Senin, 24 September 2012

Pidato Camila Vallejo di Global Student Leadership Summit, Inggris, 20 September 2012


Presentasi wakil presiden Federasi Mahasiswa Cile, Camila Vallejo, pada rangkaian acara Global Student Leadership Summit di Inggris, 19-21 September 2012. Presentasi ini dilaksanakan pada hari kedua, pukul 10.00 waktu setempat. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus.



Akan saya awali dengan menggarisbawahi permasalahan yang sudah gamblang bagi semua orang: pendidikan di belahan bumi manapun bukanlah, atau seharusnya bukanlah, sekadar hak azasi, melainkan juga unsur strategis bagi pembangunan masyarakat. Jadi, apa yang terjadi manakala pembangunan ini sesat jalan? Atau ketika pembangunan ini tak lebih dari pemiskinan ekonomi yang terus menghebat? Apa yang terjadi manakala sasarannya bukanlah untuk memperbaiki standar hidup manusia yang selaras dengan lingkungan, melainkan untuk meningkatkan efisiensi dan tingkat keuntungan perusahaan-perusahaan, tanpa peduli dengan kerusakan ekologis dan manusiawinya yang terus menerus? Manakala sasaran strategis dari model-model pembangunan kita bukanlah kesetaraan, kebebasan, dan martabat rakyat, melainkan reproduksi ketimpangan dan penajamannya yang dipijakkan pada akumulasi kekayaan, atau bahkan satu generasi bentuk-bentuk baru perbudakan, seperti jeratan utang dan narkoba.

Maka, pantaskah membiarkan sistem pendidikan kita dijadikan alat reproduksi sosial dan ideologis dari model pembangunan semacam itu? Atau kita ingin merancang sistem pendidikan baru yang berfungsi sebagai perangkat transformasi sosial yang sebenar-benarnya?

Di Cile, gerakan mahasiswa, dan kemudian pendidikan sosial, jelas memilih yang kedua. Di negara kami, bukan hanya hak azasi atas pendidikan tak dijamin dalam konstitusi politik, mengingat konstitusi tersebut pertama-tama memastikan adanya kebebasan berusaha, melainkan juga bahwa desain sistem pendidikan kami secara presisi ditujukan untuk melanggengkan dan mereproduksi model ekonomi neoliberal yang diberlakukan paksa selama kediktatoran militer 1973.

Bukan kebetulan apabila serangkaian gerakan sosial yang berkembang di Cile, setidaknya sejak 2010 dan seterusnya, selain mengajukan tuntutan-tuntutan spesifik, semuanya juga mempertanyakan model pembangunan kita. Yang terjadi adalah realitas telah melampaui janji-janji yang selama lebih dari 30 tahun tidak bisa dipenuhi oleh model tersebut. Realitas material ini ada kaitannya dengan masalah ketimpangan, berutangnya jutaan orang dan laba kaum yang segelintir di atas pundak jutaan orang itu.

Cile berada di salah satu tingkat ketimpangan tertinggi di dunia. Menurut angka-angka dari Fundación SOL, organisasi nirlaba yang menggelar penelitian dunia kerja di Cile, ketimpangan antara kaya dan miskin telah naik 46 kali lipat sejak 1980an. Sejak 1990an, ekonomi produktif bertumbuh 80% sementara upah buruh hanya naik 20%. 46% penduduk berpenghasilan kurang dari upah minimum (kurang dari 400 dolar atau 320 euro) dan 2 dari 3 orang yang berada di bawah garis kemiskinan adalah para pekerja gajian.

Faktanya adalah di Cile, sejak model perekomian neoliberal diberlakukan, dan dikukuhkan oleh Washington Consensus, ketimpangan meninggi dan hak-hak dasar direduksi menjadi bisnis dan privilese segelintir orang saja.

Karena mereka tidak punya cukup upah untuk hidup, tenaga kerja terpaksa meminjam dari bank-bank swasta untuk membiayai pendidikan, kesehatan, pangan, sandang, dan layanan-layanan dasar bagi keluarga mereka.

Dihadapkan pada realitas ini –yang tak pernah disebut-sebut dalam pidato-pidato resmi tentang betapa hebatnya kebijakan makroekonomi kami—bagi kami tidak bisa ditolerir bahwa pendidikan tidak dirancang untuk mengatasi ketimpangan ini, malah mereproduksinya dan membuatnya kian dalam.

Pada 1980an, dalam kediktatoran militer penuh dan tanpa meminta pendapat siapapun, Negara direduksi perannya menjadi sekadar pelengkap, sementara pasar diberi kuasa dan sumber daya untuk mengubah pendidikan dan hak-hak dasar lainnya menjadi bisnis yang menguntungkan. Pendidikan negeri dalam sekejap ditelantarkan, dan pendidikan swasta mengalami limpahan yang belum ada presedennya.

Hari ini, pendidikan umum kurang mendapat dana. Pada tingkat sekolah, pendanaan ini hanya senilai 30% dari bea pendaftaran total dan pendidikan tinggi negeri kurang dari 20%, penurunan yang dari tahun ke tahun disebabkan oleh perkembangan langkah-langkah dan perombakan-perombakan di sektor komersial. Universitas-universitas negeri rata-rata menerima kurang dari 15% dari anggaran mereka dari Negara, dan keluarga pun praktis membayar biaya-biaya ini melalui sumber daya mereka secara langsung (30.000 dolar per gelar secara rata-rata), atau melalui utang kreditan (yang bisa melambungkan biayanya sampai 200%).

Sistem swasta tumbuh tanpa regulasi. Investor dari Cile dan pelbagai belahan dunia lainnya menyuntikkan modal finansial mereka ke bisnis-bisnis besar yang menguntungkan, yang memberi mereka sektor pendidikan kami, tak peduli dengan tipu muslihat yang telah menyusun institusi-institusi ini.

Subsidi bagi sisi permintaan ini, melalui pembiayaan bersama (keluarga dan Negara) serta kompetisi tak sebanding antara institusi-institusi negeri dan swasta berakibat bahwa pendidikan di Cile bukan hanya salah satu yang termahal di dunia akibat privatisasi itu, melainkan juga yang paling tersekat-sekat. Laporan yang sama dari OECD menunjukkan bahwa pendidikan di Cile secara sadar distrukturkan oleh kelas-kelas sosial.

Hal ini berarti bahwa pendidikan di Cile dicipta untuk melanggengkan dan membelah-belah kelas-kelas sosial: pendidikan bagi orang kaya, bagi kelas menengah, dan bagi kaum miskin—pendidikan untuk menghasilkan calon-calon elite nasional. Di sisi lain, pendidikan teknis unggulan untuk membentuk tenaga kerja manual yang murah, sementara universitas-universitas swasta membentuk calon direksi perusahaan-perusahaan besar, dst. Semua orang dipilah-pilah berdasarkan kemampuan mereka membayar, dan mayoritas terbesarnya berutang.

Jadi, sasaran privatisasi di Cile bukan hanya mempertahankan ketimpangan sosial, menghancurkan pendidikan negeri sebagai ruang integrasi sosial, namun punya hubungan langsung dengan hancurnya apa yang dipandang sebagai titik temu “musuh dalam selimut”: pendidikan negeri yang membentuk warga negara yang kritis, yang berpikir soal realitas kebangsaan dan ketidakadilan-ketidakadilannya, aktif dalam proses demokratisasi internal dari lembaga-lembaga pendidikan di negeri ini.

Yang berusaha dihancurkannya adalah kemungkinan bahwa pendidikan akan memberikan perangkat yang dibutuhkan bagi mahasiswa bukan hanya untuk menjadi kaum profesional yang baik, namun warga negara yang kritis dan bukan sekadar boneka-boneka hidup yang terkurung dalam perusahaan-Universitas yang besar ini.

