Rabu, 27 Oktober 2010

Quino Tak Sekadar Mafalda

Meski dikenal luas melalui serial Mafaldakartunis Argentina Joaquín Salvador Lavado alias Quino telah menerbitkan belasan buku kartun lainnya di luar seri tersebut. Sindiran-sindiran sosial-politiknya terasa lebih menohok dalam karya-karyanya yang lain ini. Selain itu, kita juga bisa mendapati persoalan-persoalan "dewasa" serta eksplorasi visual yang rupanya belum terungkap dalam Mafalda.

Berikut beberapa kartun Quino yang saya comot dari beberapa bukunya, yang semoga bisa memberi gambaran tentang oeuvre Quino secara keseluruhan.

Di sini Quino mengangkat persoalan kekuasaan kelas kapitalis atas buruh dan masyarakat umum.


Problem: Mainkan hitam dan buat skak mat sesuka mereka
Bien gracias, ¿y usted? (1976)  


Lagi, sindiran atas hubungan penyakit dan industri obat, yang mengingatkan saya akan sepenggal lirik lagu Soul Asylum, "Misery" : "We create the cure, then make the disease."


Quinoterapia (1985)


Perdamaian? Cuma menu sarapan pagi Sang Jenderal Besar.


Mundo Quino (1981)


Sementara kartun berikut ini tampaknya alusi pada teologi pembebasan Amerika Latin a la Gustavo Gutiérrez.


Mundo Quino (1981)


Absurditas kehidupan keluarga telah disindir habis-habisan oleh Quino dalam Mafalda. Kartun-kartunnya yang lain menghadirkan isu-isu seksual yang tak pas untuk Mafalda, misalnya yang ini, kecemasan setiap orang tua yang memiliki anak perempuan: dari punya banyak mainan semasa kecilnya menjadi punya banyak "mainan" semasa remaja.


Cuánta bondad (1999)


Sedangkan yang ini mengkritik apa yang disebut "bertingkah normal" dalam kehidupan anak modern.


Quinoterapia (1985)


Ajakan untuk "hidup alamiah".


¡Qué mala es la gente! (1996)


Realitas virtual yang sangat realistis. Salah satu kartun Quino yang sangat "dewasa".


Tenang, Matilde, tenang!! Sebelum kau membayangkan yang tidak-tidak,
pernahkah kau dengar tentang realitas virtual?
¡Qué mala es la gente! (1996)


Tuhan tidak bermain dadu, kata Einstein. Ya, tapi mungkin Tuhan ikut bermain bola dengan caraNya sendiri.


Cuánta bondad (1999)


Dan tidakkah eksplorasi visual Quino ini mengingatkan kita akan salah satu adegan Inception (2010)?


Mundo Quino (1981)

Rabu, 20 Oktober 2010

Epitaf untuk Sebuah Perpustakaan, oleh Mario Vargas Llosa

"Epitafio para una biblioteca", Mario Vargas Llosa. Terbit pertama kali di El País (Madrid, 29 Juni 1997). Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari El Lenguaje de la pasión (Madrid: Punto de lectura, 2007 [2001]), hlm. 198-204.


Kemarin saya mendapat bukti kuat bahwa tempat persembunyian tercinta nan nyaman saya di London akan dirampas tanpa ampun. Saya masuki Ruang Baca Perpustakaan di jantung British Museum, dan bukan suasana hangat seperti biasa yang menyambut saya, melainkan pemandangan menyedihkan: separuh rak-rak tak terhitung jumlahnya yang melingkari ruang itu telah dikosongkan, dan di tempat ribuan buku berderet-deret apik menjulur bentangan-bentangan kayu memudar, dinodai belentong-belentong yang terlihat seperti sawang laba-laba. Belum pernah saya mengalami perasaan dikhianati dan kesepian macam ini sejak berumur 5 tahun, ketika ibu membawa saya ke Sekolah La Salle di Cochabamba dan meninggalkan saya di kelas Bruder Justiniano.

Saya pertama kali datang ke tempat ini 32 tahun lalu, saat baru saja tiba di London, untuk membaca buku-buku Edmund Wilson, yang esainya tentang evolusi gagasan sosialisme –To the Finland Station—sangat memukau saya. Bahkan sebelum menyadari kekayaan koleksinya –sekitar sembilan juta judul—saya terpana oleh keindahan Ruang Baca utama, dikitari rak-rak berbau samak dan kertas dan bermandi cahaya kebiruan yang diam-diam turun ke atasnya dari kubah menakjubkan yang dibangun oleh Sydney Smirke pada 1857, terbesar di dunia setelah Pantheon di Roma, yang mengunggulinya hanya sekitar dua meter dalam diameter. Biasa bekerja di perpustakaan yang tak nyaman dan tak ramah, seperti di Paris, yang selalu penuh sesak saat musim ujian sampai harus mengantri di Place de la Bourse sejam sebelum buka untuk bisa masuk, saya tidak bisa mempercayai perpustakaan satu ini, yang selain sangat indah juga sangat nyaman, begitu hening dan ramah, dengan bangku-bangku empuk dan meja-meja panjang di mana kau bisa membeber buku catatan, kartu-kartu indeks, dan menumpuk tinggi buku-buku tanpa merecoki sebelahmu. Marx tua menghabiskan sebagian besar hidupnya di sini, menurut Edmund Wilson, dan mejanya masih disimpan pada tahun 1960an, terlihat di sisi kanan pintu masuk, yang pada pertengahan 1980an lenyap dengan bangku-bangku sebarisnya karena diperuntukkan buat komputer.

Tanpa melebih-lebihkan bisa saya katakan bahwa saya habiskan empat atau lima sore seminggu sepanjang seluruh waktu saya di London yang lebih dari tiga dekade itu dalam Ruang Baca British Library, dan di sini saya luar biasa bahagia, lebih bahagia ketimbang tempat manapun di dunia. Di sini, dibuai bisik kereta dorong kecil yang berkeliling dari satu pembaca ke pembaca lain mengantarkan pesanan, serta ditenangkan oleh kepastian mutlak bahwa tak bakal ada telepon berdering, bel berbunyi, serta tamu berkunjung, saya siapkan kuliah-kuliah sastra saya saat mengajar di Queen Mary’s College dan King’s College. Di sini saya menulis surat, artikel, esai, drama, dan setengah lusin novel. Dan di sini saya baca ratusan buku, yang berkatnya saya pelajari hampir segala sesuatu yang saya tahu. Tapi terutama di ruang inilah saya berkhayal dan bermimpi bersama penyair-penyair besar, para penganyam mantra yang hebat, serta begawan-begawan fiksi.

Saya terbiasa bekerja di perpustakaan sejak kuliah, dan di manapun saya berada saya mencoba melanjutkan praktik ini, sampai-sampai kenangan saya akan negara dan kota-kota sebagiannya ditentukan oleh gambaran dan anekdot-anekdot yang saya dapatkan tentang perpustakaannya. Perpustakaan di gedung kuno San Marcos di Lima suasananya pekat dan kolonial, dan buku-bukunya menebar debu tipis yang membuatmu bersin. Di Perpustakaan Nasional di Abancay Avenue, para mahasiswa berisiknya luar biasa dan lebih ribut lagi penjaga yang menyuruh mereka diam (meniru mereka, sebenarnya) dengan peluit melengking. Di perpustakaan Klub Nasional tempat saya bekerja, saya baca koleksi erotika lengkap Les maîtres de l'amour, yang diedit, dikatapengantari, dan diterjemahkan oleh Guillaume Apollinaire. Di Perpustakaan Nasional Madrid yang menggigilkan, pada akhir 1950-an, orang harus pakai mantel agar tidak pilek, tapi saya pergi ke sana tiap sore untuk membaca novel-novel keksatriaan. Ketidaknyamanan perpustakaan Paris mengalahkan semuanya: bila kau tidak sadar menggerakkan lengan, sikutmu akan mengenai rusuk sebelahmu. Suatu sore di sana, saya angkat mata dari buku edan tentang orang-orang edan karya Raymond Queneau, Les enfants du limon, dan mendapati diri berhadap-hadapan muka dengan Simone de Beauvoir, yang duduk di seberang saya dan menulis membabi buta.

