Kamis, 09 Februari 2012

Perang Dunia Keempat, oleh Subcomandante Marcos


“La cuarta guerra mundial”, Subcomandante Marcos (EZLN). Ceramah Marcos di hadapan Komite Sipil Pengawasan HAM Internasional di La Realidad, Chiapas, Meksiko, 20 November 1999. Transkripsi terbit pertama kali di La Jornada, Kamis, 23 Oktober 2001, dan dimuat ulang di Rebeldía no. 4 Februari 2003. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dan dimuat dalam Subcomandante Marcos, Kata adalah Senjata (Yogyakarta: Resist Book, 2005).


Restrukturisasi Perang
Seperti kita lihat, ada beberapa konstanta dalam apa yang dinamakan perang dunia, dalam Perang Dunia Pertama, Perang Dunia Kedua, dan apa yang kami sebut Perang Dunia Ketiga dan Keempat.

Salah satu dari konstanta-konstanta tersebut adalah penaklukan wilayah dan reorganisasinya. Bila Anda amati peta dunia, Anda bisa lihat adanya perubahan di akhir semua perang dunia, bukan cuma dalam penaklukan wilayah, tapi dalam bentuk pengorganisasiannya. Seusai Perang Dunia Pertama, ada peta dunia baru, sesudah yang Kedua, ada peta dunia lain lagi.

Pada penghujung perang yang dengan berani kami namai “Perang Dunia Ketiga”, yang oleh orang lain disebut Perang Dingin, penaklukan wilayah dan reorganisasi berlangsung. Secara luas bisa disebutkan bahwa keduanya berlangsung di akhir tahun ’80-an, dengan runtuhnya kubu sosialis Uni Soviet. Dan pada awal ’90-an, apa yang kami sebut Perang Dunia Keempat bisa terlihat.

Konstanta lainnya adalah penghancuran musuh. Seperti halnya terhadap Nazisme dalam Perang Dunia Kedua, dan dalam Perang Dunia Ketiga, terhadap segala sesuatu yang berbau Uni Soviet dan kubu sosialis sebagai opsi terhadap dunia kapitalis.

Konstanta ketiga adalah pengaturan wilayah taklukan. Pada waktu penaklukan wilayah tercapai, penting untuk menatanya agar hasil kemenangan bisa dibagi-bagi kepada kekuatan yang berjaya. Kami pakai istilah ‘penaklukan’ lumayan sering, karena kami berpengalaman soal ini. Negara-negara itu, yang sebelumnya menyebut diri mereka nasional, selalu berupaya menaklukkan orang Indian. Di luar konstanta-konstanta tersebut, ada serangkaian variabel yang berubah-ubah dari satu perang dunia ke perang dunia lainnya: strategi, aktor atau pihak-pihaknya, persenjataan yang digunakan, dan terakhir, taktiknya. Meski yang terakhir ini berubah-ubah, yang pertama tadi ada dan bisa diterapkan guna memahami suatu perang dan lainnya.

Perang Dunia Ketiga atau Perang Dingin berlangsung sejak 1946 (atau bila Anda suka, sejak pemboman Hiroshima tahun 1945) sampai 1985-1990. Inilah perang dunia besar yang terdiri dari banyak perang lokal. Sebagaimana dalam semua perang, pada akhirnya terjadi penaklukan wilayah dan penghancuran musuh. Selanjutnya, ia bergerak pada pengaturan wilayah taklukan dan reorganisasi kawasan. Para aktor perang dunia ini adalah: 1) dua negara adikuasa, Amerika Serikat dan Uni Soviet dengan satelitnya masing-masing; 2) mayoritas negara-negara Eropa; 3) Amerika Latin, Afrika, sebagian Asia dan Oseania. Negara-negara pinggiran berkisar seputar AS atau Soviet, sesuka keinginan mereka. Setelah adikuasa dan negara-negara pinggiran terdapat pemirsa dan korban, atau artinya: seisi dunia selebihnya. Dua negara adikuasa ini tidak selalu bertempur tatap muka. Mereka kerap melakukannya lewat negara-negara lain. Sementara negara-negara industri besar bergabung dengan salah satu blok, negara dan umat manusia selebihnya tampil sebagai pemirsa atau korban. Yang memberi watak perang ini adalah: 1) orientasi persenjataannya, dan 2) perang-perang lokal. Dalam perang nuklir, dua adikuasa ini bersaing guna melihat berapa kali mereka bisa menghancurkan dunia. Metode untuk meyakinkan lawan adalah dengan meng­hadapkannya pada kekuatan yang sangat besar. Pada saat yang sama, perang lokal berlangsung di mana-mana dan negara-negara adikuasa itu terlibat.

Hasilnya, sebagaimana kita semua tahu, adalah kalah dan hancurnya Uni Soviet, serta menangnya AS, yang di seputarnya kini mayoritas negara-negara besar berkumpul. Saat itulah apa yang kami namai “Perang Dunia Keempat” pecah. Dan di sini masalah timbul. Hasil dari perang sebelumnya mestinya sebuah dunia unipolar—satu negara tunggal yang mendominasi dunia tanpa pesaing. Tapi, guna membuatnya efektif, dunia unipolar ini harus mencapai apa yang dikenal sebagai “globalisasi.” Dunia harus dipahami sebagai wilayah taklukan luas dengan sebuah musuh yang terhancurkan. Penting kiranya untuk mengatur dunia baru ini, dan karenanya, mengglobalkannya. Maka mereka pun berpaling pada teknologi informasi, yang dalam perkembangan umat manusia sama pentingnya seperti penciptaan mesin uap. Komputer membolehkan orang berada di mana-mana secara simultan. Tidak ada lagi batas atau kekangan ruang dan waktu. Berkat komputerlah proses globalisasi dimulai. Pemisahan, perbedaan, Negara-negara-Bangsa, seluruhnya runtuh, dan dunia menjadi apa yang secara realistis dinamai kampung global.

Konsep yang mendasari globalisasi adalah apa yang kita sebut “neoliberalisme,” sebuah agama baru yang mengizinkan proses ini dilaksanakan. Dengan Perang Dunia Keempat ini, sekali lagi, wilayah-wilayah ditundukkan, musuh dihancurkan dan penaklukan wilayah dikelola.

Masalahnya adalah: wilayah apa yang ditaklukkan dan direorganisir, dan siapa gerangan musuhnya? Melihat bahwa musuh sebelumnya telah lenyap, kami katakan sekarang ini umat manusialah musuhnya. Perang Dunia Keempat menghancurkan umat manusia seraya globalisasi menguniversalkan pasar. Segala sesuatu yang manusiawi dan menentang logika pasar adalah musuh dan harus dihancurkan. Dalam pengertian ini, kita semuanya musuh untuk dimusnahkan: orang adat, orang non-adat, pengawas HAM, kaum guru, cendekiawan, seniman. Setiap orang yang meyakini dirinya bebas padahal tidak.

Perang Dunia Keempat ini menggunakan apa yang kami sebut “destruksi.” Wilayah dihancurkan dan dikosongkan. Saat perang dilancarkan, tanah harus dihabisi, diubah jadi gurun. Bukan karena semangat merusak, tapi guna membangun dan menatanya kembali. Apa masalah utama yang dihadapi dunia unipolar ini dalam mengglobalkan dirinya sendiri? Negara-Bangsa. Perlawanan, budaya, tiap-tiap cara kekerabatan sebuah bangsa, apa-apa yang membuatnya berbeda. Bagaimana mungkin kampung ini bisa global dan setiap orang bisa sama bila ada begitu banyak perbedaan? Waktu kami katakan perlu kiranya untuk menghancurkan Negara-Bangsa dan mengubahnya jadi gurun, itu bukan berarti menyingkirkan rakyat, tapi menyingkirkan cara keberadaan rakyat. Setelah menghancurkan, orang harus membangun. Membangun kembali wilayah dan memberi mereka tempat yang lainnya. Tempat yang diputuskan oleh hukum pasar. Inilah yang menggerakkan globalisasi.

Rintangan pertama adalah Negara-Bangsa: mereka harus digempur dan dihancurkan. Segala sesuatu yang membuat negara itu “berbangsa” harus dihancurkan: bahasa, budaya, ekonomi, kehidupan politik, dan jaringan sosialnya. Bila bahasa-bahasa nasional tidak lagi terpakai, mereka harus dihancurkan, dan sebuah bahasa baru harus digencarkan. Bertentangan dengan apa yang orang pikir, bahasa itu bukanlah Inggris, tapi komputer. Semua bahasa harus dibikin sama, diterjemahkan ke dalam bahasa komputer, Inggris sekalipun. Semua aspek kultural yang membuat seorang Perancis jadi Perancis, seorang Italia jadi Italia, seorang Denmark jadi Denmark, seorang Meksiko jadi Meksiko, harus dihancurkan, karena merekalah penghalang yang mencegahnya memasuki pasar global. Ini bukan lagi perkara membuat satu pasar untuk orang Perancis, dan satu lagi untuk orang Inggris atau Italia. Harus ada satu pasar tunggal, di mana orang yang sama bisa mengkonsumsi produk yang sama di tempat manapun di dunia, dan di mana orang yang sama ini bertindak laiknya warga dunia, bukan lagi warga Negara-Bangsa.

Itu berarti sejarah budaya, sejarah tradisi, bertabrakan dengan proses ini dan menjadi musuh Perang Dunia Keempat. Hal ini menjadi perkara serius terutama di Eropa, di mana terdapat bangsa-bangsa dengan tradisi besar. Kerangka kultural orang Perancis, Italia, Inggris, Jerman, Spanyol, dll –segala sesuatu yang tidak bisa diterjemahkan ke dalam komputer dan istilah-istilah pasar—menjadi kendala bagi globalisasi ini. Barang-barang disirkulasikan lewat saluran-saluran informasi, dan segala sesuatu lainnya harus dihancurkan atau disisihkan. Negara-Bangsa punya struktur ekonominya sendiri serta apa yang disebut “kelas borjuasi nasional”—kaum kapitalis dengan markas dan laba nasional. Ini tidak boleh ada lagi: bila ekonomi diputuskan pada tingkat global, kebijakan-kebijakan ekonomi Negara-Bangsa yang mencoba melindungi modalnya menjadi musuh yang harus ditundukkan. Kesepakatan Perdagangan Bebas, serta kesepakatan yang membuahkan Uni Eropa, uang Euro, merupakan gejala-gejala pengglobalan ekonomi, meski pada mulanya ini adalah globalisasi regional, sebagaimana kasus Eropa. Negara-Bangsa membangun relasi politiknya sendiri, tapi kini relasi politik tidak lagi berguna. Aku tidak mencirikan ini baik atau buruk. Masalahnya adalah hubungan-hubungan politik ini menjadi perintang bagi terwujudnya hukum-hukum pasar. Kelas politik nasional sudah usang, tidak lagi berguna, harus diubah. Mereka mencoba mengingat, mereka mencoba mengingat nama negarawan di Eropa satu saja. Sama sekali tidak bisa. Tokoh terpenting di Eropa zaman Euro adalah orang-orang macam presiden Bundesbank, seorang bankir. Apa yang ia ucapkan akan menentukan kebijakan bermacam presiden dan perdana menteri yang diberlakukan di negara-negara Eropa.

Bila jalinan sosial koyak, hubungan-hubungan lama solidaritas yang memungkinkan adanya koeksistensi dalam sebuah Negara-Bangsa juga retak. Ini sebabnya kampanye menentang homoseksual dan lesbian, melawan imigran, atau kampanye xenofobia, meruyak. Segala sesuatu yang sebelumnya menjaga kesetimbangan harus dihancurkan sampai titik tertentu ketika perang dunia ini menggempur Negara-Bangsa dan mengubahnya jadi sesuatu yang berbeda.