Di sekolah-sekolah negeri, pendidikan kewargaan (educación cívica) berangsur-angsur dihabisi. Dikuranginya jam pelajaran sejarah, filsafat, seni, dan musik menggambarkan betapa mayoritas rakyat kami harus menjalani sebuah pendidikan yang secara fungsional digiring ke arah neoliberalisme. Kesadaran mereka secara mendalam telah digerogoti. Sampai pada nilai-nilai solidaritas, etik, penalaran kolektif yang fundamental bagi pembentukan organisasi-organisasi kerakyatan di negeri kami selama era ’60an dan ’70an.

Liberalisasi tawaran pendidikan dan privatisasi sistem ini sebagai hasilnya, kurangnya pendanaan sekolah-sekolah dan universitas-universitas negeri, pengalihan tata kelola sekolah dari Negara ke pemerintah daerah dengan selisih yang amat besar dalam anggaran maupun kemampuan, diutamakannya kebebasan berusaha di atas hak atas pendidikan dalam konstitusi politik kami, subsidi atas sisi permintaan ini melalui beasiswa dan kredit, serta standarisasi mekanisme pengukuran kualitas berdasarkan kriteria-kriteria pasar, semuanya adalah kebijakan yang dianggap akan menyediakan, pada satu sisi, pengajaran yang memungkinkan mereka mereproduksi unsur-unsur dasar produksi ekonomi, dan di sisi lain, melahirkan unsur-unsur ideologis yang memastikan kondisi politik bagi beroperasinya sistem ini.

Saya utarakan semua ini persis karena sesudah sekian dasawarsa konstruksi dan rekonstruksi keorganisasian, artikulasi dan penguatan dalam dunia mahasiswa, pada 2011 para mahasiswa Cile berjalan melalui sebuah proses sintesa historis, di mana kami berhasil bukan hanya dalam mengajukan gagasan-gagasan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ekonomi untuk meningkatkan pendanaan pendidikan negeri, namun juga dalam bingkai proses panjang pendewasaan politik, kami berhasil memahami bias pendidikan kami, bias yang sangat ideologis ke arah kian tajamnya ketimpangan sosial.

Dan dengan demikian kami simpulkan bahwa privatisasi diciptakan bukan hanya untuk membuka sebuah bisnis baru bagi sektor swasta, namun juga untuk menghancurkan ruang-ruang publik bagi pembentukan ideologi-ideologi yang bersimpang jalan dari pendidikan dan masyarakat. Beramai-ramai dengan para guru, wali amanat, rektor dan pekerja pendidikan, kami sanggup menuntut, secara berbondong-bondong di jalanan, sebuah perubahan paradigma dalam model pendidikan di Cile, dan dengan itu juga mengubah masyarakat kami.

Perubahan paradigma ini bukan hanya berimplikasi dipulihkannya jaminan konstitusional hak atas pendidikan –dan karenanya, Negara harus berperan menyediakan pendidikan negeri gratis dan ruang berkualitas bagi integrasi sosial—namun secara mendasar terkait dengan keharusan untuk membela dan memberi kembali makna kepada “publik”, sebagai sebuah ruang apropriasi demokratis dalam penciptaan dan penyebaran pengetahuan.

Penting untuk diutarakan bahwa dalam perdebatan regional di Karibia dan Amerika Latin, kami juga berpikir tentang universitas dari perspektif transformasi, perspektif sejarah gerakan mahasiswa, yang sejak awal abad telah mengajukan dibangunnya sebuah sistem pendidikan yang membebaskan yang mengontrak universitas sesuai kebutuhan sektor-sektor dalam masyarakat. Sebagai sebuah gerakan mahasiswa kami percaya bahwa universitas telah kehilangan jalannya dan tak mampu menangani kenyataan-kenyataan problematis benua kita. Dewasa ini, isu-isu seperti segregasi sosial, kemiskinan, kelaparan, polusi atas planet dan begitu banyak masalah lain yang mempengaruhi masyarakat kami, tidak diperlakukan sebagai prioritas-prioritas utama di universitas-universitas. Mereka telah disekap oleh visi reduksionis penganut pasar bebas yang makin lama makin cepat dalam memproduksi tenaga kerja terdepolitisasi dan terstandarisasi bagi pasar global.

Hari ini generasi-generasi baru mahasiswa terus menjaga agar semangat pemberontakan pendahulu-pendahulu kita tetap hidup, dan karenanya mempertahankan proses perjuangan di benua kami: saudara-saudara kami di Kanada, yang baru saja berhasil menunda kenaikan uang sekolah; kamerad-kamerad dari Puerto Rico, lakon dalam lembaran sejarah heroik gerakan mahasiswa kawasan ini; kamerad-kamerad Kolombia yang setiap harinya menunjukkan bahwa sekalipun situasinya sulit dan di tengah ancaman dan penindasan terus menerus, kepentingan mendesak saat ini adalah memperjuangkan sebuah pendidikan yang menjawab kepentingan-kepentingan rakyat; mahasiswa-mahasiswa Dominika menuntut 4% PDB untuk pendidikan; gerakan mahasiswa Ekuador berjuang mempertahankan ideal-ideal otonomi dan pemerintahan-bersama mahasiswa di Córdoba; mahasiswa Brasil berhasil mendorong 10% PDB diinvestasikan ke sektor pendidikan, dan kami, mahasiswa Cile berjuang memerangi model kehidupan pasar bebas yang dipaksakan oleh kediktatoran Pinochet dan yang hari ini membeking pemerintahan Piñera dengan represi brutal atas gerakan sosial, pelanggaran HAM, dan bahkan pengajuan undang-undang yang mempidanakan demonstran dengan hukuman 3 tahun penjara apabila menduduki sekolah, alun-alun, atau memacetkan jalan raya.

Dewasa ini, mata kami tertuju pada keberagaman dan kekayaan pemikiran benua kami. Tahun lalu kami selenggarakan Kongres Mahasiswa Amerika Latin ke-16 OCLAE (Organización Continental Latinoamericana y Caribeña de Estudiantes) di mana lebih dari 6.000 mahasiswa berkumpul. Kami tegaskan tekad organisasi-organisasi sebenua untuk memperkuat pendidikan negeri bagi transformasi, inklusi, dan persatuan semua sektor kerakyatan di tangan kaum buruh, pekerja manual, dan masyarakat adat.

Akhir kata, kami semua berkomitmen untuk mengintegrasikan konsep-konsep adat kuno melalui proses pendidikan interkultural, yang menghadirkan visi peradaban baru pasca-kapitalis yang seirama dengan lingkungan dan pemanfaatan secara berdaulat dan bertanggungjawab atas material dan sumberdaya primer kita yang terbatas. Mengembangkan visi inilah yang sekarang ini memberi proses pendidikan di Amerika Latin jatidirinya sendiri, dari ruang-ruang kelas ke penelitian canggih bagi perkembangan teknologi-teknologi baru.

Jumat, 10 Agustus 2012

Petualang dari Macondo?


Saya selalu merasa bapaknya Dora ini mirip sekali Gabriel García Márquez sewaktu muda, dan ternyata benar. Dora (kependekan "exploradora") bernama lengkap Dora Márquez, yang menurut produsernya di jaringan teve anak Nickelodeon, memang dipetik dari nama sang maestro itu sebagai penghormatan.


Minggu, 15 Juli 2012

Gabriel García Márquez dan Fidel Castro: Awal Sebuah Persahabatan

Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari Bab 1 “Dioses en edad de jugar” buku Gabo y Fidel: El paisaje de una amistad karya Ángel Esteban dan Stéphanie Panichelli (Madrid: Espasa, 2004).


“Gabo dan saya sama-sama berada di Bogota pada hari yang menyedihkan itu, tanggal 9 April 1948, saat Gaitán dibunuh. Usia kami sama, dua puluh satu tahun; kami menjadi saksi peristiwa yang sama, kami juga mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan yang sama: Hukum. Tapi kesamaan itu toh cuma ada di pikiran saja. Nyatanya, kami berdua sama sekali tak tahu apa-apa soal satu sama lain. Tak ada yang saling kenal di antara kami, kami bahkan tidak mengenal diri kami sendiri.”