Kekagetan terbesar saya soal ilmu perpustakaan berasal dari seorang Cile terpelajar yang ditugasi membeli buku-buku Amerika Latin untuk Library of Congress, Washington. Ketika saya tanya pada 1965 apa kriteria pilihan yang mesti ia beli, jawabnya: “Gampang saja. Kami beli tiap buku yang terbit.” Kebijakan jutawan ini juga dipakai oleh Perpustakaan Harvard yang masyhur, di mana kau harus mencari buku-bukumu sendiri dengan mengikuti jalur rumit yang ditunjukkan oleh komputer yang bertugas sebagai resepsionis. Dalam enam bulan yang saya habiskan di sana, saya tak pernah berhasil menelusuri dengan benar labirin itu, yang artinya saya tidak pernah bisa membaca apa yang ingin saya baca, melainkan hanya apa yang tak sengaja saya temukan ketika mengembara dalam perut paus bibliografis itu. Toh saya tak bisa mengeluh, karena saya dapati penemuan-penemuan menakjubkan seperti memoar Aleksandr Herzen –seorang liberal Rusia, tak lain!— dan The Octopus karya Frank Norris.

Di Perpustakaan Princeton suatu sore yang bersalju, memanfaatkan kelengahan orang sebelah saya, saya mencuri-curi lihat buku yang sedang ia baca dan kebetulan bertemu kutipan mengenai kultus Dionysus di Yunani kuno yang membuat saya mengubah seluruhnya novel yang sedang saya garap, dan menjajal menciptakan ulang secara modern mitos klasik Andes tentang kekuatan-kekuatan irasional dan kerasukan ilahi. Perpustakaan New York yang paling efisien dari semuanya –tak perlu kartu pendaftaran, dan buku-buku yang kau minta dikeluarkan dalam hitungan menit—tapi tempat duduknya juga yang paling keras, jadi mustahil bekerja di sana lebih dari sekian jam kecuali bila bawa bantal untuk melindungi tulang sulbi dan tulang ekor.

Dari semua perpustakaan ini dan lain-lainnya saya punya kenangan manis, tapi tak ada satu pun baik secara terpisah maupun bersama-sama yang telah membantu, merangsang, atau mendukung saya begitu rupa seperti Ruang Baca ini. Dari episode tak terbilang banyaknya yang bisa saya pakai untuk menggambarkan hal tersebut, saya pilih yang terakhir: menemukan dalam katalognya majalah tipis yang diterbitkan di Amazon setengah abad lalu oleh romo-romo Dominikan yang bertugas di kawasan terpencil itu, berisi salah satu dari sedikit testimonial tentang suku Machiguenga beserta mitos, legenda, adat, dan kebiasaan mereka. Dengan putus asa saya minta teman-teman di Lima untuk mencari dan memfotokopinya –saya perlu bahan itu untuk novel—dan ternyata koleksi lengkapnya ada di sini, di British Library, di hadapan saya.

Ketika, pada 1978, pemerintahan Partai Buruh mengumumkan bahwa karena kurangnya ruang, perpustakaan baru akan dibangun dan Ruang Baca akan dikembalikan ke British Museum, tengkuk saya merinding. Tapi melihat suramnya kondisi perekonomian Inggris waktu itu, saya hitung-hitung bahwa untuk merampungkan proyek mahal ini bisa jadi makan waktu lebih banyak ketimbang sisa umur saya. Namun demikian, setelah 1980-an, keadaan mulai membaik di Inggris, dan gedung baru itu, yang didirikan di daerah yang tersohor atas mucikari dan pelacurnya, St. Pancras, mulai tumbuh membesar dan menampakkan parasnya yang mengerikan penuh batu bata dan jeruji besi penjara. Sejarawan Hugh Thomas membentuk komite yang mencoba meyakinkan pihak berwenang bahwa meskipun British Li­brary pindah ke lokasi baru, Ruang Baca di British Museum harus dilestarikan. Saya anggota komite, saya tulis surat dan meneken petisi, tapi percuma, karena British Museum bertekad memulihkan apa yang menurut hukum menjadi haknya dan pengaruh serta argumennya mengalahkan argumen kami.

Kini segalanya lenyap. Buku-bukunya sudah diboyong ke St. Pancras, dan meski secara teori Ruang Baca akan dibuka sampai pertengahan Oktober dan sebulan sesudahnya Ruang Humaniora penggantinya akan dibuka, ia sudah mulai mati sedikit demi sedikit, karena buku-bukunya, yang menjadi jiwanya, dicabik keluar dan tinggal cangkang yang melompong. Segelintir dari kami para sentimentalis akan terus datang sampai hari penghabisan, seperti saat kita temani orang-orang tersayang dalam penderitaan terakhir mereka agar bisa berada di sampingnya saat menarik nafas penghabisan, tapi suasananya takkan sama pada bulan-bulan ini, tidak pula kesibukan sunyi yang dulu atau perasaan nyaman untuk membaca, meneliti, mencatat, dan menulis di sana, tercebur dalam kondisi yang ganjil, seakan lolos dari roda waktu, menjamah dalam ruang cekung kebiruan itu atemporalitas hidup yang seolah-olah dilakoni melalui buku-buku dan ide-ide serta fantasi-fantasi mengagumkan yang terwujud di dalamnya.

Tentu saja, dalam hampir 20 tahun berlalu sejak pembangunan dimulai, perpustakaan St. Pancras sudah jadi kekecilan dan takkan muat menampung semua stoknya, yang bakal berpencaran di gudang-gudang penyimpanan seputar London. Cacat dan kesemrawutan yang menimpanya ini telah membuat Times Literary Supplement menggambarkannya sebagai “British Library atau Bencana Besar.” Saya, tentunya, belum pernah masuk ke sana, dan manakala lewat yang saya pandangi adalah para pelacur pekerja keras di trotoarnya, bukan tembok batunya yang merah darah, yang membuat orang membayangkan bank, barak, atau pembangkit listrik, dan bukan kerja intelektual. Saya jelas takkan menginjakkan kaki ke sana sampai tidak punya pilihan lain, dan akan terus saya canangkan sampai mati bahwa dengan mengganti tempat kesayangan banyak orang itu dengan horor ini, sebuah kejahatan memalukan telah diperbuat, dan kejahatan ini gampang dijelaskan, karena bukankah mereka ini orang-orang yang sama yang menjebloskan si malang Oscar Wilde ke penjara dan melarang Ulysses-nya Joyce serta Lady Chatterley’s Lover-nya Lawrence?

London, Juni 1997

Selasa, 19 Oktober 2010

Lagi, Bukan Kiri Bukan Kanan

Latin America's Political Economy of the Possible: Beyond Good Revolutionaries and Free-Marketeers
Javier Santiso
Terjemahan Inggris oleh Cristina Sanmartin dan Elizabeth Murry dari
Amérique latine. Révolutionnaire, libérale, pragmatique (2005)
MIT Press, 2007


Kita telah mendengarnya berulang kali, dalam pelbagai versi, dari Soeharto sampai SBY, ajakan untuk bersikap pragmatis, untuk melampaui kiri dan kanan, untuk mengambil jalan tengah, untuk tidak terjebak pengkutuban ideologis dalam menerapkan kebijakan ekonomi-politik demi kemakmuran rakyat.