Ini persoalan homogenisasi, membuat tiap orang sama, dan menghegemonikan sebuah gaya hidup. Inilah kehidupan global. Hiburan terbesarnya harus komputer, kerjanya harus komputer, nilainya sebagai manusia harus diukur dari jumlah kartu kreditnya, daya beli seseorang, kapasitas produktifnya. Kasus yang menimpa kaum guru cukup jelas dalam hal ini. Orang yang punya pengetahuan paling banyak atau yang paling bijak tidak lagi berharga. Kini orang yang menghasilkan paling banyak risetlah yang berharga, dan dengan itulah gajinya, beasiswanya, dan kedudukannya di universitas diputuskan.
Ini banyak terkait dengan model Amerika Serikat. Toh ternyata, Perang Dunia Keempat juga menghasilkan efek berkebalikan, yang kami sebut “fragmentasi.” Dunia, secara paradoksal, tidaklah menyatu, malah pecah jadi banyak kepingan. Meski bisa diasumsikan bahwa warga dibikin setara, perbedaan sebagai perbedaan pun meruyak: homoseksual dan lesbian, kaum muda, imigran. Negara-Bangsa berfungsi sebagai suatu Negara besar, wilayah-masyarakat-anonim yang memecah kita berkeping-keping.

Bila Anda cermati peta dunia pada periode ini –berakhirnya Perang Dunia Ketiga—dan menganalisa delapan tahun terakhir, sebuah proses restrukturisasi sedang berlangsung, terutama –tapi bukan hanya—di Eropa. Di mana dulu ada satu negara, kini ada banyak negara. Peta dunia retak sudah. Inilah efek paradoksal yang berlangsung gara-gara Perang Dunia Keempat itu sendiri. Alih-alih mengglobal, dunia malah terpecah-pecah, dan terlepas dari mekanisme hegemoni dan homogenisasi ini, kian lama kian banyak perbedaan yang muncul. Globalisasi dan neoliberalisme membuat dunia jadi sebuah kepulauan. Dan ia harus dibubuhi logika pasar. Kepingan-kepingan ini harus diorganisir jadi denominator bersama. Inilah yang kami sebut “bom finansial.”

Pada saat yang sama perbedaan-perbedaan ini muncul, perbedaan-perbedaan ini pun dilipatgandakan. Tiap anak muda punya gengnya sendiri, cara berpikirnya sendiri, seperti punk dan skinhead. Semuanya di tiap-tiap negara. Kini beda bukan cuma beda, tapi perbedaan mereka dilipatgandakan dan mencari identitasnya sendiri. Perang Dunia Keempat jelas tidak menawarkan sebuah cermin yang membolehkan mereka melihat dirinya sendiri sebagai denominator bersama. Ia menyuguhkan pada mereka cermin yang retak. Selama bisa mengontrol kepulauan ini (umat manusia ini), kekuasaan tidak akan terlalu kecewa.

Dunia pecah jadi banyak kepingan, besar dan kecil. Tak ada lagi benua dalam pengertian bahwa aku seorang Eropa, Afrika, atau Amerika. Yang ditawarkan oleh globalisasi neoliberal adalah jaringan yang dibangun oleh modal finansial, atau, bila Anda suka, oleh kuasa finansial. Bila terjadi krisis dalam persilangan ini, jaringan di luarnya akan meredam dampaknya. Bila terjadi kemakmuran di sebuah negara, ia tidak menghasilkan efek kemakmuran di negara-negara lainnya. Jadi, ini sebuah jaringan yang tidak berfungsi. Apa yang mereka ceritakan pada kita tentang ukuran dunia adalah dusta, pidato yang diulang-ulang oleh para pemimpin Amerika Latin, entah Menem, Fujimori, Zedillo, atau pemimpin-pemimpin lainnya dengan karakter moral yang meragukan. Sesungguhnya, yang sedang terjadi adalah jaringan ini membuat Negara-negara-Bangsa jadi kian ringkih. Sia-sia sebuah negara berjuang membangun ekuilibrium serta nasibnya sendiri sebagai bangsa. Segala sesuatu bergantung pada apa yang terjadi di sebuah bank di Jepang, atau apa yang diperbuat mafia di Rusia atau spekulan di Sydney. Dengan satu dan lain cara, Negara-Bangsa bukan diselamatkan, mereka dikutuk selamanya. Ketika sebuah Negara-Bangsa setuju untuk bergabung dalam jaringan ini –karena tak ada pilihan lain, karena mereka memaksanya, atau karena yakin—ia sedang meneken akta kematiannya sendiri.

Ringkas kata, yang diinginkan pasar raksasa tersebut adalah mengubah semua kepulauan ini menjadi pusat-pusat belanja, bukan bangsa. Orang bisa pergi dari satu negara ke negara lainnya dan menemukan produk yang sama. Tidak ada lagi bedanya. Di Paris atau di San Cristóbal de las Casas Anda bisa mengkonsumsi barang yang sama. Bila Anda di San Cristóbal de las Casas, Anda bisa secara simultan berada di Paris memperoleh berita. Inilah akhir Negara-Bangsa. Dan bukan cuma itu: inilah akhir umat manusia yang menyusunnya. Yang penting adalah hukum pasar, dan itulah yang menetapkan seberapa banyak Anda berproduksi, berapa hargamu, berapa banyak Anda beli. Martabat, perlawanan, solidaritas semuanya merecoki. Segala sesuatu yang mencegah seorang manusia berubah jadi mesin produksi dan konsumsi tergolong musuh, dan harus dienyahkan. Inilah sebabnya kami kata­kan spesies manusia adalah musuh Perang Dunia Keempat. Ia tidak menghancurkan secara fisik, tapi menghancurkan kemanusiaannya.

Secara paradoksal, dengan menghancurkan Negara-Bangsa, martabat, perlawanan, dan solidaritas justru terperbarui. Tak ada ikatan yang lebih kuat, lebih solid, ketimbang ikatan yang ada antara kelompok-kelompok yang berbeda: antar homoseksual, antar lesbian, antar kaum muda, antar migran. Perang ini, karenanya, berlanjut dengan menyerang juga mereka yang berbeda. Inilah yang dituju kampanye-kampanye itu, begitu kuatnya di Eropa dan Amerika Serikat, melawan mereka yang berbeda, karena mereka berkulit gelap, bicara bahasa yang lain, atau memiliki budaya yang berbeda. Cara untuk menyuburkan xenofobia dalam reruntuhan Negara-Bangsa ini adalah dengan menghadirkan ancaman: “Pendatang-pendatang Turki ingin merebut lapangan kerjamu.” “Imigran-imigran Meksiko da­tang buat memperkosa, mereka datang buat mencuri, mereka datang menabur kebiasaan buruk.” Negara-negara-Bangsa –atau segelintir yang tersisa dari mereka—mendelegasikan kepada warga dunia baru itu –komputer—peran untuk menyingkirkan imigran-imigran ini. Dan seketika itulah kelompok-kelompok macam Ku Klux Klan meruyak, atau orang-orang dengan kadar kejujuran macam Berlusconi bisa merebut kekuasaan. Mereka semua membangun kampanyenya berdasarkan xenofobia. Kebencian akan yang berbeda, penganiayaan terhadap apapun yang berbeda, kini mendunia. Tapi perlawanan dari segala yang berbeda ini juga mendunia. Dihadapkan pada agresi, perbedaan-perbedaan ini berkembang biak, mereka mengeras. Begitulah, aku tidak akan mencirikan ini baik atau buruk, inilah yang terjadi.

Subcomandante Marcos dalam Karavan Zapatista, 29 Januari 2006

Perang Bukan Cuma Militer
Dalam kaidah-kaidah militer yang ketat, Perang Dunia Ketiga punya logika. Pada intinya, ini adalah perang konvensional, dikonseptualkan sedemikian rupa sampai bila aku pasang tentara dan Anda pasang tentara, kita berhadapan satu sama lain, dan siapapun yang masih hidup menang. Ini berlangsung di suatu kawasan yang spesifik—dalam kasus NATO dan Pakta Warsawa, ialah Eropa. Berawal dari perang konvensional antar pasukan, sebuah jalan yang berorientasi militer dan persenjataan ditetapkan.

Kita akan lihat detil-detilnya sedikit lebih rinci. Ini misalnya [Marcos mengangkat senapan] adalah senjata semi-otomatis, disebut senapan mesin AR-15. Diproduksi untuk perang Vietnam dan bisa dibongkar dengan sangat gampang [ia mempretelinya], nah begini. Waktu mereka membuatnya, Amerika membayangkan skenario perang konvensional, artinya: kontingen militer besar berhadapan satu sama lain. “Kita kumpulkan banyak tentara, kita bergerak maju, dan akhirnya pasti ada yang tersisa.” Pada saat yang sama Pakta Warsawa mengembangkan senapan otomatis Kalashnikov, lazim disebut AK-47, senjata dengan volume tembak besar dalam jarak dekat, sampai 400 meter. Konsep Soviet melibatkan pasukan gelombang besar: segunung prajurit merangsek maju, menembak, dan bila mereka tewas, gelombang kedua dan ketiga akan tiba. Siapa yang paling banyak punya tentara akan menang.

Amerika kemudian berpikir: “Bedil Garand kuno dari Perang Dunia Kedua tidak berguna lagi. Kita kini butuh senjata yang punya daya tembak besar untuk jarak dekat.” Mereka bawa AR-15 dan mengujinya di Vietnam. Masalahnya adalah senjata itu rusak, tidak jalan. Sewaktu mereka menyerang Vietkong, mekanismenya membuka terus, dan waktu mereka menembakkannya, bunyinya “klik.” Dan itu bukan kamera, tapi senjata. Mereka mencoba memecahkan masalah dengan model M16-A1. Di sini akal-akalannya ada pada pelurunya, yang meminta dua hal berbeda. Satu, yang sipil, 2,223 inci—bisa dibeli di toko mana saja di AS. Yang lain –5,56 milimeter—eksklusif dipakai NATO. Ini peluru yang sangat kilat dan ada tipuannya. Dalam perang, tujuannya adalah melihat kerugian –bukan kematian—di pihak lawan, dan sebuah pasukan menganggap dirinya menderita kerugian bila seorang serdadu tidak sanggup lagi bertempur. Konvensi Jenewa –sebuah kesepakatan untuk memanusiawikan perang—melarang peluru ekspansif, karena pada titik ia masuk, ia merusak lebih banyak, dan jauh lebih mematikan ketimbang peluru tajam.

“Melihat bahwa tujuannya adalah meningkatkan jumlah yang terluka dan menurunkan jumlah yang tewas,” kata mereka, “kami melarang peluru ekspansif.” Sebuah tembakan peluru tajam membuat Anda tidak berkutik, Anda korban sekarang, tapi Anda tidak terbunuh kecuali mengenai organ vital. Guna mematuhi Konvensi Jenewa sekaligus mengakalinya, Amerika menciptakan peluru ujung lunak yang ketika memasuki tubuh manusia, berbelok dan melintir. Lubang masuknya seukuran ini, lubang keluarnya jauh lebih besar. Peluru ini lebih parah ketimbang peluru ekspansif, dan ia tidak melanggar konvensi. Toh demikian, bila mengenaimu di lengan... ia akan meledakkanmu. Sebutir peluru 162 menembusmu dan membuatmu terluka, tapi yang ini menghancurkanmu. Kebetulan, pemerintah Meksiko baru saja membeli 16.000 butir peluru ini.

Artinya, senjata ini dicipta untuk skenario-skenario khusus. Kita asumsikan mereka tak ingin memakai bom nuklir. Apa yang akan mereka pakai? Banyak tentara lawan banyak tentara. Maka doktrin-doktrin perang konvensional NATO dan Pakta Warsawa terciptalah.

Opsi kedua adalah perang nuklir lokal, perang dengan senjata nuklir tapi hanya di beberapa tempat dan tidak di lainnya. Ada kesepakatan antara kedua adikuasa ini untuk tidak saling menyerang di negeri mereka sendiri, dan bertempur hanya di wilayah netral. Tak perlu disebutkan bahwa wilayah ini adalah Eropa. Di situlah bom-bom akan berjatuhan dan orang akan melihat siapa yang masih tetap hidup di Eropa Barat serta apa yang dulu disebut Eropa Timur.