“Hampir setengah abad sesudahnya, di malam sebelum perjalanan menuju Birán di ujung timur Kuba, tempat saya dilahirkan pada pagi hari 13 Agustus 1926, Gabo dan saya sedang mengobrol. Pertemuan kami punya suasana acara keluarga yang hangat, di mana kenangan-kenangan lama saling dibagi dan kisah-kisah penuh warna diceritakan kembali, dalam ramah-tamah bersama beberapa kawan Gabo dan kamerad-kamerad Revolusi lainnya.”[1]

Demikianlah awal dari tulisan paling sastrawi yang pernah dibuat oleh Fidel Castro, dua bulan menjelang usianya ke-78 tahun. Tulisan itu adalah artikel pendek tentang sahabat terbaiknya dan mungkin satu-satunya, Gabriel García Márquez. Dua di antara tokoh-tokoh terpenting dalam sejarah Amerika Latin abad ke-20 berada di kota yang sama pada salah satu hari paling buruk yang pernah dialami ibukota Kolombia itu sejak didirikan pada 1538. Langkah mereka mungkin bertemu, tak sengaja berpapasan di jalan di tengah-tengah kekacauan, tidak tahu akan ke mana atau bahkan mengapa mereka berlarian. Barangkali mata mereka bertatapan sejenak di sudut jalan, atau barangkali mereka tersandung oleh perempuan yang sama yang tengah berjuang untuk berdiri sesudah ditubruk oleh seorang bocah yang ngebut dengan sepeda. Putra si operator telegraf dari Aracataca berusaha kembali ke kamar kosnya paling tidak untuk menyelamatkan naskah-naskah cerpen yang telah ia karang seminggu sebelumnya. Si mahasiswa dari Kuba menganggap sudah terlambat sekarang untuk bertemu lagi dengan Jorge Gaitán, cahaya harapan Kolombia, tokoh politik zaman itu yang memberi perhatian sungguh-sungguh pada persoalan-persoalan yang dihadapi mahasiswa Amerika Latin; yang telah menemui perwakilan mahasiswa untuk mengemban satu sikap dalam menghadapi relasi yang senantiasa sarat konflik antara Amerika “Utara” Serikat dengan Amerika Selatan “yang-Tak-Pernah-Bisa-Berserikat.”

* * *

Gabo lahir di Aracataca, kota kecil di utara Kolombia, pada 6 Maret 1927, dengan tali pusar melilit leher, sementara ibunya mengalami pendarahan hebat. Doña Luisa Márquez bukan hanya selamat dari persalinan ini, namun juga akan menghadirkan sepuluh anak lainnya ke dunia. Saat anak berikutnya lahir, Gabito dikirim tinggal bersama kakek-neneknya. Pengalaman ini terbukti sangat menentukan dan bakal membentuk wataknya, saat calon penulis besar ini menumbuhkan minat menggebu-gebu pada cerita-cerita soal dedengkot-dedengkot politik dan jagoan-jagoan lokal, menghabiskan waktu berjam-jam bersama kakeknya, mendengar kisah-kisah menakjubkan tentang orang-orang yang bertempur dalam perang saudara di awal abad. Neneknya, yang menghabiskan kesehariannya bersenandung seorang diri dalam kondisi mirip mengigau, selalu menjadi sasaran rentetan pertanyaan cucunya, yang tak jemu-jemu menyimak kisah-kisah peperangan:

“Nek, siapa sih Mambru, dan dalam perang apa ia terlibat?”
Karena sama sekali tak punya bayangan siapa yang ditanya itu, namun punya imajinasi kelewat berlimpah, sang nenek pun dengan kalem menjawab: “Ia orang yang bertempur bersama kakekmu dalam Perang 1.000 Hari.”
Kita sekarang tahu bahwa Mambru yang sering disebut-sebut dalam lagu lama yang populer itu (lagu yang begitu gemar dinyanyikan kakek Gabo) tak lain adalah Adipati Marlborough, namun ketika García Márquez akhirnya memasukkannya sebagai karakter dalam novel dan cerpen-cerpennya, ia lebih menyukai versi neneknya ketimbang fakta aktualnya. Itu sebabnya Marlborough tampil menyamar sebagai seekor harimau, kalah dalam semua perang saudara di Kolombia, di samping Kolonel Aureliano Buendia.[2]

Tatkala Gabo berusia tujuh tahun, Nicolas Márquez membawa cucunya ke San Pedro Alejandrino No. 5, di Santa Marta, tempat wafatnya Simón Bolívar, sang pembebas benua Amerika. Sang kakek sudah memberitahu cucunya tentang tokoh terkenal ini berulang kali. Saat berumur enam tahun, Gabito melihat gambar matinya Bolívar di sebuah kalender milik kakeknya. Jadi, sekalipun masih ingusan, minat bocah ini pada Bolívar dan para pemimpin Amerika lainnya telah tumbuh, tokoh-tokoh yang nanti akan tampil dalam novel-novelnya, memupuk minat khususnya pada kekuasaan. Ia belajar baca-tulis di sekolah Montessori saat berusia delapan tahun, dan gurunya, Rosa Elena Fergusson, akan menjadi dewi inspirasi Gabo yang pertama, karena ia menganggap syair-syair yang dibacakan gurunya di depan kelas, yang “selamanya akan tertanam dalam otakku,” adalah penubuhan langsung dari kecantikannya yang memukau. Pada umur sembilan tahun, saat mengaduk-aduk salah satu peti kakeknya, ia temukan buku tua buluk dengan halaman-halaman yang sudah menguning. Kala itu, ia tidak tahu buku itu berjudul Seribu Satu Malam, tapi ia mulai membacanya dan merasa terubah. Ia berkata:

Kubuka dan kubaca bahwa ada seseorang yang membuka botol dan dari dalamnya terbang keluar sesosok jin dalam kepulan asap, dan aku berkata, “Wah, ini luar biasa!” Hal ini lebih memukauku ketimbang apapun lainnya yang terjadi dalam hidupku sampai saat itu: lebih dari bermain, lebih dari melukis, lebih dari makan, lebih dari apa saja, dan aku tidak mengangkat muka dari buku lagi.[3]

Selama beberapa tahun ke depan, karena harus menghidupi kian banyak anak yang tumbuh besar, keluarga García Márquez kerap berpindah-pindah: dari Aracataca, ke Barranquilla, ke Sucre. Pada 1940, García Márquez kembali ke Barranquilla untuk masuk sekolah Yesuit San Jose, tempat ia menulis puisi-puisi dan cerpen-cerpen pertamanya untuk majalah Juventud.[4] Tiga tahun kemudian, persis sebelum ulang tahunnya ke-16, ia harus pergi dari rumah dan mencari kerja untuk membiayai pendidikannya, karena orang tuanya, yang saat itu sudah punya delapan anak, tidak mampu memberi makan semuanya sambil sekaligus harus membiayai sekolah. Ia pergi ke Bogotá dan merasa putus asa berada di kota besar, dingin, nun jauh dari rumah itu, di mana orang tak saling mengenal dan adat setempatnya sangat berbeda. Ia menerima beasiswa dan mulai belajar di sekolah khusus anak laki-laki di Zipaquira, di mana virus yang menyergapnya saat pertama kali membuka Seribu Satu Malam dengan cepat berbiak dalam dirinya, sampai virus itu pun menjadi kronis dan tak terhentikan. Ia membaca dan menulis dengan tekun, mempelajari semua karya klasik kesusastraan Spanyol. Ia reguk pengetahuan bijak guru-gurunya dan hidup hampir seperti di biara, menghabiskan waktu berjam-jam di depan buku... atau menatap lembaran kertas kosong, mencoba menggubah syair. Ia terjun total dalam kegiatan sastra di sekolahnya, dan pada 1944 menulis cerpen pertamanya. Tiga tahun kemudian, Gabo masuk sekolah hukum di Bogotá, kota dengan 700.000 penduduk, berada di ketinggian hampir 2.000 meter di atas permukaan laut, yang dalam banyak hal serupa dengan Spanyol, dengan kehidupan budaya yang semarak yang berpusat di kafe-kafe tengah kota. Sang calon peraih Hadiah Nobel ini lebih banyak menghabiskan waktu di kafe ketimbang di kelas, dan ia menjumpai penulis-penulis terpenting zaman itu di sana. Ia juga menemukan beberapa permata sastra: Metamorfosis-nya Kafka, yang kian memperparah virus sastra itu dan mendorongnya menulis cerita-ceritanya sendiri seperti sedang kalap; juga karya-karya klasik seperti Garcilaso, Quevedo, Góngora, Lope de Vega, San Juan de la Cruz; serta anak-anak zamannya sendiri seperti Generasi 1927 dan Neruda. Sebentar sesudahnya, minatnya terfokus nyaris sepenuhnya pada novel, sampai ia percaya bahwa panggilan sastranya begitu kuat sampai ia harus keluar dari sekolah hukum sepenuhnya ...