Tapi menurut saya, ajakan untuk mencari cara baru guna menghindari kelemahan-kelemahan dalam ortodoksi ekonomi-politik kiri dan kanan harus dibedakan dengan ajakan untuk tidak bersikap ideologis dalam berpolitik. Karena dalam jenisnya yang pertama itu, ideologi tetap ada dan tetap dijadikan pijakan yang kukuh. Contohnya yang jelas adalah Pancasila. Rumusan Pancasila punya warna sosialis yang sangat kental melihat penggagasnya yang sangat kiri, lalu mengapa pada zaman Orde Baru Pancasila dibilang "bukan kiri bukan kanan" sampai memunculkan guyonan soal "yang bukan-bukan" itu? Contoh lain adalah Jalan Ketiganya Anthony Giddens, atau paham kesejahteraan Svenska modellen ala Swedia yang sering disebut "ultra Keynesian"--semuanya memiliki pijakan ideologis yang kukuh yang bersumber pada cita-cita mencapai kesetaraan dan keadilan.

Sementara ajakan untuk bersikap pragmatis, yang seakan-akan tak hendak menganut ideologi secara kaku, justru seringkali menyembunyikan fakta bahwa ajakan ini sangat ideologis (dalam hal ini kapitalis sifatnya).* Kita ingat Daniel Bell dengan The End of Ideology yang terbit di penjelang akhir era 1960an. Bell menyatakan bahwa pragmatisme dalam bentuk teknokratisme akan merajai karena segala masalah sosial akan bisa dipecahkan secara teknologis. Kita ingat juga The End of History-nya Francis Fukuyama pada akhir 1990an yang menyatakan bahwa sejarah sudah berakhir sesudah blok Soviet runtuh, lagi-lagi pemecahan teknislah yang akan berkuasa.

Sepuluh tahun memasuki abad ke-21 kita tahu ramalan Bell dan Fukuyama tidak afdol. Masalah-masalah sosial tidak bisa dipecahkan secara teknis semata. Lagipula, pengalaman banyak negara terutama AS dan Inggris era 1980an menunjukkan dengan jelas bahwa apa yang disebut pragmatisme itu tak lain adalah samaran dari kapitalisme laissez-faire yang paling brutal.

Karenanya saya cukup heran masih ada ekonom di abad ke-21 ini yang lagi-lagi mengajurkan pragmatisme semacam itu sebagai metode ekonomi-politik terbaik. Javier Santiso ingin menunjukkan di buku ini bahwa perkembangan kontemporer Amerika Latin hanya bisa dijelaskan melalui semacam pragmatisme yang kini diistilahkannya sebagai "possibilism": meninggalkan ideologi-ideologi kaku baik dari kiri (sosialisme dan revolusi) maupun kanan (pasar bebas), dan menerapkan apapun yang bisa dipakai untuk meningkatkan kesejahteraan.

Santiso tentunya tidak menjelaskan bagaimana pragmatisme ini sebenarnya justru terkait erat dengan ideologi ekonomi dominan zaman Reagan-Thatcher yang telah diulas tadi. Pemberontakan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista di Chiapas, Meksiko, pada 1994 menunjukkan bahwa suatu gerakan ideologis masih terus dibutuhkan. Demokratisasi di Meksiko takkan berjalan secepat yang terjadi sekarang bila tak ada dorongan dan efek gulir yang sangat kuat akibat pemberontakan Zapatista. Fakta inilah yang justru tak disinggung sama sekali oleh Santiso seolah-olah Zapatista tidak pernah berpengaruh dan bahkan tidak ada. Itu bisa dipahami, karena bila Santiso memberi kredit pada Zapatista atas perannya dalam demokratisasi Meksiko, maka runtuhlah bangunan tesisnya bahwa Amerika Latin sekarang sudah melampaui "good revolutionaries".

Seharusnya dari data-data ekonomi Peru Santiso bisa melihat bahwa politik bagaimanapun selalu butuh utopia, dan bukan pragmatisme belaka. Orang takkan puas dengan pencapaian-pencapaian ekonomi jangka pendek semata. Penerimaan masyarakat terhadap pemerintahan Alejandro Toledo di Peru anjlok terus mulai kuartal ke-3 tahun 2001 dan mencapai titik terendahnya pada kuartal 1 tahun 2004, padahal pada periode yang sama PDB Peru terus meningkat. Bagaimana Santiso akan menjelaskan ini lewat "possibilism"-nya?

Mengutip Flaubert, Santiso mengatakan bahwa ideologi-ideologi besar yang dianut negara-negara Amerika Latin selama ini mengidap "rage de vouloir conclure" (atau the rage to conclude, the impatience to reach results without proceeding step by step). Sayang sekali bahwa analisa buku ini tampaknya juga mengidap kecenderungan itu. Sayang karena sebenarnya Santiso adalah penulis yang piawai. Analisa ekonomi-politik setebal 272 halaman ini ditulis dengan cergas (witty) dan tidak membosankan, hanya bila ditelusuri lebih dalam, tesis dasarnya kurang meyakinkan.
____
*) Mengenai perbedaan antara "alternatif" dengan "jalan tengah" ini, saya ingin mengutip Prof. Robert Lawang dalam uraiannya tentang masalah agraria di Indonesia (yang meskipun berbeda, namun juga punya tautan dengan kebijakan ekonomi-politik yang lebih luas): "Karena itu, mencari jalan tengah, seperti yang menjadi kebiasaan sikap pada orang Indonesia, cenderung mereproduksi habitus lama kita." (Tanah untuk Keadilan dan Kesejahteraan Rakyat, Dewan Guru Besar Universitas Indonesia, 2010, hlm. 130) Di sini, dengan memakai sosiologi Bourdieu, Lawang bicara tentang habitus kelas atas, habitus kota dan antidesa yang telah mengendap dalam struktur kepribadian Indonesia yang membuat kebijakan-kebijakan agraria tak pernah berpihak pada petani dan masyarakat bawah. Mencari jalan tengah justru akan mereproduksi habitus itu, mengekalkan status quo, bukan menyelesaikan masalah. Yang dibutuhkan adalah habitus alternatif. Sama halnya, ajakan untuk mencari jalan tengah dalam ideologi ekonomi-politik justru menopengi bahwa ajakan itu sendiri sesungguhnya ajakan untuk menerapkan ideologi dominan yang menjadi pangkal masalah.

Senin, 18 Oktober 2010

Menyambangi Karl Marx, oleh Mario Vargas Llosa

"Una visita a Karl Marx", Mario Vargas Llosa. Terbit pertama kali di Caretas, N° 342 (Lima, 25 November 1966, hlm. 34-35). Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari Contra viento y marea Vol. I (Barcelona: Seix Barral, 1986).

Catatan penerjemah: Saat menuliskan esai ini, Mario Vargas Llosa masih mengagumi Marx secara politis dan sastrawi. Kini, kendati ideologi politik Vargas Llosa telah bergeser, bisa dipastikan kekagumannya akan sosok Marx sebagai penulis tetap tak berubah.


Jalan itu amat pendek dan orang bisa menyusurinya bolak-balik dalam 10 menit. Panjangnya tak lebih dari 400 yard dan terletak antara Oxford Street dengan Shaftesbury Avenue. Kelihatannya sama seperti sembarang jalan lainnya di Soho, distrik kehidupan malam yang semrawut di London: penuh restoran, klub, bar, toko jajanan, gang-gang sempit, kios-kios penjual koran, kartu pos, dan buku porno, rumah-rumah bordil dengan pengumuman seadanya tertempel di pintu waktu malam, mengiklankan “kamar jam-jaman” dan “model lukis”, klub-klub kecil tempat para pejalan yang lewat entah karena jemu atau nafsu bisa melihat tari telanjang dan film biru dengan 10 shilling. Nama-nama eksotis menyala di jendela dan plang-plang pendar, mengiklankan makanan dari Hungaria, Italia, dan Srilanka. Sampai taraf tertentu bar-bar di sini menjiplak kafe-kafe di Saint-Germain-des-Pres (salah satunya ada yang berna ma Les Enfants Terribles). Dean Street tidak memiliki nuansa populer abad ke-19 yang dimiliki oleh jalanan Soho lainnya, dengan stan-stan buah, kembang, dan sayur mayurnya, dengan baunya yang menyengat dan pembelinya yang berisik dan berjalan separuh tidur. Tak ada pasar di Dean Street, hiburan di situ bersifat pabrikan dan industrial.