Opsi terakhir Perang Dunia Ketiga adalah perang nuklir total, yang jadi bisnis besar, bisnis abad ini. Logika perang nuklir adalah tak ada yang jadi pemenangnya. Bukan masalah siapa yang menembak lebih dulu, tak soal seberapa cepat ia menembak, pihak sana akan bisa menembak pula. Kehancurannya timbal balik, dan dari sejak semula, opsi ini jelas ditolak. Sifat inilah yang dalam istilah diplomasi militer disebut “tangkisan.”

Jadi agar Soviet tidak memakai senjata nuklir, Amerika mengembangkan banyak senjata nuklir, dan agar mereka tidak memakai senjata nuklir, Soviet mengembangkan banyak senjata nuklir, begitu seterusnya. Mereka menyebutnya Misil Balistik Antarbenua, roket-roket yang meluncur dari Rusia ke Amerika Serikat dan dari Amerika Serikat ke Rusia. Harganya mahal dan kini tidak berguna buat apa-apa lagi. Ada pula senjata-senjata nuklir lainnya untuk penggunaan lokal yang akan mereka pakai di Eropa dalam kasus perang nuklir lokal.

Tatkala fase ini mulai, tahun 1945, ada perang yang harus diperjuangkan sebab Eropa terbelah dua. Strategi militernya –kita bicara murni aspek-aspek militernya—adalah sebagai berikut: ada beberapa posisi menyerang di seberang garis musuh, ada satu lini logistik permanen, serta ada tanah-air, bernama Amerika Serikat atau Uni Soviet. Lini logistik menyuplai posisi-posisi depan. Pesawat-pesawat besar yang ada di udara 24 jam sehari, B-52 Fortress, mengusung bom-bom nuklir, dan mereka tak perlu harus mendarat. Ada juga pakta-pakta. Pakta NATO, Pakta Warsawa, dan SEATO (South East Asia Treaty Organization), yang seperti NATO untuk negara-negara Asia. Model ini dimainkan dalam perang-perang lokal. Segala sesuatunya punya logika, dan sungguh logis untuk bertempur di Vietnam, yang merupakan skenario yang sudah disepakati. Tentara lokal dan kaum pemberontak mengambil posisi di seberang garis musuh. Logistik permanen diperankan oleh barisan penjual senjata legal maupun gelap, dan tanah-air diperankan oleh dua adikuasa tersebut. Ada pula kesepakatan mengenai tempat-tempat di mana mereka berdua tetap berlaku sebagai pemirsa. Contoh paling jelas dari perang lokal ini adalah kediktatoran Amerika Latin, konflik-konflik di Asia, terutama Vietnam, dan perang-perang di Afrika. Sepertinya ini sama sekali tidak punya logika apapun, karena mayoritas yang terjadi di zaman itu tidaklah dipahami. Tapi apa yang terjadi adalah bagian dari garis besar perang konvensional ini.

Selang periode inilah –dan ini penting—konsep “perang total” dikembangkan. Unsur-unsur yang bukan lagi bersifat militer memasuki doktrin militer. Umpamanya di Vietnam, sejak serbuan Tet (1968) sampai jatuhnya Saigon (1975), media sekali lagi menjadi medan tempur penting. Maka, gagasan untuk mengembangkan kejayaan militer dalam militer itu tidak lagi mencukupi. Penting kiranya untuk mengikutkan soal-soal lain, seperti media. Dan musuh juga bisa diserang dengan langkah-langkah ekonomi, dengan langkah-langkah politik dan dengan diplomasi, yang menjadi permainan PBB dan organisasi-organisasi internasional. Sebagian negara menciptakan sabotase guna memastikan kutukan dan cercaan terhadap negera-negara lainnya, yang disebut “perang diplomasi.”

Seluruh perang ini mengikuti teori domino. Kedengarannya konyol, tapi mereka seperti dua musuh bermain domino dengan penduduk dunia selebihnya. Salah satu pihak meletakkan kartunya, dan yang lain berupaya menaruh kartu guna memotong gerak lawan berikutnya. Adalah teori tokoh masyhur bernama Kissinger, Menteri Dalam Negeri AS selama era Vietnam, yang berkata: “Kita tidak bisa meninggalkan Vietnam karena itu berarti merelakan permainan domino di Asia Tenggara kepada pihak lain.” Dan itu sebabnya mereka melakukan apa yang mereka perbuat di Vietnam.

Ini juga bermaksud memadukan kembali logika Perang Dunia Kedua. Bagi sebagian besar penduduk, Perang Dunia Kedua heroik sifatnya. Ada gambar Angkatan Laut membebaskan Perancis dari kediktatoran, membebaskan Italia dari Il Duce, membebaskan Jerman dari militer, tentara merah masuk dari segala sisi. Perang Dunia Kedua dilancarkan dengan niat mengenyahkan sebuah bahaya bagi segenap umat manusia, bahaya nasionalisme-sosialis. Karenanya, dengan satu dan lain cara perang-perang lokal berupaya untuk menyatukan kembali ideologi “kami bertindak demi membela dunia yang bebas.” Tapi kini Moskow-lah yang memainkan peran nasionalisme-sosialis. Dan Moskow sendiri juga melakukan hal yang sama: kedua adikuasa ini mencoba memakai argumen “demokrasi” dan “dunia bebas” yang diusung masing-masing pihak.

Sesudah itu datang Perang Dunia Keempat, yang menghancurkan segala yang sudah-sudah, karena dunia tidak lagi sama, dan strategi yang sama tidak bisa diterapkan. Konsep “perang total” dikembangkan lebih jauh: ini bukan cuma perang di segala sisi, ini perang yang bisa terjadi di manapun, sebuah perang total di mana seisi dunia dipertaruhkan. “Perang total” berarti: kapanpun, di manapun, dalam situasi apapun. Pemahaman mengenai pertempuran di satu tempat tertentu tidak lagi berlaku. Sekarang pertempurannya bisa berlangsung kapan saja. Tak ada lagi konsep eskalasi konflik dengan ancaman-ancaman, perebutan posisi dan upaya reposisi diri. Di sembarang saat dan sembarang kesempatan, konflik bisa timbul. Mungkin saja problem domestik, mungkin saja diktator dan apa saja dari perang lima tahun terakhir ini, mulai Kosovo sampai Perang Teluk. Seluruh rutinitas militer Perang Dingin, karenanya, telah hancur.
Tidak lagi mungkin untuk menggelar perang dalam Perang Dunia Keempat ini di bawah kriteria yang Ketiga, sebab aku kini harus bertempur di manapun, aku tidak tahu ke mana akan berperang, tidak pula aku tahu kapan, aku harus bertindak cepat, aku bahkan tidak tahu dalam situasi macam apa aku akan melancarkan perang ini. Guna memecahkan masalah ini, militer awalnya mengembangkan perang “gerak cepat”. Contohnya adalah Perang Teluk, sebuah perang yang menyedot akumulasi kekuatan militer dalam periode waktu yang singkat, aksi militer besar-besaran dalam jangka pendek, penaklukan wilayah dan penarikan diri. Invasi Panama merupakan contoh lain gerak cepat ini. Sesungguhnya malah, di sana terdapat kontingen NATO yang disebut “satuan intervensi cepat.” Gerak cepat adalah kekuatan militer berjumlah besar yang menggempur musuh dengan tiada membeda-bedakan antara rumah sakit anak dengan pabrik senjata kimia. Inilah yang terjadi di Irak: bom-bom pintar itu ternyata bodoh, mereka tidak bisa membeda-bedakan. Dan di situlah mereka berakhir, sebab mereka sadar bahwa ini lumayan mahal, sementara sumbangannya sedikit sekali. Di Irak seluruh pasukan diterjunkan, tapi tak terjadi penaklukan wilayah. Ada masa­lah protes-protes lokal, ada pengawas HAM internasional.

Mereka harus mundur. Vietnam sudah mengajari mereka bahwa dalam kasus-kasus ini, tidak bijak kiranya untuk ngotot. “Tidak, kita tidak bisa lakukan ini sekarang,” kata mereka. Lantas mereka beralih pada strategi “proyeksi kekuatan.” “Lebih baik tempatkan terlebih dahulu pangkalan militer AS di seluruh dunia, mengakumulasi kekuatan besar skala benua, yang dalam hitungan jam atau hari akan punya kapasitas untuk memasang unit-unit militer di tempat manapun di dunia.” Dan mereka bisa, sesungguhnya, meletakkan sebuah divisi berisi empat atau lima ribu orang di titik paling jauh di planet ini dalam empat hari, lebih banyak dan terus lebih banyak lagi.

Tapi proyeksi kekuatan ini punya masalah bila diserahkan pada tentara lokal, atau persisnya: tentara AS. Mereka yakin bahwa bila konfliknya tidak tertuntaskan segera, kantung-kantung mayat (mereka yang mati) akan mulai berdatangan, seperti di Vietnam, dan ini bisa menyulut banyak protes di dalam negeri Amerika atau negara mana saja. Guna menghindari masalah-masalah itu, mereka sisihkan proyeksi kekuatan dan memakai –kita tegaskan ini—hitung-hitungan dagang. Mereka tidak membuat hitung-hitungan mengenai kerusakan tenaga manusia atau sumber daya alam, tapi tentang publisitas dan citra. Maka perang proyeksi pun dikesampingkan, dan berlanjut dengan model perang dengan tentara-tentara lokal, memakai lebih banyak bantuan internasional, lebih banyak badan supranasional. Sekarang bukan lagi mengirim tentara, tapi berperang lewat tentara yang sudah ada di sana, membantu mereka sesuai basis konfliknya, dan tidak memakai model sebuah bangsa yang mencanangkan perang, tapi badan supranasional seperti PBB atau NATO. Yang melakukan kerja kotornya adalah tentara-tentara lokal, sementara yang masuk surat kabar adalah Amerika dan bala bantuan internasionalnya. Inilah modelnya. Protes tidak lagi mujarab: ini bukan perang pemerintah Amerika Serikat. Ini perang oleh NATO, dan toh NATO melakukannya semata demi membantu PBB.

Di seantero dunia, terjadi restrukturisasi tentara agar mereka bisa menghadapi konflik lokal dengan bantuan internasional, di bawah selubung supranasional dan dengan samaran perang kemanusiaan. Ini berarti menyelamatkan penduduk dari genosida dengan cara membunuhnya. Dan inilah yang terjadi di Kosovo. Milosevich melancarkan perang melawan kemanusiaan: “Bila kita menentang Milosevich, kita membela kemanusiaan.” Inilah argumen yang dipakai jenderal-jenderal NATO dan yang membawa begitu banyak masalah pada kaum kiri Eropa: menentang pemboman NATO berarti mendukung Milosevich, kalau begitu lebih baik mendukung pemboman NATO. Sementara Milosevich, Anda tahu, dipersenjatai oleh Amerika Serikat. Konsepsi militer yang kini sedang dimainkan, adalah bahwa seisi dunia –entah Sri Lanka atau negara lainnya, yang terjauh yang bisa dibayangkan orang—kini merupakan halaman belakang, karena dunia global menghasilkan simultanitas. Dan itulah masalahnya: dalam dunia yang mengglobal ini, apapun yang terjadi di tempat manapun mempengaruhi tata internasional baru ini. Dunia bukan lagi dunia, tapi kampung, dan segala sesuatunya berada sangat dekat. Karenanya polisi-polisi besar dunia –terutama Amerika Serikat—berhak turut campur di manapun, kapanpun, dalam situasi apapun. Mereka bisa menganggap apa saja sebagai ancaman keamanan domestik mereka. Mereka bisa dengan mudahnya memutuskan bahwa pemberontakan adat di Chiapas mengancam keamanan domestik Amerika Utara, atau kelompok Tamil di Sri Lanka, atau apapun terserah Anda. Gerakan apapun –dan tidak serta merta harus bersenjata—di tempat manapun bisa dianggap ancaman bagi keamanan domestik.

Apakah yang telah terjadi? Strategi dan konsep-konsep kuno dalam menggelar perang runtuh sudah. Mari kita lihat.