* * *

Fidel Castro besar dalam keluarga buruh pedesaan. Di kota kecil Birán, dekat Santiago de Cuba di sisi paling tenggara negara pulau itu, teman main masa kecilnya adalah para buruh perkebunan tebu di Mañacas. Dikitari oleh alam liar dan fauna, Castro menjelajah hutan dengan berkuda, berenang di sungai, dan saat berusia 5 tahun ia didaftarkan masuk ke sekolah desa setempat. Pada usia enam setengah tahun ia dibawa ke ibukota provinsi, Santiago de Cuba, untuk melanjutnya belajarnya di sekolah asrama paroki. Pandangan revolusionernya bisa dilacak balik ke masa kanak-kanaknya itu; karena saat kembali ke perkebunan, ia mengorganisir pemogokan buruh melawan ayahnya, yang ia tuduh melakukan eksploitasi! Untuk tahun-tahun terakhirnya di sekolah menengah, karena nilainya yang tinggi, orang tuanya memasukkannya ke sekolah Yesuit Belen di Havana, sekolah terbaik di negeri itu, tempat aristokrat Kuba menyekolahkan anak-anak mereka. Afiliasi-afiliasi politik konservatif di masa depan kerap dikukuhkan di sini pada saat masih bersekolah.

Pada Oktober 1945, Castro masuk Universitas Havana untuk belajar Ilmu Hukum. Hidupnya berubah. Ia berasal dari lingkungan yang permai dan tenteram, di mana satu-satunya hal terpenting adalah bisa bersekolah dan menjadi umat Kristen yang baik, dan kini ia mendapati diri berada di suatu tempat di mana pergulatan untuk bertahan hidup menjadi hal yang paling penting. Kampus terbagi menjadi dua kelompok politik yang saling bersaing, yang dampaknya meluas ke kota itu secara keseluruhan melalui aksi-aksi kekerasan dan pengaruh finansial: Gerakan Sosialis Revolusioner (Movimiento Socialista Revolucionario atau MSR), dipimpin oleh eks-komunis Rolando Masferrer, dengan Perserikatan Revolusioner Insureksionis (Unión Insurreccional Revolucionaria atau UIR), dipimpin oleh eks-anarkis Emilio Tro. Fidel dengan lekas tercengkeram oleh ambisi politik, dan tujuannya adalah memimpin Federasi Mahasiswa (Federación Estudiantíl Universitaria atau FEU) –artinya, badan yang mewakili seluruh gerakan mahasiswa—sebuah kedudukan yang sangat diidam-idamkan bagi anggota kedua faksi yang saling bersaing. Ia mencoba menarik perhatian pucuk pimpinan MSR dan UIR, karena sadar bahwa ia takkan bisa mencapai tujuannya tanpa dukungan kelompok berpengaruh; namun sampai tahun ketiga kuliahnya, ia tak kunjung beranjak lebih dari posisi Wakil Presiden Dewan Mahasiswa Fakultas Hukum itu saja. Untuk pemilihan mendatang, ia memutuskan maju sebagai Presiden FEU, tak peduli dengan afiliasinya pada pihak yang manapun. Dengan cermat ia garap basisnya. Ia membaca banyak karya penulis sekaligus revolusioner besar Kuba José Martí dan mengambil darinya sebuah filosofi yang sangat persuasif dan bertenaga, ditambah dengan kumpulan fakta panjang lebar untuk menopang pidato-pidatonya yang ia susun dengan apik. Ia juga mulai beraksi di luar lingkungan kampus, mengorganisir demo menentang pemerintahan Ramón Grau San Martin. “Koran-koran pun membahas soal dia,” catat penulis biografinya, Volker Skierka, “kadang dengan istilah muluk-muluk. Pembicara berbakat yang memukau, muda, tinggi dan atletis, berpenampilan rupawan dengan jas dan dasi, rambut hitamnya disisir licin, dengan profil klasik Yunani, baru berusia 21 tahun namun sosoknya amat mengesankan, tipe dambaan ibu-ibu yang punya anak gadis.” [5]

Namun ia bukan cuma bicara. Sesudah bertemu presiden, Castro mengusulkan kepada sesama aktivis untuk beramai-ramai meringkus presiden dan melemparkannya dari balkon buat membunuhnya, yang akan melambungkan revolusi mahasiswa dengan cara yang sangat dramatis. Sekitaran waktu itu, Castro memang dituduh terlibat dalam tiga percobaan pembunuhan: pertama pada Desember 1946, ketika seorang anggota UIR ditembak di bagian dada; kedua pada Februari 1948, ketika Manolo Castro, Direktur Nasional Bidang Olahraga, ditembak dan dibunuh di luar gedung bioskop; dan yang ketiga sebentar sesudahnya: seorang opsir polisi, Oscar Fernandez, terluka fatal oleh tembakan di luar rumahnya; sebelum menghembuskan nafas terakhir, ia mengidentifikasi si pemimpin mahasiswa itu sebagai penarik pelatuknya.[6]

Minat Castro pada politik Amerika Latin pun bertambah intens. Ia berpihak pada gerakan pembebasan Puerto Rico; ia berangkat ke Republik Dominika dalam upaya gagal untuk melengserkan diktator Rafael Trujillo; dan ia ekspresikan solidaritas dengan gerakan-gerakan mahasiswa di Argentina,Venezuela, Kolombia, dan Panama, yang tengah berjuang untuk mengakhiri kolonialisme dalam negeri mereka dan menghentikan infiltrasi imperialisme AS. Demi tujuan tersebut, ia organisir kongres dewan-dewan mahasiswa se-Amerika Latin pada awal 1948, untuk diselenggarakan pada bulan April tahun itu juga di ibukota Kolombia, bertepatan dengan Pertemuan Tinggi Menteri Luar Negeri Benua Amerika ke-9, yang nantinya bakal memutuskan pembentukan Organisasi Negara-negara Benua Amerika (OAS), dan di mana Washington bermaksud menggulung “ancaman komunis” di bawah pantauan ketat Jenderal Marshall.