Meski hanya satu dua bangunan di Dean Street yang tampak baru dan seluruh rumah lainnya bisa jadi seratus tahun umurnya –rapat berjajar-jajar dengan tinggi tiga atau empat tingkat, batu bata nya menghitam oleh kekelaman zaman—wujud fisik jalan tersebut pasti banyak berubah dalam seratus tahun ini, karena tidak lagi terlihat gembel atau miskin. Sulit membayangkan bahwa pada 1853 (menurut laporan polisi kala itu), Dean Street adalah “jalan paling murahan dan termiskin di London”, dan susah pula membayangkan bagaimana bentuknya pada 1850, ketika keluarga Marx –terperangkap oleh kemiskinan—datang untuk ting gal di sini, dalam dua kamar yang tak nyaman. Di situlah mereka menghabiskan tahun-tahun paling sulit dan paling penting dalam hidupnya. Tak ada plang yang menandai rumah yang mereka tinggali, dan karena penomoran jalan yang ada di buku-buku biografi masih memakai nomor asli padahal sudah berubah sejak itu, orang-orang yang ingin tahu atau para pengagum harus pergi ke Marx Memorial Library untuk menemukan lokasi rumah sepi yang diapit gang ini, dengan dua jendela kecil dari kamar yang berfungsi sebagai ruang main/makan/belajar/tidur untuk anak-anak Marx (kamar sebelah dalam adalah kamar tidur orang tuanya).

Musim dingin bermula dan bila orang berdiri terlalu lama di luar, kuping dan hidung membeku dan tangan jadi kaku, jadi saya masuk ke sebuah bar kecil yang berasap dan hiruk pikuk. Mereka tidak menyuguhkan kopi, maka saya terpaksa minta segelas bir Inggris hangat. Tapi saya mujur mendapati kursi kosong di samping radiator, dan dari situ bisa melihat dua jendela kecil tersebut pas di depan saya. Apa gerangan yang saya perbuat di Dean Street? Saya tidak membawa dua buku yang baru saja saya baca. Sayang sekali, karena saya ingin menengok ulang lembar-lembar yang mengisahkan kehidupan yang dilakoni Marx di Dean Street, untuk menyalakan kembali kekagetan serta keterpukauan saya. Biografi karya Franz Mehring sepertinya sudah kalah oleh karya para sejarawan kontemporer, dan esai Edmund Wilson tentang asal usul sosialisme tak pelak lagi bisa didebat dari banyak sudut pandang, tapi potret yang dilukiskan kedua buku tersebut tentang periode krusial dalam hidup Marx –enam tahun yang menakjubkan dan menyedihkan di Dean Street—sungguh tiada taranya. Dengan proporsi epikal keduanya memberi gambaran lebih lanjut mengenai kemenangan si pahlawan pemberontak di tengah pertempurannya yang sepi dalam menentang masyarakat atau melawan kejahatan, yang tampil dalam begitu banyak puisi dan cerita klasik.

Saya merasa frustrasi. Saya datang ke sini buru-buru dan penuh rasa ingin tahu, untuk mendapati beberapa peninggalan, beberapa jejak dari pertempuran tak terlupakan itu, hanya untuk menemui bahwa tempat pertarungan tersebut kini telah menjadi wilayah penuh kepalsuan, tempat mewah di mana kaum borjuasi lokal dan turis-turis berduit datang untuk menikmati panganan-panganan asing, minum-minum, dan membeli seks. Menggundahkan dan paradoksal bahwa distrik ini, jalan ini –yang dalam pengertian tertentu menjadi tempat lahirnya perlawanan paling geram dan efektif terhadap borjuasi—kini menjadi tempat foya-foya paling dekaden dan paling afkiran bagi kaum borjuis London. Di zaman Marx, tak sangsi lagi, seorang borjuis takkan pernah menginjakkan kaki ke Dean Street.

Segala jenis kemalangan telah menimpa keluarga Marx berbulan-bulan sebelum kepindahan mereka ke London. Diusir dari Jerman, mereka pergi bernaung ke pemukiman buruh di Brussels, namun Marx ditangkap polisi dan dibuang ke Perancis. Saat pergi mencarinya, sang istri Jenny Marx ditangkap di jalan oleh
gendarme (polisi Perancis). Dituduh gelandangan, Jenny dibui dan terpaksa berbagi ranjang dengan seorang pelacur. Di Paris, kendati hidup dengan nama samaran, keluarga Marx ketahuan oleh polisi dan dikirim ke Inggris. Tapi mereka masih punya sisa uang, dan untuk sekian bulan pertama di London mereka hidup cukup nyaman dengan menyewa sebuah flat lengkap dengan perabotannya di Camberwell. Pada 1850, uang habis dan induk semang mengusir mereka. Saat itulah mereka pindah kemari dan keadaan jadi kian memburuk. Karena tak sanggup melunasi bon-bon makan di toko-toko setempat, seluruh harta keluarga –termasuk ranjang dan mainan anak-anak—disita dan dilego. Putra bungsunya, yang baru sekian bulan usianya dan lahir di tengah-tengah pengejaran dan pembuangan ini, jatuh sakit. Tidak bisa dirawat dan diberi makan selayaknya, ia pun meninggal. Selama berbulan-bulan, satu-satunya pangan yang bisa disantap keluarga Marx hanyalah roti dan kentang, dan pada musim dingin pertama, ayah-ibu maupun anak-anaknya terserang flu. Putri termudanya tidak tahan dan meninggal sebentar sesudahnya. Nyaris pada saat yang sama, merebak wabah kolera di Soho dan sebagian besar penduduk meninggalkan pemukiman tersebut, tapi keluarga Marx terpaksa bertahan karena tak ada uang. Tahun berikutnya, sedikit barang-barang mereka yang tersisa ikut disita, termasuk pakaian (sepatu anak-anak dan mantel Marx dijual). Suatu malam polisi bertandang ke rumah dan Marx dibui atas dakwaan mencuri: seorang tetangga di Dean Street mencurigai hiasan kaca yang berkilauan di salah satu kamar Marx (satu-satunya kenang-kenangan keluarga yang coba dipertahankan oleh Jenny) adalah barang curian. Pada 1855, anak lelakinya yang masih bertahan ikut meninggal. Di antara semua pukulan tak terbilang banyaknya yang dialami enam tahun itu, inilah sepertinya yang paling memengaruhi Marx secara mendalam. “Aku telah mengalami segala jenis permusuhan,” tulisnya pada Engels, “tapi kini, untuk pertama kalinya aku tahu apa arti kemalangan.”

Pada saat inilah, ketika keluarga Marx anjlok ke dalam kemiskinan paling ekstrem di Dean Street, dengan heroik Engels memutuskan pulang ke Manchester, masuk ke pusat industri yang ia benci milik keluarganya, agar bisa menopang hidup temannya secara ekonomis. Atas nama Marx, ia setuju menuliskan artikel-arti kel yang dikirimkan Marx ke New York untuk
The New York Times dan New York Tribune. Selain bisa menopang keluarga itu agar tetap makan, komitmen ini juga menjaga Marx agar tidak teralihkan perhatiannya dari studinya atas ilmu ekonomi. Di sinilah, di Dean Street, seorang opsir polisi datang untuk menyelidiki kondisi kehidupan Marx, dan laporannya yang ditulis pada 1853 meru pakan dokumen berharga: 
Tak ada satupun perabot yang bersih atau layak di ke dua kamar. Semuanya pecah, remuk, atau koyak, dengan debu tebal melapisi segalanya ... manuskrip-manuskrip, buku dan koran-koran, di sebelah mainan anak-anak, pernak pernik keranjang jahit istrinya, cangkir dengan bibir pecah, sendok-sendok kotor, pisau, garpu, lentera, wadah tinta, gelas minum, beberapa pipa tanah liat Belanda, abu tembakau, semuanya bertumpuk-tumpuk. ... Memasuki kamar Marx, asap dan hawa temba kau membuat mata berlinang begitu rupa sampai... Anda seperti sedang meraba-raba dalam gua... duduk jadi urusan yang cukup runyam. Di sini kursi cuma punya tiga kaki, di sana kursi lainnya, yang kebetulan utuh, dipakai anak-anak main masak-masakan. 
Dan opsir polisi yang teliti ini juga memberitahu kita bahwa, “Sebagai seorang suami dan ayah, terlepas dari wataknya yang resah dan liar, Marx adalah lelaki baik dan santun.”