“Panggung operasi” adalah istilah militer untuk mengindikasikan tempat di mana perang akan berlangsung. Dalam Perang Dunia Ketiga, Eropalah panggung operasinya. Kini tidak jelas di mana perang akan pecah, bisa di mana saja, tidak lagi pasti bahwa perang akan terjadi di Eropa. Doktrin militer bergeser dari apa yang disebut “sistem” menuju apa yang mereka sebut “fleksibilitas”. “Aku harus siap berbuat apa saja kapan saja. Sebuah rencana tidak lagi memadai: kini aku butuh banyak rencana, bukan cuma untuk membangun respons pada insiden-insiden tertentu, tapi untuk membangun banyak respons militer pada insiden-insiden yang spesifik.” Di sinilah teknologi informasi turut campur. Perubahan ini menghasilkan pergeseran dari yang sistematis, non-fleksibel, kaku, menuju yang fleksibel, menuju apa yang bisa berubah dari satu momen ke berikutnya. Dan ini akan merumuskan segenap doktrin baru ketentaraan, korps-korps militer, dan para prajurit. Inilah satu unsur dalam Perang Dunia Keempat. Yang lainnya adalah perpindahan dari “strategi pengepungan” menjadi strategi “mengulur waktu” atau “perpanjangan”: kini masalahnya bukan cuma menaklukkan wilayah, mengepung musuh, tapi juga memperpanjang konflik menjadi apa yang mereka sebut “aksi-aksi non-perang.” Dalam kasus Chiapas, ini berkaitan dengan bongkar pasang kepala pemerintah daerah dan wilayah, dengan HAM, dengan media, dll.

Termasuk dalam konsepsi militer baru ini adalah intensifikasi penaklukan wilayah. Artinya, penting untuk tidak cuma mengurusi EZLN dan kekuatan militernya, tapi juga gereja, LSM, pengamat internasional, pers, penduduk sipil, dll. Tak ada lagi penduduk sipil dan kaum netral. Seisi dunia adalah bagian dari konflik.

Implikasinya adalah tentara-tentara nasional tidak lagi berfaedah, karena mereka tidak lagi mempertahankan Negara-Bangsa. Bila tidak ada Negara-Bangsa, apa yang akan mereka bela? Di bawah doktrin baru, tentara-tentara nasional jadinya memainkan peran polisi lokal. Kasus Meksiko cukup jelas: Tentara Meksiko makin lama makin banyak menggarap kerja kepolisian, seperti memerangi perdagangan narkoba. Badan baru untuk mengatasi kejahatan terorganisir bernama Polisi Preventif Federal tersusun dari personil-personil militer. Ini soal tentara nasional yang berubah jadi polisi lokal dengan gaya buku komik AS: a Super Cop, Polisi Super. Ketika tentara di bekas Yugoslavia direorganisir, mereka berubah jadi satuan polisi lokal, dan NATO menjadi Polisi Supernya, mitra seniornya dalam istilah politik. Pemeran utamanya adalah badan supranasional (dalam hal ini NATO atau tentara AS), dan pemeran-pemeran pembantunya adalah tentara-tentara lokal.

Tapi tentara nasional didirikan dengan dasar doktrin “keamanan nasional.” Bila ada musuh atau bahaya pada keamanan suatu bangsa, tugas merekalah untuk menjaga keamanan, kadang melawan musuh dari luar, kadang melawan musuh-musuh domestik yang menciptakan destabilisasi. Inilah doktrin Perang Dunia Ketiga atau Perang Dingin. Di bawah asumsi-asumsi ini, tentara-tentara nasional mengembangkan suatu kesadaran nasional yang membuat mereka sulit diubah jadi mitra kepolisian Sang Polisi Super. Maka doktrin keamanan nasional kini harus diubah jadi “stabilitas nasional.” Masalahnya bukan lagi membela bangsa. Karena musuh utama stabilitas nasional adalah perdagangan narkoba, dan perdagangan narkoba bersifat internasional, maka tentara-tentara nasional yang beroperasi di bawah panji stabilitas nasional pun menerima bantuan atau campur tangan internasional dari negara-negara lain.

Problem menata kembali tentara-tentara nasional berlangsung di aras dunia. Kini kita ke Amerika, dan dari situ ke Amerika Latin. Prosesnya sedikit mirip dengan yang berlangsung di Eropa dan yang terlihat di perang Kosovo dengan NATO. Dalam kasus Amerika Latin, ada Organisi Negara-negara Benua Amerika (OAS) dengan Sistem Pertahanan Hemisfer. Menurut mantan presiden Argentina, Menem, seluruh negara Amerika Latin terancam dan kita perlu bersatu, menghancurkan kesadaran nasional tentara dan membentuk ketentaraan maha­besar di bawah doktrin sistem pertahanan hemisfer, dengan dalih perdagangan narkoba. Melihat bahwa yang dipertaruhkan adalah fleksibilitas –atau kapasitas untuk berperang kapan saja, di mana saja, dan di bawah kondisi apa saja—gladi resik pun dimulai. Sekelumit benteng pertahanan nasional yang masih ada harus dihancurkan oleh sistem hemisfer ini. Bila ada Kosovo di Eropa, di Amerika Latin ada Kolombia dan Chiapas. Bagaimana sistem pertahanan hemisfer ini dibangun? Dengan dua cara. Di Kolombia, di mana ancaman peredaran narkoba memang nyata, pemerintah meminta uluran tangan setiap orang: “Kita harus turut campur karena perdagangan narkoba bukan hanya mempengaruhi Kolombia, tapi seisi benua.” Dalam kasus Chiapas, konsep perang total dijalankan. Semua orang ambil bagian, tak ada pihak netral, entah kau jadi sekutu atau kau jadi musuh.

Penaklukan Baru
Dalam proses fragmentasi ini –mengubah dunia menjadi kepulauan—kuasa finansial ingin membangun pusat belanja baru yang memiliki turisme dan sumber daya alam di Chiapas, Belize, dan Guatemala.

Selain penuh minyak bumi dan uranium, masalahnya adalah Chiapas penuh penduduk adat. Dan orang-orang adat ini, selain tidak berbahasa Spanyol, juga tidak menginginkan kartu kredit. Mereka tidak berproduksi, mereka menanam jagung, kacang, cabe, kopi, dan mereka membayangkan menari dengan iringan marimba bukannya memakai komputer. Mereka bukan konsumen bukan pula produsen. Mereka tak berguna. Dan apapun yang tak berguna boleh dihabisi. Tapi mereka tak mau pergi, dan mereka tidak mau berhenti sebagai orang adat. Ada lagi: perjuangan mereka bukan untuk merebut kekuasaan. Perjuangan mereka adalah untuk diakui sebagai orang Indian, agar hak mereka untuk eksis diakui, tanpa harus berubah jadi orang lain.

Masalahnya di sini, di tanah yang sedang berperang, di kawasan Zapatista, terdapat budaya-budaya adat utama, ada berbagai bahasa dan cadangan minyak terbesar. Ada tujuh masyarakat Indian yang turut serta dalam EZLN: suku Tzeltal, Tzotzil, Tojolabal, Chol, Zoque, Mam, dan mestizo. Inilah atlas Chiapas: komunitas-komunitas dengan populasi adat juga dengan minyak, uranium, serta kayu-kayuan berharga. Bagi neoliberalisme segala sesuatu adalah barang dagangan, dijual, dieksploitir. Dan orang-orang adat ini datang untuk berkata tidak, bahwa tanah adalah ibu, tempat pelestarian budaya, bahwa sejarah hidup di sini, dan yang mati hidup di sini. Jelas perkara-perkara absurd ini tidak bisa masuk ke komputer dan tidak terdaftar di bursa saham manapun. Dan tak ada cara buat meyakinkan mereka untuk berlaku baik, untuk belajar berpikir benar, mereka jelas-jelas tidak mau. Mereka bahkan mengangkat senjata. Inilah sebabnya kami katakan bahwa pemerintah Meksiko tidak ingin berdamai: karena mereka ingin menyingkirkan musuh ini dan mengubah tanah ini jadi gurun, sesudah itu mereorganisirnya dan menyetelnya agar beroperasi seperti pusat belanja raksasa, sebuah mal di Meksiko Tenggara. EZLN menyokong penduduk Indian, dan dengan begitu juga merupakan musuh, tapi bukan yang utama. Tidak cukup kiranya untuk menuntaskan masalah dengan EZLN, malah lebih parah bila menuntaskan masalah dengan EZLN berarti meninggalkan tanah ini, karena itu berarti perdamaian di Chiapas dan menyudahi penaklukan wilayah yang kaya minyak, kayu-kayuan berharga, dan uranium. Itu sebabnya mereka belum melakukannya dan tidak akan melakukannya.

Minggu, 15 Januari 2012

Tembok dan Buku, oleh Jorge Luis Borges

“La muralla y los libros”, Jorge Luis Borges. Terbit pertama di harian La Nacion, Argentina, 22 Oktober 1950. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari Obras Completas 1923-1972 (Buenos Aires: Emecé Editores, 1974), hlm. 633-635.


Ia, yang tembok panjangnya mengitari Tartar pengelana...
Dunciad, ii, 76

Saya baca, beberapa hari berselang, bahwa orang yang memerintahkan pendirian tembok yang nyaris tak berhingga di Cina adalah kaisar pertama Shih Huang Ti, yang juga menitahkan agar semua buku yang ada sebelum dirinya dibakar. Bahwa dua kerja besar ini –lima hingga enam ribu hasta batu untuk menahan bangsa barbar, penghapusan cermat atas sejarah, yang artinya, masa silam—berasal dari satu orang yang sama dan dalam beberapa hal bisa menjelaskan sifat-sifatnya memuaskan dan pada saat yang sama menggundahkan saya. Guna menyelidiki sebab-musabab perasaan inilah maksud catatan berikut.

Secara historis, tak ada yang misterius dalam dua langkah itu. Sezaman dengan perang-perang Hannibal, Shih Huang Ti, raja Tsin, menundukkan Enam Kerajaan di bawah kekuasaannya dan menghapuskan sistem feodal: ia dirikan tembok, karena tembok adalah pertahanan; ia bakar buku-buku, sebab musuh menyitirnya untuk memuja kaisar-kaisar dari masa lalu. Membakar buku dan membangun benteng jamak dilakukan para pangeran; satu-satunya yang istimewa dalam Shih Huang Ti adalah skala kerja itu. Demikianlah anggapan beberapa Sinolog tertentu, tapi saya merasa bahwa fakta-fakta yang saya utarakan lebih dari suatu pelebih-lebihan atau hiperbola atas disposisi-disposisi yang sepele. Memagari kebun atau taman sudah biasa; tapi tidak memagari sebuah imperium. Juga bukan hal remeh untuk menyatakan agar ras yang paling tradisional meninggalkan kenangan akan masa lalunya, baik mitis ataupun nyata. Bangsa Cina sudah memiliki kronologi selama tiga ribu tahun (dan selama masa itu ada Kaisar Kuning and Zhuangzi dan Kong Hu-Cu dan Lao Tze) manakala Shih Huang Ti memerintahkan agar sejarah dimulai dari dirinya.