* * *

Main-main berakhir. Jalan hidup dua dewa kecil kita bertemu di Bogotá pada hari berdarah 9 April 1948. Yang nantinya dikenal sebagai kerusuhan “Bogotazo” akan memakan 3.500 nyawa pada hari-hari berikutnya dan lebih dari 300.000 lagi sepanjang pertempuran lanjutan di tahun-tahun berikutnya.[7] Pada 7 April, Castro bertemu dengan Jorge Eliécer Gaitán, pemimpin oposisi dari kubu liberal di Kolombia. Sekalipun masih muda, Gaitán sangat populer dan berhasil mengkonsolidasi partai ketika negeri itu sangat membutuhkan seorang negarawan untuk mengakhiri iklim oligarki yang penuh kekerasan, dan tak ada yang menyangsikan bahwa ia akan merebut tampuk kepresidenan dalam pemilu mendatang. Dalam pertemuannya dengan perwakilan mahasiswa Kuba di kantornya di Jalan Ketujuh, keduanya saling suka. Gaitán berjanji membantu Castro dan kawan-kawannya memperoleh lokasi yang terjamin untuk menggelar konferensi anti-imperialisme mereka, dan menutup acara tersebut dengan demonstrasi massa besar-besaran. Mereka berencana bertemu dua hari lagi, pukul dua siang untuk memfinalisasi detail-detailnya. Sebentar sebelum pertemuan kedua yang dijanjikan itu, saat Fidel dan kawan-kawannya sedang keluyuran di wilayah sekitar sambil menunggu waktu, seorang jago tembak yang kurang waras, Juan Roa Sierra, menembak si kandidat presiden dari jarak dekat. Saat Gaitán melangkah keluar dari kantornya di Jalan Ketujuh 14-55, antara Jalan Jimenez de Quesada dan Jalan Keempatbelas, ia ditembak tiga kali: di otak, paru-paru, dan liver. Tiga butir peluru menghabisi harapan terbesar Kolombia, menandai awal dari salah satu era terkelam sejarah negeri itu, dan menyulut perang saudara yang berlangsung berkepanjangan selama sekian dasawarsa.

Persis pada waktu itu, di rumah indekos mahasiswa-mahasiswa gembel di Jalan Kedelapan, dekat sekali dengan TKP, mahasiswa hukum tahun kedua Gabriel García Márquez baru saja hendak makan siang. Arlojinya terbaca pukul satu lebih lima. Ia langsung tahu apa yang terjadi. Gabo dan kawan-kawannya lari ke tempat Gaitán roboh bersimbah darah di trotoar. Saat mereka tiba di sana, Gaitan sudah dibawa ke Klinik Pusat, tempatnya meninggal dalam hitungan menit. Bingung oleh suasana yang makin kacau, para mahasiswa itu berdiam sebentar di sana, mencoba memahami kerusuhan di jalan-jalan yang meledak seputar mereka, juga suara pekik dan teriakan yang makin kencang. Kota membara. Mereka putuskan balik ke rumah kos mereka. Saat berbelok di pojokan dan menyeberangi jalan, mereka dapati hal yang terburuk: rumah mereka ikut dibakar. Mereka tak bisa masuk menyelamatkan barang-barang pribadi. Pakaian, perabot, buku-buku, segalanya musnah jadi abu. Gabo mencoba lari menerobos api, tapi teman-temannya menahannya. Rasa putus asanya bersumber dari kehilangan harta yang paling disayanginya: manuskrip cerpen-cerpen yang sedang ia tulis, terutama “El cuento del fauno en el tranvía,” dan cerpen-cerpen yang sudah terbit di El Espectador.[8] Luis Villar Borda, seorang teman dari pergaulan sastranya, berpapasan dengan Gabo sekitar pukul 4 sore itu di persimpangan antara Jalan Jimenez de Quesada dengan Jalan Kedelapan. Dasso Saldivar menggambarkan pertemuan itu:

Mendapati temannya dalam kondisi yang sedemikian gundah, nyaris menangis, cukup membuat Villar Borda terpana, karena selama ini, melihatnya di kampus dan ruang kuliah, Gabriel tak pernah menunjukkan hasrat apapun untuk segala yang berbau politik, apalagi politik nasional bipartisan ... Jadi, mendapatinya begitu tak lumrah seperti ini, ia berkata kebingungan,
“Gabriel, aku tak tahu kau Gaitánis tulen!”
Lantas Gabriel pun menjawab dengan suara serak, “Apa maksudmu? Itu cerpen-cerpenku terbakar!”[9]

Gabo melakukan satu upaya nekat terakhir: menyelamatkan mesin tik yang harusnya masih ada di toko gadai. Belum lama lalu ia meninggalkannya di pegadaian sebagai jaminan uang kontan untuk melunasi tagihan dan utang. Melihat bagaimana Jalan Ketujuh dan seberangnya dilalap api, adiknya Luis Enrique dan dirinya punya firasat yang sama. Gabo menulis dalam memoarnya:

Massa yang marah, bersenjata parang dan segala jenis perkakas tajam yang dijarah dari toko bahan bangunan, menghancurkan toko-toko di Jalan Ketujuh serta seberangnya dan membakarnya, dengan bantuan polisi berkuda. Sekali pandang saja sudah cukup membuat kami yakin bahwa situasinya sudah lepas kendali. Adikku membaca pikiranku saat ia berteriak:
“Sial, mesin tiknya!”
Kami lari ke toko gadai yang masih utuh, dengan pagar besi terkunci rapat, tapi mesin ketik itu sudah tak berada di tempat semestinya. Kami tak khawatir, dengan asumsi kami bisa memperolehnya kembali setelah semua ini berakhir, tanpa sadar bahwa bencana mengerikan ini takkan pernah berakhir.[10]

Fidel Castro, Alfredo Guevara, dan delegasi mahasiswa lainnya yang telah meninggalkan hotel untuk bertemu dengan si pemimpin liberal melihat orang-orang berlari-larian sambil berseru “Gaitán dibunuh!” Tiga puluh tiga tahun sesudahnya, dalam wawancara dengan Arturo Alape, Fidel mengisahkan hal-hal yang paling menyentaknya hari itu: gerombolan massa yang marah dan tak mau tahu berlari-larian, melakukan tindakan kekerasan sesuka-sukanya. Mereka jebol kaca-kaca jendela, menjarah toko-toko, menghancurkan properti negara dan swasta. Massa mencapai alun-alun di depan Gedung Parlemen; ratusan orang berkerumun di depan pintu, sementara seseorang mencoba mengajak mereka bicara dari balkon. Polisi tak bisa menahan massa, yang mendobrak masuk ke gedung pemerintah dan menghancurkan apa saja sepanjang jalan, melemparkan meja dan kursi keluar jendela. Secara naluri Fidel langsung bergabung dengan massa di jalanan; ia menerobos masuk ke markas polisi divisi ketiga, kabur membawa pistol, empat belas butir peluru, sepatu bot, dan topi kapten polisi sebelum maju berperang.[11] Namun akhirnya Castro sampai pada simpulan bahwa ini bukan revolusi, melainkan kerusuhan. Saat bergabung kembali dengan kawan-kawannya, ia pun tahu bahwa polisi sedang mencari-cari dirinya karena komunis-komunis Kubalah yang telah memprovokasi tewasnya Gaitán dan pergolakan.[12] Melihat situasinya, mereka memutuskan pergi ke kedutaan besar Kuba dan menginap di sana, untuk menghindari kesulitan lebih lanjut dalam kerusuhan yang kian kacau itu.

Beberapa tahun lalu, bersama teman dekatnya Gabriel García Márquez, sang pemimpin Kuba ini mengisahkan ulang lika-liku dramatis dari masa-masa menegangkan yang tak terlupakan itu. Dalam pelbagai kesempatan keduanya telah menyatakan bahwa persahabatan mereka bermula atas alasan-alasan literer. Takdir bertemu dengan sejarah pada 9 April 1948 itu: mesin ketik, sebuah piranti sederhana dari logam dan plastik yang bisa melambungkan orang ke surga melalui tulisan-tulisan penuh ilham, menjadi katalis persekutuan mereka—sekalipun bila tidak secara aktual terjadi, paling tidak secara magis, imajinatif, dan fantastis, sebagaimana realitas kerap berlangsung di Karibia. Fidel mengingat percakapan ini dengan Gabo:

Saat saya cuma bisa berdiri melihat, takjub, massa menyeret si pembunuh sepanjang jalan, membakari toko-toko, perkantoran, gedung bioskop, dan apartemen. Beberapa orang mengangkuti piano dan lemari pakaian beroda. Ada yang memecahkan kaca. Yang lain merusak tanda dan rambu-rambu. Yang paling vokal melampiaskan kegeraman mereka dengan berteriak-teriak dari pojok jalan, teras-teras, dan gedung-gedung yang berasap. Tapi ada seseorang yang sangat aneh, ia lampiaskan kemarahannya dengan menghajar sebuah mesin ketik, memukulinya, dan agar tak buang-buang tenaga percuma, ia melontarkannya ke udara, dan mesin tik itu pun hancur berkeping-keping saat menghantam kakilima.
Saat saya bicara, Gabo cuma menyimak, barangkali menegaskan kepastian ini dalam hati bahwa di Amerika Latin dan Karibia, penulis tak harus banyak mengarang-ngarang, karena realitas lebih menarik daripada apapun yang bisa Anda khayalkan, dan barangkali tantangannya adalah membuat realitas yang sukar dipercaya itu menjadi bisa dipercaya. Saat saya selesai bercerita, saya tahu Gabo juga ada di sana, dan kebetulan ini sangat mengesankan, barangkali kami lari di jalan yang sama dan menyaksikan peristiwa mengerikan yang sama, yang membuat saya cuma jadi salah satu tokoh saja dalam kerumunan yang tiba-tiba bergolak itu. Saya pun bertanya dengan rasa ingin tahu yang datar-datar saja:
“Dan apa yang kau perbuat selama Bogotazo?”
Dengan tenang, terbenam dalam imajinasinya yang provokatif dan menyala-nyala itu, ia menjawab pendek sambil tersenyum, penuh akal dengan pemakaian metafornya seperti biasa:
“Fidel, akulah orang dengan mesin tik itu.”[13]


---------------------
1.  Fidel Castro, “La novela de sus recuerdos,” Cambio.com, 7 Oktober 2002, hlm. 1 (http://66.220.28.28/calle22/portada/artículos/79/)
2.  Dasso Saldívar, García Márquez. El viaje a la semilla, Alfaguara, Madrid, 1997, hlm. 98.
3.  Ibid., hlm. 119-120.
4.  Ibid., hlm. 121.
5.  Volker Skierka, Fidel. La biografía definitiva del líder cubano, Martínez Roca, Barcelona, 2002, hlm. 46.
6.  Ibid., hlm. 47-48.
7.  Saldivar, op. cit., hlm. 195.
8.  Ibid., hlm. 193.
9.  Ibid.
10. Gabriel García Márquez, Vivir para contarla, Mondadori, Barcelona, 2002, hlm. 342.
11.  Arturo Alape, De los recuerdos de Fidel Castro: El Bogotazo y Hemingway, Editora Política, La Habana, 1984, hlm. 32-40.
12. Ibid., hlm. 60.
13. Castro, “La novela de sus recuerdos,” hlm. 1-2. Jelas, jawaban Gabo murni khayal, suatu cara untuk menunjukkan selera humornya. Adegan itu tidak tampil dalam memoarnya, juga tidak sejalan dengan evolusinya sebagai penulis.

Selasa, 15 Mei 2012

RIP Carlos Fuentes


Sebuah pesan masuk pukul 2.31 dini hari tadi mengabarkan Carlos Fuentes telah tiada. Dialah penulis Amerika Latin yang paling subtil dalam memadukan antara yang-estetik dengan yang-politik. Novel-novelnya adalah gambaran gejolak sebuah subbenua yang mengusung beban berat sejarah, yakni sejarah penjajahan sekaligus sejarah kemajuan yang dihadirkan oleh kolonialisme Eropa dan AS. Atau seperti kata Milan Kundera saat menyanjung mahakarya Fuentes Terra Nostra (1975), "bagaimana waktu historis Barat menyela waktu Indian di Amerika Latin." Fuentes sadar betul posisi intelektual publik dalam masyarakat seperti Meksiko, karenanya sebagai penulis ia tak menarik diri dari politik. Bahkan sampai wafatnya semalam pada usia 83 tahun Fuentes masih menulis soal peralihan politik di Perancis. Buku-buku Fuentes termasuk yang terbanyak yang menyesaki rak buku saya ¡Adiós, Maestro!



Rabu, 04 April 2012

Carmen Balcells: Penggerak Sesungguhnya “Boom” Sastra Amerika Latin


Ketika berbicara tentang boom sastra Amerika Latin –fenomena lonjakan penjualan dan minat publik pada karya sastra Amerika Latin baik dalam bahasa Spanyol maupun terjemahan yang terjadi pada era 1960-1970-an—kebanyakan pengamat dan pembaca hanya berbicara tentang para penulis yang menonjol dari era tersebut, terutama, sebutlah, Gabriel García Márquez, Mario Vargas Llosa, Carlos Fuentes, dsb. Seakan-akan hanya dari tekad, perjuangan, dan kualitas para penulis inilah sastra Amerika Latin bisa dikenal dunia. Kebanyakan pembaca di Indonesia misalnya, nyaris tak mengenal nama Carmen Balcells. Dia memang bukan penulis, “hanya” seseorang yang bekerja di balik layar sebagai agen sastra. Namun tanpa dia, boom sastra Amerika Latin bisa dipastikan tak akan terjadi. Mempelajari apa yang dilakukan Balcells sesungguhnya bisa sangat berguna apabila kita hendak serius mengangkat sastra Indonesia ke pentas dunia.

Carmen Balcells Segalà dilahirkan pada 9 Agustus 1930 di Santa Fe de Segarra, kota kecil dengan penduduk hanya sekitar 50 orang di provinsi Lérida, sebelah timur laut Spanyol yang masuk dalam wilayah otonom Katalunya. Pada usia 16 tahun ia pindah ke Barcelona dan bekerja di sana. Persentuhannya dengan dunia sastra sebenarnya baru terjadi pada 1954, ketika Balcells pindah kerja dari sekretaris di pabrik tekstil menjadi perwakilan Barcelona untuk agensi sastra ACER milik penulis Rumania, Vintila Horia. Balcells segera dikenal dan disukai oleh para penulis karena dengan keras ia memperjuangkan hak-hak penulis dari kesemena-menaan penerbit yang hanya cari untung. Ia membuat kontrak penerbitan menjadi lebih adil bagi kedua pihak.

Setelah dua tahun menimba pengalaman di ACER, pada 1956 Balcells merasa siap membuka agensinya sendiri di Barcelona, dan dari situlah boom sastra Amerika Latin sesungguhnya bermula. Balcells melihat potensi luar biasa para penulis Amerika Latin, dan ia jajakan buku-buku mereka ke penerbit-penerbit Spanyol serta Eropa lainnya untuk diterjemahkan. Itu sebabnya Barcelona sering dijuluki sebagai “ibukota sastra Amerika Latin.”

Hingga kini tak kurang dari lima peraih Hadiah Nobel Sastra besar dalam naungannya: Mario Vargas Llosa, Gabriel García Márquez, Camilo José Cela, Pablo Neruda, Miguel Ángel Asturias, dan Vicente Aleixandre. “Carmen Balcells Agencia Literaria S.A.” juga menjadi wadah bagi para penulis sohor Amerika Latin lainnya (seperti Augusto Roa Bastos, Carlos Fuentes, Isabel Allende, José Donoso, dll) serta para penulis besar Spanyol (seperti Manuel Vázquez Montalbán, Juan Goytisolo, Rafael Alberti, Ana María Matute dll).

Carmen Balcells di depan lukisan potret dirinya karya Gonzalo Goytisolo
Foto: M. Sàenz / El País

Tentunya, Balcells tak bisa mencapai ini tanpa atmosfer zaman itu yang memang mendukung, yakni tumbuhnya kesadaran akan Amerika Latin sebagai sebuah kesatuan politik, bukan semata-mata geografis, serta tampilnya Amerika Latin sebagai kekuatan politik yang menonjol pasca digulingkannya kedikatoran Batista oleh pasukan gerilya Fidel Castro di Kuba.