Di Dean Street inilah aktivitas politik Marx surut dengan telak, tapi kerja intelektual dan kreatifnya mencapai daya dan kedahsyatan yang adimanusiawi. Di sini, mengesampingkan segala kesukaran, tragedi, dan penyakit keluarga, dengan kepala batu ia paksakan dirinya memenuhi jadwal studi harian delapan jam di British Museum. Tidaklah sulit untuk membayangkan perjalanannya saban hari, pergi pukul sembilan pagi dan pulang tujuh tiga puluh malam, disusul dengan tiga atau empat jam lagi (kadang lima atau lebih) studi pribadi di kamarnya sana, di balik jendela kecil-kecil itu. Di sinilah, pada tahun berjangkitnya wabah, ia rampungkan esainya yang mengagumkan,
The Class Struggle in France, serta tahun berikutnya menulis buku Der 18te Brumaire des Louis Bonaparte, sembari anak-anaknya main kuda-kudaan, meringkik dan mendengus-dengus mengitari meja sambil mengacung-acungkan pecut. Di sinilah ia menuliskan catatan pertamanya untuk Das Kapital dan membahas, dalam surat harian panjang lebar kepada Engels sahabatnya, tafsiran ekonominya atas sejarah dan situasi kaum buruh Eropa. Di sini, dalam enam tahun itu ia belajar berbagai bahasa, menyusun buku-buku, melahap seluruh rak perpustakaan, menulis ratusan artikel dan masih sempat mengarang cerita untuk anak-anaknya tentang karakter imajiner bernama Hans Rockle, “yang punya toko ajaib tapi selalu keluyuran tanpa satu sen pun di kantungnya.”

Bagaimana dan dari mana ia menghimpun cukup tekad dan tenaga untuk melaksanakan ikhtiar yang begitu ambisius dan mulia dalam situasi yang demikian sulit? Dalam buku Edmund Wilson ada kutipan dari Marx yang menyentak saya dalam-dalam. Teks ini ditulisnya ketika ia masih mahasiswa biang onar, sangat kasar namun cerdas, ketika ia masih membaca Hegel dengan bersemangat dan mengirimi Jenny puisi romantis yang menggebu-gebu. “Penulis”, kata Marx, “boleh menghasilkan uang untuk bisa hidup dan menulis, tapi tidak sedikit pun ia boleh hidup dan menulis untuk menghasilkan uang. Tidak sedikit pun penulis boleh menganggap karya nya sebagai harta. Baginya, karyanya adalah tujuan dalam dirinya sendiri; dan sama sekali bukan harta baginya sampai bila perlu si penulis siap mengorbankan hidupnya demi karyanya. Sampai taraf tertentu, sebagaimana yang diperbuat alim ulama terhadap agama, penulis mengem ban prinsip ‘patuhi Tuhan sebelum manusia’ ketika berurusan dengan makhluk manusia yang di dalamnya ia terkekang oleh hasrat-hasrat dan kebutuhan manusiawinya."

Saya baca ulang paragraf ini berulang kali, dan kini di bar ini, yang dibanjiri anak-anak muda dengan rambut keriting gondrong, kemeja tambal sulam, kaus biru merah muda, dasi kembang-kembang dan jas panjang, sekali lagi saya merenungkannya dalam-dalam. Tidak mungkinkah Flaubert menorehkan teks yang sama persis tanpa mengubah koma satu pun? Tidakkah Flaubert yang dahsyat dan saksama itu, si pria penyepi dari Croisset itu, menuliskan definisinya tentang pengarang dan karyanya dengan istilah-istilah yang sangat serupa?

Hari sudah gelap di Dean Street, dan karena ini Sabtu, berjubel orang menyusuri trotoar. Perlahan dan ingin tahu, mereka melongok-longok ke jendela restoran luar negeri, kedai-kedai buku porno, bordil terselubung, serta bioskop dan bar striptis. Saya berhenti di depan jendela kembar itu dan tiba-tiba tiga atau empat pejalan kaki juga berhenti dan menatap resah: gambaran menyedihkan apakah yang ingin mereka lihat? Tapi daun-daun jendela rumah itu terkatup dan mereka pun berlalu dengan kecewa. Saya ikut pergi dan kini tidak lagi berpikir bahwa sangat disayangkan tak ada orang yang terpikir untuk memasang plang memperingati masa tinggal Marx di Dean Street.


London, November 1966

Mario Vargas Llosa, Patricia Vargas Llosa, Carlos Fuentes,
dan Juan Carlos Onetti menyimak "bualan" Pablo Neruda

Nona Tua dari Somerset, oleh Mario Vargas Llosa

"La señorita de Somerset", Mario Vargas Llosa. Terbit pertama kali di CaretasN° 752 (Lima, 13 Juni 1983, hlm. 38-39), La Nación (Buenos Aires, 25 Juni 1983), ABC (Madrid, 2 Juli 1983), El Universal (Caracas, 21 Agustus 1983). Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari El Lenguaje de la pasión (Madrid: Punto de lectura, 2007 [2001]), hlm. 13-18.


Kisah ini pasti sama santun dan arif seperti dirinya, dan sama ajaibnya seperti roman-roman yang ia tulis dan lahap sampai akhir hayatnya. Bahwa ini sungguh terjadi dan kini membentuk bagian dari realitas merupakan bukti menggugah kekuatan karya fiksi, kebohongan penuh tipu daya itu, yang dengan cara-cara yang paling tak terduga, acapkali menjadi kenyataan.

Awal kisah ini mengherankan dan pada takaran tertentu menegangkan. Himpunan Penulis Inggris dikaba
ri oleh seorang wali surat wasiat bahwa seorang wanita yang baru saja meninggal telah menye­rahkan seluruh hartanya –400.000 pound, sekitar 700.000 dolar—agar mereka menggelar anugerah sastra tahunan bagi novelis di bawah umur 35 tahun. Karya yang menang harus “cerita romantis dan novel yang berciri tradisional, bukan eksperimental.” Kabar ini langsung masuk halaman-halaman depan surat kabar, karena hadiah yang diberikannya –70.000 dolar setahun—empat atau lima kali lipat lebih besar ketimbang dua anugerah sastra paling bergengsi di Inggris: Booker McConnell dan Whitbread.

Siapa gerangan donor murah hati ini? Seorang novelis, tentu saja. Tapi para direktur Himpunan Penulis dengan malu harus mengaku pada wartawan bahwa mereka belum pernah mendengar tentang Miss Margaret Elizabeth Trask. Dan kendati sudah berusaha keras, mereka tidak bisa menemukan di toko-toko buku London satu pun bukunya. Padahal, Miss Trask telah menerbitkan lebih dari 50 “cerita romantis” sejak 1930-an dengan nama pena yang sedikit dipersingkat dan merendah: Betty Trask. Judul buku-bukunya menyiratkan isinya: I Tell My Heart, Irresistible, And Confidential, Rustle of Spring, Bitter Sweetbriar. Yang terakhir terbit pada 1957, dan tak satu eksemplar pun darinya bisa ditemui di kantor penerbitnya atau agen sastra yang menangani hak cipta Nona Trask. Demi menelusurinya, para wartawan yang melacak hidup dan karya dermawan sastra Inggris misterius ini harus berkutat di perpustakaan-perpustakaan kampung yang sampai hari ini masih meminjamkan novel-novel romantis dengan iuran tahunan yang murah.