Shih Huang Ti telah mengusir ibunya yang berperilaku binal; dalam keputusannya yang keras itu, kaum kolot hanya melihat suatu sikap durhaka. Shih Huang Ti, barangkali, ingin menghapus kitab-kitab kanonik sebab mereka menuduhnya; Shih Huang Ti, barangkali, ingin menghapus seluruh masa silam guna menghapus satu kenangan tunggal saja: aib ibunya. (Tidak beda dengan seorang raja lainnya, di Yudea, yang membunuh semua bayi laki-laki hanya untuk menyasar satu bayi.) Dugaan ini layak dipertimbangkan, tapi tak memberitahu kita apapun mengenai tembok, paruh kedua dari mitos itu. Shih Huang Ti, menurut para sejarawan, melarang kematian disebut-sebut dan mencari ramuan keabadian serta memencilkan diri di istana kiasan, yang jumlah kamarnya sebanyak jumlah hari dalam setahun; fakta-fakta ini menyiratkan bahwa tembok dalam ruang dan api dalam waktu adalah rintangan-rintangan gaib yang dirancang untuk menunda kematian. Segala hal ingin bertahan dalam keberadaannya, tulis Baruch Spinoza; barangkali Sang Kaisar dan ahli-ahli sihirnya percaya bahwa keabadian itu bersifat intrinsik dan pembusukan tidak bisa memasuki bola yang kedap. Barangkali Sang Kaisar ingin mencipta ulang awal mula waktu dan menyebut dirinya Yang Pertama, agar jadi benar-benar yang pertama, dan memanggil dirinya Huang Ti, agar dengan suatu cara menjadi Huang Ti, kaisar legendaris yang menciptakan tulisan dan kompas. Yang terakhir ini, menurut Kitab Upacara, memberi nama yang sebenar-benarnya pada hal ihwal; dengan cara yang sama Shih Huang Ti sesumbar, dalam prasasti-prasasti yang masih tersisa, bahwa segala sesuatu di bawah kekuasaannya akan memiliki nama yang pantas untuk mereka. Ia bermimpi mendirikan sebuah dinasti abadi; ia perintahkan agar ahli warisnya dipanggil Kaisar Kedua, Kaisar Ketiga, Kaisar Keempat, dan seterusnya sampai tak terhingga .... Saya tadi telah menyinggung soal tujuan gaib; mungkin juga bisa diandaikan bahwa mendirikan dinding dan membakar buku bukanlah tindakan yang simultan. Ini (bergantung pada urutan yang kita pilih) akan memberi kita gambaran tentang seorang raja yang mulanya merusak dan lantas berpasrah diri untuk melestarikan, atau seorang raja yang kecewa, menghancurkan apa yang sebelumnya ia pertahankan. Kedua dugaan ini dramatis, tapi sejauh yang saya tahu tak punya pijakan dalam sejarah. Herbert Allen Giles menuturkan bahwa orang-orang yang menyembunyikan buku dicap dengan besi panas dan dihukum kerja paksa sampai hari kematian mereka untuk membangun tembok yang gila-gilaan itu. Kabar ini menyokong atau memungkinkan tafsiran lainnya. Barangkali tembok itu adalah majas, barangkali Shih Huang Ti menghukum mereka yang memuja masa lalu dengan sebuah tugas yang sebesar dan semubazir masa lalu itu sendiri. Barangkali tembok itu adalah tantangan dan Shih Huang Ti berpikir: “Orang-orang mencintai masa lalu dan baik aku maupun para algojoku tidak bisa berbuat apa-apa terhadap cinta itu, tapi suatu hari nanti akan ada orang yang merasa seperti aku dan ia akan menghapus ingatan akan diriku dan menjadi cerminanku tanpa menyadarinya.” Barangkali Shih Huang Ti menemboki kekaisarannya karena tahu itu rapuh dan menghancurkan buku-buku karena paham bahwa buku-buku itu keramat, dengan kata lain, buku-buku mengajarkan apa yang diajarkan oleh seisi semesta dan benak setiap orang. Barangkali pembakaran perpustakaan dan pendirian tembok adalah dua kerja yang dengan suatu cara yang misterius justru saling membatalkan.

Dinding tangguh yang pada saat ini, dan setiap saat, menurapkan pada tanah-tanah yang takkan pernah saya lihat, sebuah sistem bayang-bayang, yakni bayang-bayang seorang Kaisar yang memerintahkan negeri paling terhormat ini untuk membakar masa lalunya; ada kemungkinan ide ini bersemayam di dalam dirinya sendiri, di luar spekulasi-spekulasi yang dimungkinkan olehnya. (Nilainya mungkin terletak pada pertentangan antara membangun dan merusak, dalam skala raksasa.) Menggeneralisir kasus di atas, bisa kita simpulkan bahwa segala bentuk punya nilai di dalam dirinya sendiri dan bukan dalam “kandungannya” yang diduga. Hal ini sejalan dengan tesis Benedetto Croce; yang sudah menjadi Pater pada 1877, saat menegaskan bahwa segala seni mencita-citakan kondisi musik, yang adalah bentuk murni. Musik, situasi bahagia, mitologi, wajah diterpa waktu, senja tertentu dan tempat-tempat tertentu mencoba mengatakan sesuatu pada kita, atau telah mengatakan sesuatu yang kita lewatkan, atau hendak mengatakan sesuatu; nyarisnya wahyu yang urung terjadi inilah, barangkali, yang menghasilkan fenomena estetik.

Buenos Aires, 1950

Jumat, 13 Januari 2012

Membela Sekte-sekte, oleh Mario Vargas Llosa

“Defensa de la sectas”, Mario Vargas Llosa. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari artikel dalam rubrikOpinión”, El País, 23 Februari 1997.

Pada 1983 di Cartagena, Kolombia, saya menghadiri kongres mengenai media komunikasi yang diketuai oleh dua cendekiawan terpandang (Ger­mán Arciniegas dan Jacques Soustelle), di mana hadir pula di situ, selain jurnalis dari seluruh dunia, beberapa anak muda tak kenal lelah yang diberkahi tatapan mata tajam dan berapi-api dari orang-orang yang meyakini diri telah memegang kebenaran. Pada waktunya, sambil diiringi sorak-sorai anak-anak muda tadi, datanglah di acara tersebut Pendeta Sun Myung Moon, kepala Gereja Unifikasi, yang ikut mensponsori kongres itu melalui sebuah organisasi perantara. Sebentar kemudian saya ketahui bahwa kelompok progresif telah menambah daftar dosa saya, yakni saya dianggap telah menjual diri pada sebuah sekte  jahat, kaum Moonies. Karena sejak kehilangan iman saya terus berusaha mencari gantinya, maka saya pun dengan penuh semangat bergegas melihat apakah iman yang ditawarkan oleh orang Korea bulat dan suka senyum dengan bahasa Inggris yang belepotan itu bisa memberi jalan keluar. Saya pun membaca buku bagus tentang Gereja Unifikasi karya profesor di London School of Economics, Eileen Barker (saya menemuinya pada kongres di Cartagena itu),  yang barangkali telah mempelajari secara lebih serius dan bertanggungjawab dibanding siapapun fenomena merebaknya sekte-sekte keagamaan pada akhir alaf ini. Darinya saya tahu, antara lain, bahwa Pendeta Moon bukan hanya mengaku telah diberi tanggung jawab oleh Sang Pencipta untuk mempersatukan Yudaisme, Kristen, dan Buddhisme dalam suatu aliran tunggal, namun juga meyakini dirinya sebagai hipostasis Sang Buddha dan Yesus Kristus. Hal ini, lumrah saja, langsung mendiskualifikasi saya untuk ikut dalam barisan mereka; bila dengan mandat dahsyat yang diberikan oleh dua ribu tahun sejarah saja saya sama sekali tidak mampu mempercayai keilahian Yesus dari Nazaret, sulit buat saya untuk menerimanya dalam wujud seorang penginjil Korea Utara yang bahkan tak mampu mengalahkan Dinas Pajak AS (yang menjebloskannya setahun ke penjara karena penggelapan pajak).

Namun demikian, bila sekte Moonies (serta 1.600 ratus kelompok dan sempalan keagamaan lainnya yang tercatat oleh Inform, organisasi yang diketuai oleh Profesor Barker) membuat saya skeptis, saya juga merasakan hal yang sama pada mereka yang dari waktu ke waktu menindas kelompok-kelompok ini dan mendesak pemerintah untuk melarang mereka, dengan alasan bahwa mereka merusak kaum muda, mengguncang tatanan keluarga, merampok anggota mereka sendiri, dan menyusupi lembaga-lembaga negara. Yang terjadi belakangan ini di Jerman pada Gereja Saintologi memberi tema ini aktualitas yang menggelisahkan. Pihak berwenang beberapa negara bagian Republik Federal Jerman –Bavaria, terutama—bermaksud menyingkirkan para penganut Saintologi dari jabatan-jabatan administratif, dan mereka memboikot film-film yang diperankan oleh John Travolta dan Tom Cruise karena keduanya pemeluk Saintologi dan mencekal konser Chick Corea di Baden­Württemberg atas alasan yang sama.

Sekalipun absurd dan terlampau melebih-lebihkan membandingkan pencekalan ini dengan siksaan yang diderita oleh orang Yahudi di bawah Nazi, sebagaimana dilakukan oleh deklarasi yang ditandatangani oleh 34 tokoh Hollywood untuk memprotes tindakan Jerman terhadap Saintologi dalam iklan di The New York Times, larangan dan pencekalan tersebut memang merupakan pelanggaran terang-terangan terhadap prinsip-prinisp demokratis toleransi dan pluralisme dan memberi preseden yang berbahaya. Tom Cruise dan istrinya yang cantik Nicole Kidman bolehlah kita tuding telah memiskinkan cita rasa dan selera sastra bila mereka lebih suka membaca buku-buku saintifik-teologis karya L. Ron Hubbard, pendiri Gereja Saintologi empat dekade lalu, dibanding Alkitab. Tapi di sebuah negara yang konstitusinya menjamin hak warga untuk meyakini apapun yang mereka yakini, atau tidak meyakini apa-apa sama sekali, mengapa pihak berwenang merasa bisa turut campur dalam urusan ini?

Satu-satunya argumen serius untuk melarang atau mendiskriminasi “sekte-sekte” terletak di luar jangkauan rezim-rezim demokratis; yakni dalam masyarakat-masyarakat di mana kuasa agama dan politik adalah tunggal, seperti di Arab Saudi atau Su­dan, negara memutuskan mana agama yang benar, dan karenanya merasa punya hak untuk melarang yang dianggap palsu dan menghukum kaum kafir, bida’ah, nista, dan musuh-musuh iman. Dalam sebuah masyarakat terbuka, ini tak mungkin: negara harus melindungi kepercayaan individual, segila apapun kelihatannya, dan tidak boleh memihak aliran manapun, sebab bila tidak ujung-ujungnya ia akan menindas keyakinan (atau tiadanya keyakinan) sejumlah besar warga. Kita sudah melihatnya baru-baru ini di Cile, salah satu masyarakat paling modern di Amerika Latin, yang toh dalam hal-hal tertentu tetap tak jauh dari Zaman Batu, sebab mereka belum meloloskan undang-undang perceraian, akibat tentangan Gereja Katolik yang berpengaruh.

Keberatan-keberatan yang dikemukakan terhadap sekte-sekte ini memang ada benarnya. Para penganutnya seringkali fanatik, metode penyebaran agama mereka menjengkelkan (seorang Saksi Yehova mendempet saya selama setahun penuh di Paris, berusaha meyakinkan saya untuk menjalani pertobatan, dan membuat saya sesak oleh mimpi buruk), dan banyak di antara mereka secara harafiah menguras kantong anggotanya. Tapi tidak bisakah kita mengatakan hal yang sama perihal banyak kecenderungan agama-agama tradisional? Para Yahudi ultra-ortodoks Mea Shearim di Yerusalem, yang keluar rumah pada hari Sabtu untuk menimpuki mobil-mobil yang lewat daerah mereka dengan batu, apakah itu teladan tenggang rasa? Apakah Opus Dei kurang keras dalam hal komitmen yang dimintanya dari para anggotanya ketimbang operasi-operasi Evangelis yang paling tak kenal kompromi? Ini hanyalah contoh-contoh acak, dari banyak lainnya, yang membuktikan berulang kali bahwa semua agama –mulai dari yang bisa divalidasi melalui patina yang telah berabad-abad bahkan beralaf umurnya, dengan kepustakaan yang kaya serta darah para syuhada, sampai yang paling flamboyan, yang bermarkas di Brooklyn, Salt Lake City, atau Tokyo dan dipromosikan di internet—sama-sama berpotensi intoleran, dengan kecenderungan monopolistik yang sama, dan dengan demikian, justifikasi untuk membatasi atau melarang beroperasinya yang satu sama absahnya untuk diberlakukan pada yang lain. Dengan kata lain, kita cuma punya dua opsi: entah semuanya dilarang tanpa kecuali, seperti yang telah dicoba secara naif oleh Revolusi Perancis, Lenin, Mao, Castro, atau semuanya diperbolehkan, dengan satu syarat bahwa mereka tunduk pada hukum.