Sebelum 1960, bisa dibilang tak ada “kesadaran Amerika Latin”—yang ada hanyalah negara-negara kecil di selatan benua Amerika yang saling memusuhi satu sama lain, meskipun memiliki kesamaan bahasa (Spanyol) dengan variasi dialek lokal dan nasionalnya masing-masing. Seperti dibilang oleh novelis Cile José Donoso dalam memoarnya tentang masa-masa boom: “Sebelum 1960 sangat tidak lazim mendengar orang bicara tentang ‘novel Amerika Latin kontemporer’. Adanya hanya novel Uruguay atau Ekuador, novel Meksiko atau Venezuela. Novel tiap-tiap negara terkurung dalam batas-batas negaranya saja, ketenaran atau relevansi sebuah novel dalam banyak kasus hanya menjadi perkara lokal.”[1]

Semua ini berubah dengan meletusnya Revolusi Kuba. Kemenangan Castro membuat negara-negara Amerika Selatan mulai melihat dirinya sebagai satu kesatuan politik yang mengalami rute historis yang serupa. Dukungan pada Castro menyatukan kaum intelektual negara-negara Amerika Selatan dan menumbuhkan rasa sebagai satu “Amerika Latin”. Seperti ditulis Donoso, suasana Kongres Intelektual di Concepción, Cile, pada 1962, dipenuhi semangat dukungan pada Kuba oleh provokasi novelis Meksiko Carlos Fuentes yang menyatakan bahwa Amerika Latin kini hanya bisa berpaling pada Kuba, dan bahwa di Amerika Latin “sastra dan politik tak terpisahkan.”[2] Donoso juga mengenang bahwa pada kongres itulah ia pertama kali berkenalan dengan Fuentes, sementara nama-nama (yang kini) besar seperti García Márquez, Vargas Llosa, bahkan Jorge Luis Borges dan Juan Rulfo, tak disinggung-singgung sama sekali karena tak banyak orang mengenal mereka.[3] Dengan demikian bisa disimpulkan, bahkan pada tahun 1962 itu pun, para sastrawan Amerika Latin masih belum saling membaca karya sastra antar negara mereka.

“Sastra Amerika Latin” baru mewujud ketika karya-karya dari Amerika Latin diboyong ke Barcelona untuk diterbitkan di Spanyol dan negara-negara Eropa lainnya. Para penulis Amerika Latin yang berkumpul di Barcelona mulai membaca satu sama lain dan merasa diri sebagai satu kesatuan yang mengemban proyek literer-politik yang sama. Kita bisa melihat sekilas kemiripan situasi ini dengan analisa Ben Anderson tentang kemunculan nasionalisme Indonesia atau Filipina, di mana justru di negara induklah (Belanda dalam kasus Indonesia dan Spanyol dalam kasus Filipina), orang-orang buangan dari negara kolonial merasa sebagai satu kesatuan untuk lalu membentuk proyek nasionalisme.

Pada sisi lain, kemenangan Castro dalam Revolusi Kuba juga menumbuhkan minat dunia pada subbenua tersebut, terutama kecemasan AS terhadap meluasnya komunisme di benua Amerika. Amerika Latin mulai dipandang sebagai sebuah kekuatan (kalau bukan ancaman) ekonomi-politik yang sedang berkembang. Segala tulisan yang berasal dari subbenua tersebut karenanya menjadi layak untuk diterjemahkan, dibaca, dan diteliti. Dalam konteks inilah Carmen Balcells dengan antuasiasme menggebu-gebu mempromosikan sastra Amerika Latin sebagai sastra kelas dunia yang sudah waktunya dibaca oleh pembaca di Dunia Pertama.

Carmen Balcells dijuluki “la dueña del boom” (induk semang boom sastra Amerika Latin) oleh majalah Clarín,[4] dan sungguh tak salah, karena sebagai agen sastra ia memang bersikap bak “ibu kos” bagi para penulisnya: cerewet, bawel, namun penuh perhatian. Donoso mengenang pesta Tahun Baru 1970, di mana Julio Cortázar berjoget tidak karuan, Vargas Llosa dan istrinya berdansa walsa Peru, García Márquez dan istrinya menari merenque, sementara Carmen Balcells hanya duduk santai di sofa empuk sambil terus mengudap dan “mempelajari kami: barangkali dengan rasa kagum, barangkali dengan rasa lapar, barangkali dengan paduan keduanya.”[5] Ia berjaga agar mereka tak kelewat mabuk.

Pada akhir 1970-an, ketika Vargas Llosa terpaksa menjadi dosen tamu di King’s College untuk menyambung hidup, dan dengan demikian merintangi kerja penulisannya, Balcells menyuruhnya pindah ke Barcelona agar bisa berkonsentrasi menulis dan mengganti upah yang didapatnya sebagai dosen. Dan saat Camilo José Cela di usia senjanya sudah tak sanggup lagi menulis, Balcellslah yang menopang hidupnya. Ia juga memberi dukungan moril pada Ana María Matute agar sembuh dari depresi, yang lantas memungkinkannya merampungkan novel terbaiknya, Olvidado rey Gudú (1996). “Ya, ya, ya… Para penulis ini memang aneh-aneh,” Balcells mengenang.[6] Juan Goytisolo sering meneleponnya untuk curhat soal rumah tangga dan García Márquez bahkan bertanya usil padanya, “Carmen, kau mencintaiku?” “Aku susah menjawabnya, sepertiga pemasukanku berasal darimu.”

Mario Vargas Llosa dan Carmen Balcells
(Foto: Quique García / El Mundo)

Namun yang paling membuat Carmen Balcells menjadi legenda adalah kegigihannya dalam memperjuangkan mati-matian hak para penulis. Carmen Balcells menghentikan praktik-praktik “kontrak seumur hidup” yang jamak terjadi dalam dunia penerbitan zaman itu. Novelis Katalunya Manuel Vázquez Montalbán menyebutnya sebagai la liberadora de autores (pembebas para penulis): “Sebelum ada dia, penulis meneken kontrak seumur hidup dengan penerbit, menerima royalti yang amat menyedihkan besarannya, dan kadang, sebagai hadiah, dikado baju hangat atau keju.”[7]

Menulis ini, saya jadi teringat Drs. Suyadi (Pak Raden) yang kini di usia senjanya hidup serba berkesusahan tanpa memperoleh sedikit pun royalti dari serial Unyil yang ia ciptakan sendiri, karena kontrak dengan PFN dengan sangat tidak adil tidak mencantumkan batasan waktu kapan lisensi yang dipegang PFN berakhir.

Banyak penulis merasa berutang budi pada Balcells. García Márquez menjulukinya penuh takzim “Mamá Grande” (Mama Besar), yang lantas dijadikan salah satu tokoh cerpennya dalam Los funerales de la Mamá Grande. José Donoso dalam novel El jardin de al lado menggambarkan pribadi Balcells sebagai agen sastra tak kenal ampun dalam diri tokoh bernama Núria Monclús. Uniknya, Isabel Allende mengaku memutuskan mengirimkan naskah La casa de los espíritus ke Carmen Balcells –setelah ditolak semua penerbit di Amerika Latin—setelah membaca novel Donoso tersebut.[8] Allende mendedikasikan novel Retrato en Sepia juga kepada Balcells.

