulkan bahwa
privatisasi diciptakan bukan hanya untuk membuka sebuah bisnis baru bagi sektor
swasta, namun juga untuk menghancurkan ruang-ruang publik bagi pembentukan
ideologi-ideologi yang bersimpang jalan dari pendidikan dan masyarakat. Beramai-ramai
dengan para guru, wali amanat, rektor dan pekerja pendidikan, kami sanggup
menuntut, secara berbondong-bondong di jalanan, sebuah perubahan paradigma dalam
model pendidikan di Cile, dan dengan itu juga mengubah masyarakat kami.
Perubahan paradigma ini bukan hanya
berimplikasi dipulihkannya jaminan konstitusional hak atas pendidikan –dan
karenanya, Negara harus berperan menyediakan pendidikan negeri gratis dan ruang
berkualitas bagi integrasi sosial—namun secara mendasar terkait dengan
keharusan untuk membela dan memberi kembali makna kepada “publik”, sebagai
sebuah ruang apropriasi demokratis dalam penciptaan dan penyebaran pengetahuan.
Penting untuk diutarakan bahwa dalam
perdebatan regional di Karibia dan Amerika Latin, kami juga berpikir tentang universitas
dari perspektif transformasi, perspektif sejarah gerakan mahasiswa, yang sejak
awal abad telah mengajukan dibangunnya sebuah sistem pendidikan yang
membebaskan yang mengontrak universitas sesuai kebutuhan sektor-sektor dalam
masyarakat. Sebagai sebuah gerakan mahasiswa kami percaya bahwa universitas telah
kehilangan jalannya dan tak mampu menangani kenyataan-kenyataan problematis benua
kita. Dewasa ini, isu-isu seperti segregasi sosial, kemiskinan, kelaparan, polusi
atas planet dan begitu banyak masalah lain yang mempengaruhi masyarakat kami, tidak
diperlakukan sebagai prioritas-prioritas utama di universitas-universitas. Mereka
telah disekap oleh visi reduksionis penganut pasar bebas yang makin lama makin
cepat dalam memproduksi tenaga kerja terdepolitisasi dan terstandarisasi bagi
pasar global.
Hari ini generasi-generasi baru mahasiswa terus
menjaga agar semangat pemberontakan pendahulu-pendahulu kita tetap hidup, dan
karenanya mempertahankan proses perjuangan di benua kami: saudara-saudara kami
di Kanada, yang baru saja berhasil menunda kenaikan uang sekolah; kamerad-kamerad
dari Puerto Rico, lakon dalam lembaran sejarah heroik gerakan mahasiswa kawasan
ini; kamerad-kamerad Kolombia yang setiap harinya menunjukkan bahwa sekalipun
situasinya sulit dan di tengah ancaman dan penindasan terus menerus, kepentingan
mendesak saat ini adalah memperjuangkan sebuah pendidikan yang menjawab kepentingan-kepentingan
rakyat; mahasiswa-mahasiswa Dominika menuntut 4% PDB untuk pendidikan; gerakan
mahasiswa Ekuador berjuang mempertahankan ideal-ideal otonomi dan
pemerintahan-bersama mahasiswa di Córdoba; mahasiswa Brasil berhasil mendorong 10%
PDB diinvestasikan ke sektor pendidikan, dan kami, mahasiswa Cile berjuang
memerangi model kehidupan pasar bebas yang dipaksakan oleh kediktatoran Pinochet
dan yang hari ini membeking pemerintahan Piñera dengan represi brutal atas
gerakan sosial, pelanggaran HAM, dan bahkan pengajuan undang-undang yang
mempidanakan demonstran dengan hukuman 3 tahun penjara apabila menduduki
sekolah, alun-alun, atau memacetkan jalan raya.
Dewasa ini, mata kami tertuju pada
keberagaman dan kekayaan pemikiran benua kami. Tahun lalu kami selenggarakan
Kongres Mahasiswa Amerika Latin ke-16 OCLAE (Organización Continental
Latinoamericana y Caribeña de Estudiantes) di mana lebih dari 6.000 mahasiswa
berkumpul. Kami tegaskan tekad organisasi-organisasi sebenua untuk memperkuat
pendidikan negeri bagi transformasi, inklusi, dan persatuan semua sektor
kerakyatan di tangan kaum buruh, pekerja manual, dan masyarakat adat.
Akhir kata, kami semua
berkomitmen untuk mengintegrasikan konsep-konsep adat kuno melalui proses
pendidikan interkultural, yang menghadirkan visi peradaban baru pasca-kapitalis
yang seirama dengan lingkungan dan pemanfaatan secara berdaulat dan
bertanggungjawab atas material dan sumberdaya primer kita yang terbatas. Mengembangkan
visi inilah yang sekarang ini memberi proses pendidikan di Amerika Latin jatidirinya
sendiri, dari ruang-ruang kelas ke penelitian canggih bagi perkembangan
teknologi-teknologi baru.
Langganan:
Postingan (Atom)