Maka biografi memikat “Corin Tellado a la Inggris” ini pun tersusun. Tidak seperti penulis sejenisnya dari Spanyol itu, Miss Trask menolak menyesuaikan standar moralnya dengan zaman, dan pada 1957 ia pun meletakkan pena, sadar bahwa jurang antara kehidupan sehari-hari dengan novel-novelnya jadi menganga terlampau lebar. Buku-bukunya –yang pasti memiliki banyak pembaca bila dilihat dari warisan yang ia tinggalkan—segera saja terlupakan. Hal ini sepertinya bukan masalah sama sekali bagi Miss Trask, yang hidup melampaui karyanya seperempat abad lebih. Yang paling luar biasa dalam kehidupan Margaret Elizabeth Trask adalah meski mengabdikan hidupnya untuk membaca dan menulis soal asmara, dalam usianya yang 88 tahun ia tak pernah punya pengalaman romantis satupun juga. Buktinya konklusif: ia meninggal lajang dan perawan, jiwa raga. Mereka yang mengenal dia bicara tentangnya sebagai sosok zaman bahuela, anakronis me era Victorian atau Edwardian yang tersesat di abad kaum hippies dan punk.

Keluarganya berasal dari Frome, Somerset, industrialis sutra yang kaya raya dan manufaktur garmen. Miss Margaret menerima pendidikan, meskipun secara puritan dan ketat di rumah. Ia gadis yang anggun, pemalu dan priyayi, tinggal di Bath serta Belgravia, pemukiman paling eksklusif di London. Tapi harta keluarganya menyusut dengan meninggalnya sang ayah. Tapi hal ini tidak mengubah kebiasaan Nona Trask yang memang senantiasa bersahaja. Ia tak pernah menikmati banyak kehidupan sosial, sangat jarang keluar, mengklaim alergi lelaki, dan tak pernah pacaran. Cinta dalam hidupnya adalah sang ibu, yang ia rawat dengan penuh pengabdian setelah wafatnya sang ayah. Kerja perawatan ini, serta menulis “roman” dua buah per tahun, adalah total kehidupannya. Tiga puluh lima tahun lalu, kedua wanita ini kembali ke Somerset dan di kampung halaman mereka, Frome, menyewa rumah kecil di jalan buntu. Sang ibu meninggal pada awal 1960-an. Kehidupan si perawan yang sendirian menjadi teka-teki bagi lingkungannya. Ia jarang keluar, sopan namun dingin dan berjarak, tidak menerima tamu maupun bertamu.

Satu-satunya orang yang bisa bercakap tentangnya dengan pengetahuan langsung adalah pengurus perpustakaan Frome, tempat Miss Trask menjadi anggota. Ia pelahap rakus kisah-kisah cinta, meski menyukai juga biografi orang-orang yang luar biasa. Staf perpustakaan itu melakukan kunjungan mingguan ke rumahnya, membawakannya buku-buku dan mengambilnya lagi. Seraya tahun berlalu, Miss Margaret mulai sakit-sakitan. Para tetangga menyimpulkan ini dari kehadiran suster Kesehatan Nasional, yang mulai datang seminggu sekali untuk memijitnya. (Dalam wasiatnya, Nona Trask membalas perhatian ini dengan 200 pound.) Lima tahun lalu kondisinya memburuk sampai ia tidak sanggup lagi hidup sendiri. Ia dibawa ke panti jompo. Di sana, dikelilingi kaum miskin, ia melanjutkan kehidupan keras, sahaja, dan nyaris tersembunyi yang senantiasa ia jalani.

Para tetangga di Frome tidak bisa mempercayai mata mereka manakala membaca bahwa perawan tua di Oakfield Road itu telah meninggalkan begitu banyak uang bagi Himpunan Penulis, dan bahwa ia sendiri adalah seorang penulis. Yang mereka anggap lebih sukar lagi untuk dipahami ada lah mengapa alih-alih memakai 400.000 poundnya untuk hidup lebih nyaman, ia berikan uangnya untuk menghadiahi penulisan cerita romantik! Kepada reporter koran dan televisi mereka bicara dengan nada prihatin mengenai Miss Trask, berkata betapa menyedihkan dan suramnya hidup bagai dalam penjara dan tak pernah mengundang siapapun untuk minum teh. Para tetangga di Frome itu tolol tentunya, sebagaimana semua orang yang percaya bahwa Margaret Elizabeth Trask harus dikasihani atas rutinitas hidupnya yang adem ayem. Sesungguhnya Nona Margaret melakoni hidup yang menakjubkan dan layak diiri, penuh gelora dan petualangan. Di dalamnya terdapat cinta tak terukur dan heroisme memilukan, tindak tanduk menakjubkan penuh kenekatan, nafsu-nafsu liar yang disulut oleh kerling mata membara, laku kedermawanan, pengorbanan, kemuliaan, dan keberanian seperti dalam hidup orang-orang kudus atau buku-buku keksatriaan.

Nona Trask tak punya waktu beramah-tamah dengan tetangganya, bergosip soal mahalnya biaya hidup atau kelakuan kurang ajar anak-anak muda zaman sekarang karena tiap menit hidupnya dikonsentrasikan pada hasrat-hasrat yang mustahil, bibir-bibir menyala yang mengusap jari-jemari seputih kembang lili dan membuat perawan-perawan muda mekar ibarat mawar, pisau-pisau yang dihunjamkan dengan lembut namun berdarah-darah di jantung kekasih yang menyeleweng. Apa gunanya pergi keluar ke jalanan berbatu Frome bagi Miss Trask? Sanggupkah udik itu menyuguhkan sesuatu yang nyata mengharukan sebanding dengan vila-vila mewah, gubuk-gubuk tani yang didera taufan, hutan-hutan berhantu, paviliun pualam di sisi laguna-laguna yang menjadi latar bagi impian dan keterjagaannya? Tentu saja Nona Trask enggan berteman atau mengobrol. Mengapa ia harus membuang-buang waktu dengan orang-orang yang sedangkal dan seterbatas manusia fana? Toh ia punya banyak teman; yang menjaganya agar tak jemu barang sejenak pun di rumah kecilnya di Oakfield Road, dan mereka tak pernah mengucapkan sesuatu yang bodoh, salah tempat, atau menjengkelkan. Siapakah di antara makhluk berdarah daging ini yang bisa bicara dengan pesona, penghargaan, dan kearifan, saat berbisik di telinga Miss Trask, selain bayang-bayang dalam karya fiksinya? Hidup Margaret Elizabeth Trask jelas lebih intens, berwarna, dan dramatis ketimbang banyak orang sezamannya. Bedanya adalah: dijiwai oleh gaya asuhan yang khas serta keunikannya sendiri, ia membalik hubungan yang biasanya ada dalam diri manusia antara yang khayal dengan yang nyata, antara yang diimpikan dengan yang dihidupi. Lazimnya, karena terperangkap dalam keseharian yang sibuk, orang “hidup” dalam sebagian besar waktunya dan bermimpi sepanjang sisa waktunya. Nona Trask menjalaninya dengan terbalik. Ia baktikan siang malamnya untuk berkhayal dan menciutkan apa yang kita sebut hidup ke taraf yang paling minimal.

Lebih bahagiakah ia ketimbang mereka yang memilih kenyataan dibanding fiksi? Saya kira iya. Bila tidak, mengapa ia harus mewariskan semua uangnya untuk mendorong penulisan novel romantis? Bukankah ini bukti bahwa ia berangkat ke dunia lain dengan merasa yakin bahwa ia benar dalam menukar kenyataan hidup dengan kebohongan sastra? Meski banyak orang memandangnya sebagai pemborosan, surat wasiatnya sesungguhnya adalah penghakiman tegas atas dunia menjijikkan tempatnya dilahirkan, yang ia upayakan dengan keras untuk tidak ia hidupi.