Namun tentu tak semua pihak memandang positif pengaruh Balcells pada sastra Amerika Latin dan sastra berbahasa Spanyol secara lebih luas. Terutama dari pihak penerbit. Pada 1960-an itu, seperti ditulis Mario Vargas Llosa, kegigihan Balcells dalam membela hak-hak penulis membuatnya dituding oleh penerbit sebagai “pengkhianat, matre, mata duitan, pembantai sastra, dan ribuan julukan tak sedap lainnya.”[9]

Mayder Dravasa misalnya, dalam kajiannya tentang masa-masa boom di Barcelona ini, menyebut bahwa tuntutan-tuntutan Balcells banyak merugikan penerbit dan menciptakan ekspektasi-ekspektasi dalam diri para penulis yang sesungguhnya tidak bisa dipenuhi oleh pasar pada saat itu.[10] Dravasa mencontohkan, ketika Balcells menuntut uang muka 40.000 peseta, ini artinya penerbit harus bekerja keras menjual ratusan ribu eksemplar, angka yang mustahil bagi pasar zaman itu. Namun Dravasa tidak menjelaskan dakwaannya lebih lanjut dalam hitung-hitungan ekonomis: benarkah tuntutan Balcells merugikan penerbit? Bukankah Alfaguara dan Barral (saat itu Seix-Barral), dua penerbit yang menjadi langganan Balcells saat itu, kini menjadi penerbit-penerbit terbesar di Spanyol, bahkan termasuk penerbit besar di dunia? Tidakkah ini –paling tidak sebagiannya—dikarenakan oleh dampak larisnya karya-karya el boom? Vargas Llosa mencatat ironinya di sini: bila pada masa boom Balcells memperjuangkan royalti tinggi karena yakin akan mutu sastra para penulisnya, sekarang ini justru banyak penulis pemula dengan karya medioker berharap bisa ditangani oleh Balcells justru karena impian akan tingginya perolehan royalti itu.[11]

Uniknya lagi, ketika tugas seorang publisis kini lebih banyak dimaknai sebagai banyak bicara di sana-sini mewakili penulis, atau menggelar kuis-kuis, hadiah-hadiah, dan kegiatan-kegiatan yang kadang tak ada kaitannya dengan sastra, terasa janggal melihat Balcells justru sangat jarang tampil di depan media. Karenanya, wawancara yang saya kutip untuk esai ini dari majalah Clarín (September 2006) terbilang istimewa, karena terakhir kali Balcells mau diwawancarai adalah lebih dari 20 tahun sebelumnya oleh Carme Riera dari majalah Quimera. Apa alasannya? Balcells menjawab tegas bahwa kegiatan seorang agen bukanlah beriklan atau berhadapan muka langsung dengan publik. Publisitas harus tertuju pada penulis dan karyanya sendiri. Maka Sang Mama Besar pun menjadi besar karena memilih tetap di belakang layar.

Balcells telah menerima pelbagai penghargaan antara lain: gelar doktor Honoris Causa dari Universidad Autónoma de Barcelona (2005) dan Montblanc Award for Women (2006). Pada Mei 2000 Balcells mengumumkan diri pensiun, namun ibarat Steve Jobs yang kembali ke Apple setelah kinerja perusahaan itu terus menurun, demikian juga pada 2008 Balcells kembali bekerja mengetuai agensi sastranya setelah hengkangnya beberapa penulis ternama dari daftar kliennya, seperti penulis Kuba Guillermo Cabrera Infante, penulis Cile Roberto Bolaño, dan penulis Spanyol Daniel Vázquez Salles.

Pada 2010, Departemen Kebudayaan Spanyol membeli total arsip-arsip Carmen Balcells seharga tiga juta Euro—arsip-arsip yang terdiri dari 2.000 dus dan bila dijajarkan akan menjulur sepanjang 2,5 kilometer. Arsip ini baru bisa diakses publik pada November 2011 lalu, meski masih menjadi tarik ulur antara pemerintah pusat di Madrid dengan pemerintah otonom Katalunya di mana arsip tersebut hendak dirumahkan. Bagi penggemar sastra Amerika Latin secara umum, dan khususnya para peneliti sastra, arsip Balcells adalah harta karun. Banyak detail menarik bisa didapat untuk memperjelas dan memperkaya kajian-kajian tentang masa-masa boom.

Salah satu dokumen dari arsip Carmen Balcells: nota transfer sebesar AS$4.190
dari Balcells kepada Gabriel García Márquez untuk biaya tiket pesawat
Meksiko-Swedia dalam rangka acara penerimaan Hadiah Nobel 1982.

(koleksi: Departemen Kebudayaan Spanyol)

Kembali soal boom sastra, kadang saya mendapat pertanyaan (dan juga bertanya-tanya sendiri) mengapa sastra Indonesia tidak bisa melahirkan boom pada aras internasional seperti yang dilakukan oleh sastra Amerika Latin? Saya kira ada dua jawaban yang bisa disimpulkan dari sini. Pertama, seperti kata Fuentes, sastra adalah politik. Minat dunia internasional (katakanlah penerbitan berbahasa Inggris) pada sastra nasional suatu negara tampaknya berbanding lurus dengan minat dunia internasional pada negara tersebut secara ekonomi-politik (entah sebagai peluang atau sebagai ancaman).

Ambil Cina sebagai contoh. Apakah sebuah kebetulan belaka bahwa sastra Cina kontemporer dalam terjemahan Inggris merebak beberapa tahun belakangan ini, dengan angka penjualan yang fantastis? Sebutlah Wolf Totem karya Jiang Rong, The Good Women of China karya Xin Ran, Village of Stone karya Xiaolu Guo, The Right Bank of the Argun karya Chi Zijian, atau 13 Flowers of Nanjing karya Yan Geling. Apakah sebuah kebetulan belaka bahwa Cina menjadi tamu kehormatan di London Book Fair 2012, atau bahwa University of Oklahoma Press kini punya seri khusus “Chinese Literature Today”, atau bahwa penerbit-penerbit terbesar Inggris telah membentuk forum khusus China-UK Literature in Translation? Tentunya ini berkaitan dengan minat dunia internasional untuk mempelajari Cina seiring kekuatan ekonomi-politiknya yang kian menonjol.

Maka dari itu, sebagus apapun para penulis kita berkarya, selama secara ekonomi-politik Indonesia terus menjadi bulan-bulanan dalam percaturan politik internasional, sastra kita secara umum juga takkan dilirik. Satu atau dua karya mungkin berhasil terbit di negeri orang (seperti Bi wa Kizu-nya Eka Kurniawan atau Frische Knochen aus Banyuwangi-nya Agus R. Sarjono), namun boom secara umum tidak akan terjadi.

Kedua, belum ada upaya yang intens, sistematis, dan terorganisir untuk memasarkan karya-karya Indonesia ke luar negeri. Dalam mengikuti pesta-pesta buku internasional semacam Frankfurt Book Fair, penerbit Indonesia datang dengan tujuan utama berburu copyrights buku terjemahan, bukan menjual copyrights buku untuk diterjemahkan. Jadi, sinyalemen sejarawan Anthony Reid, “Indonesia adalah bangsa yang paling tidak efektif di dunia dalam menjelaskan dirinya kepada dunia,”[12] bisa jadi benar. Bila tak ada upaya intens memperkenalkan diri pada dunia –sebagaimana yang dilakukan Carmen Balcells pada sastra Amerika Latin—maka jangan terlalu berharap dunia akan bisa mengenal kita dengan sendirinya.


[1] José Donoso, Historia personal del “boom” (Barcelona: Editorial Anagrama, 1972), hlm. 10.
[2] Ibid., hlm. 48.
[3] Ibid., hlm. 34.
[4] Xavi Ayén, “Balcells, la dueña del boom: entrevista a Carmen Balcells,” Clarín, 29 Juli 2006.
[5] Donoso, op. cit., hlm.
[6] Ayén, op. cit.
[7] Dikutip dari Tereixa Constenla, “Los secretos de la Mamá Grande,” El País, 17 November 2011.
[8] Cerita ini didapat dari  Alejandro Herrero-Olaizola, The Censorship Files: Latin American Writers and Franco's Spain (New York: SUNY Press, 2007), hlm. 174-175.
[9] Mario Vargas Llosa, “El jubileo de Carmen Balcells,” El País, 20 Agustus 2000.
[10] Mayder Dravasa, The Boom in Barcelona: Literary Modernism in Spanish and Spanish-American Fiction 1950-1974 (New York: Peter Lang, 2005), hlm. 134.
[11] Vargas Llosa, op. cit.
[12] Anthony Reid, “Indonesia dan Dunia Sesudah 66 Tahun,” majalah Tempo, 14-20 November 2011.