Tak perlu dibilang bahwa saya pendukung penuh opsi yang kedua ini. Dan bukan hanya karena merupakan hak azasi manusia yang mendasar untuk bisa mempraktikkan iman pilihannya tanpa didiskriminasi dan dianiaya. Namun juga karena bagi mayoritas terbesar umat manusia, agama adalah satu-satunya jalan yang membimbing ke hidup spiritual dan kesadaran etis, yang tanpanya tak bakal ada masyarakat manusia, penghormatan pada hukum, atau sokongan pada konsensus dasar kehidupan yang beradab. Satu kesalahan besar, yang diulangi berkali-kali sepanjang sejarah, adalah keyakinan bahwa ilmu pengetahuan, sains, dan kebudayaan pada akhirnya akan membebaskan manusia dari “tahayul” agama, bahwa kemajuan akan membuat agama jadi basi. Sekularisasi tidak menggantikan tuhan-tuhan kita dengan gagasan, pengetahuan, atau keyakinan yang bakal mengisi tempatnya. Ia justru telah meninggalkan kehampaan spiritual yang diisi oleh manusia sebisa mungkin, kadang dengan penggantinya yang aneh-aneh, dengan berbagai bentuk neurosis, atau dengan mendengarkan panggilan “sekte-sekte” itu yang justru karena wataknya yang menyambut dan eksklusif, dengan perencanaan rincinya atas semua momen kehidupan jasmani dan rohani, menawarkan keseimbangan dan keteraturan pada mereka yang merasa bingung, sepi, atau tersesat di dunia masa sekarang.

Dalam pengertian ini mereka ada gunanya dan bukan cuma harus dihargai namun juga didorong. Namun jelas bukan dengan subsidi atau dana pembayar pajak. Negara demokratis, yang harus dan hanya bisa bersikap sekuler atau netral dalam urusan agama, akan meninggalkan netralitasnya bila dengan alasan bahwa mayoritas atau sebagian besar warganya memeluk agama tertentu, rumah ibadahnya lalu dibebaskan dari pajak sementara hak istimewa itu tidak diberikan pada agama-agama minoritas. Kebijakan ini berbahaya, sebab mendiskriminasi ranah subyektif kepercayaan dan menyokong korupsi institusional.

Tempat peribadatan sekte "Lembah Fajar" di Brasilia (foto: Victor de Castro)

Paling banter yang bisa dicapai dalam hal ini adalah meniru apa yang dilakukan Brasil ketika membangun Brasilia, ibukotanya yang baru: memberikan sebidang tanah di jalan yang khusus dibangun untuk itu dan membolehkan semua aliran keagamaan di dunia membangun rumah ibadahnya di atasnya bila mau. Ada puluhan, kalau saya tak salah ingat: gedung besar-besar yang mencolok, arsitekturnya aneka macam dan saling tak nyambung, di mana katedral Ordo Salib Mawar berdiri di antara petir, megah penuh kubah dan lambang-lambang yang tak terpahami.

Senin, 07 November 2011

"Masa Depan Haruslah Sesuatu yang Baru": Wawancara Camila Vallejo dengan VOZ


“Van a ver que vale la pena”, wawancara Juan Pablo Montero dengan Camila Vallejo. Diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Ronny Agustinus dari artikel di Voz: La verdad de pueblo, surat kabar Partai Komunis Kolombia, 26 Oktober 2011.

Camila Vallejo Dowling (kelahiran 28 April 1988) adalah mahasiswi pascasarjana bidang Geografi dan anggota Pemuda Komunis Cile, selain menjabat ketua Federación de Estudiantes de la Universidad de Chile (Federasi Mahasiswa Universitas Cile) sejak 2010. Namanya mencuat ke seluruh dunia dalam setengah tahun terakhir sebagai tokoh pemimpin demonstrasi mahasiswa Cile menentang privatisasi dan komersialisasi pendidikan. “Comandante Camila” menjadi ikon gerakan kiri kontemporer Amerika Latin.


Di tengah hiruk pikuk perjuangan yang dilancarkan di jalan-jalan Cile, Camila Vallejo pindah dari satu rapat ke rapat lain memenuhi kewajibannya sebagai militan Pemuda Komunis Cile, ketua gerakan mahasiswa, serta pemimpin populer. Langsung di jalanan Santiago, VOZ berbincang eksklusif dengan Camila Vallejo, yang menjelaskan perjuangan mahasiswa Cile, perspektif gerakan, dan mengaku mengikuti perjuangan mahasiswa Kolombia dan mendorong mereka agar tidak melemah.

Apakah yang direpresentasikan oleh gerakan mahasiswa sekarang ini bagi Cile?
Ini bukan gerakan yang muncul dari spontanitas, ini gerakan yang telah berkembang selama bertahun-tahun dari tuntutan-tuntutan historis gerakan mahasiswa Cile, seperti pembiayaan pendidikan umum oleh Negara dan demokratisasi kelembagaan, yang tak lebih agar pemerintah membolehkan partisipasi tripartit –mahasiswa, pejabat, dan buruh—di mana siswa tidak hanya terlibat dalam pengelolaan kelembagaan melainkan mengelaborasi proyek pendidikan, di mana kami mengajukan proposal-proposal perihal cakupan akses pendidikan yang berlaku universal tanpa mekanisme pilih kasih. Semuanya didasarkan pada kriteria-kriteria kelas yang juga akan menghasilkan pengetahuan demi kepentingan mayoritas dan bukan hanya pengetahuan yang dijual di pasar serta perusahaan-perusahaan dengan kepentingan-kepentingan tertentu. Kami memperjuangkan ketentuan yang diamanatkan oleh Negara bahwa lembaga-lembaga publik harus berbakti pada pembangunan negeri ini.

Di jalanan kota-kota Cile terlihat mobilisasi-mobilisasi mahasiswa, tapi disertai juga oleh iring-iringan kaum profesional yang berutang, beberapa orang tua yang berkeluarga dan turun bersama anak-anak mereka. Dari mana dukungan populer ini?
Apa yang saat ini diminta oleh gerakan mahasiswa adalah tuntutan-tuntutan yang telah digarap untuk jangka waktu yang lama. Parameter-parameter pasar sebagai bisnis pendidikan, penarikan laba, dan konsep kualitas sesuai target-target pasar, sedang sangat dipertanyakan oleh segenap masyarakat. Jadi, banyak di antara tuntutan ini telah diajukan sejak lama dan beberapa lainnya lebih baru; maka yang terjadi adalah tuntutan mobilisasi ini sama dengan demo-demo pada masa itu, yang jelas-jelas gagal, tidak mencapai sasarannya, dan pemerintahan Concertacion –aliansi partai-partai yang terbentuk sesudah kediktatoran—mengkhianati gerakan mahasiswa saat itu dan hingga hari ini tuntutan-tuntutan ini juga belum terselesaikan.

Kekecewaan-kekecewaan yang kau sebutkan, ikut dipikul oleh sektor-sektor lain. Maksudku, buruh, penambang, serikat-serikat pekerja, perempuan, dan pengangguran yang bergabung dengan tuntutan mahasiswa. Mengapa?
Sesudah mengangkat bendera perjuangan mahasiswa, kami berhadap-hadapan dengan seisi masyarakat yang bertanya: mengapa pendidikan tidak memberikan jaminan? Mereka juga mempertanyakan keseluruhan sistem, demokrasi yang tidak kami punya, tiadanya partisipasi riil, pemilu selalu diputuskan di balik empat dinding yang hasilnya selalu itu-itu juga. Kemudian, jadi penting mempertanyakan dari mana asal masalah ini, yang jawabannya jelas: kediktatoran militer. Dan di atas semua itu, maka perlu untuk memikirkan masa depan dan masa depan tersebut haruslah sesuatu yang baru karena model neoliberal ini kini tak masuk diakal dan bahwa sesuatu yang baru itu harus dibangun dengan tangan rakyat Cile sendiri.

Apa sasaran demonstrasi Cile?
Kami punya gerakan yang berhasil mendudukkan tema-tema yang kami bicarakan, yang mulai terwujud dalam demo-demo, bisa saja melalui kuantitas orang yang turun ke jalan-jalan dalam jumlah yang bersejarah, tetapi bisa juga secara kualitatif melalui keberagaman orang-orang yang turun ke jalan yang bukan cuma mahasiswa seperti yang kau bilang tadi, melainkan keluarga, kaum buruh, orang-orang desa, dan pelbagai organisasi dengan warna yang beraneka ragam, sehingga menunjukkan bahwa apa yang dimunculkan sebagai problem sektoral adalah problem sosial yang terkait dengan sistem perekonomian, sistem politik yang mendistribusikan kekuasaan secara timpang dalam kaidah ekonomi, namun juga secara politik dan yang paling terutama adalah menempatkan secara sentral hak azasi manusia serta lingkungan hidup. Ke situ kami menuju.

Kembali ke soal perjuangan mahasiswa: bagaimana sekarang?
Dalam situasi saat ini kami bersedia memasuki dialog baru dengan pemerintahan Piñera, namun ada beberapa kendala. Bahkan ketika kami pergi berunding dengan pemerintahan kanan, kekuatan yang kami punya untuk mendorong bidang-bidang tertentu reformasi struktural membuat kami merasa tenang. Bisa kami bilang ini langkah-langkah yang jelas ke jalan yang benar. Namun demikian, bila kami harus meninggalkan lagi meja perundingan, akan kami lakukan.

Perundingan dengan pemerintahan seperti Piñera bisa kubilang tidak bakal mudah. Apa kesulitan-kesulitan jangka pendek yang ada dalam negosiasi?
Tentunya kendala baru adalah serangan yang ia lancarkan terhadap gerakan. Ada RUU untuk menghukum pendudukan sekolah-sekolah menengah atas, sekolah-sekolah dasar, dan universitas, mengkriminalkannya. Mereka terapkan terorisme negara, menghukum siswa yang datang dengan tudung kepala, mensejajarkan mereka yang berbuat demikian di sekolah dengan mereka yang melakukan tindak kriminal seperti perampokan atau penjarahan pusat perbelanjaan. Dan itulah yang mengkhawatirkan, sebab kini pemerintahan Piñera sedang menampakkan parasnya yang paling reaksioner. Di sini kami dituding bahwa gerakan ini telah dikooptasi oleh sektor kiri paling radikal, dan kami pun membalas bahwa pemerintah sedang dikooptasi oleh sektor ultra-kanan paling radikal.

Di Kolombia kami sedang berada di tengah-tengah Mogok Nasional Mahasiswa, dalam perjuangan menentang UU 30 dan reformasi pemerintah, yang pertarungannya sangat mirip dengan yang kau punya di Cile. Camila, lewat VOZ kau bisa berkirim salam pada rekan-rekan mahasiswa yang sedang memajukan perjuangan untuk pendidikan di seluruh Kolombia.
Kepada semua rekan mahasiswa Kolombia aku ingin mengirim salam persaudaraan melalui VOZ dan berharap sukses selalu untuk semua. Di sana berlaku model yang cukup mirip dengan kami, sangat bisa diperbandingkan dalam realitas jenis pemerintahan dan orientasi politik kanannya. Maka dengan setulus hati aku ingin mengungkapkan solidaritas dan berkirim segenap kekuatan dalam perjuangan ini, karena sebenarnya segala petisi dan sumber daya yang dibutuhkan perlu kalian kerahkan sebab kalian akan melihat bahwa ini memang layak, dan dalam prosesnya kalian akan menghadapi banyak kesulitan. Perjuangan ini benar-benar tanpa imbalan tetapi perlu untuk dilakukan dan dilakukan oleh anak muda, tetapi bukan hanya anak muda, melainkan memanggil seluruh masyarakat bersama kalian.

Yang penting adalah agar ini tidak terbatas hanya pada lingkup mahasiswa, tapi melebar ke sekujur masyarakat Kolombia, agar semua paham bahwa perubahan itu perlu. Tetap kuat dan sukses selalu.