London, Mei 1983

Catatan penerjemah: Betty Trask Award kini dihadiahkan hampir tiap tahun, dengan kisaran hadiah £1.000 hingga £16.000.

Sastra Itu Api: Pidato Mario Vargas Llosa 1967

"La literatura es fuego", pidato Mario Vargas Llosa saat menerima hadiah sastra Premio Rómulo Gallegos pada 11 Agustus 1967 di Caracas, Venezuela, atas novel keduanya La casa verde. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari kumpulan esai Contra viento y marea Vol. I (Barcelona: Seix Barral, 1986).

Catatan penerjemah: Saat mengucapkan pidato ini, Mario Vargas Llosa masih mencanangkan diri “sosialis” dan mendukung Revolusi Kuba, dan juga masih berteman dengan Gabriel García Márquez. Karena itulah pidato ini masih menyebut-nyebut ideal “sosialisme” dan merujuk ke salah satu karakter ciptaan García Márquez, Kolonel Aureliano Buendía. Peralihan ideologis Vargas Llosa berlangsung berangsur-angsur mulai 1970-an, terutama setelah pengakuan di bawah paksaan para penulis Kuba seperti Heberto Padilla dan César López, yang menurut Vargas Llosa “bukanlah spontan, tapi direkayasa seperti pengadilan Stalinis tahun ‘30-an.” Hal ini membuatnya berpisah jalan dengan banyak kawan lamanya termasuk García Márquez. Persahabatan mereka benar-benar bubar setelah keduanya adu jotos di sebuah gedung bioskop di Mexico City. Keduanya tak pernah bertegur sapa lagi dan hanya terhubung melalui teman bersama mereka, Carlos Fuentes. Namun demikian, sekalipun ideologi politik Vargas Llosa bergeser, bisa dibilang keyakinannya tentang fungsi sosial sastra tidak, dan justru mengalami pematangan dalam esai-esainya dari periode kekaryaannya yang selanjutnya.


Gabriel García Márquez dan
Mario Vargas Llosa
saat masih berteman 
Kurang lebih 30 tahun lalu, seorang pemuda yang telah membaca dengan penuh semangat tulisan-tulisan perdana Breton, wafat di Pegunungan Sevilla, di sebuah rumah sakit amal, penuh luapan amarah. Ia wariskan pada dunia selembar kaus berwarna serta “Cinco metros de poemas” (“Lima Meter Puisi”) yang memiliki kepekaan visioner luar biasa. Pemuda ini punya nama yang nyaring lagi merdu, santun, dan setengah priyayi, namun hidupnya serba tak pasti, sangat tidak berbahagia. Di Lima ia orang udik yang kelaparan, seorang pemimpi yang tinggal di kampung kumuh Mercado dalam sebuah saung tanpa penerangan. Dan tatkala pergi ke Eropa, tanpa seorang pun tahu mengapa, ia diciduk dari kapal di Amerika Tengah, dibui, disiksa dan dibiarkan menggeletak demam. Dan sesudah wafatnya, kemalangannya yang tak kenal iba belum berakhir, bahkan mencapai taraf sempurna: meriam-meriam Perang Saudara Spanyol menghapus nisannya dari muka bumi, dan sesudah bertahun-tahun, waktu telah menghapus ingatan akannya dalam benak orang-orang yang cukup beruntung bisa mengenal atau membaca­nya. Saya tak kaget bila tikus-tikus menaruh minat pada eksemplar-eksemplar buku dia satu-satunya yang terpendam dalam perpustakaan-perpustakaan yang tidak dikunjungi siapa-siapa, dan puisi-puisinya, yang kini tidak dibaca oleh siapa-siapa, dengan lekas berubah “jadi uap, jadi hawa, tak jadi apa-apa” seperti kaus merang terang yang ia beli untuk mati itu. Padahal, kompatriot saya ini seorang yang sungguh ajaib, penyihir kata, arsitek imaji yang berani, pengarung mimpi yang berkilau, pencipta yang rinci dan keras kepala yang mempunyai cukup kejernihan dan kegilaan untuk menjalankan kerja kepenulisannya sebagaimana mestinya: sebagai pengorbanan harian dan mati-matian.

Saya panggil ke sini, malam ini, bayang-bayang nokturnalnya yang sembunyi untuk merecoki pesta saya sendiri, pesta yang terwujud berkat kemurahan hati Venezuela sekaligus nama kondang Rómulo Gallegos, karena penghargaan terhadap novel saya melalui hadiah yang menakjubkan ini, yang dianugerahkan oleh Institut Budaya dan Seni Rupa Nasional sebagai stimulus dan tantangan bagi para novelis berbahasa Spanyol serta sebagai penghormatan kepada seorang pencipta besar Amerika, bukan cuma mengisi diri saya dengan rasa syukur terhadap Venezuela, namun juga memperkuat tanggung jawab saya sebagai seorang penulis. Dan penulis, seperti Anda ketahui, adalah tukang recok abadi. Bayangan diam-diam Oquendo de Amat di sini, di samping saya, harus mengingatkan kita semua –terutama orang Peru satu ini yang Anda renggut dari Kangaroo Valley, London, boyong ke Caracas dan Anda hujani dengan persahabatan dan penghormatan—akan nasib muram yang menimpa, dan masih banyak menimpa, para pencipta di Amerika Latin. Memang benar tidak semua penulis kita mengalami ujian yang seekstrem Oquendo de Amat; ada yang berhasil menundukkan rasa permusuhan, ketidakacuhan, penghinaan dari negara-negara kita terhadap sastra lantas menulis, menerbitkan, bahkan dibaca. Memang benar tidak semua orang bisa dibunuh oleh kelaparan, ketidakacuhan, atau ejekan. Tapi yang beruntung ini sebuah perkecualian. Umumnya, penulis Amerika Latin hidup dan menulis dalam lingkungan yang sungguh sulit, sebab masyarakat kita telah memapankan mekanisme membekukan yang hampir sempurna untuk menjegal dan mematikan panggilan hidupnya. Panggilan ini indah, namun juga mencengkeram dan tiranik, menuntut dari para pemeluknya pengabdian seutuhnya. Bagaimana bisa penulis-penulis ini menjadikan sastra sebagai takdir, sebagai militansi, di tengah mayoritas orang yang tidak bisa membaca atau tidak mampu membeli buku, atau minoritas yang bisa namun tidak suka membaca? Tanpa penerbit, tanpa pembaca, tanpa lingkungan budaya yang merangsang dan menuntutnya, penulis Amerika Latin adalah orang yang berangkat berperang dengan tahu sejak awal bahwa ia akan kalah. Kerjanya tidak dipandang oleh masyarakat, nyaris tidak ditolerir; tak ada cara buat menyambung hidup, dan ia pun menjadi produsen rendahan, ad honorem. Penulis di negara-negara kita harus jungkir balik, memisahkan kerjanya dari mata pencaharian sehari-hari, membelah dirinya dalam ribuan kerja yang menyita waktu yang dibutuhkan untuk menulis dan seringkali bertentangan dengan keyakinan dan hati nuraninya. Sebab, selain tak menemukan ruang dalam hati mereka bagi sastra, masyarakat kita terus mendorong syak wasangka terhadap makhluk marjinal yang rada anonim ini, yang bersikeras –dengan melawan segala logika—untuk menekuni sebuah profesi yang terlihat hampir tak-nyata dalam konteks Amerika Latin. Atas alasan itulah lusinan penulis kita jadi frustrasi dan mencampakkan kerja mereka atau mengkhianatinya, bertindak setengah hati dan sembunyi-sembunyi, tanpa tekad dan tanpa ketegaran.

Tapi memang benar bahwa dalam beberapa tahun belakangan ini keadaan mulai berubah. Perlahan-lahan merayapi negeri kita iklim yang lebih ramah bagi sastra. Sirkulasi buku mulai meningkat, kaum borjuis menyadari bahwa buku ada gunanya, bahwa para penulis bukan sekadar si gila yang halus budinya, bahwa mereka punya peran dalam masyarakat. Tapi kemudian, ketika keadilan mulai berlaku bagi penulis Amerika Latin, atau tepatnya, ketika ketidakadilan yang membebaninya mulai terangkat, ancaman lain bisa timbul, mara bahaya yang subtil mengerikan. Masyarakat yang sama yang dulu pernah mengucilkan dan menolak penulis, sekarang bisa berpikir bahwa ada faedahnya untuk mengasimilasi dia, mengintegrasikan dia, menganugerahinya semacam status resmi. Oleh sebab itu, penting untuk mengingatkan masyarakat kita akan apa yang akan mereka dapatkan. Ingatkan mereka bahwa sastra itu api, yang berarti perbedaan pendapat dan pemberontakan, bahwa alasan keberadaan seorang penulis adalah protes, konfrontasi, serta kritik. Jelaskanlah bahwa tidak ada jalan tengah: entah masyarakat harus menindas kecakapan manusia yang berupa kreasi artistik dan mengenyahkan selamanya elemen sosial yang sukar dikendalikan itu, sang penulis, atau sebaliknya merengkuh sastra, yang artinya mereka tak punya alternatif selain menerima arus serangan yang tiada henti, ironi dan satir yang ditujukan baik kepada aspek-aspek hidup yang sementara maupun yang hakiki, dari puncak ke dasar piramida sosial. Begitulah keadaannya dan tak ada jalan keluar: penulis, dulu, sekarang, dan akan terus merasa tidak puas. Tak seorang pun yang merasa puas bisa menulis. Tak seorang pun yang sepakat atau berdamai dengan kenyataan mampu melaksanakan ketololan ambisius untuk menciptakan realitas verbal. Panggilan sastra lahir dari ketidaksepakatan seorang manusia dengan dunia, intuisinya akan kekurangan, perbedaan, dan penderitaan di sekitarnya. Sastra adalah pemberontakan permanen dan tidak bisa menerima jaket pengekang. Upaya apapun untuk membelokkan wataknya yang pemberang, pemberontak, ditakdirkan gagal. Sastra bisa mati tapi takkan pernah bisa kompromi.

Hanya dalam kondisi ini sastra bisa berguna bagi masyarakat. Ia bersumbangsih dalam pembangunan kemanusiaan, mencegah stagnasi spiritual, rasa puas-diri, kejumudan, kelumpuhan, kemerosotan intelektual atau moral. Misinya adalah untuk membangkitkan, mengganggu, menggelisahkan, untuk membuat manusia berada dalam kondisi ketidakpuasan konstan dengan dirinya sendiri. Fungsinya adalah untuk mendorong, tanpa kenal henti, hasrat akan perubahan dan perbaikan, sekalipun diperlukan senjata-senjata tertajam guna menunaikan tugas ini. Penting bagi tiap orang untuk memahami soal ini sekaligus: makin kritis tulisan-tulisan seorang penulis menentang negaranya, makin intens gairah yang mengikat dia ke negara tersebut. Sebab dalam ranah sastra, kekerasan adalah bukti cinta.

Realitas benua Amerika, tentu saja, menawarkan kepada penulis terlampau banyak alasan buat memberontak dan merasa tak puas. Dalam masyarakat di mana ketidakadilan adalah hukum, surga kebodohan, eksploitasi, ketimpangan yang mencolok mata, kemelaratan, alienasi ekonomi, budaya, dan moral, tanah kita yang kacau balau menyuguhkan bagi kita bahan-bahan untuk dikuak dalam karya fiksi, secara langsung maupun tak langsung, lewat fakta, impian, pengakuan, kiasan, mimpi buruk, atau penampakan bahwa realitas ini dibikin secara tidak sempurna, bahwa hidup harus berubah. Namun dalam sepuluh, duapuluh, atau limapuluh tahun, masa keadilan sosial akan tiba di negeri-negeri kita, sebagaimana yang terjadi di Kuba, dan seluruh Amerika Latin akan terbebas dari tatanan yang menjarahnya, dari kasta-kasta yang mengeksploitirnya, dari kekuatan-kekuatan yang sekarang menghina dan menindasnya. Dan saya ingin agar masa ini tiba sesegera mungkin dan agar Amerika Latin memasuki, sekali untuk selamanya, jagat martabat dan modernitas, agar sosialisme membebaskan kita dari anakronisme dan horor kita. Tapi tatkala ketimpangan-ketimpangan sosial sirna, bukan berarti penulis memasuki masa mufakat, subordinasi, dan keterlibatan resmi. Misinya akan berlanjut, dan harus berlanjut, dengan tetap sama: kompromi apapun di ranah ini berarti pengkhianatan. Dalam masyarakat yang baru, dan sepanjang jalan tempat kita disetir oleh hantu-hantu dan momok pribadi kita, kita akan terus seperti dulu, seperti sekarang, berkata tidak, memberontak, menuntut pengakuan atas hak kita untuk berbeda pendapat, menunjukkan dengan cara yang hidup dan ajaib ini, satu-satunya yang dapat diperbuat sastra, bahwa dogma, sensor, dan keputusan sewenang-wenang juga merupakan musuh bebuyutan kemajuan dan martabat manusia, menegaskan bahwa hidup tidaklah sederhana dan tidak bisa pas rapi sesuai pola, bahwa jalan menuju kebenaran tidaklah senantiasa mulus dan lurus, namun kerap kali berliku-liku dan bergeronjal, menunjukkan berulang kali lewat buku-buku kita kerumitan dan keanekaragaman hakiki dari dunia serta ambiguitas kontradiktif dari peristiwa-peristiwa manusia. Seperti kemarin, seperti sekarang, bila kita mencintai pekerjaan kita, kita harus terus bertempur dalam tigapuluh dua perang Kolonel Aureliano Buendía, meski seperti dia, kita kalah dalam semuanya.

Panggilan ini telah membuat kita, para penulis, menjadi kaum profesional ketidakpuasan, perecok masyarakat secara sadar atau tak sadar, pemberontak dengan tujuan, pembangkang dunia yang tak tersembuhkan, penentang tak terbendung atas apa yang dianggap baik. Saya tak tahu baik atau burukkah keadaan ini, saya cuma tahu bahwa beginilah keadaannya. Inilah kondisi penulis dan kita harus mempertahankannya sebagaimana adanya. Dalam tahun-tahun ini ketika Amerika Latin mulai menemukan, menerima, dan menyokong sastra, ia juga harus menyadari bahaya yang mendekat, harga mahal yang harus dibayarnya atas kebudayaan. Masyarakat kita harus waspada: entah ditampik atau diterima, dihajar atau diganjar, penulis yang memang layak menyandang nama itu akan terus melemparkan ke muka orang-orang pemandangan yang tidak senantiasa sedap atas azab dan sengsara mereka.

Dengan memberi saya hadiah ini, yang karenanya saya sangat berterimakasih, dan yang saya terima sebab saya pertimbangkan bahwa ia tidak menuntut dari saya sekilas pun kompromi ideologi, politik, atau artistik, dan yang mestinya diterima oleh para penulis Amerika Latin lain yang punya lebih banyak buku dan lebih banyak jasa ketimbang saya –saya berpikir tentang [Juan Carlos] Onetti yang dahsyat misalnya, yang belum memperoleh pengakuan yang layak ia dapatkan di Amerika Latin—dan dengan melimpahi saya begitu banyak perhatian dan kehangatan sejak tiba di kota yang sedang berkabung ini (1), Venezuela telah membuat saya terbenam utang berlimpah ruah. Satu-satunya cara saya bisa membayar balik utang ini adalah dengan menjadi, dalam batas-batas kekuatan saya, kian teguh dan kian setia pada panggilan untuk menulis ini, yang tak pernah saya sangka akan memberi kepuasan yang saya rasakan ini hari.
____
1) Catatan penerjemah: Caracas baru saja dilanda gempa besar saat penganugerahan ini diberikan.