Kamis, 08 September 2011

Saat Maestro Membaca Maestro, Sebelum “Lo. Gue. End.”

García Márquez: historia de un ­deicido
Mario Vargas Llosa
Barcelona: Barral Editores, 1971


Gabriel García Márquez. Mario Vargas Llosa. Keduanya penulis besar Amerika Latin. Sama-sama dikagumi dan disegani dengan caranya masing-masing. Keduanya meraih Hadiah Nobel. Tanpa mereka sastra Amerika Latin, bahkan sastra dunia, takkan menjadi seperti adanya kini. Keduanya pernah berteman akrab, sangat akrab malah, sampai-sampai García Márquez menjadi bapak baptis anak Vargas Llosa. Tapi pada 1976, persahabatan itu bubar begitu saja setelah keduanya beradu jotos di sebuah bioskop di Mexico City. Kalau kata ungkapan populer sekarang ini: “Lo. Gue. End.”

Semenjak itu keduanya tak pernah lagi bertegur sapa. Seperti menjadi kesepakatan diam-diam antar penulis Kolombia dan penulis Peru itu untuk tidak mengomentari karya satu sama lain. Uniknya, dalam pengamatan saya, keduanya masih sering menyinggung topik-topik yang mirip, dengan gaya dan caranya masing-masing. García Márquez menelisik profil fisik dan psikologis seorang diktator dalam El otoño del patriarca. Tentu saja dengan realisme magisnya yang khas itu. Lalu Vargas Llosa seakan merealiskan karya tersebut melalui La fiesta del chivo, dengan memberi gambaran akurat yang sangat presisi tentang kediktatoran sambil menyiangi segala realisme magis García Márquez yang kadang lebay itu.

Permusuhan keduanya menjadi selegendaris persahabatan mereka sebelumnya. Koran Inggris The Independent menjulukinya “the longest feud in contemporary letters”—salah satu perseteruan terlama dalam kancah sastra (meski mungkin tak ada hubungannya dengan sastra atau paham sastra itu sendiri), sebagaimana permusuhan Salman Rushdie vs. John Le Carré atau Paul Theroux vs. V.S. Naipaul. Kritikus Ilan Stavans mencirikan keduanya sebagai “nemesis” atau musuh bebuyutan. Yang paling membuat penasaran adalah: keduanya sama-sama bungkam tentang pokok pangkal perkelahian mereka, baik kepada pers, teman-teman dekatnya, atau para penggemar. Orang hanya bisa menduga-duga.

Sebagian berteori ini ada kaitannya dengan paham politik mereka. García Márquez, yang menganggap diri “kiri”, bersetia pada Castro dan Revolusi Kuba sampai pada detik ini. Sementara Vargas Llosa, sesudah pengadilan atas para penyair dan penulis Kuba yang dicap kontrarevolusioner pada 1970an, menganggap Castro tak lebih dari diktator militer seperti lain-lainnya dan sosialisme tak hadir dalam Revolusi Kuba. Pandangan politiknya pun, terutama sesudah novel Historia de Mayta (1984), semakin liberal.

Pada 1997, Dasso Saldivar, penulis biografi García Márquez. El Viaje a la Semilla: La Biografía, membuat klaim menghebohkan bahwa pertikaian kedua penulis ini berpangkal dari soal asmara dan selingkuh. Konon, si tampan Mario Vargas Llosa jatuh cinta pada seorang pramugari Swedia dan bahkan sempat pindah ke Stockholm meninggalkan Patricia, istrinya. Patricia meminta nasehat ke García Márquez, dan ia pun menganjurkan agar Patricia menceraikan Mario. Dan konon pula, García Márquez juga memanfaatkan situasi kacau hati istri sahabatnya itu (kasarnya, “ngelaba”).

Sebuah karikatur menyebut inilah "boom"
sastra Amerika Latin sesungguhnya.
Klaim ini kontroversial tentunya karena buku Saldivar adalah satu-satunya yang memuat kisah ini (saya belum pernah membacanya dari buku-buku lain tentang hidup dan karya kedua penulis ini). Saya pribadi cenderung meragukan cerita Saldivar, antara lain karena sumber-sumbernya yang tak disebutkan jelas, hanya sebatas “algunas fuentes cercanas al colombiano” (beberapa sumber yang dekat dengan si penulis Kolombia itu) atau “las fuentes cercanas al peruano” (sumber-sumber yang dekat dengan si penulis Peru itu). Tentu saja Saldivar punya hak jurnalistik untuk merahasiakan sumbernya dalam perkara yang sensitif, tapi ini membuat bukunya memuat terlampau banyak konon dan jadi seperti gosip. Apalagi, biografi otoritatif García Márquez garapan Gerald Martin, García Márquez: A Life (hasil riset selama 17 tahun dan wawancara lebih dari 300 orang, yang aslinya memuat 2.000 hlm draft dan 6.000 lebih catatan kaki) tak sedikit pun menyinggung adanya kemungkinan motif “teman makan teman” di balik insiden ini. Martin lebih condong pada perspektif politik untuk melihatnya. Biografi Saldivar juga hanya terbit dalam bahasa Spanyol dan tak diterjemahkan ke dalam bahasa lain manapun, barangkali juga karena penerbit-penerbit asing menganggap ceritanya terlampau spekulatif. Namun demikian, baik García Márquez maupun Vargas Llosa juga tak memberikan bantahan terbuka terhadap cerita Saldivar, dan spekulasi ini pun tak pernah dijernihkan.

Entah motif mana yang benar, yang jelas terjadi dan disaksikan banyak orang adalah begitu Vargas Llosa bertemu García Márquez di sebuah bioskop di Meksiko pada 1976, dalam acara pemutaran perdana film karya René Cardona La Odisea de los Andes, ia langsung melayangkan tinjunya ke muka García Márquez. Wajah García Márquez berdarah, dan aneh bin ajaib bagai dalam novel-novel realis magisnya, seorang teman lari ke toko daging dekat situ, mengambil seiris daging, lalu menaruhnya di mata García Márquez yang lebam sebagai kompres!

Seorang fotografer sempat memotret García Márquez dengan mata kiri babak belur, namun foto itu sendiri baru dilansir 30 tahun sesudah peristiwa, dalam koran kiri Meksiko La Jornada edisi 6 Maret 2007, saat pers Amerika Latin sibuk memberitakan peringatan 80 tahun García Márquez.

La Jornada, 6 Maret 2007. García Márquez dengan mata lebam.
(foto: Mario Guzman/EFE)

Itulah kisah yang menjadi latar buku yang hendak saya ulas sesungguhnya, García Márquez: historia de un ­deicido (García Márquez: Sejarah Sang Pembunuh Allah). Buku ini aslinya ditulis Vargas Llosa pada awal 1970an sebagai disertasi doktoralnya di Universitas Complutense, Madrid, berjudul García Márquez: lengua y estructura de su obra narrativa (García Márquez: Bahasa dan Struktur Karya Sastranya), tentu saat keduanya masih akur. Vargas Llosa lulus dengan predikat cum laude sesudah persidangan 25 Juni 1971. Tahun itu pula disertasi ini dibukukan oleh penerbit Barral di Spanyol setebal hampir 700 hlm. Boleh jadi ini adalah analisa mendalam pertama pada kekaryaan García Márquez dan terutama Cien años de soledad (Seratus Tahun Kesunyian) yang menghebohkan khazanah sastra baru beberapa tahun sebelumnya.

Sesudah perkelahian mereka, Vargas Llosa tak pernah menyebut-nyebut sekali pun buku ini lagi dan menolaknya dicetak ulang. Itu yang menjadikan buku ini sangat langka. Beberapa toko buku bekas online bahkan membandrol harganya hingga AS$600. Pada 2008, untuk memperingati 80 tahun García Márquez dan 40 tahun Seratus Tahun Kesunyian, dicetaklah edisi khusus Seratus Tahun Kesunyian dengan pengantar dari Vargas Llosa. Koran-koran pun heboh mengabarkan bahwa keduanya telah rujuk. Agen mereka, Carmen Balcells, buru-buru merilis pernyataan pers bahwa Vargas Llosa tidak menulis pengantar baru, namun mengizinkan sebagian isi García Márquez: historia de un ­deicido dinukil sebagai pengantar edisi khusus ini. Hingga kini Vargas Llosa tetap tak mau menerbitkannya ulang sebagai buku utuh tersendiri, meski ia tak bisa menolak ketika semua karya lengkapnya hendak diformat dan dicetak ulang dalam kumpulan Obras completa.

Disertasi ini terbilang penting, karena di sini Vargas Llosa bukan cuma membedah García Márquez, namun mengembangkan rintisan teorinya sendiri tentang novel, yang nanti disebut sebagai “total novel”.

Novel adalah sebuah dunia yang utuh, dan kerja seorang novelis adalah membangun dunia itu, realitas itu, dengan dasar –sadar atau tidak—ketidakpuasan terhadap dunia yang dilakoninya sekarang. Karena itulah dalam dunia yang dibangunnya ia menggantikan kekuasaan Allah (dalam teologi, deicido merujuk pada tindakan membunuh Tuhan atau keilahian):

Escribir novelas es un acto de rebelión contra la realidad, contra Dios, contra la creación de Dios que es la realidad. Es una tentativa de corrección, cambio o abolición de la realidad real, de su sustitución por la realidad ficticia que el novelista crea. […] La raíz de su vocación es un sentimiento de insatisfacción contra la vida; cada novela es un deicidio secreto, un asesinato simbólico de la realidad.

“Menulis novel adalah sebuah tindakan pemberontakan terhadap realitas, terhadap Allah, terhadap ciptaan Allah yang adalah realitas. Inilah upaya korektif, mengubah atau menghapus realitas nyata, menggantikannya dengan realitas fiktif gubahan si novelis. […] Akar panggilannya adalah rasa tidak puas terhadap kehidupan; setiap novel adalah pembunuhan Tuhan secara diam-diam, pembunuhan simbolik atas realitas.”

Paparan Vargas Llosa separuh biografis dan separuh analisa tekstual. Pada halaman-halaman awal, Vargas Llosa membingkai realisme magis García Márquez ke dalam realitas sosialnya, yakni imajinasi komunal masyarakat tropis Amerika Latin yang cenderung melebih-lebihkan kisah sejarah dan gambaran-gambaran tertentu (“la imaginación colectiva —sobre todo la de una comunidad «tropical»— tiende a magnificar el pasado histórico y a fijarlo en ciertas imágenes”). Misalnya bagaimana pada masa boom karet di Amazon, para penyadap kulit putih konon menyalakan cerutu mereka dengan membakar uang kertas. Ini gambaran yang berlebihan namun melekat di benak masyarakat dan dituturkan dari generasi ke generasi justru karena berlebihan itu. Teknik inilah yang kemudian dipakai García Márquez dalam Seratus Tahun Kesunyian: berbohong dan menggombal dengan luar biasa sampai orang yakin. García Márquez sendiri selalu berkata bahwa butuh bertahun-tahun baginya mencari teknik bertutur yang tepat untuk Seratus Tahun Kesunyian. Ia selalu ingin meniru cara neneknya mendongeng. Ia tahu cerita neneknya tak ada yang benar secara realitas, namun bisa membuat pendengarnya percaya.

Karena itulah ketika Vargas Llosa meminta García Márquez menceritakan proses kreatifnya sejak karyanya yang pertama, García Márquez justru memulainya dari Seratus Tahun Kesunyian:

GM: Begini, aku mulai menulis Seratus Tahun Kesunyian ketika berusia enam belas tahun...
VLL: Mengapa kita tidak mulai dari buku pertamamu? Yang paling pertama.
GM: Yang pertama justru Seratus Tahun Kesunyian [...] Aku sendiri tidak percaya akan apa yang aku ceritakan, maka aku pun menyadari bahwa kesulitan itu semata-mata teknis, yakni aku tidak memiliki unsur-unsur teknis dan bahasa untuk membuatnya kredibel, bisa dipercaya. Aku pun pergi menggarap empat buku lain sementara waktu itu. Kesulitan besarku selalu adalah menemukan nada dan bahasa agar bisa dipercaya.

Menulis novel, bagi Vargas Llosa, merupakan ramuan antara momok-momok dalam hidup sang penulis dengan tema yang hendak diangkat dalam karyanya (los ‘demonios’ de su vida son los ‘temas’ de su obra). Momok itu bisa berupa sosok manusia, peristiwa, impian, kehilangan dlsb yang merongrong hidup si penulis, yang berusaha dienyahkannya melalui kata-kata dan imajinasi dengan membentuk sebuah realitas baru dalam novel.

Bagi Vargas Llosa –berbeda dengan kebanyakan kritikus—momok historis sesungguhnya yang menghantui karya-karya García Márquez adalah soal “kekerasan.” Tema-tema sosial politik, sekalipun sentral dalam karya-karyanya, justru tampak tersisih dari latar depan, muncul dengan cara yang berkelit.

Vargas Llosa juga tak terjebak dalam idiom-idiom pasaran untuk menyebut García Márquez itu “realis magis” dsb. Ia lebih tertarik membedah metode apa yang dipakai García Márquez untuk mencapai taraf realitas sedemikian (artinya: pembaca bisa memercayai sesuatu yang mustahil dipercayai)?

¿En qué consiste este método? En el dominio del lenguaje, en un estilo despojado al máximo de elementos subjetivos, y que, en las antípodas del de Faulkner, aspira a la transparencia total: su sencillez de vocabulario, su exactitud en la mención del objeto, la lógica de su sintaxis, el verismo de su diálogos, su carácter visual, tienden a ocultar su presencia, a disimular su función de creador y distribuidor de la materia narrativa, a hacer sentir al lector que esta materia le llega directamente, sin pasar por las palabras.

“Apakah isi metode ini? Penguasaan akan bahasa, melucuti gaya semaksimal mungkin dari elemen-elemen subyektifnya, dan berseberangan telak dengan Faulkner, bertujuan mencapai transparansi total: kesederhanaan kosakata, keeksakan dalam menyebut obyek, logika sintaksis, keriilan dialog-dialognya, karakter visualnya, yang cenderung menyembunyikan kehadirannya, menutupi perannya sebagai pencipta dan penyebar materi naratif, membuat pembaca merasa materi itu datang secara langsung tanpa melalui kata-kata.”

Memang, karena saya sudah membaca buku-buku Vargas Llosa lainnya yang “berteori” tentang genre novel, seperti La verdad de las mentiras (Benarnya Kebohongan), dan terutama seri kuliahnya, The Writer’s Reality –buku-buku yang ditulis jauh sesudah disertasi doktoralnya ini ketika Vargas Llosa sudah semakin matang dan mapan sebagai novelis—maka membaca membaca García Márquez: historia de un ­deicido ini terasa “rada mentah”. Namun bagai sushi, yang mentah itu justru menyegarkan: kita dapati di sini seorang maestro novel mengupas maestro novel lainnya, dengan cara pandangnya sebagai novelis, bukan kritikus sastra. Itu yang membuat buku ini berbeda dengan kajian-kajian akademis lainnya tentang García Márquez dan Seratus Tahun Kesunyian.

Senin, 22 Agustus 2011

Wawancara Gabriel García Márquez dengan Subcomandante Marcos

Kutipan wawancara antara Subcomandante Marcos dengan Gabriel García Márquez dan Roberto Pombo mewakili majalah Meksiko Revista Cambio. Wawancara utuh terbit pertama kali di Revista Cambio 26 Maret 2001. Subcomandante Marcos adalah juru bicara karismatis Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (EZLN) Meksiko yang mengangkat senjata pada 1 Januari 1994 untuk melawan terampasnya hak-hak masyarakat adat oleh proses globalisasi ekonomi neoliberal. Komunike-komunike EZLN dan tulisan-tulisan Marcos (1994-2004) serta artikel-artikel lain mengenai pemberontakan Zapatista telah saya terjemahkan dan terbit dalam tiga jilid buku: Bayang Tak Berwajah: Dokumen Perlawanan Tentara Pembebasan Nasional Zapatista (INSIST Press, 2003), Kata Adalah Senjata: Kumpulan Tulisan Terpilih 2001-2004 (Resist Book, 2005), Atas dan Bawah: Topeng dan Keheningan (Komunike-komunike Zapatista Melawan Neoliberalisme) (Resist Book, 2005).


GGM : Masih punya waktu membaca di sela-sela kekacauan ini?
Marcos : Ya, sebab kalau tidak… apalagi yang mau kami perbuat? Dalam tentara-tentara gerilya yang ada sebelum kami, para prajuritnya mengisi waktu luang dengan mengelap senapan dan menyetok amunisi. Di sini, senjata kami adalah kata-kata, jadi kami harus bergantung pada gudang amunisi kami setiap saat.

GGM : Segala yang Anda ucapkan –dalam arti bentuk dan isi—menampilkan latar belakang sastra yang mendalam dari hidup Anda. Dari mana ini berasal dan bagaimana Anda mencapainya?
Marcos : Ini terkait dengan masa kecil saya. Dalam keluarga saya, kata-kata punya nilai yang sangat khusus. Kami mengenal dunia lewat bahasa. Kami tidak belajar membaca di sekolahan melainkan dengan membaca koran. Ibu dan ayah saya menyuruh kami membaca buku-buku yang secara cepat memperkenalkan kami dengan hal-hal baru. Entah bagaimana, kami mencerap sebuah kesadaran berbahasa yang bukan diperuntukkan sebagai cara berkomunikasi satu sama lain, tapi sebagai cara untuk membangun sesuatu. Seakan ia lebih merupakan kenikmatan ketimbang kewajiban atau penugasan. Ketika masa perjuangan bawah tanah tiba, kata-kata tidaklah dinilai tinggi oleh kaum borjuis intelektual. Ia diturunkan ke tingkat sekunder. Saat masuk dalam komunitas-komunitas adatlah kata-kata menghantam kami seperti ketapel. Anda sadar bahwa kata-kata ternyata gagal untuk mengekspresikan soal-soal tertentu, dan ini mengharuskan Anda untuk melatih kemampuan berbahasa Anda, mengulang-ulangi kata tertentu demi mempersenjatai dan melucuti senjata mereka.

GGM : Bukannya sebaliknya? Bukannya kontrol atas bahasalah yang mengizinkan adanya tahap baru perjuangan ini?
Marcos : Ibarat blender. Anda tak tahu apa yang dimasukkan terlebih dulu ke sana, tapi hasil akhir yang Anda dapat adalah koktail.

GGM : Boleh kami tanya tentang keluarga ini?
Marcos : Keluarga kelas menengah. Ayah saya, sang kepala keluarga, adalah seorang guru desa pada masa Cardenas. Saat itu, menurut ceritanya, mereka memotongi telinga guru-guru karena menjadi komunis. Ibu saya, yang juga guru desa, akhirnya pindah dan kami menjadi keluarga kelas menengah, maksud saya, sebuah keluarga tanpa kesulitan-kesulitan yang berarti. Semua ini terjadi di daerah udik, di mana cakrawala budaya hanya sebatas lembar-lembar masyarakat surat kabar lokal. Dunia di luarnya, atau kota-kota besar, Mexico City, merupakan daya pikat menakjubkan karena toko-toko bukunya. Akhirnya, ada juga pasar buku yang terselenggara di udik itu, dan dari situ kami bisa mendapatkan buku-buku. García Márquez, Fuentes, Monsiváis, dan Vargas Llosa –terlepas dari cara berpikirnya—untuk menyebut beberapa. Mereka semua datang melalui orang tua saya. Mereka menyuruh kami membacanya. Seratus Tahun Kesunyian bermaksud menjelaskan bagaimana rupa pedalaman udik tersebut di masa-masa itu, dan Matinya Artemio Cruz bermaksud menjelaskan apa yang terjadi dengan Revolusi. Días de guardar menjelaskan apa yang terjadi dengan kelas menengah. Untuk beberapa tahap, meski telanjang, potret kami tergambar dalam Kota dan Sekawanan Anjing. Segala sesuatunya ada di situ. Kami tiba melihat dunia dengan cara yang sama kami tiba mengenal sastra. Dan menurut saya, hal inilah yang membentuk kami. Kami tidak mengenal dunia lewat siaran berita, tapi lewat sebuah novel, esai atau sepotong sajak. Ini membuat kami benar-benar berbeda. Inilah cermin yang diberikan kedua orang tua kami, tatkala orang lain menggunakan media massa sebagai cermin atau hanya sebagai kaca buram hingga tak seorang pun mengerti apa yang sedang terjadi.

GGM : Di mana letak Don Quixote di tengah semua bacaan ini?
Marcos : Mereka memberi saya sebuah buku indah, bersampul tebal. Don Quixote de la Mancha. Saya pernah membacanya sebelum itu, tapi dalam edisi bacaan anak. Buku itu mahal, hadiah sangat spesial yang saya nanti-nantikan. Shakespeare tiba setelahnya. Tapi kalau boleh saya urutkan tibanya buku-buku itu, pertamanya adalah “boom” sastra Amerika Latin, lalu Cervantes, lalu Garcia Lorca, lalu ada suatu masa yang semuanya serba puisi. Maka, Anda [menunjuk ke arah Márquez ] ikut bertanggungjawab atas ini semua.

GGM : Apakah eksistensialis dan Sartre ikut-ikutan dalam soal ini?
Marcos : Tidak. Kami tiba terlambat untuk itu. Khususnya eksistensialis, dan sebelumnya, sastra revolusioner, kami tiba saat sudah begitu “terbentuk”—seperti kata kaum ortodoks. Waktu kami tiba pada Marx dan Engels, kami telah begitu teracuni oleh sarkasme dan humor kesusastraan.

GGM : Tak ada bacaan teori politik?
Marcos : Pada tahap pertama, tidak. Dari mengeja ABC kami beranjak ke sastra dan setelahnya baru teks-teks politik dan teoritis saat kami mulai menjelang SMA.

GGM : Apakah teman-teman sekolah Anda mengira bahwa Anda adalah, atau bisa jadi, komunis?
Marcos : Tidak, saya kira tidak. Paling banter yang pernah mereka ucapkan soal saya adalah saya ini semu merah, merah di luar, putih di dalam.

GGM : Apa yang Anda baca sekarang?
Marcos : Don Quixote selalu ada di sisi ranjang saya, dan seperti biasa saya selalu menenteng-nenteng Romancero Gitano Garcia Lorca. Don Quixote adalah buku teori politik terbaik yang pernah ada, disusul Hamlet dan Macbeth. Tak ada cara yang lebih baik untuk memahami tragedi dan komedi sistem perpolitikan Meksiko selain lewat Hamlet, Macbeth, dan Don Quixote. Mereka jauh lebih baik ketimbang kolom analisa politik manapun.

GGM : Anda menulis tangan atau dengan komputer?
Marcos : Komputer. Hanya kalau sedang berbaris saya menulis dengan tangan karena saya tak punya waktu bekerja. Saya menulis sepotong draft kasar, disusul yang berikutnya dan berikutnya lagi. Anda anggap saya bergurau, tapi kurang lebih ada tujuh draft saat saya selesai.

GGM : Buku apa yang sedang Anda garap?
Marcos : Apa yang sedang saya coba tuliskan ini absurd, yaitu upaya untuk menjelaskan diri kami pada diri kami sendiri, yang hampir mustahil. Kami harus sadar bahwa kami ini sebuah paradoks, karena sepasukan tentara revolusioner tidak berupaya merebut kekuasaan, tentara revolusioner tidak berperang, kalau memang itu tugasnya… Semua paradoks telah kami jumpai: bahwa kami telah tumbuh dan menjadi kuat dalam sebuah sektor yang benar-benar terasing dari kanal-kanal kebudayaan.

GGM : Bila tiap orang tahu siapa Anda, kenapa pakai topeng ski?
Marcos : Sedikit sisa-sisa kegenitan. Mereka tak tahu siapa saya dan mereka tak peduli. Yang terjadi di sini adalah: apakah Subcomandante Marcos itu sekarang, bukan siapa ia dulunya.